Titan'S 2

Titan'S 2
15


__ADS_3

Ada perasaan lega di hati Tania karena Titan telah dengan sangat meyakinkan bahwa ia tidak sama sekali membuka buku catatan kecil Tania—yang tempo lalu tidak sengaja terjatuh, lalu Titan yang menemukannya. Sama sekali tidak membuka buku catatan kecil Tania, apalagi sampai membacanya. Dengan begitu, Tania sedikit lebih tenang, meski ada juga rasa ragu menyelimuti hatinya. Ternyata, Titan sama sekali tidak peduli dengan kehidupan Tania—sampai buku catatan kecil milik Tania pun, Titan tidak tertarik untuk membacanya. Perasaan itu yang sedikit membuat Tania harus sadar diri. Bisa dikatakan, Tania takut jika Titan membaca buku catatan kecilknya, akan tetapi di sisi lain, ia ingin mengatakan yang sejujurnya tentang perasaan keliru yang saat ini seringkali menghantui perasaan Tania. Setidaknya, jika ini perasaan cinta, maka tidak ada kata terlambat untuk Tania memperjuangkannya. Tapi, sulit rasanya jika menerima sebuah kenyataan yang harus menjebak Tania ke dalam sebuah perasaan yang seharusnya tidak ada. Mencintai musuh bebuyutan—atau seseorang yang Tania benci, itu adalah hal yang teramat sangat membingungkan banyak orang. Mengapa cinta semisteri itu? Jika memang ini cinta, Tania harus memulainya dari mana? Karena perkenalan Tania dan Titan pun diawali dengan permusuhan bukan persahabatan atau pertemanan.


Cinta itu ada, disebabkan karena mimpi itu.


"Oh, Iya. Ada yang mau gue omongin ke lo." Titan kembali menoleh ke arah Tania.


"Apa?"


"Lo nggak mau gabung lagi di eskul badminton?"


"Nggak."


"Kenapa? Bukannya lo terlalu ambisi sama eskul itu, ya?"


"Karena, ada yang lebih penting dalam hidup gue, dibandingkan eskul badminton. Lagipula, sekarang lo udah menang 'kan? Lo udah merebut gelar gue di eskul badminton. Jadi, gue rasa itu alasan yang cukup kenapa gue keluar dari eskul itu." Tania berujar dengan nada yang tegas.


Titan terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Jadi, lo nyerah?"


"Sama sekali nggak. Gue nggak nyerah. Gue cuma lagi mengikhlaskan semua yang memang bukan milik gue lagi. Gelar gue, sebagai ketua eskul badminton, udah bukan milik gue lagi. Itu adalah milik lo. Gue bukan tipe cewek yang mudah menyerah, tapi kalau gue diharuskan untuk mengikhlaskan hal yang gue inginkan, kenapa nggak? Seharusnya, lo nggak usah mempertanyakan semua ini. Karena gue mau, masalah kita kelar dengan seiring berjalannya waktu."


"Oke." Titan mengangguk pelan disertai senyum kecut. Jawaban Tania membuat Titan kehabisan kata-kata. "Kalau semisal lo mau gabung lagi, gue akan menerima lo dengan baik," ucapnya lagi.


"Gue rasa, gue nggak akan pernah lagi mau bergabung."


"Ternyata bener."


"Maksud lo apa? Apanya yang bener?" Tania langsung mengernyit heran saat kalimat itu terlontar dari mulut Titan. Sebenarnya, apa yang dimaksud Titan dengan kalimatnya tersebut?


Titan menggeleng. "Nggak ada."


"Jangan bikin gue bingung."


"Sorry."


"Buat?"


"Gue nggak bisa jelasin."


"Kenapa? Emang apa yang mau lo jelasin?"


"Belum tepat waktunya."


"Kenapa harus nunggu waktu yang tepat?"


"Gue nggak bisa jawab." Titan langsung cuek, dan tidak ingin lebih jauh membahas ini dengan Tania. Titan harus kembali bersikap seperti semula, Tania hanya sebatas musuh yang sedang jatuh keperangkap Titan. So, Titan tidak bisa mengecap bahwa dirinya terlalu jahat dalam permasalahan ini. Karena memang rencana awal Titan adalah menaklukan Tania, agar menyerah pada ambisinya yang ingin menjadi ketua badminton di sekolah ini.


Titan pun bangkit seraya mengaitkan tas selempangan ke bahu sebelah kanannya. Titan terlihat seperti akan pulang sekolah, padahal ini belum waktunya jam pulang sekolah.


"Kalau guru nanyain, bilang aja gue pulang." Titan berujar pada teman sebangkunya.


"Mau ke mana emang lo, bro?" Tanyanya.


Titan menepuk bahunya pelan, "ada yang harus gue kerjain, Dri. Lo 'kan ketua kelas di kelas ini. Bilangin aja kalau ada guru, gue izin pulang."


"Lah, kenapa pulang?"


"Izin."


"Lo sakit?"


"Nggak."


"Terus, lo kenapa pulang, bro?"


"Lo nggak perlu tahu."


"Yaelah, bro. Katanya seorang Titan yang gue denger dari ucapan temen-temen di kelas lo yang lama, lo itu adalah taat sama peraturan. Kalau baru aja lo jadi anggota kelas ini, lo harus izin-izinan, lo nggak taat peraturan kalau gitu," katanya.


Titan tersenyum tenang, "gue emang cowok yang menjunjung tinggi segala jenis peraturan. Tapi, gue bukan cowok yang taat peraturan. Gue bukan cowok baik-baik. Jadi, lo cukup kasih tahu ke guru kalau hari ini gue izin. Simple, 'kan?"


Titan pun tanpa basa-basi lagi, keluar dari kelas ini. Teman sebangkunya pun tampak memasang wajah tidak suka pada Titan. Titan seolah bersikap semaunya, namun tetap bersikap tenang. Tania yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Titan pun mengakui bahwa Titan memang cowok yang begitu menarik perhatian. Cowok cuek, tak banyak bicara, dingin, dan seringkali songong—seperti Titan, namun itulah yang menjadi daya pikat seorang Titan dalam pandangan para wanita. Mungkin yang lebih dominannya adalah; kisah percintaan Titan yang sama sekali tidak terdengar dan tidak banyak orang tahu, sehingga begitu banyak gadis di luar sana merasa penasaran dengan cowok seperti Titan itu. Karena mustahil, cowok setampan Titan sangat minim dalam urusan percintaan atau perempuan. Raut wajah Titan, mencerminkan cowok yang nakal dan mahir dalam urusan percintaan. Ini misteri bagi para perempuan.


***



Pada saat jam pulang sekolah. Tania tampak memasang wajah kecewa. Seharusnya ia memiliki celah untuk mengikuti Titan dan mencari tahu siapa pacarnya Titan. Ini memang konyol, tapi Tania tidak bisa membohongi perasaannya sendiri kalau memang ia sangat ingin mengetahui siapa perempuan yang sudah berhasil mencuri hati seorang Titan.


"Lo kenapa cemberut aja?" Tanya Gael yang mengimbangi langkah Tania berjalan.


"Nggak."


"Bete, ya?"


"Jangan sok tahu."


"Ya lo nggak bisa bohong sama gue."


"Terserah, deh."


Gael pun tersenyum. "Lo nggak usah cemberut. Gue nggak suka lihat lo cemberut. Cantik lo jadi ilang kalau lagi cemberut. Dan lo tenang aja, lo masih bisa nemuin Titan kok di jam 2 siang nanti. Di tempat yang udah gue kasih tau ke elo."


"Lo serius?"

__ADS_1


"Hm." Gael mengangguk pelan.


"Oke." Tania tersenyum.


"Lo adalah manusia pertama yang bikin gue ngerasa aneh sendiri. Jujur, gue memang makhluk keabadian, tapi ini adalah tugas pertama gue yang terbilang aneh dan lucu."


"Emang tugas lo sebelumnya apa aja?"


"Banyak."


"Iya, apa aja."


"Intinya, semuanya menyangkut tentang perpisahan."


Tania langsung menghentikan langkahnya saat mendengar kalimat Gael yang menyelipkan kata perpisahan.


"Perpisahan?"


"Yap."


"Apa kasus gue ini juga tentang perpisahan?"


"Bisa jadi."


Jantung Tania berdegub kencang, ada kekhawatiran di sana. Apa mungkin yang dikatakan Gael itu benar. Seandainya jika benar, apa yang harus Tania lakukan dengan kisahnya ini.


"Kalau berani untuk jatuh cinta, maka lo harus siap terluka. Karena cinta bukan hanya tentang kebahagiaan, tapi juga terselip tentang perpisahaan. Jika semua kisah sudah tidak bisa lagi dipertahankan, maka lo harus siap menerima kenyataan untuk melepaskan dan melupakan."


"Perkataan lo serem banget. Gue jadi takut."


"Lo nggak usah takut. Lo adalah cewek yang pintar menjaga hati lo. Dan, lo juga harus yakin kebahagiaan itu milik siapa saja yang pandai menjaga hatinya agar tetap selalu berpikir positif."


Tania tersenyum lega. "Lo bikin gue lega."


"Harusnya lo bilang makasih sama gue."


"Iya, ya. Makasih Gael."


"Hm. Sama-sama."


"Kalau boleh tau, umur lo berapa tahun?"


"Gue nggak bisa jawab. Karena umur gue itu, berkali-kali lipat dari umur lo. Bahkan beribu-ribu kali lipat, mungkin."


"Tapi, kok muka lo kayak berasa umur 19 tahun."


"Rasanya aja 19 tahun, tapi nyatanya umur gue nyaris seribu tahun."


"Gak usah terjekut." Gael terkekeh.


"Terjekut? Nggak salah kata tuh?"


"Maksud gue, terkejut. Canda. Hehe."


"Terus, emangnya lo nggak bosen hidup selama itu dengan tugas aneh lo itu?"


"Nggak."


"Kok bisa?"


"Ya bisa."


"Lo pasti bohong. Lo pasti bosen 'kan hidup selama itu? Gue aja nih, ya, pernah ngerasain bosen hidup. Tapi, ya, semuanya gue jalanin apa adanya. Gue juga sayang sama orangtua gue, tapi mereka sibuk. Tapi gue nggak bisa nyalahin mereka juga, sih. Kebosenan gue itu hadir ketika nyokap dan bokap pisah." Tania berujar lesu, sambil kembali melanjutkan langkah kakinya.


"Lo yang kuat, ya. Karena lo cukup beruntung punya kedua orangtua. Lo terlahir karena Ayah dan Ibu. Kalau lo ngelihat posisi gue, lo akan sadar. Gue terlahir bukan dari rahim seorang Ibu. Gue adalah black child. Tuhan menciptakan gue sebagai sosok yang penuh dengan kegelapan. Tapi lo harus tau, bahwa hitam atau gelap tidak selamanya memiliki arti jahat. Lo bisa ngelihat keteguhan warna hitam. Setiap apa pun yang berhubungan dengan warna hitam itu adalah diri gue sendiri dan semua cerita yang gue miliki. Gue Petinggi Dewa Mimpi, dan lo harus bisa memahami, kenapa bisa bintang bersinar terang? Itu karena backgroundnya gelap atau hitam. Tanpa kegelapan, bintang tidak akan bersinar. Sampai di sini lo paham?" Gael berujar panjang lebar.


Tania hanya bisa mengangguk—tanda ia mengerti tentang menuturan yang dikatakan Gael. Kehadiran Gael membuat hati Tania menjadi tenang. Aura gelap dari diri Gael itu memberikan sedikit ketenangan di hati Tania.


"Ada hal yang lo perlu tau juga," ucap Gael.


"Apa?"


"Gue sudah memperhatikan lo sejak lo kecil."


"Maksud lo?"


"Lo ada gadis ceroboh. Jadi, tanpa lo sadar, gue udah membantu lo sejak lo kecil. Karena lo ada dalam genggaman tangan gue. Lo adalah tugas gue, lo adalah gadis yang harus gue jaga."


"Alasannya apa?"


"Hadirnya gue dalam hidup lo adalah atas karena kecerobohan lo. Bisa dikatakan, gue terlahir dalam kisah lo ini disebabkan karena kecerobohan lo. Ditambah lagi, lukisan Kakek lo yang mengurung karakter gue untuk bisa menjaga lo dalam kesulitan yang lo punya."


"Gue jadi penasaran sama lukisan itu."


"Dulu, mungkin lo nggak inget, lo sering bawa lukisan itu. Bahkan ketika lo mau mandi, lo bawa lukisan itu."


"Apa?!"


"Ya. Jadi, gue sering lihat lo mandi."


"Lo tukang ngintip!"


"Bukan salah gue. Ya, itu karena kecerobohan lo."

__ADS_1


Tania merasa malu sendiri. Mau ditaruh di mana wajah dan nama baiknya, kalau hal memalukan ini bisa terjadi dalam hidupnya.


Gael menyeringai, "lo nggak usah malu. Itu 'kan dulu. Gue nggak berani ngintip lo kalau lo udah gede kayak gini. Dulu 'kan lo masih anak kecil. Intinya, untuk ke depan lo nggak boleh ceroboh. Tapi, kalau emang lo mau ngambil lukisan gue di rumah bokap lo yang lama, ambil aja. Mau lo bawa pas mandi juga nggak apa. Silahkan." Gael terkekeh.


"Mesum otak lo!" Kesel Tania bercampur rasa malu.


Gael hanya terkekeh saja.


"Lo kenal sama Udin 'kan?" Tania langsung mengalihkan pembicaraan.


"Hm. Kenapa?"


"Kok dia nggak nongol lagi, ya?"


"Nongol di mana?"


"Biasanya dia itu suka nggak sengaja ketemu gue gitu."


"Dia sibuk."


"Sibuk apa?"


"Ya gak tau."


"Hm. Padahal ada banyak pertanyaan yang mau gue tanyain ke Udin."


"Soal apa? Tristan?"


"Tristan?" Tania mengernyit. "Maksud lo Titan?" Tanyanya lagi.


"Tristan dan Titan adalah dua orang yang berbeda. Tapi Tristan ada sangkutpautnya sama mimpi lo."


"Tristan siapa?"


"Saudaranya Titan, mungkin."


"Emang Titan punya saudara?"


"Nggak."


"Lah, terus?"


"Tristan adalah sosok yang sama sekali nggak ada ikatan darah sama Titan. Tapi, dalam permasalahan ini, si Udin udah narik kesimpulan bahwa Tristan adalah saudaranya Titan, alias Kakaknya Titan."


"Kembaran?"


"Nggak. Bukan. Gue rasa, Udin keliru."


"Keliru apa?"


"Tristan bukan saudara Titan."


"Terus?"


"Tapi Tristan ada hubungannya sama mimpi lo."


"Sekarang Tristan di mana?"


"Ada. Dia masih hidup. Tapi, di sisi lain, Udin mengatakan bahwa Tristan telah meninggal dunia. Dan arwahnya gentayangan."


"Gentayangan?"


"Tapi, gue nggak sependapat sama Udin. Tristan masih hidup. Gue sangat yakin, Tristan masih hidup."


"Ini membingungkan."


"Tristan masih hidup atau udah mati? Terus dia saudaranya Titan atau bukan? Kenapa ada sangkutpautnya sama mimpi gue?"


"Permasalahan lo komplit."


"Kenapa coba jadi ngebingungin kayak gini."


"Karena kecerobohan lo."


"Terus jadi ini gimana?"


"Lo fokus aja sama hati lo." Gael seolah tahu apa yang ada di dalam hati Tania. Perasaan cinta yang sudah terlanjur tumbuh di hati Tania untuk Titan, tidak bisa terhindar lagi. Tania harus fokus menjaga hatinya, agar tidak keliru.


Teka-teki pun mulai bermunculan.


TBC!



Titan sama Deby


..........


Published | Kamis, 19 Juli 2018


Pukul 00.02 WIB


BOGOR

__ADS_1


__ADS_2