Titan'S 2

Titan'S 2
10


__ADS_3

"Hidup Titan terlalu banyak diatur, Pah! Titan benci sama Papah sama Mamah. Bukan karena kalian sibuk sama urusan kalian masing-masing. Tapi karena kalian sama sekali nggak peduli sama orang-orang di luar sana," emosi Titan memuncak, saat mengetahui kedua orangtuanya terlibat sebuah kasus yang tidak banyak orang mengetahuinya.


Kemewahan dan kekayaan yang dimiliki kedua orang tua Titan tidak sepenuhnya hasil kerja keras keduanya. Titan sangat marah, karena kedua orangtuanya terlibat kasus suap bersama para pejabat-pejabat negara yang tidak bertanggungjawab.


"Ini semua Papah lakukan buat masa depan kamu!" Seru sang Ayah, penuh dengan penekanan di setiap kalimatnya.


"Masa depan Papah bilang, iya? Titan nggak akan bahagia Pah di masa depan kalau caranya kayak gini. Buat apa masa depan Titan cerah, kalau anak-anak di luar sana menderita?!" ucapnya pelan, namun penuh dengan emosi yang tertahan.


"Kamu nggak pernah ngerti Titan! Kamu nggak usah peduliin mereka. Papah juga nggak peduli sama mereka."


Titan menyorotkan matanya dengan tatapan tajam pada sang Ayah, semaksimal mungkin ia menahan emosinya agar tidak keluar. Bagaimana pun juga, Titan harus tahu batasan, ia harus bisa menghormati orang tuanya. Meski saat ini, ia sedang mencoba berusaha untuk menyadarkan sang Ayah tentang apa yang dilakukannya saat ini adalah sesuatu yang tidak baik.


"Seharusnya Papah lebih bijaksana. Papah adalah orang pintar, sudah sepatutnya Papah mengerti tentang kehidupan kejam anak-anak jalanan di luar sana. Seharusnya, uang itu digunain buat masa depan mereka. Papah adalah pengacara hebat, tapi Papah minim rasa simpati dan empati. Titan nggak butuh kekayaan, Pah. Titan nggak butuh semua itu," ucap Titan matanya mulai berkaca-kaca, karena sebenarnya ia tidak ingin berada di situasi sulit seperti ini.


"Kamu menentang Papah?!"


Titan menghela napas dalam.


"Iya," ucapnya pelan disertai kesungguhan di dalam hatinya.


"Kamu adalah anak yang tidak tau diri. Papah ngebesarin kamu sampai detik ini, ngebiayain kamu sampai sebesar ini, apa yang Papah dapetin? Kamu justru malah menentang Papah. Kamu itu----!" Nyaris satu tamparan mendarat di pipi Titan, namun sang Ayah justru mengurungkan niatnya.


"Kenapa, Pah? Papah mau pukul Titan, iya? Silahkan pukul, Pah!" Titan justru menantang Ayahnya. Akan tetapi, Ayahnya hanya berusaha mengontrol emosi.


"Kamu tahu konsekuensinya kalau menentang Papah?" Tanyanya seperti nada mengancam.


Titan tersenyum kecut, "Iya, Pah. Titan akan pergi dari rumah." Titan berujar dengan nada malas. Ini menjadi perdebatan terakhir antara Titan dan Ayahnya.


Bahkan, Ibunya pun sama sekali tidak ada kabar. Ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaan dan bisnisnya yang berada di luar kota dan di luar negeri. Seakan tidak peduli dengan masalah yang dihadapkan oleh Titan---yang kerap sekali bertengkar dengan sang Ayah, hanya karena masalah perbedaan pendapat dan hal-hal lain yang membuat Titan tidak menyukai cara Ayahnya yang menghalalkan berbagai cara hanya demi uang dan hidup kaya raya di masa depan. Jiwa sosialisasi yang dimiliki Titan begitui besar, ia tidak ingin melihat anak-anak di luar sana yang membutuhkan bantuan tangan dermawan justru semakin melarat karena ulah-ulah oknum yang tidak bertanggungjawab. Dan, Ayahnya Titan termasuk ke dalam oknum yang tidak bertanggunjawab---ia membantu kasus tindak korupsi, serta mendapatkan uang suap untuk perkara tersebut dari client-nya.


Sejak saat itulah, Titan memutuskan untuk tidak tinggal bersama kedua orang tuanya. Titan memilih tinggal bersama Neneknya di sebuah rumah sederhana berdesign jawa kuno. Titan lebih menyukai hal-hal yang berbau sederhana, dan tampil apa adanya. Titan bukan orang yang senang memamerkan kekayaan dan harta, yang seperti Ayah dan Ibunya lakukan. Di sekolah pun terkadang Titan selalu mendapatkan cemooh dan hinaan. "Katanya anak pengacara dan pebisnis sukses, masa penampilannya rendahan," begitu kata orang-orang yang pernah menghina Titan, namun Titan tidak memperdulikan semua itu. Ia hanya hidup selayaknya yang diberikan Tuhan padanya.


***


"Woy! Bengong aje, lu! Ngopi napa ngopi, diem-diem bae."


Seseorang mengagetkan Titan dan berhasil membuyarkan lamunan Titan. Titan pun tertoleh santai pada seseorang itu, "eh elu. Ada apa?"

__ADS_1


"Sorry kalau kedatengan gue ini ngagetin."


"Iya, gapapa, Din. Tenang aja," ucap Titan santai. Ya, seseorang yang tiba-tiba mengagetkan Titan adalah Rega Darudin Prasetya---teman sepenongkrongannya.


"Jangan panggil Udin, ah. Panggil Rega aja."


"Oh, Oke."


"Sip. Kebetulan banget nih, kita ketemu di sini. Lu nggak langsung pulang? Temen-temen lu yang dua bocah upin-ipin itu mana? Biasanya 'kan setiap pulang sekolah lo suka bareng sama mereka?" Kata Rega.


"Mereka udah cabut duluan."


"Oh."


"Ini udah jam 2. Sekolahaan lo bubaran jam segini?" Tanya Titan.


"Dari jam 12 juga sebenarnya udah pulang. Tapi biasalah gue ini suka jalan-jalan dulu sebelum pulang sekolah. Kebetulan juga si Danur sama Sandara lagi nggak ngintilin gue hari ini, mereka lagi ke rumah sakit." Rega berujar panjang lebar. Titan hanya tersenyum tipis.


"Bagaimana kabar Sandara?" Nada bicara Titan berubah menjadi nada yang berbeda saat menanyakan kabar Sandara.


Titan menggelengkan kepala pelan, disertai senyum tipis, dan tatapan yang menyiratkan sebuah rasa yang tidak bisa dideskripsikan oleh kata perkata. "Nggak," singkatnya.


"Lo suka sama Sandara?"


Titan tidak bisa menjawabnya. Ia kemudian hanya terdiam saja, tanpa menjawab pertanyaan Rega.


"Tania, Tan." Rega langsung bicara lagi, kali ini ia menyebutkan nama Tania. Sontak saat itu juga Titan langsung heran.


"Kenapa sama Tania?"


"Dia musuh lo, 'kan?"


"Iya."


"Lo ngerasain ada hal yang berubah nggak dari Tania?" Tanya Rega.


"Berubah?" Titan mulai mencerna perkataan Rega. Ia berusaha mengingat gerak-gerik Tania beberapa minggu belakangan ini.

__ADS_1


"Iya. Berubah."


"Kayaknya nggak, deh. Gue masih ngelihat dia kayak biasanya."


"Yakin?"


"Yakinlah."


"Emangnya lo nggak ngerasain kalau beberapa hari ini Tania berusaha menghindar dari lo?" Tanya Rega. Kemudian Titan kembali mengingat.


Saat mencoba untuk mengingat hal-hal yang berhubungan dengan Tania, Titan pun memang mengiyakan kalau beberapa hari belakangan ini, sikap Tania berubah. Kini pun Rega berusaha untuk menyampaikan sebuah mimpi yang pernah terjadi pada Tania kepada Titan dengan cara perlahan. Bagaimanapun juga, Titan harus mengetahui semua itu.


"Ada satu yang emang bikin hati gue ngeganjel." Titan pun mulai terpancing situasi, lalu ia mengubah posisinya menjadi berdiri di dekat tihang halte bus, sambil menyandarkan punggungnya di sana. Tatapannya serius dan datar terarah pada Udin yang berdiri sekitar 2 meter dari jarak Titan berdiri.


"Apa?"


"Sikapnya." Kemudian tatapan Titan tertunduk ke bawah, ia seperti tidak ingin Rega membaca situasi pikirannya.


"Hanya itu?"


"Iya."


"Oh, Oke. Cuma itu aja sih sebenernya yang mau gue sampein. Mengenai mendiang Kakak lo si Tristan. Gue punya janji sama dia." Rega berujar mengingatkan.


"Oke. Kalau emang ternyata gue punya Abang yang udah lama meninggal. Dan hidupnya setelah kematian itu nggak tenang, gue harap lo juga bisa ngebantu dia. Karena sampai detik ini, Bokap-Nyokap masih bungkam soal Tristan. Mereka bilangnya, cuma gue anak mereka satu-satunya. Lagi pula, sekarang gue udah nggak tinggal sama mereka." Titan berujar santai.


"Hidup setelah kematian? Kedengerannya menarik." Rega terkekeh. "Pada intinya mah, lo harus tahu dulu kunci permasalahan yang ada di keluarga lo. Lo juga nggak bisa langsung percaya gitu aja sama gue, gue bilang kalau Tristan adalah Kakak lo. Tapi, bisa aja itu meleset, 'kan? Hantu Tristan itu gentayangan karena ada hal yang harus dia kerjakan. Titan dan Tristan, sekilas emang nama lo dan nama dia sama. Tapi lo nggak harus percaya juga kalau Tristan itu abang lo yang udah lama meninggal. Coba lo korek informasi mengenai Tristan," ucap Rega, memberikan kode rahasia pada Titan, namun sepertinya memang Titan masih belum menemukan jawabannya.


"Tapi ...."


"Tapi apa?"


"Gua pengen Sandara yang bantuin gua dalam kasus ini," ucap Titan, bibirnya terlihat tersenyum samar.


"Oke. Kalau emang itu yang lo mau."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2