Titan'S 2

Titan'S 2
11


__ADS_3

"Nggak deh, gue bercanda. Gue nggak mau ngelibatin Sandara dalam kasus gue." Titan menggelengkan kepala dan tersenyum tipis. "Ya, nggak tau kenapa. Gue ngerasa Sandara itu punya ruang di hati gue." Titan kembali berujar, kali ini nadanya terdengar sangat pelan.


Rega tersenyum lalu menepuk bahu Titan, "kalau lo emang suka sama Sandara, kejar dia. Kalau misalkan lo sama dia nggak berjodoh, jangan pernah nyalahin cinta. Oke?" Rega terkekeh.


"Yaelahh, lo doain yang baik-baik, kek."


"Ya 'kan gue mah ngomong yang pait-pait dulu aja. Kalau ngomong yang manis-manis kalau ujungnya ternyata lo yang patah hati? Bisa repot entar."


"Ya juga, sih."


"Ya mangkanya itu. Betewe, lo di sini nunggu siapa?"


"Pacar."


"****. Lo naksir sama Sandara, tapi lo sendiri punya pacar. Emang dasar buaya lo. Eh, nggak deh, lo itu udah nyaris kayak kecoak yang ngerayap ke dalam rok cewek-cewek." Rega meledek, namun Titan justru tidak marah, Titan hanya terkekeh.


"Nggak usah sirik."


"Yaelah, siapa yang sirik?"


"Kampret, pake belaga kayak idoy lagi. Udahlah, gue cabut duluan." Titan pun bergegas untuk berlalu dari tempat ini, kemudian ia mengucapkan kalimat, "salamin ke Sandara, ya. Kalau gue suka sama dia." Setelah itu, Titan pun berlalu tanpa sepatah kata lagi.


"Titan, Titan, mentang-mentang lo ganteng, lo bisa seenaknya mainin hati cewek." Rega berujar sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lantas setelah itu, Rega pun berlalu.


*


Seseorang tidak pernah mempercayai tentang hidup setelah kematian, terpuruk di dalam kebahagiaan, dan satu mimpi yang mendatangkan sebuah perasaan.


Kemudian, Tania pun hanya memokuskan pandangannya ke depan layar laptop. Jemarinya menari indah di atas keyboard laptop. Sekekali, tangan kirinya meraih segelas teh hangat yang kini menjadi teman terbaik untuk Tania. Dulunya, Tania sama sekali tidak menyukai sastra, tidak senang membaca novel, dan hal-hal yang berbau picisan. Tania menyukai sejarah, semua rak buku yang terdapat di dalam kamarnya ini rata-rata terisi penuh dengan rentetan buku sejarah, selebihnya Tania banyak menyimpan buku panduan memasak. Tapi, buku panduan memasak tidak menjadi prioritasnya. Tania lebih senang menghabiskan banyak waktunya sampai berjam-jam hanya untuk membaca buku sejarah.


Namun, kali ini berbeda.


Tania cenderung lebih senang menuangkan diksi sok berpuitis di dalam layar laptopnya. Lihatlah saat ini, wajahnya terpasang datar, sesekali ia berpikir; entah apa yang sedang ia pikirkan.


Tania menelan salivanya pelan, "sebenernya apa yang terjadi sama gue?" Hanya kalimat itu yang menjadi beban dalam pikirannya.


Kemudian, Tania menutup laptopnya, dan beralih ke tempat tidur. Wajahnya memang terlihat sangat lelah. Tania adalah tipe orang yang akan terlihat seperti orang pusing, jika di dalam otaknya menyimpan segudang pertanyaan, akan tetapi ia belum jua mendapatkan jawaban dari apa yang ia pertanyakan selama ini.


Ini pasti tentang mimpinya mengenai Titan.


"Kenapa seolah cerita ini nggak pernah ada ujungnya, sih?" Tania hanya merutuk sendiri. Semakin ia memikirkan hal ini, semakin pula ia terlihat seperti orang kebingungan. "Ditambah lagi, itu anak malah pindah ke kelas gue. Segala usaha yang gue lakukan untuk bisa menghindar dari dia pun jadi goyah. Duh, kenapa jadi kayak gini, sih. Hanya karena sebuah rasa, semuanya jadi kacau kayak gini."


Basi! Tania seolah seperti terus mengulang kalimat itu. Bahkan mungkin, pertanyaan-pertanyaan itu selalu ia ulang-ulang sampai berkali-kali. Seharusnya, Tania mencari tahu semuanya, bukan justru memikirkan hal tersebut sampai berulang-ulang kali.


"Lo nggak usah bingung, Tania." Suara samar itu terdengar dari sudut ruangan kamar ini.


Tania langsung menoleh.


"Lo siapa?!"


Tania langsung terkejut bukan main, Kenapa bisa ada orang masuk secara ilegal ke dalam kamarnya ini.


"Gue adalah sebuah ilusi yang lo ciptain sendiri."


"Maksud lo?"

__ADS_1


Lantas, pria tersebut hanya bisa tersenyum. "Ketika lo melemparkan sebuah pertanyaan, maka jawabannya ada pada diri lo sendiri," katanya.


"Gue nggak ngerti."


"Lo belum terbiasa."


"Gue tanya, lo siapa? Kenapa bisa lo masuk kamar gue tanpa izin? Dan sebelumnya, gue nggak pernah kenal siapa lo, lo sebenarnya siapa?"


"Yang pasti, gue bukan manusia."


Tania mengernyit heran. Siapa sebenarnya yang sedang mengajaknya bicara saat ini. Kemudian, Tania menelaah raut wajah sosok yang kini berdiri di hadapannya itu, Tania mencoba untuk mengenali wajah pria tersebut. Dari wajahnya terlihat, pria itu dipastikan berumur 19 tahun, atau mungkin 2 tahun lebih tua dari umur Tania. Gaya rambut rapi, dan memiliki satu lipatan di kelopak matanya, nyaris seperti orang asia pada umumnya. Akan tetapi, pakaian pria tersebut terlihat memancarkan cahaya atau sinar yang entah datangnya dari mana-padahal, pria itu menggunakan pakaian serba hitam polos.


Tania menggelengkan kepala, karena tidak mungkin hal ini terjadi pada dirinya. Tania menganggap mungkin saat ini pikirannya sedang lelah, itu sebabnya ia berhalusinasi.


"Ya Tuhan, mungkin gue lagi capek. Gue lagi berhalusinasi. Tolong Tania, tenang." Tania menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya secara perlahan, dengan sepasang mata yang tertutup.


"Lo lagi nggak berhalusinasi."


Kalimat itu, membuat mata Tania langsung melotot ke arah pria-yang tidak diketahui dari mana asalnya ini.


"Lo setan, ya?"


Tania melemparkan kalimat tanya yang konyol, sementara pria tersebut hanya tersenyum meremehkan pertanyaan Tania.


"Bukan. Gue bukan setan."


"Terus?"


"Yakali, mana ada setan seganteng gue."


"Ya gue emang bukan manusia."


"Terus?"


"Sebuah ilusi yang lo ciptain sendiri."


"Jangan muter-muter kalau ngejawab pertanyaan. Kata lo, gue sendiri nggak lagi berhalusinasi, gue nggak ngerti kenapa bisa lo bilang kalau lo adalah sebuah ilusi yang gue ciptain sendiri?"


"Gue adalah ... Nero."


"Nero?" Tania menautkan alis sebelah, seraya menahan tawa.


"Ya, nama gue Nero Abigael."


Tania tertawa meremehkan. "Nama lo aneh. Haha. Seharusnya nyokap sama bokap lo searching dulu di google, nyari nama-nama modern bayi laki-laki di sana. Untuk ukuran wajah lo, lo cocoknya itu dinamain Lee Min Ho." Tania terkekeh. Bukannya marah, pria yang mengaku dirinya bernama Nero itu hanya tersenyum-tanpa tersinggung sedikit pun.


Setelah puas Tania tertawa, Tania kembali fokus untuk terus mengintrogasi sosok aneh yang berdiri tidak jauh darinya. "Lo dateng dari mana? Lo makhluk sejenis apa? Lo bisa jelasin ke gue?"


Nero tersenyum, "Apa perlu melibatkan Udin?"


"Hah? Lo kenal si Udin?"


"Kenal."


"Tuh 'kan, berarti lo hantu?"

__ADS_1


"Bukan. 'kan tadi udah gue bilang, mana ada hantu seganteng gue."


"Terus?"


"Gue Nero Abigael."


"Iya gue tau. Maksud gue, lo sejenis makhluk apa?"


"Bayangan."


"Ooh." Tania ber-oh-ria, padahal ia tidak mengerti dengan apa yang dilontarkan Nero. Manusia biasa, polos, dan tidak tahu apa-apa soal dunia bayangan seperti Tania, hanya bisa ber-oh saja dengan perkataan terakhir Nero.


"Mulai hari ini kita berteman."


"Berteman?"


"Iya. Gue ditugaskan buat bantuin lo memecahkan sebuah masalah. Kita akan memecahkan mimpi yang pernah terjadi dalam hidup lo, yang udah mengubah segalanya."


"Da-dari mana lo tau soal mimpi itu?"


"Tau aja."


"Siapa yang nyuruh lo buat bantuin gue?"


"Sedikit demi sedikit nanti pasti gue jelasin."


"Kenapa gue bisa lihat lo? Lo 'kan bukan makhluk mortal, sementara gue juga nggak punya mata batin yang kayak si Udin."


"Gue udah bilang; gue bakal jelasin. Tapi secara perlahan."


"Oh yaudah, deh." Tania pasrah saja, "Gue manggil lo Gael aja. Mungkin lebih enak kali, yak," sambung Tania.


"Gael?" Pria itu menautkan alis sebelah, serta terlihat kedua tangannya melipat. Bibirnya pun tersungging miring.


"Iya. 'kan nama lo Nero Abigael. Gue panggil ujungnya aja, Gael. Oke?"


"Baiklah." Gael mengiyakan perkataan Tania. Kemudian, Gael beralih duduk ke sofa yang terdapat tidak jauh dari tempat tidur Tania. Gael berjaga di sana dengan memusatkan pandangan ke arah Tania. Tania tampak gusar, ia merasa tidak nyaman dengan Gael yang terus memperhatikannya.


"Lo bisa nggak, enyah dulu. Gue mau tidur." Tania berujar hati-hati, sambil menundukkan wajahnya.


Gael tersenyum. "Seandainya, Titan yang hidup dalam nyata itu tidak seperti yang ada dalam mimpi lo gimana?"


"H-hah? Ta-tadi lo bilang apa barusan? Duh, gue ngantuk banget. Lo pergi dulu aja, ya. Gue ngantuk, mau tidur." Mendengar kalimat Gael, Tania langsung mengalihkan pembicaraan, meski awalnya memang ia terlihat gugup, karena Gael menyelipkan nama Titan dalam kalimatnya.


"Lo emang pandai berbohong." Gael tersenyum pahit. "Yaudah, lo tidur. Gue pergi. Tapi-"


"Tapi apa?"


"Jangan kangen." Gael terkekeh. Tania hanya menghela napas pelan.


Kemudian, bayangan itu menghilang. Hari pun semakin larut, dan rasa kantuk juga mulai menyerang. Dengan hati penuh ragu akan sesuatu hal, akhirnya Tania pun memutuskan untuk beralih ke alam mimpi.



Salam, Nero Abigael ...

__ADS_1


__ADS_2