
Jika memang bukan salah cinta yang datang tanpa menyapa. Namun, akankah sanggup mencintai tanpa dicintai?
Mungkin tidak.
Hanya bagi segelintir orang saja yang bisa melewati semua itu dengan berlapang dada. Mungkin memang benar adanya, dan bukan juga salah cinta yang datang tanpa menyapa. Tapi, karena hati terlalu mudah terjatuh pada cinta yang datang memberikan janji kebahagiaan di akhir cerita.
Segelas susu cokelat telah habis diteguk oleh Tania. Pagi ini, Tania sengaja membiarkan rambutnya terurai. Polesan make up yang sederhana di wajahnya mampu membuat auranya terpancar. Dan pagi ini, Tania hanya sarapan seorang diri saja. Sementara, Om dan Tantenya pagi-pagi buta tadi mereka telah berpamitan pergi untuk bekerja. Tania sudah terbiasa dengan semua hal yang harus dilakukan hanya seorang diri. Baginya, kesendirian dan rasa sepi sudah seperti makanan sehari-hari.
Tania mengunyah dua helai roti yang diolesi selai strawberry di tengahnya, ia tampak asyik dengan acara sarapannya pagi ini.
"Lo sarapan, kenapa nggak ngajak gua?"
Tiba-tiba seseorang datang dengan sangat mengejutkan. Sialnya, seseorang tersebut membuat jantung Tania nyaris berhenti berdetak. Kedatangan seseorang itu memang sangat mistik, tiba-tiba langsung menampakan diri dengan posisi duduk sigap sambil melipatkan kedua tangannya, serta sorot mata yang menatap lurus ke arah Tania. Tania dan seseorang itu duduk saling berhadapan—hanya mejalah yang menjadi jarak di antara keduanya.
"Gael! Kedatangan lo bikin gue jantungan." Tania berujar dengan nada kesal. Gael hanya tersenyum miring.
"Lo mau sekolah, ya?"
"Menurut lo?"
"Kalau lo mau sekolah, gue ikut, ya."
"Ikut?"
"Iya."
"Buat apa minta izin? Lagi pula, kalau mau ikut, ya ikut aja. Temen-temen di sekolah juga nggak bakal bisa lihat lo, 'kan? Jadi dijamin gue nggak bakal jadi artis dadakan karena diwawancarai sama beberapa siswi yang mungkin kepo sama kedatangan lo di sekolah." Tania berujar sambil mengunyah sisa-sisa roti, lalu mengambil segelas air putih untuk mendorong makanan agar langsung turun ke perut.
"Oke, kalau gitu."
"Di dunia lo emang nggak ada sekolahan?" Tanya Tania tidaklah begitu penting. Namun tampaknya Gael merespon dengan baik pertanyaan Tania itu.
"Ada. Bahkan, di dunia gue sangat menarik. Lo mau ikut ke dunia gue? Untuk sekedar cari tau tentang dunia gue." Gael menampakkan wajah berseri.
"Apa? Ke alam ghaib? Ogah."
"Why? Seharusnya lo bersyukur, karena di dunia ini, orang yang bisa ngelihat gue cuma dua orang. Si Udin, sama lo. Selain kalian, nggak ada yang bisa ngelihat gue, sekali pun seorang yang punya kelebihan kayak Roy Kiyoshi atau orang yang punya kekuatan indigo plus plus, atau seorang dukun, seorang ahli santet, paranormal, mereka nggak bisa ngelihat gue." Gael menjelaskan panjang lebar.
Tania hampir tersendak mendengar kalimat Gael. "Kenapa bisa di dunia ini cuma Udin dan gue yang bisa lihat lo?"
"Takdir."
"Takdir? Yakali, hidup itu tidak sekebetulan itu. Semua pasti ada alasannya kenapa gue termasuk salah satu orang yang bisa ngelihat lo."
"Itu disebabkan karena mimpi lo."
"Mimpi?" Tania langsung terdiam, dan mengingat tentang mimpi tempo lalu. Lagi-lagi, Tania harus mengingat tokoh Titan yang terdapat di dalam mimpinya.
__ADS_1
"Ya. Mimpi tentang Titan." Gael langsung to the point.
Tania terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Ia kehabisan kata saat berbicara dengan Gael, tampaknya Gael bisa membaca pikiran Tania—itu sebabnya, sedari tadi Gael hanya bisa tersenyum melihat setiap raut kebingungan yang ditunjukan Tania. Orang biasa tidak akan bisa melihat kebingungan yang tidak begitu gamblang ditunjukan oleh Tania—Raut wajahnya tampak datar dan ia seolah pandai menyembunyikan kebingungan tersebut. Namun, bagi seorang Gael, membaca pikiran seseorang sangatlah mudah—meski ekspresi situasi hati itu terpancar teramat samar oleh seseorang yang sedang ia baca pikirannya.
"Dan ... Ada hubungannya juga dengan keturunan." Gael melanjutkan kalimatnya, seraya menautkan sebelah alisnya.
"Keturunan?"
"Iya. Keturunan."
"Siapa? Nyokap gue atau bokap? Gue rasa mereka adalah dua orang yang amat sangat takut sama hantu, dan hal-hal yang berhubungan dengan semua itu. Kalau lagi bicara sama mereka mengenai hal ini pun, gue yakin mereka bakal bilang nggak percaya sama hantu."
Gael tersenyum. "Bukan nyokap atau bokap lo."
"Terus?"
"Kakek lo."
"Jadi, Kakek gue juga termasuk orang yang bisa ngelihat lo dong?"
"Nggak. Sama sekali nggak diizinkan buat ngelihat gue, meskipun beliau punya anugerah di atas rata-rata orang normal."
"Setau gue, Almarhum Kakek gue cuma seorang pelukis biasa." Tania mulai mengajak Gael untuk bicara serius.
"Ya. Itu adalah jawabannya."
"Maksud lo?"
"Iya, 'kah? Kok gue lupa?"
"Ya iyalah, waktu itu lo masih kecil."
"Jadi, kemampuan gue yang bisa ngelihat lo adalah hasil dari keturunan? Atau karena disebabkan mimpi gue itu?"
"Dua-duanya."
"Ada sangkutpautnya?"
"Iya, ada. Alasan pertama kenapa lo bisa ngelihat gue adalah, faktor keturunan. Alasan kedua, karena mimpi lo. Dan, hal yang membuat lo ditakdirkan untuk melihat gue secara permanen adalah dikarenakan kesalahan fatal yang dilakukan lo tanpa lo sadar."
"Kesalahan apa?"
"Mimpi itu terjadi saat sesudah tanggal 28 Juni, 'kan?"
"Lah, kenapa emangnya?"
Gael menghela napas pelan, "tanggal 28 Juni adalah tanggal di mana umur lo bertambah satu tahun. Seminggu setelah itu, seharusnya lo nggak dibolehin buat tidur siang, karena akan ada kejadian aneh yang akan menimpa lo. Lo seharusnya paham dan sadar, ketika ada seseorang yang pernah ngingetin lo, kalau di umur 17 tahun lo bakal mengalami hal-hal yang di luar nalar lo."
__ADS_1
Tania mulai mengingat, "ya. Dulu gue emang sering banget dinasehatin Kakek gue untuk jangan bertindak gegabah di umur 17 tahun. Tapi, Kakek gue cuma nasehatin agar gue nggak terlalu mudah untuk jatuh cinta."
"Tepat sekali. Permasalahan lo di sini adalah mengenai cinta dan segala perasaan keliru."
"Tapi anehnya, kenapa harus ada larangan tidur siang setelah seminggu gue ulang tahun?"
"Salahnya, bukan tidur siangnya. Tapi lo salah memposisikan tidur lo. Lo tidur di kelas, tepat sekali ketika lo mau tanding badminton sama Titan. Secara nggak sadar, itu adalah kesalahan lo yang fatal."
"Tidur di kelas emang salah, ya?"
"Nggak. Cuma yaa, seharusnya di hari itu lo nggak boleh tidur di kelas."
"Yaudah, deh. Intinya, bubur udah terlanjur jadi nasi." Tania mendumel, ia sedikit pusing dengan percakapan ini—membuatnya bingung dan sangat berpikir.
"Apa kata-katanya nggak kebalik?" Gael terkekeh.
"Otak gue lagi kebalik, mungkin." Tania sama sekali tidak menyadari kalimat sebelumnya. Gael hanya terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan.
"Sebenarnya lo hantu apa bukan?"
"Bukan."
"Terus?"
"Gue adalah petinggi Dewa Mimpi. Termasuk ke dalam makhluk bayangan, sama persis kayak hantu. Tapi dunia gue itu, nggak pake make up yang nyeremin. Semuanya rata-rata ganteng. Kehidupan di dunia gue sama kayak kehidupan manusia, ada sekolah, ada pendidikannya, ada banyak hal yang sama kayak para manusia yang sering dilakuin sehari-hari. Makhluk bayangan di dunia gue itu sering disebut Ombre."
"Ombre? Style rambut itu, ya?"
"Bukan. Ombre itu artinya bayangan yang dalam bahasa Prancis. Lo lihat translate google, deh."
"****. Lo setan Prancis ya kalau gitu?"
"Hm. Jangan pertanyakan soal gue ini makhluk apaan, deh. Kalau ujungnya lo bakal bilang kalau gue hantu." Gael memasang wajah datar, sorot matanya masih terjaga untuk tetap melihat ke arah Tania. Sorot mata itu tampak menusuk.
"Maaf. Hehe. Kalau gitu, apa gue juga bisa ngelihat makhluk tak kasat mata lainnya?"
"Nggak. Lo cuma bisa ngelihat gue aja. Itu anugerah lo. Lo nggak akan kuat, ngelihat dunia para hantu itu berat, biar aku aja." Gael meledek Tania dengan kalimat yang pernah dilontarkan Dilan 1990.
"Sialan." Tania mendengus pelan, "sarapan pagi ini cukup berbeda, dua helai roti teramat sangat bikin gue kenyang kebangetan karena obrolan ini terlalu berat untuk gue. Ini lebih memusingkan, dari pelajaran matematika yang nongol di jam pelajaran pertama. Okelah, gue cabut. Udah mau telat." Tania pun bergegas berangkat sekolah tanpa sepatah kata lagi. Seketika itu, Gael hanya melemparkan senyum, lalu memudar dan menghilang, melebur bagai kelopak dandelion yang terbang tertiup hembusan angin.
Tik... Tok...
***
Hay. Annyeong ^
Gue pengen nyapa sama kalian semua wahai para readers yang udah setia ngikutin karya gue. Ya, gue tahu, cerita gue ini emang jauh dikatakan layak buat dibaca. Aneh, absurd, dan gaje. Intinya sebenernya gue mau ngasih tau sebelum telat,
__ADS_1
Tokoh Gael itu nama aslinya NERO ABIGAEL (cek chapter sebelumnya deh.
Next? Komentarnya dong biar guenya semangat. Hehehe.