Titan'S 2

Titan'S 2
26


__ADS_3



***


"Assalamualaikum! Assalamualaikum! Anyeonghaseyo! Arigato gozaimatshu! Wo ai ni. Love you, love you. Assalamualaikum!"


Rega sedikit tidak sabaran saat berada tepat di depan pagar sebuah rumah. Ia tampak begitu bersemangat malam ini, sampai-sampai ucapan salamnya pun menjadi melenceng ke bahasa-bahasa asing. Rega bahkan tidak berhenti mengucapkan salam, sampai si penghuni rumah keluar. Sesekali Rega melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Walaikumsalam. Eh elo Din."


"Akhirnya lo keluar juga Tania. Iya ini Udin, kenapa? Ganteng ya?" Nyengir Rega.


"Lo ngapain malam-malam ke sini?"


"Mau numpang makan."


"Hah?"


"Ya, mau jemput lo, lah. Kan malam ini kita mau ke rumah sakit, buat jenguk Tristan."


Lantas, Tania langsung cengengesan. "Oh, iya. Gue lupa. Sorry, ya."


"Iya, gue maafin."


"Oke. Btw, lo masuk dulu, yuk. Gue mau ganti baju dulu sebentar." Tania mempersilahkan Rega untuk masuk ke dalam rumahnya. Rega pun mengangguk saja.


"Lo tinggal sendiri?" Rega memerhatikan seluruh ruangan yang terlihat sepi.


"Nggak. Gue tinggal bertiga. Sama Om-Tante."


"Kok sepi. Mereka ke mana?"


"Belum pulang kerja."


"Oh."


"Oh, ya. Kok lo tau rumah gue, sih?" Tania mengernyit heran. Rega hanya tersenyum remeh sambil mengubah posisinya---yang tadinya berdiri, langsung duduk di sofa.


"Ya, tau. Gue 'kan bisa aja nanya sama si Nero."


"Gael?"


"Iya maksud gue si Gael. Gue 'kan bisa aja nanya sama si Gael soal rumah lo. Jadi, nggak ada yang nggak mungkin dalam hidup gue."


"Hm. Ya udah, gue mau ganti baju dulu. Lo tunggu di sini aja. Jangan ke mana-mana."


"Oke."


Tania pun beralih menuju kamarnya untuk bergegas merapikan dirinya. Sementara Rega tampak menyibukkan diri dengan membaca beberapa majalah yang tergeletak rapi di atas meja tamu ini. Sesekali Rega bermonolog, menyamakan dirinya dengan beberapa gambar model pria tampan yang terdapat dalam majalah tersebut. Sesekali pula, Rega memaki dan membanding-bandingkan dirinya dengan gambar beberapa model pria tersebut.


"Yaelah. Sok lu! Masih cakepan juga gua." Rega menunjuk salah satu gambar model tersebut. "Hm. Yang ini juga nggak ganteng-ganteng amat. Masih gantengan gua ke mana-mana."


"Wush!"


"Massya Allah." Rega terkejut dan berhasil membuat beberapa majalah terlempar ke lantai. "Woy! Kaget aing!" Rega memaki sosok yang tiba-tiba datang dan mengagetkan.


"Ck! Gue serasa pengin buat lo nyadar senyadar-nyadarnya orang sadar."


"Emangnya gue kenapa, Gael?"


"Lo terlalu over percaya diri. Pake ngebanding-bandingin wajah lo sama para model yang ada di majalah itu. Kalau emang lo lebih ganteng daripada mereka, kenapa lo nggak bisa jadi model?"


"Kamprethaseyo! Lo kira gue nggak bisa jadi model?"


"Emang lo bisa?"


"Bisa."

__ADS_1


"Jadi model apa? Model foto yasin?"


"*****! Lo ngeledek?"


"Nggak." Gael pun terkekeh.


"Lo lihat! Majalahnya jadi berantakan! Beresin nggak!"


"Beresin apanya?"


"Majalahnya PA!"


"Oh, kirain muka sama otak lu yang perlu diberesin." Gael terkekeh geli.


"Sungguh terlalu! Dirimu sangat tidak berperikemanusiaan."


"Bahasa lo terlalu baku."


"Masalah?"


"Nggak. Cuma, aneh aja ngedengernya."


"Kampret!"


Tak lama, Tania datang menghampiri Rega. Seketika itu wajah Gael yang tadinya berseri menertawakan Rega, langsung meluntur datar seraya melihat ke arah Tania. Bibir Gael tersenyum tipis, dan sorot matanya benar-benar dalam. Bukan, bukan karena terpesona akan menampilan Tania. Karena Gael selalu merasa, ada hal yang sangat berbeda dalam diri Tania. Tania tidak terlalu cantik, bahkan dia jauh dikatakan sebagai gadis yang sempurna. Akan tetapi, ada perasaan nyaman yang membuat siapa saja yang dekat dengan sosok seperti Tania. Gael merasakan hal tersebut, sampai ia benar-benar lupa siapa dirinya sebenarnya.


"Gue udah siap."


"Oke. Kita naik pesva gue aja, ya."


"Lo bawa pesva?"


"Iya, Tania."


"Berarti gue sama lo doang, dong?"


"Iya."


"Gue---" perkataan Gael berhasil terputus, karena Rega langsung memotongnya.


"Yaelah. Si Gael 'kan bisa ngapung, ngilang, dan memudar. Hanya sekali tings dia bisa nyampe ke rumah sakit." Rega berujar dan langsung bergegas keluar rumah ini, di sana Gael hanya berdecak, dan Tania hanya menggeleng-gelengkan kepala disertai senyum kekeh.


"Ya sudah. Gue duluan, ya." Tania berpamitan pada Gael. Gael hanya mengangguk saja disertai senyum tipis yang memesona.


Tania pun keluar, mengikuti Rega. Rega dan Tania pun akhirnya pergi ke rumah sakit. Rega yang mengendarai sepeda motor pesva kesayangannya itu tampak menikmati setiap perjalanan yang di lalui. Meski perjalanan mereka begitu hening tanpa suara---hanya suara-suara kendaraan umum yang lainnya yang menjadi lagu di sepenjang jalan. Tania sama sekali tidak bicara, ia pun hanya menikmati perjalanan dan angin malam yang nyaris menusuk ke tulang. Tapi rasa dingin ini tidak terlalu penting bagi Tania. Sesekali, Rega melihat Tania dari kaca spion, berhasil membuat Rega tersenyum tipis. Tidak hanya Gael, mungkin jauh dari dalam diri Rega pun mengatakan; kalau Tania adalah gadis yang berbeda.



***



Gael berdiri di atas gedung tertinggi di kota ini. Gael melihat pemandangan malam yang begitu membosankan baginya. Sesekali ia melihat ke bawah, banyak lampu berkelap-kelip seperti bintang. Pandangan Gael masih kosong, ia masih dihantui rasa cemas. Bahkan, Gael terlalu pintar menyembunyikannya di hadapan Tania.


Gael mengadahkan pandangannya ke langit. Banyak bintang yang bertaburan di sana. Lalu, Gael mengangkat sebelah tangannya, seolah ia sedang memetik satu bintang yang menurutnya paling terang di antara bintang lainnya.


Gael tersenyum kecut saat ia membuka telapak tangannya terdapat sebuah benda---seperti kristal, yang berbentuk bintang. Gael tidak bisa berkutik apa pun, pikirannya terlampau jauh mengenai segala hal yang berhubungan dengan pengibaratan. Lalu hatinya kembali terketuk, saat pendengarannya kini mendengung memilukan, sampai Gael menutup telinganya dan mengerang kecil---seperti tidak tahan dengan suara dengung tersebut.


"Hentikan semua ini." Gael berbisik menahan rasa sakitnya mendengar suara dengung elegi tersebut. Gael menutup matanya, bersaha mengontrol dirinya terhadap suara yang mengganggu dirinya tersebut.


"Tania tidak diizinkan untuk melihat Tristan. Jika ia melihat Tristan malam ini, maka ia akan membuat Tristan menjadi sangat tidak stabil. Tristan tidak akan pernah bisa bangun lagi dari komanya, dia akan mati bersama seluruh kisahnya."


Setelah mendengar bisikan tersebut, Gael membuka matanya. Dan tidak lagi menutup telinganya, ia kembali ke emosi semula. Gael terdiam untuk beberapa saat, jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya. Auriga telah menyampaikan pesan pada dirinya melalui suara dengungan yang membuat telinga Gael sakit, kemudian Gael langsung berlari meninggalkan tempat ini. Setidaknya, ia harus menyelamatkan Tania. Karena ada satu hal buruk yang akan menimpa Tania malam ini.


Saat berlari, Gael seperti menemukan jalan buntu, ia tidak tahu harus ke mana dan memulainya dari mana. Ingin rasanya ia menghentikan waktu, ini cukup sulit untuk dilaluinya. Perasaan cemas itu kian membuatnya frustasi, dan Gael tidak bisa menghentikan langkah Tania untuk bisa menemui Tristan. Berusaha semaksimal mungkin Gael mengelabuhi pikiran Rega saat ini---yang sedang mengendarai motor menuju rumah sakit, setidaknya ini yang bisa Gael lakukan untuk semantara waktu.


Gael mempunyai kekuatan mengendalikan dan mengelabuhi pikiran orang lain. Jika raga Gael berada di sini, ia mampu mengelabuhi pikiran Rega---yang saat ini jauh dari posisi Gael berada.


"Pengorbanan lo cukup jauh, Gael."

__ADS_1


Seseorang menghampiri Gael yang tengah menahan sakit saat berusaha mengelabuhi pikiran Rega. Gael menoleh sayu ke arah seseorang tersebut, lantas Gael langsung tersenyum pahit.


"Gue ngerasa, Tania memang pantas mendapatkan pengorbanan terbesar gue."


"Apa yang lo rasain?" Seseorang itu menjatuhkan air matanya saat menanyakan hal tesebut pada Gael.


Gael terdiam menunduk.


"Lo jatuh cinta sama dia?" Ucapnya sangat serius dan pelan, membuat Gael langsung menoleh lagi ke seseorang itu.


"Nggak mungkin." Gael berusaha menepisnya. "Gue nggak mungkin jatuh cinta. Nggak ada yang bisa membuat gue jatuh cinta," katanya, lagi.


"Lo akan mengerti, Gael. Seandainya pun, gue masih hidup di dunia. Gue akan merasa beruntung ditakdirkan menjadi pendamping masa depan untuk Tania. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Nggak ada yang bisa menggambarkan perasaan cinta yang bersarang di hati gue, setelah gue tau, masa depan gue adalah Tania. Tapi gue nggak bisa menyalahkan keadaan, bahwa seharusnya gue harus pergi meninggalkan Tania sebelum bertemu dengan Tania." Seseorang itu berujar dengan suara terdengar getir dan tertahan.


Gael terdiam.


Berpikir sejenak mengenai sosok yang berdiri tak jauh dari hadapannya ini. "Daviel Diwangkarja, gue sangat mengerti keadaan lo."


Daviel tersenyum tipis, lalu menghilang terhembus bersama angin malam. Gael menjadi berpikir keras, ia tidak bisa mengendalikan rasa cemasnya di hadapan Daviel. Gael bisa merasakan bahwa Daviel menginginkan hidup kembali, dan bertemu dengan Tania di masa depan, lalu menikahi Tania. Gael melihat itu dari mata Daviel yang berkaca-kaca tadi. Dalam pikir, Gael merasa bahwa sebuah rasa memang serumit ini. Bahkan kini, Gael tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya yang selalu dihantui rasa cemas terhadap Tania.



(Daviel👆)



***


"Din! Kita mau ke mana, sih?"


Tania membuka suara, pada saat beberapa menit menghabiskan waktu dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tania tampak risi, karena hampir 30 menit berlalu dalam perjalanan ini. Padahal, ketika Tania ke rumah sakit menjenguk Tristan tempo lalu, ia hanya menghabiskan kurang lebih 10 menit dalam perjalanannya. Nihilnya memang kala itu, Tania tidak bisa masuk ke dalam ruang rawat inap atas nama Tristan.


"Kita mau ke rumah sakit, lah. Masa lo lupa."


"Tolong berhentiin pesvanya di depan."


Tania menyuruh Rega memberhentikan motornya. Wajah Tania terpasang kesal, dan Rega pun akhirnya memberhentikan motornya di pinggir jalan. Tania langsung turun dari motor, dan membuka helmnya.


"Kalau kita ke rumah sakit, kenapa nggak nyampe-nyampe? Lo sadar nggak sih, dari tadi itu kita muter-muter aja di sini." Tania mengomel, Rega pun memasang wajah yang tidak tahu harus bicara apa.


"Iya, gue sadar. Kalau dari tadi kita emang muter-muter di jalan ini aja."


"Terus? Lo mau modus?"


"Nggak gitu juga, Tania. Gue bener-bener nggak tau, kenapa jadi muter-muter di sini. Perasaan gue mah, jalannya udah bener lewat sini."


"Kalau lo ngajak gue muter-muter kayak gini, mau sampe kapan kita nyampe ke rumah sakit?"


"Ih iya ya, kenapa ini motor jadi muter-muter kayak helikopter. Gue juga nggak ngerti, Tan. Sumpah. Gue ngerasa nggak puter balik jalan, kok. Tapi anehnya, kenapa kita balik lagi ke jalan ini, ya?" Rega tampak bingung, Tania pun menghela napas pelan dan memasang wajah sedatar mungkin.


"Hm. Ya sudah, gue mau pulang aja."


"Serius mau pulang aja? Kita nggak jadi jenguk Tristannya?"


"Nggak. Gue takut kemaleman."


"Oh, yasudah. Lo naik lagi, biar gue anter pulang."


"Nggak usah."


"Loh, kenapa?"


"Gue takut lo ngajak gue puter-puter lagi. Biar aja gue pulang sendiri. Gue tau jalan."


"Tan, nggak bisa gitu dong. Gue beneran nggak ngerti sumpah, kenapa gue bisa balik lagi ke jalan ini. Gue nggak ada maksud ngajak lo muter-muter. Sumpah gue."


"Ish! Yaudah, deh! Tapi awas ya, jangan muter-muter lagi!" Tania pun naik ke motornya Rega dan kembali memakai helm.


Rega pun menyalakan kembali motor kesayangannya, meski terlihat raut wajah Rega yang seperti bingung akan sesuatu hal. "Ini gue yang bodoh apa gimana, ya? Gue ngerasa kalau gue udah bener lewat jalan ini, kenapa hampir 3 kali puteran tapi munculnya di jalan ini lagi-jalan ini lagi," pikir Rega saat melajukan kembali motornya, untuk mengantarkan Tania pulang.

__ADS_1



To be continued...


__ADS_2