Titan'S 2

Titan'S 2
28


__ADS_3



Gael berada di sebuah tempat yang begitu sunyi serta gelap mencekam. Hanya semilir angin yang berhasil menjatuhkan dedaunan dari pohonnya, dan juga berhasil menerbangkan anak rambut Gael. Gael menutup matanya saja sedari tadi, seperti menikmati hembusan angin dan udara kegelapan ini. Berdiri di tempat sesunyi ini adalah sebuah ketenangan tersendiri untuk Gael. Gael menyukai dirinya yang seperti ini. Bibir Gael terlihat menahan desahan, dan terlihat jakunnya pun sesekali bergerak naik-turun karena ia berulangkali menelan ludahnya.


Ternyata, Gael sedang berusaha merangkai mimpi Tania yang pernah terjadi. Sesuatu yang menyakitkan itu pun teramat sangat membuat hati terpatahkan oleh sebuah rasa yang begitu rumit. Mengapa permasalahan itu terjadi? Gael sempat berpikir, kehidupan para manusia memang serumit ini---meski semuanya sudah diatur oleh sang Maha Pencipta. Tapi tetap saja, yang namanya manusia, selalu merepotkan.


"Rangkailah kembali mimpi itu," bisik suara yang terdengar di telinga Gael. Sepertinya itu adalah perintah dari Auriga. Gael pun berusaha untuk menguatkan diri dalam merangkai ulang sebuah mimpi yang pernah terjadi dalam hidup Tania, yang membuat Tania terjebak dalam rasa cinta. Biar bagaimana pun, ini akan berefek pada Tania dalam kehidupan nyatanya.


"Gua akan kembali menceritakan siapa sebenarnya tokoh Titan. Dia adalah lelaki yang begitu acuh dengan kehidupannya, begitu banyak permasalahan dalam hidupnya, serta dia tidak pernah mau peduli tentang siapa sebenarnya dirinya. Hingga, Tania yang mengubah cerita gelap Titan menjadi cerita yang terangkai indah meski bercucur air mata. Sekilas, itu adalah deskripsi dari cerita yang terdapat dalam mimpinya Tania. Di luar dari mimpi itu, mimpi itu berkisah karena sosok Daviel yang telah pergi. Seharusnya Daviel menjadi sosok lelaki yang menjadi masa depan untuk Tania, namun Daviel harus terenggut tak terselamatkan karena sebuah kecelakaan. Yang menabrak Daviel adalah Tristan. Tristan bertanggungjawab atas segala kesalahan fatalnya yang dilakukan meski tanpa sengaja. Tristan berhutang penjelasan dan tanggungjawab pada Auriga---sang Dewa Kematian. Keadaan Tristan memang sedang koma di rumah sakit, ia berada antara hidup atau mati, karena di dunia kami, sang Dewa Kematian masih enggan menerima Tristan untuk kembali ke rumah Tuhan. Itu sebabnya, mimpi itu lahir dalam tidur Tania. Dalam kehidupan nyata, Tania dan Titan adalah musuh bebuyutan. Ketika Tania bangun dari mimpi itu, dia merasa bahwa ada hal yang tertitipkan dalam hatinya dari isyarat mimpi tersebut. Tristan Wiangga, menunjuk Titan Wirasena sebagai pengganti Daviel Diwangkarja, karena Auriga memerintahkan Tristan untuk mencarikan pengganti Daviel dengan inisial nama huruf TW. Ya, itulah alasan mengapa Titan Wirasena menjadi pemeran utama dalam kisah dari mimpi Tania." Gael berbicara tanpa suara, mulutnya bungkam tak berkata, namun suara hatinya mengisyaratkan kalimat demi kalimat yang membentuk sebuah narasi tersebut.


Setelah itu, Gael membuka matanya. Air matanya terjatuh, namun tidak ada isak tangis di sana. Gael menunduk lesu. "Semuanya akan berakhir." Suaranya terdengar sangat getir.


Gael melangkahkan kakinya dengan sangat rapuh dan tertatih, pandangannya masih menunduk, dan tangan kanannya terlihat memegang dada bagian kiri. Detak jantung semakin melambat, ia tidak bisa menyembunyikan kerapuhan ini jauh lebih dalam lagi.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Langkahnya teramat sangat berat, sehingga langkahnya seperti terdengar seretan-seretan kecil. Beginikah cara Gael menangis? Mengapa terlihat sangat rapuh.


Aku adalah matahari...


Tapi aku melupakan tugasku yang senantiasa menerangi semesta...


Aku malah berlari...


Ingin bertemu rembulan malam hari...


Aku terpukau...


Ternyata rembulan berhasil membuatku terjatuh dan bertekuk lutut...


Aku tidak tahu, apakah ini cinta?


Mengapa sulit untuk aku pahami.


Mungkin ini bukan cinta,


Tapi perasaan cemas akan takut kehilangan..


Kehilangan waktu yang telah tercipta...


Kehilangan waktu yang pernah menjebak kita dalam kebersamaan penuh tawa...


Aku takut...


Aku takut...


Aku pasti akan merindukan hal itu...


Aku matahari, tapi aku ingin bertemu rembulan malam hari...


Tapi langit melarangku untuk bisa bersanding dengan rembulan...


Mengapa sesakit ini?


Aku tidak ditakdirkan bisa memilikinya...


Tapi Tuhan menakdirkan, aku bertemu dengannya.


Lalu, apa maksud dari pertemuan ini, jika semuanya tak dapat aku miliki?


Aku akan mengusir seluruh nestapa hati...


Dan berusaha untuk melatih rasa sakit di relung hati...


Dan berkata, bahwa semuanya baik-baik saja tanpa ada yang terlukai...


Aku akan tersenyum...


Saat kejamnya senja menenggelamkan diriku dan melarangku untuk bisa melihat rembulan bersinar pada malam hari...


Ketahuilah, walau rembulan tak dapat kumiliki, tapi pembiasan sinarku selalu sampai padanya...


Aku akan pergi...


Saat semuanya telah berganti...


Kemudian, kebahagiaan pun ikut menanti...


Menantikan dia dalam kisah yang penuh arti...


Aku akan pergi, lalu mati...


Mungkin tak bisa lagi kautemui...


Jangan cari aku lagi...


Aku akan bersedia terlukai dalam kisah ini...


Aku menyayangimu...


Tanpa sadar, aku terlempar jauh untuk mencintaimu...


Jangan tanya kenapa, aku pun tidak tahu...


Gael menghilang dan langsung menemui Rega. Membicarakan hal yang sangat serius, dan memang amat serius. Gael mungkin tidak akan punya banyak waktu untuk membantu kasusnya Tania ini. Biar bagaimana pun, Auriga telah memberikan sedikit waktu untuk Gael menyelesaikan tugas ini. Karena Gael, adalah sosok yang bisa dikatakan penulis dalam cerita dari mimpi Tania tersebut. Gael membantu banyak pihak; Tristan, Daviel, dan Tania. Konflik pun semakin rumit.


Namun, pada saat ingin menemui Rega, Gael mendapatkan firasat kecil pada Tania. Entah perasaan apa, pada intinya, secara tiba-tiba Gael measa bahwa Tania saat ini membutuhkan tempat untuk mencurahkan hatinya. Gael tahu pasti, Tania mungkin saat ini sedang terluka hatinya. Entahlah.



***


"Gael! Lo di mana?!"


Tania berteriak menyebut nama Gael, pada saat ia berada tepat di belakang sekolah.


"Ayo dong, lo keluar, Gael!" Tania berteriak lagi, seraya merengek seperti tidak sabaran untuk meminta Gael datang. "Gue lagi galau, nih. Gue lagi semeraut. Perasaan gue lagi kacau. Mood gue hancur pagi-pagi gini. Gue nggak tau mau curhat sama siapa. Gue gak punya siapa-siapa lagi." Tania menundukkan wajahnya lesu, seraya berujar dengan nada yang juga sama lesunya.


Tiba-tiba. "Lo kenapa?"


Gael berdiri tepat di samping Tania. Tania pun langsung tertoleh ke arah sumber suara tersebut. Tania memperlihatkan wajah lesunya. Gael hanya menatap Tania dengan sorot yang biasa saja.


"Gue nggak tau sama perasaan gue."


"Perasaan lo kenapa?"


"Gue juga nggak tau. Gak bisa gue deskripsiin, Gael."


"Terus kenapa manggil gue? Rindukah dirimu?" Gael tersenyum miring, sepasang mata sayunya pun tampak memesona.


"Ih, nggak gitu."


"Terus, apa lagi kalau bukan kangen?" Gael semakin menggoda. "Atau jangan-jangan, lo korban drama korea? Jadinya perasaan lo ancur kayak gini. Masih pagi neng, jangan baperan." Gael menggelengkan kepala dan tersenyum remeh.


"Lo tuh, ya! Sok tahu banget!"


"Kali aja gitu."

__ADS_1


"Bukan, Gael."


"Terus kenapa?"


"Makin hari gue makin pengen cepet-cepet nyelesain permasalahan gue. Kadang ya, gue suka ribet sama apa yang gue rasain. Lo pernah ada di posisi yang seperti gini; lo bingung sama apa yang lo rasain, mau bilang ini perasaan sayang, tapi lo kayak semacam menepis perasaan itu, padahal lo sendiri tahu dan mengakui bahwa lo sayang dan tulus sama seseorang itu. Apa pernah lo ngerasain juga kaya gitu?" Wajah Tania langsung memelas.


Gael tersenyum tipis, dan menggelengkan kepala pelan. Dari jawaban isyarat Gael ini, Tania langsung menarik kesimpulan bahwa Gael menjawab; tidak pernah.


"Lo belum pernah ngerasain?" Tania memperjelas pertanyaan, karena respon Gael yang tampak menggeleng-gelengkan kepala pelan disertai senyum tipis.


"Ngerasain apa?"


"Itu tadi."


"Tadi apa?"


"Ih yang gue bilang tadi, Gael."


"Lo tadi bilang apa?"


"Kok nanyanya muter-muter, sih? Jawab kek!"


"Jawab apaan Tania?" Gael terkekeh, sepertinya senang membuat Tania kesal.


"Jawab pertanyaan gue, lah!"


"Yang pernah ngerasain atau nggak?" ucap Gael dengan tatapan yang berseri.


"Iya, yang itu!"


"Kalau gue sih, belum pernah ngerasain malam pertama. Kata orang sih, nikmat. Cuma kalau cewek mungkin agak sakit, itupun kalau ceweknya masih perawan." Gael berujar dengan santainya, dengan wajah yang tampak menggoda Tania, dan berusaha membuat Tania kesal. Karena Gael tahu, Tania akan lebih mudah melupakan hal-hal yang menurutnya kacau pada saat pikirannya sudah terkontaminasi rasa sebal pada sesuatu.


Tania menggerut. "Ya Allah, Gael! Otak lo mesum banget, sih!"


"Kan tadi lo nanya. Gue pernah ngerasain atau nggak." Gael terkekeh.


"Bukan ngerasain malam pertama! Ih! Rese amat!"


"Mangkanya, kalau mau tanya tuh harus lengkap. Tanyanya gini dong; Gael lo pernah ngerasain sayang sama orang nggak? Tapi lo nggak bisa ngedeskrispsiin rasa sayang lo, apalagi membohongi diri lo sendiri untuk bilang nggak sayang sama seseorang, padahal lo mengakui kalau lo sayang sama seseorang itu."


"Tuh kan! Lo paham!"


"Lo nanyanya kurang lengkap."


"Harusnya lo paham!"


"Paham apa?"


"Ya itu."


"Itu apa?"


"Soal yang lo barusan tadi."


"Soal yang mana? Yang malam pertama?" Gael semakin jahil membuat Tania kesal, alhasil Tania hanya menepuk jidatnya sendiri.


"Kayaknya otak lo pagi ini lagi mesum."


"Tau dari mana?"


"Searching di google!"


"Emang lo bisa nemuin jalan pikiran gue di google?" Gael terkekeh.


"Kenapa sih lo, pagi ini gemesin dan rese banget?!" Tania menampakkan ekpresi gemas pada Gael. Gael hanya terkekeh.


"Iya, lah. Gue mah emang selalu ngegemesin."


Tania pun berlalu dari tempat ini. Gael hanya tersenyum saat melihat Tania berlalu pergi dari tempat ini. Setidaknya, Gael telah membuat pikiran Tania teralihkan oleh sesuatu yang telah membuatnya merasa bingung dan kewalahan dalam menyampaikan deskripsi rasa.


Saat Tania telah hilang dalam pandangan Gael, seketika itu senyum Gael meluntur.


"Sekarang gue jawab, gue pernah ngerasain ada di posisi lo, Tania. Rasa sayang yang kian tumbuh dalam relung, pikiran semakin kuat menepis rasa yang kian menggunung, namun diri ini tidak bisa terbohongi oleh tepisan pikiran itu. Gue akui, sebuah rasa memang serumit ini." Senyumnya kembali terukir, namun terlihat tipis dan samar.



***



Pagi ini, Titan menghabiskan waktu jam pelajaraan pertama di kantin belakang sekolah. Ia bolos di pelajaran pertama. Tampaknya memang hari ini moodnya terlihat kacau karena kejadian tadi---ketika pas hendak berangkat sekolah, ia harus berpapasan dengan Tania. Dan, sialnya, Tania membantu Titan untuk bersembunyi dari para bodyguard Ayahnya Titan. Titan membenci semua hal yang berhubungan dengan Tania. Entah apa penyebabnya, padahal Titan sudah merampas jabatan Tania di eskul badminton, mengapa Titan masih belum bisa meredakan rasa bencinya? Ada sesuatu hal yang mungkin membuat Titan kukuh dengan rasa bencinya itu. Mungkin saja.


Titan tidak sendiri, ia bersama Jonathan. Jonathan yang juga ikut bolos pelajaran, tapi tidak dengan Rayn. Rayn tidak ada di sini.


"Kau membuat, kuberantakan. Kau membuat, ku 'tak karuan. Kau membuat, ku 'tak berdaya. Kau menolakku acuhkan diriku. Bagaimana, caranya untuk meruntuhkan kerasnya hatimu. Ku sadari, ku 'tak sempurna, ku 'tak seperti yang kau inginkan. Kau hancurkan aku dengan sikapmu. Tak sadar 'kah kau telah menyatiku, lelah hati ini meyakinkanmu. Cinta ini membunuhku." Jonathan bernyanyi dengan diiringi gitar ukulele yang ia mainkan sendiri.


Titan langsung menyabut earphone yang sedari tadi nyangkut di telinga Jonathan.


"Berisik, nyet!"


"Gelo. Kaget aing."


"Berisik! Pagi-pagi nyanyi begitu. Mood gua lagi ancur!"


"Terus?"


"Lo bisa tenang nggak?"


"Gue nggak bisa. Gue 'kan cacing kepanasan." Jonathan mengakui hal tersebut sambil nyengir kuda.


"Nyadar juga lo."


"Gue mah orangnya tau diri."


"Pantes."


"Emangnya elo."


"Gua kenapa?" Titan menaikan alisnya sebelah, sambil berujar enteng.


"Lo nggak sadar juga?" Jonathan membenarkan posisi duduknya menjadi tegak, dan menyimpan gitar ukulelenya di meja yang terdapat di samping kirinya. "Lo masih ngekeuh kayak gini, Tan? Gue udah tahu dari temen-temen satu sekolah. Katanya, lo nyuruh si Ratu buat jebak Tania? Kok lo bisa punya pikiran sampai ke situ? Lo nggak kasihan sama Tania?"


Titan tersenyum kecut, dan menggelengkan kepala pelan. "Satu-satunya cewek yang pengen gue hancurin adalah Tania. Cuma Tania."


"Alasannya?"


"Gua punya banyak alasan untuk itu. Di dunia ini, gue menyayangi dua wanita. Dan gue nggak mau dua wanita yang gue jaga ini dihancurin. Kalau berani, bisa berurusan sama gua."


"Maksud lo apa ya, gue nggak ngerti. Gagal paham."


"Lo tahu? Tania sudah menyakiti Mbak Riana. Mbak Riana adalah wanita kedua yang gue sayang setelah Nenek gue."


"Nyokap lo nggak termasuk wanita yang lo sayang?"


Titan menggelengkan kepala. "Nggak."


"Lo mau jadi anak durhaka?"


"Gua bahkan nggak tau gimana rasanya punya Nyokap. Mereka gak peduli sama gue."

__ADS_1


"Gitu-gitu juga Nyokap lo. Kadang gue nggak habis pikir sama jalan pikiran lo, Tan. Gua tahu persis siapa lo, lo paling anti nyakiti hati cewek. Tapi? Lo sendiri malah bersemangat buat ngancurin hati Tania, dengan alasan yang nggak logis. Gue yakin, Tania nggak ada maksud buat ngehancurin pernikahannya Mbak Riana. Gue rasa juga, Mbak Riana akan lebih memilih move on daripada harus menumbuhi rasa dendam di hatinya. Selama ini, gue kenal lo baik, Tan. Bahkan gua salut sama cara lo yang menantang Bokap lo untuk nggak menggelapkan uang. Bahkan Bokap lo juga terlibat dalam kasus menelantarkan anak-anak jalanan, yang seharusnya dananya itu cair dari Bokap lo, malah Bokap lo pakai buat bisnisnya. Dari sisi itu, gue bisa ngelihat sisi baik dalam diri lo tumbuh."


"Jon. Gua bukan cowok baik. Gua adalah cowok berengsek. Bisa saja gua melukai banyak wanita di luar sana. Termasuk Tania."


"Coba lo lihat, apa ada cewek kayak Tania?"


"Maksud lo?"


"Gue masih bisa lihat dia tersenyum, walaupun dia terluka karena sahabatnya yang namanya Ratu itu udah menjebaknya karena ulah lo. Lo tahu rasanya dikhianati temen? Syakit, coy."


"Kan tadi gua bilang gua mau ngehancurin Tania. Kalau menurut gue, kejadian kemarin itu masih belum seberapa."


"Kalau lo mau hancurin dia, kenapa nggak sekalian aja lo perkosa dia."


Titan tersenyum pahit. Lalu, terdiam.


"Kenapa lo diem?" Jonathan mengerutkan dahinya.


"Gak apa-apa."


"Apa lo tahu? Si Rayn naksir sama Tania."


"Rayn?"


"Iya. Rayn."


"Dia naksir Tania?"


"Iya, lah."


"Oh. Biarin ajalah. Biar nanti gue nyuruh Tania buat bisa jatuh cinta sama Rayn. Setidaknya, Tania jangan sampai jatuh cinta sama gua. Gua benci sama dia."


"Alasan lo apa benci sama Tania sampai sedalam itu?"


"Gak perlu gua jelasin."


"Tapi alasan lo nggak logis, Tan."


"Ya gua benci aja sama dia."


"Jangan jadi pendendam."


"Gua nggak pendendam."


"Terus?"


"Gua nggak suka aja sama Tania."


"Kenapa? Lo seharusnya bisa mengerti situasi semua ini, Tan. Karena apa? Lo sendiri 'kan udah baca catatan harian Tania. Menurut lo siapa orang yang Tania maksud dalam buku catatannya kalau bukan lo? Tania suka kayaknya sama lo, Tan. Mungkin, dulu lo sama Tania emang musuh bebuyutan. Tapi, gue ngerasa Tania sekarang udah berubah. Ya, gue juga nggak tau pasti, sih. Tapi setelah kejadian si Ratu jebak Tania itu, gue kok ngerasa kalau Tania beda sama yang lain. Kalau gua ada di posisi Tania, gua bakal nyantet lo, Tan. Karena sikap lo keterlaluan."


Titan tersenyum kecut, lagi. Mendengar penuuturan Jonathan.


"Mungkin dia pura-pura bahagia, Jon."


"Jangan salah, Tan. Pura-pura bahagia juga butuh makan! Maksud gue, Tania juga butuh makan kasih sayang dan cinta untuk hatinya yang pernah terluka. Jangan salah."


Titan menghela napas pelan dan menutup matanya sedetik. "Intinya, gua benci sama Tania."


"Lo boleh aja benci sama Tania. Tapi dengan alasan yang logis."


"Bencinya gue itu nggak beralasan."


"Sama kayak cinta dong?"


"Jon. Please, jangan hubung-hubungkan ini dengan cinta. Jelas beda antara cinta dan benci. Lo seharusnya tahu, dari kelas 10 gue sama Tania emang nggak pernah akur. Dan kejadian soal jebakan kemarin, itu adalah hal yang emang udah sering gue lakuin ke dia. Jadi, gue nganggap itu biasa aja."


"Tapi sekarang keadaannya berbeda, Tan. Gue ngelihat kalau Tania suka sama lo."


Titan tersenyum tipis. "Gue nggak peduli."


"Coba lo lihat, apakah dia masih bisa baik sama lo setelah perlakuan lo kemarin. Dia masih bisa tersenyum, Tan. Soal lo yang nyakitin dia itu emang udah biasa, tapi cara lo yang salah telah menjadikan Ratu sebagai orang yang lo suruh ngejebak Tania. Tania sama Ratu itu temenan, mereka itu lengket. Dan sekarang, Tania jaga jarak sama Ratu. Tania kelihatan nggak punya temen."


"Jadi, lo kasihan sama dia?"


"Gua cuma kagum sama Tania."


"Kagum?"


"Iya. Karakter Tania yang sekarang itu berubah, dia lebih kelihatan manis. Entah apa yang membuat dia berubah."


"Lo suka sama dia?"


"Nggak juga. Rasa kagum sama rasa suka jatuh cinta itu beda, ya."


"Terus perasaan lo ada di bagian mana?"


"Gua kagum sama dia."


"Oh."


"Seharusnya lo ngerasa beruntung, Tan. Karena lo bisa dicintai sama cewek kayak Tania. Sorry, gue nggak ada maksud buat ngajak lo untuk peduli sama Tania. Karena nggak tau kenapa, gue ngerasa alasan lo yang nggak logis itu menutup pandangan lo untuk melihat sisi baik dari Tania. Ya, gue paham, lo sayang banget sama Mbak Riana, karena Mbak Riana juga udah ngurusin Nenek lo."


Titan terdiam.


"Kadang, karakter lo nggak jelas, Tan. Lo itu kayak semacam tokoh fiksi yang diciptain sama penulis amatiran. Di sini lo pemeran utama, karakter lo pun kuat, tapi sayangnya lo terlihat seperti pemeran utama yang tidak berperasaan."


"Gua hidup di dunia nyata. Bukan di dalam cerita. Gua juga bukan tokoh fiksi."


"Rencana lo selanjutnya apa?" Jonathan mengalihkan pembicaraan.


"Ada hal yang seharusnya orang-orang nggak tau kenapa gua sebenci ini sama Tania. Jadi, gue harap lo paham. Karena alasan yang sebenarnya masih enggan gua umbar ke semua orang. Ya seperti yang lo bilang tadi, karakter gue nggak jelas. Tapi, lo akan tahu ketika gua udah bilang alasan yang sebenarnya."


"Alasan tentang siapa? Mbak Riana gagal nikah sama calon suaminya? Basi!"


"Bukan."


"Terus?"


"Tentang Tristan."


"Tristan? Siapa tuh?"


Titan pun diam, enggan menjawab pertanyaan Jonathan. Lalu, setelah itu Titan memutuskan untuk mengakhiri obrolan ini. Tampaknya memang ia mengetahui sedikit tentang Tristan. Itu sebabnya, Titan membenci Tania sedalam ini. Akankah, semuanya berakhir dengan tangis? Titan bahkan semakin menjadi-jadi. Titan sudah seperti kehilangan hati nuraninya untuk membuka rasa pemaaf untuk Tania. Sampai detik ini, Titan seolah menganggap tidak tahu apa-apa. Padahal, Titan tahu keberadaan Tristan, yang kini terbaring di rumah sakit. Itu karena, Titan mengorek informasi jauh lebih dalam mengenai Tristan, sampai akhirnya ia mendapatkan informasi bahwa Tristan berada di rumah sakit. Sial. Ternyata diam-diam Titan mencari tahu tentang Tristan.


Kesalahan fatal. Akankah permasalahan ini dapat terselesaikan? Lalu, Tania akan semakin sulit mendapatkan hati Titan. Seakan semuanya menjadi rumit.



To be continued...


Sori, ya.


Aku updatenya lama.


Adakah yang menunggu cerita ini?


Silahkan komentarnya dong. Aku tunggu. Biar aku semangat updatenya.


Terima kasih.

__ADS_1


Regards,


Lendiary


__ADS_2