
(Gael 👆)
***
Tristan tidak bisa dijenguk, Suster memberikan peringatan pada Tania untuk tidak menjenguk pasien atas nama Tristan Wiangga, dikarenakan hal lain. Tania akhirnya mengikuti aturan yang telah ditetapkan di rumah sakit ini. Tania sempat bingung, jika ia kembali ke sekolah, maka ia akan mendapatkan hukuman—karena ini terlalu siang, ia pasti terlambat sekolah. Gael yang sedari tadi mengikuti langkah Tania pun, seolah merasakan kegelisahan di raut wajah Tania.
"Rencana lo mau ke mana?" Tanya Gael.
"Nggak tau."
"Lo mau balik ke sekolah?"
"Yakali, gue nggak mau dihukum. Udah jam berapa ini? Terlalu siang aja kalau misalkan gue balik ke sekolah."
"Oh. Terus, lo mau pulang ke rumah gitu?"
"Nggaklah, gue takut diintrogasi habis-habisan sama Uwa gue. Nanti kalau gue ketauan bolos, bisa jadi nanti Uwa gue malah ngelemparin gue ke Nyokap atau Bokap. Ogah gue. Karena gue nggak bisa memilih antara hidup sama Bokap atau Nyokap. Mereka udah hidup masing-masing. Udah punya keluarga sendiri-sendiri. Gue nggak mau ganggu. Lagipula, gue belum bisa menerima kenyataan kalau gue punya Bokap tiri, atau Nyokap tiri. Terlalu nyeremin buat gue." Tania berujar panjang lebar di sela-sela berjalan menuju keluar gerbang rumah sakit. "Hm, kalau tau gini, gue nggak bakal bolos. Sia-sia aja. Harusnya sekarang tuh gue lagi belajar sejarah di kelas, eh malah keluyuran nggak jelas kayak gini," sambungnya.
Gael tersenyum tipis, "itu karena lo terlalu kepo, sih."
"Gue pengen masalah gue cepet selesai, Gael."
"Ya. Gue tau. Tapi nyantai dikit bisa?"
"Hm. Iya deh, iya. Gue yang salah. Gue yang ceroboh."
"Oke. Daripada lo nggak jelas tujuannya. Mending, kita ke rumah Bokap lo aja. Lo ambil lukisan gue di sana. Ya paling tidak, nanti sedikit demi sedikit lo akan nemuin jawaban di sana." Gael menyarankan Tania untuk pergi ke rumah Ayahnya yang lama. Rumah yang sudah lama tidak berpenghuni.
Dengan pandangan yang meragu ke arah Gael, Tania mengiyakan perkataan Gael. Karena memang, hari ini sudah tidak ada lagi tujuan untuk pergi ke mana. Kalau Tania memutuskan untuk nongkrong di cafe atau di tempat-tempat yang enak untuk dikunjungi, ia bisa saja. Namun, orang akan terus memperhatikan keanehan Tania—karena berbicara sendiri dan berkeliaran memakai baju seragam sekolah pada waktu jam sekolah seperti ini. Orang akan menyangka Tania itu gadis aneh, karena sejatinya tidak akan ada yang bisa melihat Gael—sebab, semua orang mengira kalau Tania tengah bicara sendirian. Untuk itu, Gael menyarankan Tania untuk pergi ke rumah Ayahnya yang lama, untuk mengambil lukisan wajah Gael di sana.
"Tapi gue agak takut, nih." Tania berujar ragu.
"Kenapa harus takut? Bukannya lo pemberani?"
"Lo bisa jamin gue nggak?"
"Jamin apanya?"
"Menjamin kalau gue selamat di sana."
"Menurut keyakinan lo gimana?"
"Maksud lo?"
"Pertanyaan lo yang bertanya tentang gue bisa ngejamin keselamatan lo apa nggak itu, ya tergantung dari rasa yakin lo. Kalau lo yakin kalau gue bisa menjamin keselamatan lo, ya itu tandanya lo akan selamat. Kalau lo nggak yakin, ya lo mungkin akan terkubur bersama seluruh kenangan kelam di masa lalu." Gael berujar dengan nada bercanda. Lantas Tania pun langsung memasang wajah sebal.
"Bercanda mulu, ah."
"Gue serius." Gael terkekeh, sambil mengangkat tangannya sambil membentuk hurup V di antara jari telunjuk dan jari tengah.
"Makhluk kucrut kayak lo bisa bercanda juga? Gue kira lo itu sama persis kayak si Edward Cullen, sebangsa kayak mereka yang dingin abis mukanya nggak ada tampang-tampang Sulenya." Tania berujar sebal, sementara Gael terkekeh.
"Lo mau nyamain Edward sama Sule? Ya nggak bisa, lah."
"Gue lagi ngebandingin lo, Gael!"
"Gue itu makhluk yang nggak bisa lo banding-bandingin sama makhluk lain. Karena gue makhluk yang paling—"
"Paling apa? Sexy?"
"Gue nggak bilang gitu lho, ya."
"Ck! Rese emang lo ya, ah."
"Ciye, gengsi. Bilang aja kalau gue emang sexy." Gael kembali terkekeh.
__ADS_1
"Gael!" Tania pun menepuk bahu Gael dengan sekuat tenaga, Gael hanya terkekeh saja mendapatkan perlakuan Tania yang seperti itu. Kadang, Tania begitu sangat menggemaskan bagi Gael. Gael melihat sisi terbaik dalam diri Tania—entah itu dalam hal apa.
Kini, pada saat menelusuri jalanan kota pun, Tania sama sekali tidak peduli dengan tatapan aneh para pejalan kaki lainnya. Tania tetap asyik berbincang-bincang tanpa memerdulikan tatapan aneh orang lain. Gael menyukai kepolosan Tania. Tania yang dengan secara perlahan akan masuk ke dalam dunia Gael lebih jauh lagi dari kedekatan yang tercipta hari ini. Ada banyak hal yang akan Gael sampaikan tentang bagaimana mimpi tempo lalu itu datang kepada Tania, sehingga membuat Tania jatuh terperangkap jerat cinta. Titan yang saat sudah mulai menyinggahi relung Tania pun seakan tidak peduli dengan perasaan Tania. Sebenarnya, ada perasaan iba dari dalam hati Gael pada Tania. Gadis polos yang baru mengenal artinya mencinta itu, harus dihadapkan dengan sebuah perjalanan cinta yang mungkin akan lebih membosankan dari ruang sempit di keabadian. Yang mana perjalanan cinta yang akan dihadapi Tania akan lebih panjang daripada sebuah penantian seorang panglima Tian Feng.
Tidak.
Mungkin tidak sedramatis itu. Akan tetapi, Tania akan menjadi lebih tahu mengenai saling betapa pentingnya menjaga hati agar tidak mudah tersakiti. Karena hati yang sudah tersakiti dan terluka, bekas lukanya akan tetap ada walau seumpanya sang pemeran pengganti telah hadir dalam hidupnya.
"Lo tau nggak?" Gael mulai membuka suara lagi setelah beberapa menit hening tanpa obrolan.
"Kenapa? Tau apa?"
"Hm. Hati itu seperti seekor burung yang terbang."
"Seekor burung? Maksud lo?"
"Iya. Dia meminta untuk ditangkap, tapi menolak untuk dilukai."
"Hm."
"Jangan baper. Gue cuma lagi main perumpamaan sama lo. Gue tau, rasanya jatuh cinta sendirian itu nggak enak banget. Tapi, lo juga harus paham tentang perjuangan mendapatkan hati seseorang. Sayangnya, lo itu cewek. Seharusnya lo yang diperjuangkan, bukan lo yang memperjuangkan." Gael tersenyum miring setelah berucap. Tania hanya terdiam saja—seolah tidak mau membahas ini jauh lebih dalam lagi bersama Gael.
"Bahasa lo terlalu PPKN, bawa-bawa perjuangan segala. Udah kayak mau perang aja gue tuh." Tania berujar dengan wajah sedikit sebal. Karena bagaimana pun juga, Tania tidak bisa menyalahkan dirinya dan juga hatinya yang telah tumbuh sebuah perasaan untuk seseorang. Tania tampak tidak berdaya jika harus menyalahkan dirinya juga hatinya. Tania juga tidak bisa menyalahkan cinta yang telah hadir.
Gael hanya mengangguk-ngangguk kecil disertai senyum yang tertahan. Gael tidak bisa melanjutkan topiknya, karena kalau sampai Gael melanjutkan topik pembicaraan ini, mungkin Tania akan membunuhnya saat ini juga. Entahlah. Gael pun hanya menampakkan wajah santai disertai senyuman yang memesona.
***
Saat Gael dan Tania telah sampai di sebuah rumah tua berdesign Jawa kuno, Gael langsung menunjuk ke arah pintu masuk rumah tersebut. Mengisyaratkan pada Tania untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Wajah Tania sedikit meragu, ia takut. Sudah lama Tania tidak mendatangi rumah ini, setelah 15 tahun lamanya. Rumah ini menjadi sangat tidak terurus. Dengan langkah berhati-hati pun, Tania memasuki rumah tersebut.
Tania membuka pintu utama rumah tersebut. Ketika masuk, segala ruangan pun terlihat berdebu dan bersarang laba-laba, namun tetap masih terlihat rapi dengan susunan dekorasi yang masih sama seperti saat 15 tahun yang lalu.
"Hm. Rasanya masih tetap sama kayak dulu. Cuma bedanya, keluarga gue sekarang nggak utuh. Gue jadi kangen saat-saat di mana Bokap sama Nyokap masih sama-sama. Rasanya indah. Tapi keutuhan itu saat ini udah hancur, udah nggak bisa sama lagi kayak dulu. Gue hanya tinggal menikmati hidup gue yang kayak gini-gini aja." Tania berujar datar, saat menyudutkan pandangannya ke segala ruangan.
"Kisah lo nggak akan cuma berhenti sampai di sini, Tania." Gael menghampiri dan berdiri di samping Tania. Tania pun menoleh ke arah Gael sebentar, lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk melihat isi rumah ini dengan kenangan yang semakin terekam samar-samar dalam ingatan Tania.
"Padahal sebenarnya, yang gue butuhin itu bukan jabatan, kekayaan atau popularitas. Tapi gue cuma mau keluarga yang utuh. Udah itu aja." Tania membalikan badannya ke arah Gael, Gael langsung tersenyum tipis saat Tania berdiri menghadap ke arahnya.
"Apa? Jadi bagian dari dunia lo? Nanti gue termasuk dari jenis makhluk apa?"
"Perlu lo tahu. Dunia gue terbagi menjadi tiga bagian. Yang pertama, dunia para malaikat atau Dewa. Yang kedua, dunia para jelmaan. Yang ketiga, dunia para hantu atau setan."
"Lo termasuk bagian mana?"
"Yang pertama."
"Kalau si Udin?"
"Yang pertama juga."
"Lo serius? Udin titisan Dewa?"
"Yap. Rega alias Udin adalah kembaran dari petinggi Dewa kematian, Auriga, atau Riga. Rega dan Riga adalah kekuatan kegelapan yang punya sisi kegelapan yang maha dahsyat. Rega terlahir kembali menjadi manusia, karena ketika semasa hidupnya di dunia bayangan, dia melanggar aturan dan ketetapan yang berlaku. Itu sebabnya, sekarang ini si Rega walau dia manusia, tapi dia bisa ngelihat sebangsa gue. Kalau melihat bagian kedua dan bagian ketiga dari dunia bayangan, itu adalah hal yang cukup mudah bagi dia. Gue, Rega, Riga, dan yang lainnya termasuk kegolongan Dewa kegelapan. Lo bisa mengenal Dewa kematian, kalau lo mau."
"Ish. Kok gue merinding ya lo ngomong gitu."
"Lo belum terbiasa aja."
"Terus, kok gue bisa ngelihat dunia lo? Kenapa? Apa gue juga termasuk bagian dari dunia lo?"
Tidak ada jawaban beberapa detik. Gael pun menunjuk ke arah tembok yang terdapat sebuah lukisan yang terpajang di dinding tersebut. Dengan segera, Tania melihat sesuatu yang ditunjuk Gael. Sempat terpesona beberapa detik saat Tania memandangi lukisan tersebut.
"Jadi, lukisan itu beneran ada?"
Gael mengangguk.
"Itu artinya, gue bisa ngelihat lo karena lukisan Kakek gue itu?"
__ADS_1
Gael mengangguk lagi. "Seperti yang udah gue jelasin ke lo."
"Hm."
"Tapi, lo bukan hanya bisa ngelihat gue. Lo bisa ngelihat dunia bayangan dibagian pertama. Cuma bedanya lo nggak akan bisa ngelihat dunia bayangan bagian kedua dan ketiga. Kenapa lo bisa memiliki kemampuan itu? Itu disebabkan dari kisah rumit yang mendatangkan isyarat mimpi tentang Titan ke lo. Jadi, intinya, lo bakal terseret langsung ke tingkat pertama dunia bayangan. Itu semua karena isyarat mimpi lo tentang Titan." Gael berujar panjang lebar.
"Mimpi gue tentang Titan? Kok bisa, sih? Padahal 'kan isi mimpinya itu menye-menye, kayak cerita-cerita fiksi remaja, kenapa bisa sampai nyeret gue ke alam lo?"
"Karena ada hal yang nggak lo tau."
"Tentang apa? Lo bisa jelasin sekarang?"
"Pelan-pelan gue jelasin." Gael menyempatkan untuk menghela napas dengan mengontrol napasnya untuk memulai menjelaskan sejelas-jelasnya pada Tania.
"Ada hal yang nggak lo tahu mengenai Tristan. Tristan yang bisa dikatakan dialah penyebab semua kisah yang terjadi dalam mimpi di siang bolong lo itu. Dan satu hal yang juga perlu lo tahu, tentang keberadaan Daviel Diwangkarja. Sosok yang juga bisa dikatakan adalah penyebab mimpi lo. Kenapa gue bisa mengatakan hal itu, lo akan tau nantinya. Karena permasalahan lo sebenarnya ada di Tristan dan Daviel. Tapi, gue udah bisa menunjuk Tristan kalau dialah yang telah bersalah."
"Lo udah pernah bilang kalau Tristan ada sangkutpautnya sama mimpi gue. Daviel? Daviel itu siapa? Apa dia seseorang yang juga hidup di dunia lo?"
"Bukan. Gue akan jelasin secara lebih jelas dan terperinci. Setiap manusia yang terlahir di dunia ini, mereka memiliki takdir dan jalan hidupnya masing-masing. Tuhan akan memberikan sebuah kata misteri pada manusia yang baru saja terlahir ke dunia. Kata misterinya adalah, kematian, jodoh atau pasangan hidup, rezeki, dan umur. Tidak akan ada satu orang pun yang tahu kapan dia mati, kapan dia akan didatangkan jodohnya, dan entah sampai umur berapa dia akan hidup. Termasuk lo juga. Karena lo manusia. Gue akan bilang, ke elo, bahwa laki-laki yang akan menikahi lo di kemudian hari, atau laki-laki yang ditakdirkan akan menjadi suami atau pasangan hidup lo itu, sudah mati. Bisa dikatakan, jodoh lo sekarang udah nggak ada. Lo akan selamanya hidup tanpa pasangan sampai lo menua dan mati. Dan lo harus tau, siapa Daviel sebenarnya. Daviel adalah lelaki yang ditakdirkan Tuhan, akan menjadi pasangan hidup sejati lo. Dia akan jauh lebih menyayangi lo sebagai wanita satu-satunya yang dia cintai. Lo akan menjadi seorang wanita yang teramat sempurna bisa dicintai oleh seorang Daviel. Daviel adalah lelaki biasa, dia yatim-piatu, tapi dia adalah seorang pekerja keras. Akan tetapi, saat ini Daviel Diwangkarja sudah tidak berpijak di dunia ini. Dia sudah menghadap Dewa kematian. Kematiannya masih belum sempurna, disebabkan oleh kesalahan fatal Tristan. karena Tristan harus menyelesaikan semua tugasnya atas kesalahan-kesalahan fatal yang telah dilakukannya."
Tania terdiam beberapa detik mendengarkan penuturan Gael.
"Jadi. Sebenarnya apa yang dilakukan Tristan?"
"Sebuah kecelakaan terjadi dengan mengenaskan. Mobil yang dikendarai Tristan melaju tanpa kendali, sehingga menabrak seorang pejalan kaki yang hendak menyebrang. Ya, Tristan menabrak Daviel, dan menyebabkan Daviel meninggal pada saat dilarikan ke rumah sakit. Keduanya mengalami luka yang sangat parah. Tubuh Daviel sudah banyak berlumuran darah. Sementara Tristan pun terpilih hidup, meski dia juga mengalami luka yang cukup parah. Setelah itu, arwah Tristan dan Daviel bertemu di dimensi lain, dan gue menyaksikan hal itu. Perjanjian antara arwah Tristan kepada Daviel di depan para Dewa, membuat Tristan harus menyelesaikan tugas yang cukup berat. Dan perlu lo tau, alasan Tristan menggagalkan pernikahannya adalah memang itu karena lo, Tania. Dewa kematian memberikan tugas berat, dan melarangnya untuk menikah sebelum tugas itu selesai dia kerjakan. Dalam posisi tubuh koma, sebenarnya arwah Tristan sedang memperhatikan kehidupan lo dari kejauhan, Tania. Setidaknya, Tristan harus mencarikan peran pengganti Daviel untuk hidup lo nanti dengan inisial yang sama seperti nama Tristan Wiangga."
Tania memasang wajah teramat serius. Beberapa kali Tania terlihat seperti fokus mendengarkan Gael berbicara. Sampai-sampai Tania harus berulangkali menelan salivannya, karena mendengarkan penjelasan rinci dari Gael.
"Itu sebabnya Tristan menunjuk Titan Wirasena?"
"Ya. Permasalahan lo akan menjadi komplit, karena Titan Wirasena nggak akan dengan mudahnya jatuh cinta sama lo. Lo berhutang penjelasan sebenarnya sama Titan. Karena menurut pandangan Titan, lo adalah cewek yang telah merusak hari bahagia Riana."
"Apa Titan akan semakin membenci gue kalau Tristan itu yang ternyata calon suami gagalnya Kak Riana?"
"Iya. Karena apa? Titan berpikir kalau Tristan adalah Kakaknya, karena Rega yang bilang begitu. Titan akan semakin berpikir, kalau lo yang menghancurkan hati orang-orang yang menjadi bagian penting dalam hidup Titan."
"Tapi, 'kan selama ini Tristan koma. Kenapa bisa dia ngegagalin pernikahannya sama Kak Riana. 'Kan posisi dia lagi koma, Gael."
"Ya itu tadi. Arwahnya Tristan yang bertindak. Tubuhnya tidak. Itu sebabnya, Rega menganggap Tristan udah meninggal, padahal enggak, tubuhnya masih hidup. Hanya saja perlu bantuan ekstra dari medis untuk memulihkan syaraf-syaraf dan luka-luka berat yang terdapat di tubuhnya."
"Jadi bukan karena Tristan suka sama gue, terus dia gagalin pernikahannya sama Kak Riana."
"Lo jangan pede dulu, Neng. Lo 'kan belum tau penjelasannya kayak apa. Sampai di sini lo paham, 'kan?"
"Iya, gue mulai memahami semuanya."
"Nah. Permasalahan lo di sini hanya fokus pada Titan. Buat dia jatuh cinta sama lo. Tapi lo jangan seneng dulu, lo akan melewati masa-masa rumit setelah ini. Soal Tristan, masalah dia nggak akan kelar di sini gitu aja. Karena apa? Lo masih harus ngerti tentang perjanjian yang telah dibuat Tristan pada Dewa kematian. Biar semuanya sama-sama enak, sama-sama nggak rugi, dan sama-sama—"
"Iya, iya. Gue ngerti sekarang. Itu tandanya gue bakal berkunjung ke dunia lo, 'kan?"
"Tepat sekali."
"Oke."
"Tapi, cerita ini akan panjang. Lo harus bisa menempatkan diri lo di sini. Banyak hal-hal yang belum lo tau. Karena perincian lo bisa ngelihat dunia gue itu penjelasannya masih sangat luas. Seluas semesta, bisa jadi. Dan lo juga akan diizinkan untuk ketemu sama Daviel Diwangkarja."
"Terus kapan kelarnya?"
"Sampai lo bisa menemukan cinta sejati." Gael berujar, seraya menatap lurus ke arah Tania. Tatapan seperti kosong, tapi memiliki arti yang cukup dalam.
To Be Continued....
Salam dari Daviel Diwankarja
Salam juga dari Tristan Wiangga
Dari Tania juga
__ADS_1
1 Agustus 2018
18.03 WIB