Titan'S 2

Titan'S 2
21


__ADS_3

**



(Gael👆)


"Lo harus siap, ya." Gael berujar secara tiba-tiba ketika Tania sudah sampai di rumahnya. "Seandainya, kalau takdir mempertemukan lo sama Daviel. Lo harus kuat. Karena mungkin alam lo sama alam Daviel udah berbeda." Perkataan Gael membuat Tania langsung tertoleh ke arah Gael.


"Gimana bisa gue ketemu sama Daviel. Kata lo 'kan dia udah meninggal."


"Bisa saja. Karena permasalahan ini belum kelar."


"Hm. Terus nanti gimana caranya bisa ketemu sama Daviel?"


"Lo harus koma dulu."


"What?! Koma? Ogah. Gue nggak mau. Akibatnya fatal kalau gue koma. Ada kemungkinan mungkin gue akan mati 'kan? Gue nggak berani buat lakuin hal konyol itu." Tania langsung bergidik takut, dan langsung menyimpan lukisan wajah Gael ke dalam lemari bajunya.


Gael terkekeh sambil menggaruk pelan sebelah alisnya dengan jari telunjuk. "Gue udah ngasih kode ke elo. Jadi, lo harus tau, lo bakal koma dengan cara ... Masih dirahasiakan. Lo nggak perlu takut mati. Karena gue belum mengisyaratkan mimpi kematian ke elo. Jadi, tenang aja."


"Kenapa harus koma? Nggak ada cara lain?"


"Ada."


"Apa?"


"Mungkin cara lain itu nggak bakal bisa lo lakuin. Gue sangat yakin."


"Kenapa? Kalau emang ada cara lain selain gue harus koma, ya kenapa nggak gue lakuin? Kalau misalkan gue koma, gue takut keluarga gue khawatir sama keadaan gue."


"Karena dengan cara menjadikan lo koma, bukan hanya orang-orang terdekat lo yang khawatir sama keadaan lo, bisa jadi orang yang sangat membenci lo pun bisa berbalik arah menjadi khawatir sama lo. Dengan begitu, pas lo sadar nanti, lo bakal tau siapa orang yang peduli sama lo."


"Ya tapi 'kan, jangan koma juga. Gue takut."


"Takut kenapa? Demi kebaikan lo juga 'kan?"


"Kasih tau gue, ada cara lain nggak?"


"Kan tadi gue bilang, ada."


"Yaudah. Kasih tau gue."


"Apa lo bisa, memegang telapak tangan Titan dengan menggenggamnya erat dengan jangka waktu yang cukup lama? Misalkan, bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Apa bisa?"


"Hah?" Tania gugup mendengar kalimat itu. Tania menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal. "Gue juga belum tau bisa apa nggak."


"Apa lo juga bisa, menusuk jari telunjuk Titan pake benda tajam sampai mengeluarkan darah, dan darah itu diteteskan di telapak tangan kanan lo? Jika emang lo sanggup, silahkan." Gael memberikan Tania pilihan yang cukup sulit.


"Hng." Hening sejenak. Tania berpikir keras untuk pilihan tersulit itu. Jika memang ia harus mengambil risiko koma, mungkin kisahnya akan berujung dengan kebahagiaan. Tapi jika dia memilih cara kedua atau cara lain itu, mungkin ia akan dihadapkan hutang penjelasan-penjelasan pada Titan. Karena Titan tidak akan dengan mudahnya mempercayai cerita konyol Tania. Titan justru akan menganggap Tania gila.


"Gimana?" Gael menuntut jawaban pada Tania. Tania terlihat memasang wajah bimbang.


"Nggak ada cara lain lagi?" Nada bicara Tania berubah sangat berhati-hati.


Gael menghela napas pelan. "Ada."


"Apa?" Tania berujar dengan penuh harapan. "Tapi, jangan bikin gue nggak bisa milih, ya? Karena cara-cara yang lo bilang tadi, bikin gue nggak bisa ngelakuinnya. Lo kasih cara yang gue bisa ngelakuinnya, yang gue sanggup melakukannya."


"Perasaan dan hati lo, harus dikorbankan."


"Maksud lo?"

__ADS_1


"Ya caranya dengan mematahkan hati lo."


"Maksud lo apa mematahkan hati?"


"Air mata kesakitan lo yang lo jatuhkan ke telapak tangan lo, itu akan menuntun lo untuk pergi menemui Daviel. Tapi kata pergi di sini bukan berarti lo akan mati. Tapi, lo tetap akan hidup. Hanya aja, lelembutan lo akan menemui Daviel. Kalau emang lo sanggup dengan cara ini, gue pasti bantu. Tapi, lo harus menikmati perjalanan kisah lo ini sampai lo bener-bener ngerasain patah hati sepatah-patahnya."


"Bukannya di dunia ini, manusia hidup hanya untuk menunggu cinta dan bahagia? Kenapa gue harus memilih menunggu waktu untuk dipatahkan hatinya?" Tania tergetar hatinya. Jujur, ini terdengar menyakitkan untuknya.


"Sejatinya, cinta tidak untuk ditunggu karena ia datang sendiri tanpa harus ditunggu. Sejatinya, bahagia itu tidak untuk dicari, tapi hati yang menciptakannya sendiri. Sampai di sini lo paham?"


Tania menarik napas dalam, dan menghembuskannya dengan cara perlahan. "Oke. Gue ambil cara yang terakhir."


Gael langsung memasang wajah serius dan menatap Tania dengan tatapan tak kalah serius. Gael tidak pernah berpikir, kalau Tania akan memilih cara ketiga untuk berjuang demi menyelesaikan kisah rumitnya. Setelah menatap Tania dengan serius, Gael mengalihkan pandangannya ke bawah—ke lantai. Ada sesuatu yang dipikiran Gael. Jika memang Tania sanggup dan mantap dengan pilihannya, itu tandanya Tania akan melukai perasaannya sendiri. Gael mendapatkan bayangan yang menyedihkan dalam penglihatannya, bahkan suara denyut jantung seseorang terdengar melantun penuh kesakitan dalam pendengaran Gael.


Gael kembali memerhatikan Tania—dengan tatapan serius. Tania yang sibuk menata barang-barang yang ia bawa dari rumah Ayahnya yang lama itu tampak tidak menyadari, bahwa ada raut yang berbeda dari cara Gael menatap Tania.


"Tania, apa lo sanggup menangis tersakiti?"


Tania langsung menoleh ke belakang—menoleh ke arah Gael dengan melemparkan senyumnya dan kemantapan hatinya yang telah memilih cara terakhir yang membuat Gael diselimuti rasa khawatir. "Kenapa enggak? Hidup gue udah nggak seindah sinetron dan FTV-FTV. Kalau memilih untuk menangis tersakiti itu udah biasa buat gue. Apa lo pernah, menangis dan menjerit dalam hati di saat lo melihat keluarga lo hancur? Atau, orang-orang yang lo sayangi harus berpisah? Lo nggak pernah ngerasain itu 'kan? Dulu, di umur gue yang masih bocah, gue dihadapkan dengan situasi yang sangat menyakitkan, sampai setiap malam gue nangis dan ngerasa kalau hidup ini nggak adil. Itu sebabnya, gue memilih untuk nggak memilih hidup sama Bokap atau Nyokap. Karena gue paling membenci jika harus dihadapkan sebuah kata pilihan. Karena apa? Terkadang yang gue temuin dalam pilihan hidup gue itu semuanya rata-rata mengundang rasa sakit, kalau nggak dipaksa memilih pergi pasti memilih bertahan dalam kesakitan itu. Menurut gue pergi atau bertahan tetap akan kerasa sakit. Kenapa nggak ada pilihan kata terluka atau bahagia? Mungkin gue bakal memilih bahagia dengan tanpa memikir panjang. Biarkan mereka bahagia. Biarkan gue yang menjadi korban. Dan, satu hal yang perlu lo tau, pilihan lo juga sebenarnya sulit. Tapi, gue harus memilihnya, 'kan?"


"Kenapa nggak milih koma aja?" Gael berucap sembari meraih buku yang berserakan di tempat tidur, dan meletakkan buku itu ke rak buku Tania.


Tania menggelengkan kepala pelan, seraya tersenyum tipis. "Gue cuma nggak mau bikin orang-orang yang gue sayang khawatir." Tania menatap serius ke arah Gael yang membantunya menata buku-buku ke rak buku.


"Tapi, air mata kesakitan itu bukan air mata biasa. Lo bisa aja akan memilih pergi untuk selama-lamanya, Tania." Gael membatin menghentikan aktivitasnya sejenak, seraya melihat lekuk wajah Tania. Gael merasakan kepedihan. "Akan tetapi, jika emang lo kuat. Lo akan menemukan jawabannya. Dan, lo akan mendapatkan sesuatu yang berharga dalam hidup lo, yang mungkin lo nggak akan pernah menyadari bahwa suatu saat lo akan memiliki hal konyol yang pernah menjadi keinginan terbesar lo." Gael tersenyum tipis ke arah Tania.


"Eh, iya. Gue ada pertanyaan buat lo." Tania melontarkan pertanyaan pada Gael, Gael pun langsung meresponnya dengan baik.


"Apa?"


"Ada banyak pertanyaan, sih. Saking banyaknya gue bingung mau memulai bertanya dari mana."


"Tanya aja satu-satu."


"Hm. Itu cuma sekedar mengesankan buat hidup lo. Jadi, lo akan lebih menghargai kehadiran Titan. Karena seseorang yang udah pergi dalam hidup kita, akan membuat kita sadar, betapa pentingnya arti hadirnya."


"Hm. Gitu, ya?"


"Iya. Itu sebabnya, pas lo bangun dari mimpi lo, otak lo langsung menyuruh lo untuk cinta sama Titan. Secara nggak langsung, hati lo pun menuruti perintah otak lo."


"Kalau soal Tristan. Dia udah lama koma?"


"Udah. Dari semenjak kecelakaan itu, dia belum juga sadarkan diri."


"Tristan nggak punya keluarga emang?"


Gael hanya menggelengkan kepala.


"Kenapa nggak punya keluarga?"


"Sebenarnya ada. Tapi, keluarganya membuang dia sewaktu kecil. Tristan dibesarkan di panti dan diangkat jadi anak oleh pemilik panti asuhan. Sampai dewasa, Tristan pun memilih untuk hidup mandiri, sampai takdir pun mempertemukan Tristan dan Riana dalam ikatan cinta."


"Oh gitu. Nanti Tristan bakal bangun dari komanya nggak?"


"Tergantung."


"Kok tergantung?"


"Tergantung seberapa kuat dia bertahan."


"Gue yakin, Tristan pasti kuat untuk bertahan. Apalagi kalau dia masih memiliki cinta sejati di hatinya Kak Riana. Iya, 'kan?"

__ADS_1


"Riana udah terlanjur kecewa sama Tristan." Gael tersenyum kecut.


"Gara-gara gagal nikah, ya?" Tania bertanya sangat berhati-hati.


Gael pun mengangguk.


"Kalau masalah Titan?"


"Kenapa?"


"Ya itu, kalau masalah Titan gimana?"


"Maksud pertanyaan lo mengarah ke mana?"


"Ya masa harus gue jelasin, sih."


Gael terkekeh pelan. "Maksud dari pertanyaan lo, maksudnya masalah Titan yang akan berujung bahagia sama lo apa nggak, gitu bukan?" Suara tawa Gael semakin terdengar, membuat Tania malu.


"Ish, ketawanya nyebelin."


"Abisnya lo lucu."


"Dijawab, kek. Malah diketawain."


"Kalau lo mau tau jawabannya. Ya tergantung dari pilihan yang lo pilih. Kalau lo memilih pilihan terakhir, ya lo nikmatin akhirnya nanti. Apa yang menjadi pilihan lo, itu akan membuahkan hasil. Hasilnya berupa jawaban yang segala pertanyaannya itu menumpuk triliunan di dalam otak lo." Gael terkekeh, lagi.


"Gak usah ketawa. Lo jelek kalau ketawa." Tania memanyunkan bibirnya. "Kalau soal Rega dan Riga? Gimana?" Tanya Tania langsung mengalihkan pembicaraan—seolah melupakan topik pembicaraan sebelumnya dengan cepat.


"Auriga Aldebaran. Adalah, Dewa kematian. Dia memiliki saudara kembar, bernama Rega Darudin Prasetya, yang sekarang menjadi manusia dengan nama Rega juga. Auriga atau Riga, lebih cenderung terselimuti aura hitam mencekam, tapi Rega justru terselubung aura hitam bercampur putih. Bisa dikatakan, Rega memiliki aura Candramawa. Lo tau? Kesalahan apa yang dibuat Rega sehingga dia mendapatkan kemarahan Riga, dan tersingkir dari dunia bayangan dan menjelma jadi manusia polos yang lugu itu?"


Tania menggelengkan kepala. "Nggak tau. Emangnya kesalahan apa?"


"Dia mencintai manusia. Yang seharusnya, itu tidak terjadi. Karena, di dunia seperti gue, dilarang untuk jatuh cinta."


"Kok drama banget, sih?"


"Bukan hanya itu, Rega ketika hidup di dunia bayangan, dia pernah membawa sosok perempuan yang baru saja direnggut nyawanya untuk menghadap Riga. Bukan menyerahkan perempuan itu ke Riga untuk dibawa oleh Riga menghadap Tuhan. Tapi, Rega meminta izin untuk hidup bersama perempuan itu menjadi sepasang kekasih. Jelas itu membuat Riga marah."


"Terus?"


"Rega pun terusir dari dunia bayangan. Dan terlahirlah kembali menjadi Rega dalam wujud manusia. Sampai detik ini, Rega belum menyadari kalau dia bagian dari dunia gue."


"Lo bakal ngasih tau Rega?"


"Pasti. Cepat atau lambat gue bakal kasih tau dia."


"Ya, bagaimana pun juga lo harus kasih tau dia."


"Iya. Gue hanya sedang menikmati masa-masa konyol Rega yang berwujud manusia yang memiliki sejuta tampang polos nan lugu." Gael terkekeh.


"Lugu?" Tania mengerutkan dahi.


"Iya. Lumayan Guoblok."


"Haha." Lantas Tania langsung tertawa terbahak-bahak, ranum sungging di bibir Gael pun tercipta sempurna dengan sepasang mata yang berbinar menatap Tania.


"Sayangnya di dunia gue, dilarang untuk jatuh cinta," ucap Gael sangat pelan. Nyaris terdengar seperti bisikan.


"Kenapa? Lo bilang apa tadi?"


"Nggak. Gue nggak bilang apa-apa." Gael langsung mengelak, dan kembali membantu Tania membereskan buku-bukunya.

__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2