Titan'S 2

Titan'S 2
ENDED!


__ADS_3

Kita akhiri!


"Lo mau ke mana, Gael!" Tania berusaha memanggil Gael yang semakin menjauh dari padangannya. Lalu, Tania mengejar Gael dengan langkah kaki yang tertatih.


"Lo nggak boleh pergi! Gue masih butuh lo!" Tania berteriak, lagi.


"Biarkan Gael pergi, Tania," seseorang menggampiri Tania dengan senyum yang mengembang sejuk.


"Lo siapa?" Tania terheran.


"Daviel," dia berujar dengan wajah yang terlihat beraseri.


"Daviel?"


"Lo saat ini berada dalam hidup dan mati."


"Maksud lo apa?" Tania tidak mengerti.


"Gael mengantarkan lo ke dalam sebuah mimpi. Sadar atau nggak, lo saat ini berada dalam dunia mimpi," katanya.


"Gue nggak paham."


"Lo tau siapa gue?"


Tania diam. Daviel melemparkan sebuah pertanyaan yang cukup membuat memory Tania terkuras—yang terpaksa harus mengingat sosok Daviel yang pernah diceritakan Udin dan Gael.


"Dia jodoh lo, yang terenggut mati di tangan gue," seseorang menimpal, Tania langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Lo siapa?" Tania semakin bimbang dengan situasi ini. Sebenarnya apa yang akan terjadi?


"Gue Tristan,"


Terlihat Daviel mengembangkan senyumnya dan menyambut kedatangan Tristan. Hingga, Tania pun melihat dua sosok lelaki berdiri di hadapannya. Lelaki yang seharusnya ia jumpai di masa depan, namun waktu yang tak mengizinkannya.

__ADS_1


"Kalian kenapa bisa ada di sini?" Tanya Tania, masih dalam pertanyaan besar yang menjulang.


Daviel meraih tangan Tania, "Tuhan merencanakan kita berjodoh, tapi Tuhan tidak mengizinkan kita bertemu di dunia nyata. Tania, kita memang belum pernah bertemu sebelumnya, tapi lo udah hidup dan bersemayam di hati gue. Gue sayang lo. Setidaknya, setelah ini gue akan pergi dengan tenang."


Tania merasakan lembutnya tangan Daviel. Air mata Tania terjatuh. "Gue .... Gue .... Gue benci sama semua ini!" Tania menangis, dan membenci situasi seperti ini.


"Ini bukan mimpi, Tan," kemudian Rega datang bersama Titan. Daviel dan Tristan pun tertoleh pada kedatangan Rega dan Tristan.


"Din, terima kasih. Lo udah cukup membantu," ucap Tristan.


Terlihat Titan yang bungkam menyaksikan ini semua. "Apa lo abang gua?" tanya Titan pada Tristan.


Tristan tersenyum tanpa menjawab.


"Gue pergi, ya. Jaga diri lo baik-baik. Sewaktu-waktu, gue akan datang ke mimpi lo." Daviel menuturkan kata yang berhasil membuat Tania memberanikan diri menatap lekat sepasang mata Daviel.


"Secepat itu lo pergi?" Tania berucap pelan.


Daviel pun memudar, ia menghilang. Bayangannya seperti bunga dandelion yang hilang tertiup angin.


Lalu, Tristan menepuk bahu Tania. "Tan, thanks you, but, i'am sorry. Gael telah mengisyaratkan kematian untuk gue. Dan saat ini, gue akan menyusul Daviel, gue harus pergi ke tempat seharusnya gue berada."


"Tapi ....."


"I'am sorry. See you later. I believe you're stronger! Have a good day, and wonderfull day ahead! Bye....," Tristan juga ikut menghilang. Tania semakin terisak.


Mengapa bertemu, jika pada akhirnya akan berpisah?


Tania merasa tak kuat berdiri, lututnya seakan gemetar.


"Tan ....," panggil Titan menghampiri Tania. Namun, Rega sedikit memberikan kode pada Titan agar tidak terlalu menggebu saat berbicara pada Tania—hati Tania sedang kacau.


"Gue sayang sama lo," Titan berujar pelan, nyaris seperti bisikan. "Gue pengen memperbaiki semuanya demi lo," sambung Titan lagi. Tania masih menunduk terisak.

__ADS_1


"Tania! You're stonger! Wake up!" suara itu samar terdengar, namun Tania mengenali suara tersebut, lantas ia langsung berdiri dan mencari-cari sumber suara tersebut.


"Gael! Lo di mana?" Tania meneriaki, dan mencari-cari sosok Gael di tempat ini.


Tiba-tiba, Titan tersentak, ada sosok mahkluk yang merasuk pada raga Titan. Rega yang menyaksikan itu mengetahui, bahwa Gael sedang berusaha masuk ke dalam raga Titan.


"Gue di sini," kata Titan, namun itu adalah Gael. "Gue merasuk pada tubuh Titan. Karena, tugas gue selesai, dan lo nggak bisa lihat wujud gue lagi dengan mata telanjak. Dengan cara begini, lo bisa berkomunikasi sama gue," kata Gael, berwujudkan Titan.


"Lo mau pergi juga ninggalin gue?" Tania berujar gemetar.


"Karena tugas gue udah selesai, Tan."


"Tapi gue masih pengen lo ada di hidup gue," kata Tania.


"Lo peluk gue, mungkin untuk terakhir kalinya. Karena gue bakal susah untuk lo temuin. Gue bakal ada ketika lo bener-bener butuh, tapi gue nggak akan pernah ada ketika lo menginginkan kehadiran gue. Gue akan hadir atas dasar kebutuhan lo, bukan atas dasar keinginan lo. Sekarang lo nggak butuh gue."


"Gue butuh lo, Gael! Butuh lo buat bikin hari-hari gue menyenangkan."


"Lo peluk gue, sebelum pada akhinya gue akan pergi. Waktu gue nggak lama, Tan."


Tania pun menangis, dan dengan berderai air mata, Tania memeluk raga Titan yang telah dirasuki oleh Gael. Cerdiknya, setelah Tania memeluk raga Titan, Gael langsung memutuskan keluar dari raga Titan. Titan menghela napas pelan, ia tahu jika tadi ada sosok yang merasukinya. Kini, Titan pun memeluk Tania, membiarkan Tania menangis dalam pelukannya.


Gue, Titan Wirasena Rajendra, akan berbalik mencintai lo dengan sepenuh hati, Tania. Batin Titan seraya memeluk Tania, memberikan kehangatan dan ketenangan pada Tania.


END!


.....


Horeeeeeee! Akhirnya tamat! Maafkan kalau gaje. Maafkan kalau semisal ada typo dan lain sebagainya. Gue sangat berterimakasih kepada para pembaca (yang silent atau pun yang terang2an) yang udah ngikutin cerita ini ampe selesai. Selebihnya yoookkkk kita berpetualangan lagi dengan cerita gue yang lain.....


Seee u!!!


Gue nggak bakal berhenti ngoceh sampai followers gue rebuan qkwkwk

__ADS_1


Regards,


Leniwahyeon


__ADS_2