Titan'S 2

Titan'S 2
09


__ADS_3

Kepindahan Titan di kelas Tania, sama sekali tidak membuat keteguhan Tania runtuh sedikit pun. Tania selalu berusaha untuk keluar dari apa yang kini dirasakannya mengenai mimpi di siang bolong yang mengubah segalanya. Mungkin saat ini, Tania hanya sedang fokus mencari jawaban---yang jelas-jelas Rega alias Udin jauh lebih mengetahuinya. Maka dari itu, Tania harus menemui Rega, bagaimana pun caranya.


"Bayang yang terus menghantui, tapi kutetap teguh menahan rasa dan hati. Tidak peduli, seberapa dekat jarak bulan dan bintang pada langit malam hari. Aku hanya sedang menjauh dan mencoba untuk pergi dari hal terbodoh dari dalam sebuah mimpi. Ia adalah bintang yang paling membuatku terpukau, namun kusadar saat itu juga aku semakin terpukul. Berhentilah larut dalam ilusi yang tercipta oleh diri sendiri. Apakah aku akan bertahan dalam rasa ini?" Tania Alexandra, Caption dalam foto yang ia upload ke instagram pribadinya.


"Serius banget main ponsel?" Tanya Ratu, membuyarkan titik fokus Tania pada layar ponselnya.


"Eh, iya. Sorry."


"Lagi main instagram, ya?"


"Iya. Kenapa emang, Rat?"


"Lo nggak mau gitu cek akun intagramnya si Titan?" ucap Ratu, sembari memainkan sedotan yang terdapat di dalam segelas jus jeruk, lalu detik kemudian Ratu pun menyeruput minuman itu.


"Kenapa lagi sama Titan? Nantangin gue lagi?" Tanya Tania. Tangan Tania pun mendekatkan semangku mie ayam tepat di hadapannya, untuk ia lahap. Karena memang, waktu istirahat di sekolah ini akan berakhir dalam waktu 15 menit lagi. Tania pun, seperti bersemangat untuk memakan mie pesanannya tersebut.


"Bukan, sih."


"Terus soal apa?" Tanya Tania di sela-sela melahap sesendok demi sesendok mie ayam tersebut.


"Sekarang lagi heboh banget, sih. Tapi ya gue agak malu sih nyeritainnya," ucap Ratu pelan, "Eh, lo kalau mau makan mie ayam pake sumprit, kek. Makan mie ayam pake sendok. Norak, ah." Ratu mengalihkan pembicaraan pada saat melihat gaya makan Tania.


"Gue bukan orang Korea, nggak bisa makan pake sumprit," ucap Tania santai.


"Aelah."


"Terus itu gimana?" Tanya Tania kembali pada topik utama yang dibicarakan Ratu.


"Gimana apanya?"


"Itu, kenapa dan ada apa sama si Titan? Ada berita heboh apa? Berita kalau dia pindah ke kelas kita? Ya itu mah kan kita udah lihat sendiri dari tadi pagi dia masuk ke kelas kita. Gue agak risi sih, sekelas sama dia. Entah kenapa, gue jadi ngerasa pengen banget jauhin dia. Karena emang, kehadiran dia dalam hidup gue itu ganggu banget. Hidup gue selalu nggak tenang kalau ada dia di sekitaran gue," ucap Tania. Ratu hanya mengangguk-ngangguk saja.


"Elo jangan ngangguk-ngangguk aja, ngomong, kek. Katanya tadi mau ada yang diceritain soal Titan." Tania berujar saat memperhatikan Ratu yang sama sekali tidak membuka suaranya saat setelah beberapa detik Tania bicara.


Ratu memasang wajah bingung. Bibirnya hanya tersenyum bingung, dan entah harus dari mana Ratu menjelaskannya. "Gue malu ah, nyeritainnya juga," ucap Ratu.


"Malu kenapa?"


"Agak gimana gitu nyeritainnya."


"Gitu kenapa?" Tania mengernyit, dan menatap wajah Ratu, berusaha menemukan jawaban dari ekpresi wajah Ratu yang terpasang penuh dengan kebingungan.


"Jangan bilang kalau lo suka sama Titan? Dan lo malu untuk bilang itu sama gue. Iya?" Tania langsung to the point.


"Hah? Kok lo punya pikiran ke situ, Tan?" Ratu terkejut dengan prasangka Tania.


"Lah, terus kalau bukan itu apa?"

__ADS_1


"Semua prasangka lo itu semuanya salah, Tania. Ini tuh tentang Deby sama Titan."


"Deby sama Titan?" Tania menghentikan aktivitas makannya, dan tampak fokus untuk mendengarkan cerita Ratu. Sepertinya memang ada hal yang membuat Ratu 'sulit menjelaskannya' mengenai Titan dan Deby.


"Iya. Ini soal Deby, Tania."


"Deby kenapa? Titan kenapa? Mereka berdua kenapa? Lo jangan muter-muter deh kalau ngomong, gue 'kan jadi kepo." Tania berujar serius.


"Jadi gini, kemarin malam 'kan si Titan upload video coveran gitu. Dia main gitar, enak banget suaranya juga. Nah, kan banjir komentar tuh, lebih banyak cewek sih yang berkomentar, memuji keahlian si Titan. Terus udah gitu, ada komenan si Deby yang bikin gue jijik banget bacanya. Gue ngerasa malu sendiri aja sebagai cewek dan sebagai orang yang juga ikut komentar pujian di kolom komentar postingan si Titan itu. Emang patut banget sih video coveran Titan itu dipuji, karena emang dia keren banget di video itu. Tapi anu, itu, si Deby, bikin gue jijik baca komentarnya dia. Alhasil, banyak banget yang komentar buruk sama si Deby, ya termasuk Bu Salma juga ikut berkomentar." Ratu berujar panjang lebar. Di sana Tania terlihat seperti pendengar yang baik.


"Terus, apa yang bikin lo jijik baca komentarnya si Deby?" Heran Tania.


"Lo cek instagram, deh." Ratu menyuruh Tania untuk mengecek akun instagram Titan.


Tanpa bicara lagi, Tania dengan santainya langsung mengecek akun instagram Titan dan melihat salah satu postingan yang di-upload Titan. Sempat salah fokus pada video coveran itu, namun ditepis secara cepat, pada saat melihat kolom komentar yang banjir dengan komentar-komentar alay.


"Rape me!"


"Rape me!"


"Rape me!"


Tania langsung berdecik jijik. Ia tahu apa arti kata itu, kemudian Tania langsung menoleh ke arah Ratu. "Ini seriusan? Kok dia gitu, sih? Gila atau gimana, ya?" Tanya Tania.


"Nah, itu dia jawabannya kenapa si Titan dipindahin ke kelas kita. Dia emang terlalu ganteng, sih. Wajar ada cewek yang sampai segitunya sama dia." Ratu berujar pelan. Obrolan ini memang terdengan sangat pelan, karena takut jika orang lain mendengar.


"Hm. Gitu, ya."


"Terus, sekarang si Deby di mana?"


"Tuh anak kayaknya nggak masuk, deh. Soalnya Bu Salma kayak yang marah gitu sama dia di komentar itu."


"Emang segitunya, ya, dia?"


"Bukan cuma itu, sih. Tuh anak sebelumnya emang komentar aneh-aneh gitu di postingan si Titan. Sayangnya, komentarnya itu udah tenggelam mungkin, jadi lo nggak bisa tau."


"Gila, ya. Lo tahu sampai segitunya. Lo emang stalker sejati, Rat." Tania berujar disertai senyum tipis. Ratu membalas senyum itu.


"Udahlah. Kita ke kelas aja, yuk," ajak Ratu. Tania pun mengiyakan. Sebelum berlalu, Ratu dan Tania pun membayar makanan dan minuman yang dipesan tadi.


Namun ...


"Woy, cewek monster!" Seseorang meneriaki Tania dengan sebutan cewek mosnter. Membuat Tania yang tadinya hendak berlalu dari kantin ini, justru langsung menoleh ke arah seseorang yang begitu lancang meneriakinya.


Tania menghampiri Titan dengan memasang wajah serius. "Bisa nggak, jangan panggil gue cewek monster!" Tania berseru pada saat berdiri tepat di hadapan Titan. Kalimat Tania jelas begitu banyak penekanan-penekanan di setiap kata perkatanya.


"Gue nggak bakalan berhenti buat manggil lo dengan sebutan cewek monster," ucap Titan dengan entengnya.

__ADS_1


"Apa untungnya coba?" Ucap Tania remeh.


"Karena gue seneng gangguin lo, gue seneng bikin lo kesel, gue juga seneng bikin lo benci sama gue." Titan berujar tak kalah remeh.


"Nggak perlu repot-repot lo lakuin hal itu. Cukup lo diem aja, udah bikin gue benci sama lo. Dan ..., selamanya akan tetap kayak gitu. Benci. Jadi, gak usah lo ganggu gue lagi. Berhenti untuk panggil gue cewek monster." Tania berujar tegas. Titan menautkan alisnya sebelah.


"Itu hak gue. Terserah gue dong," ujar Titan.


"Sebaiknya, lo jangan ganggu gue. Karena di luar sana, ada cewek yang terobsesi pengen digangguin sama lo. Mungkin akan lebih berfaedah kalau lo gangguin cewek yang gue maksud itu. Karena gak ada manfaatnya gangguin gue juga."


"Maksud lo?" Titan terheran.


"Lo tanya aja Bu Salma."


"Bu Salma?"


"Iya. Atau, lo cek aja instagram."


Titan terdiam. Tania pun berlalu diikuti Ratu yang membuntutinya. Titan memikirkan kalimat Tania, berusaha memaknai apa yang diucapkan Tania. Jonathan dan Rayn pun ikut dibuat bingung oleh kalimat Tania. Itu sebabnya, sedari tadi Jonathan dan Rayn terdiam dan terpelongo sambil menerka-nerka.


"Bu Salma kenapa, Tan?" Tanya Rayn.


"Apa Bu Salma suka sama Titan? Pengen digangguin sama Titan. Apa itu maksud Tania?" Jonathan menerka-nerka.


"Bisa jadi, sih," ucap Rayn. "Tapi, gue rasa mustahil deh kalau Bu Salma suka sama Titan. Bu Salma itu cocoknya sama Jonathan," sambung Rayn.


"Lah, kok gua?"


"Nama lo siapa? Jonathan 'kan?" Tanya Rayn.


"Ya iyalah. Nama gue Jonathan si pejantan tangguh," jawab Jonathan sombong.


"Nama lo kalau diilangin Jo nya jadi apa?" Tanya Rayn, lagi.


"Nathan."


"Nah. Jadi lo cocok sama Bu Salma. Kayak tokoh novel yang pernah gue baca." Rayn terkekeh geli, kemudian Jonathan langsung menjitak kepala Rayn.


"Kembali ke topik. Tapi masa iya sih, Bu Salma suka sama lo, Tan?" Tanya Rayn.


"Iya. Masa sih, Bu Salma suka sama lo," timpal Jonathan.


Titan masih terdiam, menghela napas pelan, kemudian mengubah posisinya berdiri sambil menyandarkan punggungnya ke tihang tembok dengan pandangan yang terarah ke arah di mana Tania berlalu. Meski Tania benar-benar hilang dalam pandangannya, Titan masih tetap fokus pada satu arah itu. "Mungkin dia sedang cemburu sama Bu Salma," ucap Titan santai.


"Jadi? Bener?! Bu Salma suka sama lo, Tan? Kalau lo ngomongnya kayak gitu, berarti apa yang dibilang Tania bener dong? Bu Salma suka sama lo, Tan? Wuanjir. Kiamat sugro ini mah," ucap Jonathan menepuk jidatnya sendiri.


"Kayaknya bukan Bu Salma deh yang Tania maksud. Coba aja lo cek instagram, Tan. Tadi Tania nyuruh lo buat cek instagram, 'kan?" Suruh Rayn.

__ADS_1


"Nanti pasti bakal gue cek. Mending sekarang kita makan aja. Waktu istirahat bentar lagi berakhir, lo berdua emang mau kelaperan? Pesen makanan, gih. Tapi bayar sendiri-sendiri," ucap Titan dan langsung beralih duduk di salah satu kursi yang terdapat di kantin ini.


next? Coment!


__ADS_2