Titan'S 2

Titan'S 2
27


__ADS_3



Pikiran Rega masih bertanya-tanya seputar kejadian aneh yang terjadi saat ini. Kenapa harus ia mengendarai motor sampai kembali lagi ke jalan yang sama? Membuat Tania menjadi hilang mood. Akhirnya, keduanya pun memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit, karena waktu sudah semakin malam. Rega bersedia mengantarkan Tania pulang sampai ke rumahnya, meski awalnya Tania enggan diantar pulang oleh Rega.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya Rega dan Tania telah sampai di depan rumah Tania.


"Sudah sampai!"


Rega memberhentikan motornya tepat di depan rumah Tania. Tania tampak memasang wajah datar, seperti tidak ingin mengeluarkan sepatah kata pun. Tania melepaskan helmnya dan diberikan pada Rega.


"Makasih udah anterin gue pulang."


"Sama-sama, Tan. Lain kali kita pasti bisa jenguk Tristan di rumah sakit."


"Kayaknya gue harus pikir-pikir dulu."


"Kok pikir-pikir dulu?"


"Iya. Kalau lo yang ngajak, gue mesti berpikir 77 kali, soalnya gue takut dimodusin kayak tadi. Emangnya lo nggak pegel naik motor sampai setengah jam?" Tania berujar dengan wajah datar menahan kesal, Rega hanya menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.


"Sorry."


"Oke. Ini udah malam. Sebaiknya lo pulang."


Rega mengangguk. "Oke. Gua pamit, ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Rega pun kembali menghidupkan mesin motornya dan berlalu dari hadapan Tania. Ada perasaan malu pada diri sendiri sih, dalam benak Rega. Rega sama sekali tidak mengerti tentang kejadiaan hari ini. Akan tetapi, Rega juga tidak terlalu ribet memikirkan hal tersebut. Ia pun harus memastikan kembali, harus mencoba---paling tidak satu kali lagi, ia harus melajukan motornya menuju rumah sakit. Setidaknya, jika ia sampai di rumah sakit dalam waktu 10 menit, itu patut dipertanyakan.


Dengan tatapan fokus ke jalanan, Rega mengendarai motor dengan perasaan tenang, dan tampak menikmati setiap perjalanan menuju rumah sakit ini. Bahkan sesekali Rega mengebut saat jalanan terlihat sepi.


Tak lama kemudian, Rega memberhentikan laju motornya tepat di pinggir jalan dekat sebuah rumah sakit besar di kawasan kota kembang ini. Rega membuka helm, dan langsung menghela napas kasar, setelah itu sebelah tangannya mengekspresikan rasa kesal itu dengan cara mengacak-acak rambutnya sendiri, sehingga jelas terlihat Rega seperti baru bangun tidur.


"Kamprethaseyo! Kenapa coba waktu tadi gue ngebonceng si Tania malah nggak nyampe-nyampe rumah sakit. Kenapa sekarang bisa nyampe dengan durasi waktu yang sikat?" Rega berujar sewot, lagi-lagi ia harus menghela napas.


"Eh, Din. Gimana?"


Dengan senyum remeh, dan kedatangan yang secara tiba-tiba, Gael berdiri tepat di hadapan Rega. Sementara Rega memasang wajah datar dibalut rasa kesal yang sedari tadi merutuk dirinya.


"Gimana apanya?"


"Udah jenguk Tristan? Tanianya ke mana?"


"Nggak jadi."


"Loh, kenapa?"


"Gue tuh kadang nggak habis pikir, sama jalan cerita kehidupan gue tuh. Masa tadi gue pas lagi perjalanan ke rumah sakit, pas ngebonceng Tania, lo tau nggak? Gue hampir 3 atau 4 kali, gue lupa, tapi cuma bolak-balik ke jalan yang sama, padahal gue inget jalannya itu nggak mungkin salah. Dan lo tau? Karena gue penasaran, setelah gue anterin si Tania pulang tadi, karena dia udah terlanjur badmood sama gue, gue memutuskan untuk ke rumah sakit lagi. Dan apa yang gue dapet? Gue selamat sampai tujuan, gue berhasil sampai ke tujuan dengan durasi kurang lebih sepuluh menitan doang. Gila nggak, sih? Gue nggak tau di mana keberadaan otak gue pada saat ngeboncengin Tania tadi." Rega berujar panjang lebar, semantara Gael tersenyum tipis---pura-pura tidak tahu apa penyebab mengapa Rega mendapatkan jebakan ilusi. Padahal, Gael lah pelakunya.


"Emang lo naro otak lo di mana pas ngeboncengin Tania tadi?" Gael menggaruk daun telingannya sendiri, berpura-pura tidak tahu.


"Di kantong!"


"Oh."


"Ya di kepala, lah!"


"Oh."


"Lo tau nggak apa yang bikin gue sekarang kesel? Reputasi dan citra gue tuh murudul di depan Tania. Tania nyangkanya gue tuh modusin dia? Coba lo bayangin Gael, image gue yang kayak Oppa-Oppa korea itu seketika itu hancur melebur gitu aja."


"****. Lo punya reputasi dan citra juga?"


"Ya punyalah."


"Image Oppa-Oppa Korea yang lo maksud itu kayak gimana?"


"Ya itu, yang dingin, cuek, tapi gemesin, bikin kepo, gue 'kan titisannya Baekhyun EXO."


"Tunggu deh, tunggu. Maksud gue Oppa-Oppa itu apa? Aki-aki?" Gael berujar dengan nada yang seperti meledek, di sana wajah Rega langsung berubah datar dan sepertinya memang kekesalan Rega naik satu level.

__ADS_1


"Udah, lo minggir. Gue mau cabut. Mau pulang. Bisa stress lama-lama gue!"


"Nggak usah nunggu lama-lama untuk lo bisa stress, sekarang aja lo udah stress."


"Sialan!"


"Udah lo cabut aja. Pulang. Cuci kaki, cuci muka, terus bobo. Besok sekolah!" Gael terkekeh. Rega pun tidak bisa mendumel apa pun, ia langsung menancap gas dan melajukan motornya seraya menabrak bayangan Gael. Tapi, Gael tidak tertabrak, motor yang dilajukan Rega menembus bayangan Gael.


Saat melihat Rega semakin berlalu dari pandangannya, raut wajah Gael berubah serius. Tugas ini cukup berat untuk Gael, bukan hanya menjelaskan tentang deskripsi mimpinya Tania, yang membuat Tania dihantui ribuan pertanyaan. Tapi juga Gael harus secara perlahan menjelaskan kalau Rega adalah bagian dari dunia bayangan. Mungkin, bagi Rega dunia bayangan itu sudah tidak asing lagi dalam pendengarannya, namun jika Rega mengetahui kalau ia juga terseret ke dalam bagian dari dunia bayangan. Akankah ia bisa menerima semua itu?


Gael tersenyu tipis. "Kekonyolan manusia itu terkadang menyedihkan. Maksud gue, gue sangat meyakini bahwa di balik kekonyolan yang tercipta ada masalah yang tersembunyi."


Lalu, Gael memudar dan menghilang tersapu oleh hembusan angin malam.



***


"Anda harus ikut dengan kami! Karena ini perintah dari bos kami!"


"*******! Lepasin gua!"


Saat di perjalanan menuju sekolah, Titan ditarik paksa tangannya oleh dua orang laki-laki yang betubuh kekar dan besar, layaknya seperti bodyguard handal. Ya, tampaknya memang dua orang tersebut adalah pesuruh dari Ayahnya Titan. Situasi pagi ini pun menjadi sangat tidak baik bagi mood Titan. Ia bahkan bersikap jauh lebih sangar dibanding kedua bodyguard utusan Ayahnya.


"Anda harus ikut kami!"


Titan menepis cengkraman tangan salah satu bodyguard tersebut dan menatap kedua bodyguard itu dengan tatapan yang penuh emosi dan mematikan.


"Gua minta sekarang sama kalian berdua. Lo balik lagi ke Bokap atau Nyokap gue, bilang sama mereka kembalikan hak-hak anak-anak jalanan. Tolong berikan rasa kasihan mereka sedikit saja untuk orang-orang rendah di luar sana!" Titan berujar dengan penuh penekanan-penekanan di setiap kalimatnya.


"Anda harus ikut kami!"


Dua bodyguard tersebut kembali menyergap Titan. Namun dengan sigap, Titan melayangkan satu tonjokkan pada salah satu bodyguard tersebut.


"Anda jangan membuat kami harus memukul anda!"


"Lo mau pukul gue balik? Silahkan!"


Perdebatan pun menjadi berakhir dengan aksi Titan yang memukul kedua bodyguard, meski sesekali Titan pun terkena pukulan tangan dari bodyguard tersebut. Kemudian, dengan mengambil ancang-ancang, Titan pun melarikan diri dan berlari sejauh mungkin untuk bisa menghindar dari dua bodyguard suruhan Ayahnya. Setidaknya, ini adalah satu-satunya cara yang lebih baik daripada harus berkelahi sampai harus menumpahkan darah.


Kehidupan tidak seperti dongeng,


Kita tidak bisa membayangkan hal seindah itu,


Kamu harus tahu,


Betapa menyakitkannya sebuah rasa yang tersimpan dalam hati, tapi tidak bisa kamu sampaikan secara lebih terperinci.


Diamku, adalah lukaku.


Bahagiaku, adalah kamu.


Tapi takdir telah bicara seperti apa?


Sehingga kamu membatu tak pernah sudi memberiku balasan cinta.


Aku tahu, bahkan ini sangat menyakitkan.


Aku paham, kita seperti dua hal yang tidak bisa dipersatukan.


Aku bahkan mengerti, kamu tidak akan pernah bisa menerima cintaku.


Aku hanya ingin, kamu juga mengerti.


Bahwa tidaklah mudah bertahan dalam perasaan aral dan sepi.


Saat semua yang kulakukan menjadi tidak lagi berarti, bagimu yang selalu kunanti.


Seluruh detik yang kupunya,


Seluruh nafas yang kumiliki,


Dan seluruh detak yang kurasa, semua seakan menjadi lebih sempurna, jika kamu memiliki rasa yang sama.

__ADS_1


Aku harus bagaimana?


Pura-pura tidak mencintaimu?


Aku tidak bisa. Aku bahkan tidak pandai menyembunyikan rasa ini di hadapanmu.


Selalu kuceritakan pada senja, aku mencintaimu teramat dalam.


Hujan tak pernah habis menasehati, bahwa aku harus jauh lebih sabar menanti.


Seperti ada bisikan suara perempuan di pendengaran Titan. Kemudian, Titan pun berhenti berlari, nafasnya tersengal. Dan, kedua tangannya tampak memegang lutut, dengan posisi yang nyaris seperti rukuk. Peluh pun bercucuran dari dahinya, dan Titan pun semakin terluka.


"Gue nggak mau kehidupan yang seperti ini. Gue nggak boleh berbalik haluan untuk mencintai Tania hanya karena gue membaca isi catatan hariannya. Gue nggak bisa menghubungkan permasalahan hidup gua dengan harus mencintai dia."


Lalu, seseorang menarik tangan Titan untuk bersembunyi, saat di belakang Titan---sekitarbeberapa meter, terdapat dua bodyguard yang tampak celingak-celinguk mencari keberadaan Titan. Namun, berhasil Titan bersembunyi, karena seseorang menarik tangannya untuk bersembunyi di balik tembok besar yang tak dapat orang bisa menemukannya.


Titan masih terlihat dengan nafas yang tak beraturan, sembari melihat dari balik tembok bahwa di jarak beberapa meter di sana ada dua bodyguard yang tadi mengejarnya. Lalu, setelah itu, Titan tidak lagi melihat ke arah bodyguard di sana dan ia pun kembali mengatur nafasnya, tanpa ia sadari siapa yang sudah menariknya untuk bersembunyi.


"Lo nggak apa-apa?" Katanya.


"Gue nggak apa-apa." Titan berujar tanpa menoleh ke arah orang yang berada di sampingnya---yang sudah menolongnya. Titan hanya berusaha mengoptimalkan deru nafasnya yang tersengal-sengal.


"Oke, kalau gitu."


"Terima kasih, lo udah nolong gue." Titan berujar sambil menoleh ke orang yang sudah menolongnya. "Tania?" Titan mengernyit dan terkejut, saat menyadari siapa orang yang sudah menolongnya untuk bersembunyi dari dua bodyguard yang tadi mengejarnya.


Tania tersenyum tipis.


"Jadi, yang barusan narik gue itu elo?!"


Tania tersenyum. "Iya."


Titan berdecak pelan. "Kenapa lo nolongin gua?"


"Gua rasa udah sepatutnya sebagai teman harus saling tolong-menolong." Tania berujar, seakan di antara mereka memang saling berteman, padahal mungkin Titan tidak menganggap semua itu. "Oh, ya. Lo kenapa dikejar-kejar preman?"


"Itu bukan preman. Itu bodyguard bokap gua."


"Oh."


Tidak mempedulikan ucapan Tania, Titan pun kembali memastikan untuk melihat ke arah dua bodyguard dari balik tembok ini, dan sepertinya dua bodyguard tersebut telah pandai melacak keberadaan Titan dan hendak berjalan menuju posisi yang saat ini Titan berada. Dengan sigap, Titan pun langsung berinisiatif untuk segera meninggalkan tempat ini.


"Mereka mau ke sini. Ikut gue." Titan menarik tangan Tania dengan mengenggam pergelangan tangannya, dan mengajak Tania untuk berlari dan segera meninggalkan tempat ini. Entah, Tania seakan salah fokus dengan tangan Titan yang menggenggam pergelangan tangan Tania dengan erat. Serasa, ini adalah mimpi.


"Sebaiknya kita sembunyi di sini." Titan mengajak Tania bersembunyi yang jauh lebih aman dari tempat tadi.


Hening sejenak. Tania tidak bisa berkata apa-apa. Perasaanya hanyut terbawa, atau dalam kata lain, Tania baper. Kemudian, Tania melihat sikut tangan Titan yang sedikit terluka, dengan tanpa bertanya terlebih dahulu, Tania pun mengambil plaster dari dalam tasnya.


"Tangan lo terluka, mungkin dengan ini bisa sedikit terobati." Tania menarik tangan Titan dan menempelkan plaster tersebut tepat di dekat sikut tangan Titan.


Titan hanya terdiam mendapatkan perlakuan tersebut.


"Seharusnya lo nggak usah peduli sama gue." Titan berujar datar, saat beberapa menit ia terdiam.


"Kenapa?"


"Karena gue nggak peduli sama lo."


Tania langsung terdiam. Ia harus mengerti posisinya di mata Titan. Kemudian, setelah Titan merasa aman, ia pun bergegas melangkahkan kakinya untuk berlalu dari tempat ini tanpa mengajak Tania. Namun, saat Titan beberapa langkah hendak berlalu, Tania menghentikan langkah Titan dengan memanggil namanya.


"Titan."


Lalu, Titan menoleh.


Saat Titan menoleh, Tania memejamkan mata dan menarik nafas sedalam mungkin, lalu mengeluarkan nafas secara perlahan, diikuti dengan membuka matanya.


"Gue akan tetap peduli sama lo, walau lo nggak peduli sama gue."


Setelah mengatakan itu, Tania membalikkan badannya---membelakangi Titan, rasanya ia ingin mengatakan kalau dirinya kini menyayangi Titan. Tapi, Tania tidak bisa mengatakan hal tersebut, karena menurutnya itu terlalu cepat. Tanpa basa-basi lagi, Tania pun berlari meninggalkan tempat ini. Sementara Titan masih berdiri di sini, sampai benar-benar melihat Tania pergi dari tempat ini.



__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2