Titan'S 2

Titan'S 2
18


__ADS_3

Terdiam sejenak untuk memikirkan permasalahan rumit yang ada. Gael bahkan tidak bisa mendeksripsikan dirinya itu seperti apa? Atau justru ia berperan sebagai antagonis atau protagonis dalam sebuah cerita. Hal konyol itu terkadang muncul dalam pikiran cowok berparas tampan yang terjebak ke dalam ruang keabadian itu. Tersenyum kecut, mungkin hanya itu yang bisa Gael lakukan.


Sebagai Dewa mimpi, Gael menyebutkan bahwa dirinya adalah sosok yang tidak jauh berbeda dengan Dewa penyambut maut atau Dewa kematian. Gael seringkali dihadapkan oleh situasi yang begitu menyakitkan pada saat menyaksikan sesuatu yang teramat pedih dalam pandangannya. Gael memiliki kemampuan bisa mendapatkan sebuah informasi mengenai kematian seseorang. Sebuah firasat yang mengatakan bahwa akan datangnya mimpi buruk kepada seseorang menjelang beberapa hari ia akan meninggal. Tugas Gael adalah menyampaikan sebuah mimpi, itu sebabnya Gael akan juga mendapatkan tugas dan informasi tentang seseorang yang akan meninggal dunia. Tugas ini terlalu sadis, seringkali Gael terluka karena ia harus berulangkali melihat orang lain harus menjerit dalam tangis sebuah luka dan duka.


"Seharusnya lo mengerti akan ada hari di mana lo bisa memiliki cinta seutuhnya, akan ada saat di mana lo justru menangis darah karena pedihnya sebuah perpisahan. Jerit tangis yang nggak bisa lo sembunyiin, dan seukir senyum yang perlahan akan memudar, mengikis dan menghilang di bibir lo. Seharusnya, lo sadar tentang bagaimana lo bisa tercipta dan terlahir dalam panjangnya sebuah cerita konyol, itu disebabkan karena ... Cinta—atau sebuah perasaan rumit yang bisa mengantarkan lo menuju cerita dongeng yang membosankan. Nggak akan ada yang bisa mengerti tentang gue, lo, atau pun dia. Yang bisa mengerti banyak hal adalah hati yang lo punya sendiri. Bahagia lo milik lo, cinta lo milik lo, begitu pun dengan luka lo. Gue ada karena lo ada." Nalar Gael berbisik.


Gael berjalan dengan tatap mata yang lurus dengan titik fokus yang tajam. Wajahnya terpasang serius, langkah kakinya pun berjalan seperti ada makna di setiap langkah demi langkahnya, dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana hitamnya. Sepoian angin pun tak membuat tubuhnya menggigil kedinginan, Gael tampak dengan tatapan lurus, kosong dan mematikan.


Berjalan menelusuri ilalang, entah di mana saat ini ia berada. Yang jelas, Gael ingin menenangkan dirinya sendiri pada saat setelah ia melihat perlahan Tania—gadis yang sedang ia jaga, akan tersakiti oleh kisah yang disebabkan mimpi tak pasti yang tidak akan pernah menjadi nyata untuk Tania. Sebuah pesan yang disampaikan melalui mimpi, hanya sebatas untuk Tania lebih bisa memahami bahwa sebetulnya, perasaan itu adalah aset berharga untuk kehidupan dalam mencapai titik kebahagiaan yang sempurna.


Kini, Gael berdiri mengangkat sebelah tangannya ke depan, dengan membuka telapak tangannya, lalu terlihat sebuah informasi—benbentuk prasa kuno dari dunia bayangan—yang keluar dari telapak tangan Gael.


Sebuah alunan elegi bersenandung di dalam gendang telinga Gael. Ia berusaha untuk menahan rasa sakit itu dengan cara memejamkan matanya. Jeritan tangis mulai ia dengar dengan menggema. Lalu, Gael menyergah, dan ... Langsung tertoleh ke belakang mencari tahu sumber yang membuat Gael seperti ada yang merasuki dengan bisikan-bisikan sendu kian terngiang bagai elegi kematian yang menumpahkan darah.


Lalu, Gael berlari pada saat ia sudah menemukan jawabannya. Dan, ia pun dengan sangat cepat sampai ke rumah sakit—tepat di depan pintu ruang ICU. Ia sempat bingung, kenapa kemampuannya menjadi lebih cepat bertindak ketimbang cara berpikir Gael. Kemampuan magic itu mengantarkan Gael di sebuah rumah sakit. Sempat bingung, tapi Gael mulai memahami situasi. Gael berjalan beberapa langkah untuk mendekat ke arah pintu ruang ICU. Ya, saat ini Gael berdiri tepat di depan pintu ruang ICU—yang mana di dalamnya terdapat pasien kritis terbaring koma atas nama Tristan Wiangga. Ada satu perasaan menghantam denyut jantung Gael. Lalu, Gael mendapatkan informasi dari telapak tangan kanannya—yang terbuka, dan terangkat sedikit ke samping kanan. Ada aura merah yang terselubung pada informasi tersebut. Detik kemudian, kepala Gael pun sedikit sakit, sisi lain dalam diri Gael telah merasuk ke dalam alam bawah sadar Tristan—yang terbaring koma di ruangan tersebut. Dan, ya, Gael mengisyaratkan mimpi kematian pada Tristan. Hal yang ditakutkan Gael akhirnya terjadi—ia harus kembali mengerjakan tugasnya yang sadis ini—saat setelah dewa kematian mengisyaratkan Gael untuk memberikan lagi isyarat pada seseorang sebelum nyawanya dicabut.


Tak lama setelah itu, Tania datang. Alangkah terkejutnya Tania mendapatkan Gael yang lebih dulu sampai dibandingkan dirinya. Lantas, Gael langsung memposisikan dirinya seolah seperti tidak terjadi apa-apa dan mengontrol perasaan cambuk yang mencekam penuh elegi di hatinya. Tania pun dengan langkah cepat menghampiri Gael.


"Lo udah sampai duluan?"


Gael hanya menjawabnya dengan senyuman dan anggukan kecil.


"Gue kira, lo nggak bakal ke sini."


"Seharusnya lo nggak bolos sekolah hari ini." Gael mengalihkan pembicaraan. Tania hanya bisa menghela napas saat mendengar ucapan Gael tersebut.


"Ya mau gimana lagi coba? Karena mau gimana pun juga, gue pengen tahu kondisi Tristan. Sekaligus gue pengen tau kayak gimana wajah Tristan. Karena sebelumnya, gue nggak pernah tau dan nggak pernah kenal sama Tristan."


"Setelah itu apa yang akan lo lakuin?"


"Pergi ke rumah Bokap yang lama."


"Emangnya lo berani?"


"Kenapa lo nanya gitu?" Alih-alih menjawab, Tania justru melemparkan kalimat tanya dengan wajah yang seperti tersinggung oleh ucapan Gael. Memangnya apa yang sedang Gael pikirkan, mengapa ia bertanya seperti itu?


"Rumah Bokap lo yang lama itu udah nggak berpenghuni, alias udah lama banget nggak diisi. Lo berani?"


"Maksud lo itu hantu?" Tania langsung to the point, dengan apa yang dibicarakan Gael.


Gael mengangguk tanpa ragu. "Ya, hantu. Kalau misalkan lo ketemu sama hantu, gimana?"


"Ajak Udin aja, biar rame." Tania dihadapkan perasaan ragu dan takut. Hanya nama panggilan Rega saja yang terselip di otak Tania jika nantinya harus dihadapkan dengan sosok makhluk yang tidak terlihat—seperti hantu.


Gael tersenyum lagi, "Oke. Tapi, ada hal yang perlu lo tahu."


"Apa?" Tania membalas tatapan Gael.


Gael menutup matanya sejenak sebelum ia menjawab pertanyaan Tania. Gael berusaha untuk kuat menyampaikan sesuatu yang mungkin akan membuat Tania rapuh atau semakin tidak mengerti dengan situasi yang rumit ini.


"Sisi lain dalam diri gue lagi merasuk ke dalam alam bahwa sadar Tristan. Saat ini gue lagi berusaha menyampaikan sesuatu di mimpi Tristan. Akan ada kematian dalam waktu dekat ini." Gael berujar serius.

__ADS_1


"Maksud lo? Tristan akan meninggal?" Tania berujar dengan nada penuh dengan hati-hati, karena takut jika Tania salah bicara.


"Entah."


"Kok entah, sih?"


Gael menatap lurus kedua bola mata Tania. Tangan Gael melipat, dan Gael menghela napas pelan—menyadari bahwa Tania tidak perlu mengetahui sebuah kematian yang mungkin akan terjadi pada Tristan. "Lo lupain aja omongan gue tadi. Dan lo tenang aja, semua akan baik-baik aja," ucap Gael.


"Yah, lo nggak asyik. Tadi ngomongnya serius banget. Giliran ditanya, malah disuruh lupain." Tania menunjukkan wajah sedikit kecewa, akan tetapi Gael justru melemparkan senyumnya lagi.


"Lo istimewa," kata Gael.


"Istimewa? Emangnya gue escetepe apa."


"Lo lucu."


"Lucu? Sayangnya gue bukan pelawak."


"Lucunya elo itu nggak bisa bikin gue ketawa, tapi mungkin—bisa bikin gue kangen." Gael terkekeh. Seketika itu Tania langsung terdiam seraya menatap Gael lurus. Perkataan Gael itu mengingatkan Tania pada kalimat seseorang.


"Gue nggak bisa kayak gini terus." Tania menunduk dengan tatap mata menunjukkan kecemasan, pikirannya mulai mengingat sebuah kisah yang masih terekam jelas dalam memory otaknya.


Gael melunturkan senyumnya dan menyentuh pelan bahu Tania. "Ada kabar baik buat lo. Aura hitam yang semakin membara dalam diri gue, memberitahukan secara tanpa lo sadar, bahwa lo akan memiliki sebuah kesempatan berharga."


"Kesempatan berharga?"


"Ya. Lo nggak perlu tahu siapa gue, yang lo harus tahu, gue adalah Dewa mimpi. Lo nggak perlu tahu siapa temen-temen gue, walaupun pada akhirnya lo akan diizinkan untuk masuk ke dunia gue. Because, you're so special. Lo adalah manusia yang spesial di dunia kita."


Gael tersenyum. "Perlu lo tau, kalau Udin alias Rega itu termasuk ke dalam anggota makhluk keabadian. Hanya saja, dia belum menyadari akan hal itu. Rega adalah keturunan terakhir dari dunia keabadian. Dia berbeda dengan gue dan yang lainnya, karena Rega dilahirkan pertama kali bukan di dunia bayangan, melainkan diizinkan untuk menjadi manusia terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam dunia bayangan. Mungkin, akan selamanya Rega menjadi manusia, akan tetapi ia bisa berumur panjang dan tidak pernah bisa tua."


Tania yang mendengar ucapan Gael, seakan tidak bisa berkutik. "Jadi—"


"Ya. Lo adalah manusia pertama yang sama sekali nggak ada ikatan dalam dunia bayangan, tapi lo bisa diizinkan melihat dunia kita. Kalau Rega, wajar. Dia termasuk ke dalam dunia kita."


"Jadi? Rega itu blasteran manusia setengah setan gitu?"


"Hm." Gael memalingkan wajahnya sejenak saat Tania mengucapkan kata setan. "Suatu saat, lo bakal tau. Lo bakal diizinkan untuk berlibur sejenak ke dunia gue. Biar lo tau, kalau dunia gue itu bukan hanya terdiri dari setan. Atau hanya sekedar hantu dan setan aja. Makhluk keabadian terbagi beberapa golongan. Golongan pertama—"


"Stop! Gue nggak mau denger itu."


"Why?"


"Otak gue lagi sirkus, nggak bisa masuk kalau dikasih materi tentang dunia lo."


"Oke. Itu lebih menguntungkan buat gue."


"Hm. Yaudah, gue masuk." Tania pun melangkahkan kakinya untuk masung ke ruangan Tristan dirawat. Namun, secara cepat, seorang suster menghentikan langkah Tania.


"Maaf, Mbak," ucapnya menahan Tania agar tidak masuk ke ruang rawat tersebut.


Tania menoleh, "Iya, kenapa, Sus?"

__ADS_1


"Mbak keluarganya pasien atas nama Tristan?"


Saat suster melontarkan kalimat itu, Tania langsung melihat ke arah Gael, dan Gael pun mengisyaratkan Tania untuk mengangguk dan mengiyakan perkataan Suster tersebut.


"Iya. Saya bagian dari keluarga Tristan. Ada apa?"


"Baiklah. Saya sepertinya harus memberitahukan ini sama Mbak. Pasien Tristan akhir-akhir ini keadaannya semakin tidak stabil. Untuk saat ini, karena berhubung pasien Tristan sedang ditangani secara intensif di ruang ICU, itu sebabnya tidak ada seorang pun yang diizinkan masuk kecuali Dokter dan Suster yang menanganinya. Maaf, Mbak, jadi untuk saat ini, Mbak tidak dibolehkan untuk menjenguk pasien Tristan. Karena baru saja kemarin anggota keluarga pasien Tristan menjenguknya ke sini." Suster itu berujar panjang lebar.


Dengan sangat kecewa Tania pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruangan tersebut. "Baiklah, Sus. Nggak apa-apa. Lain kali mungkin saya akan menjenguknya lagi—eit, tapi kata Suster tadi anggota keluarganya Tristan? Siapa? Yang mana?"


"Saya tidak tahu persis namanya, tapi yang pasti dia adalah seorang pria muda, tampan dan tidak banyak bicara," katanya.


Tania terdiam sejenak, mencari tahu siapa yang sudah menjenguk Tristan kemarin. Padahal, Gael pernah mengatakan bahwa Tristan tidak memiliki keluarga dan latar belakang yang jelas. Hanya saja, yang menjadi bahan informasinya adalah Riana—mantan kekasihnya Tristan. Ini tentu membuat Tania bertanya-tanya.


Suster itu lantas pergi meninggalkan Tania—yang terdiam mematung setelah Suster berkata tentang keluarga Tristan. Pandangan Tania pun terarah lagi pada Gael.


"Kira-kira siapa, ya, yang kemarin jenguk Tristan? Bukannya Tristan nggak punya keluarga?" Tania bertanya pada Gael.


"Ya. Tristan emang nggak punya keluarga."


"Terus yang kemarin siapa?"


Gael tersenyum tipis, "gue nggak bisa jawab."


"Lo nggak tau?"


"Nggak."


"Seriusan?"


"Bawel."


"Ya, 'kan gue pengen tau aja."


"Nanti juga lo tau."


"Ish, Gael!"


"Iya, kenapa?"


"Jangan bercanda."


"Emangnya gue lagi bercanda?"


"Rese!"


"Biarin."


"Ih nyebelin!"


Gael hanya terkekeh saja. Padahal, ia menyimpan segudang misteri yang ia ketahui. Begitu banyak permasalahan dari dalam kisah ini yang belum pernah terselesaikan—padahal Gael mengetahuinya. Jangan tanya mengapa, jika Tania menjadi sangat bertanya-tanya. Ini bahkan seperti misteri yang terlalu rumit. Pada intinya, mengapa orang biasa seperti Tania bisa melihat Gael? Entahlah. Tania pun baru mengetahui hal bahwa Rega juga tercemplung ke dalam makhluk bayangan di dunianya Gael. Ini menjadi sangat membingungkan.

__ADS_1


25 Juli 2018 | 14.37 WIB


__ADS_2