Titan'S 2

Titan'S 2
29


__ADS_3


"*Jangan jadikan hal sepele membuat lo benci sama seseorang."


"Jangan jadikan hal yang teramat bodoh, yang berhasil mengusirkan serpihan kebahagiaan yang seharusnya terbentuk."


"Jangan jadikan diam, untuk menyelesaikan sebuah masalah."


"Dan, jangan jadikan lo bisu terdiam dalam ribuan bahasa, saat rasa benci lo berubah jadi cinta*."


Hal apa yang membuat Titan begitu keukeuh membenci Tania. Anak itu memang terlalu keras kepala, bahkan Titan menginginkan Tania hancur dalam genggamannya. Bukankah itu sangat keterlaluan? Tidak. Sebenarnya memang ada sesuatu yang membuat Titan teguh akan pendiriannya untuk terus membenci Tania. Apalagi, setelah Titan tahu tentang Tristan.


"Emangnya Tristan itu siapa?"


"Lo nggak perlu tahu, sih."


"Yaelah. Biar jelas, coy. Lo tuh benci sama si Tanianya harus jelas. Lama-lama lo udah kayak sinetron tahu nggak, sih?"


"Dasar lo, Jon. Korban sinetron." Titan meremehkan ucapan Jonathan. Kemudian, Jonathan hanya terlihat menghela napas pelan.


"Ya gua juga pengen tahu, lah. Siapa itu Tristan."


"Tristan Abang gua."


"Lo punya Abang? Perasaan, lo nggak punya saudara, deh."


"Punya."


"Lah? Kok gua nggak tahu."


"Bokap sama Nyokap emang nyembunyiin identitasnya."


"Terus?"


"Apanya yang terus?"


"Lo tahu dari mana?"


"Tau sendiri."


"Lo udah tanya Nyokap-Bokap lo?"


Titan menggelengkan kepala. "Belum."


"Lah? Kok aneh."


"Percuma gua tanya ke mereka. Soalnya emang mereka sibuk."


"Terus? Lo kok bisa tahu?"


"Udin yang ngasih tahu gue."


"****. Seriusan? Si Udin anak indigo itu?"


"Hm."


"Apa kata dia?"


"Ya gitu."


"Oh. Terus sekarang Abang lo di mana?"


"Dia di rumah sakit. Lagi koma."


"Koma kenapa? Kok bisa?"


"Semua itu gara-gara Tania."


"Hah? Hubungannya apa sama Tania?" Jonathan semakin tidak mengerti sambil menggaruk-garuktengkuknya yang tak gatal. "Gua jadi bingung dah."


Titan nyengir pahit, "Mangkanya, lo yang gak tau jalan ceritanya gak usah sok ceramahin gua buat jangan benci sama Tania. Karena apa? Lo nggak tau jalan cerita yang sebenarnya. Saat setelah gue nyari informasi mengenai Tristan, banyak fakta yang gua dapat. Dan apa lo juga tahu, kalau mantan calon suaminya Mbak Riana itu adalah Tristan, Abang gua sendiri. Berarti, di sini jelas, Tania sudah menghancurkan kebahagiaan orang-orang yang ada di sekeliling gua."


"Tunggu-tunggu, gua masih heran, lo tahu dari mana soal informasi itu? Lo nggak bisa narik kesimpulan seenak jidat lo dong. Kalau nyatanya info itu salah, lo mau tanggungjawab?"


"Nggak mungkin salah."


"Jangan pede lo."


"Ya pada intinya, gua cari tahu kebenaran itu tanpa diketahui banyak orang. Gua bisa nyuruh orang kok buat ngorek informasi itu. Nggak ada mustahil bagi seorang Titan."


"****. Terus, rencana lo selanjutnya apa?"


"Ada."


"Iya apa?"


"Gua mau nyuruh Tania buat pura-pura jatuh cinta."


"Pura-pura jatuh cinta lagi? Bahas yang lain kek."


"Karena cuma itu yang bikin hatinya tersiksa."


"Jahat lo! Kenapa nggak sekalian lo culik Tania, lo bawa dia ke hotel, dan lo *****-***** dia semalaman. Yakin, dia pasti bakal hancur."

__ADS_1


Titan tersenyum miring. "Maksud lo, gue rampas keperawanannya dia?"


"****. Ke situ juga otak lo."


"Kenapa enggak? Usul lo boleh juga."


"Eh dianggap serius! Gua becanda kali tadi, PA!"


"Bercandaanya lo berharga."


"Kampret! Lo seriusan sama ucapan lo?"


"Gua selalu serius."


"Lo yakin?"


"Sangat yakin."


"Sialan."


"Rencana gue, gue mau nyuruh Tania buat jadian sama Rayn, dan pura-pura mencintai Rayn. Gua merencakan itu atas maksud tertentu, supaya apa? Supaya ketika Tristan sadar dari komanya, Tania nggak bakal jadi PHO atau pelakor. Jadi? Selesai 'kan?"


"Kenapa nggak lo aja yang jadian sama Tania, Tan. Kenapa harus Rayn?"


"****! Gua nggak cinta sama dia."


"Jaelah!"


"Why?"


"Tania cantik loh, lo nggak tergoda?"


Titan menggelengkan kepala seraya tersenyum remeh. "Bukan tipe gue."


"Huh. Gue boleh tanya satu kali lagi? Lo kok bisa sih dapet informasi sampai segitunya? Lo dapet kode dari apa?"


"Salah satunya, dari buku harian milik Tania yang jatuh dan nggak sengaja gue temuin."


"Oh gitu."


"Hm."


"Terus di buku itu lo nemuin apa lagi?"


"Kelemahannya Tania."


"What? Kelemahan Tania?"


"Jadi? Sekarang Tania cinta sama lo?"


"Hm."


"Terus, lo mau nyakitin cewek yang sayang dan cinta sama lo?"


"Hm."


"Lo nggak bakal nyesel nantinya?"


"Nggak."


"Hati lo di mana, Tan?"


"Hati gua tidak bertempat, dan tidak untuk Tania."


"Yakin lo?"


"Teramat yakin."


"Oh, okelah."


"Gua abis pulang sekolah mau ke rumah Rayn. Lo mau ikut?"


"Lo mau ke sana?"


"Iya. Lo mau ikut?"


"Kayaknya nggak bisa deh gue."


"Kenapa?"


"Mau ngapel gue, ke rumah Shindy."


"Okelah."


"Sorry, ya."


"Santai, bro."


Jonathan dan Titan pun sibuk masing-masing, dan mengakhiri obrolan mereka yang cukup membuat emosi meletup-letup. Ditambah lagi, sikap Titan yang seakan tidak peduli terhadap Tania.


Tidak ada seseorang pun yang tahu, mengapa Titan bersikap seperti itu. Dan tidak ada seorang pun yang mengerti, mengapa sikapnya seperti itu. Terkadang, Titan berpikir tentang hal yang membuatnya sulit memaafkan seseorang adalah, saat dia mengharap maaf namun tidak dimaafkan. Saat ketika sedih melanda, tak ada seorang pun yang mengerti perasaannya. Itu sebabnya, ia menciptakan dunianya sendiri yang tidak disukai orang.


Biar begitu, sosok Titan tetap digilai kaum hawa.

__ADS_1


***


Tania merasa bosan di kelas. Jam pelajaran saat ini kosong, gurunya tidak masuk karena berhalangan. Ditambah lagi, Tania sesekali melihat ke arah bangku Titan yang kosong tidak ada pemiliknya yang duduk di sana, dalam hati Tania bertanya; ke mana Titan hari ini? Apa dia tidak masuk sekolah? Entahlah.


"Tania? Lo coba buka tas lo, dan ambil buku berwarna black-violet."


Tania mengernyit, saat suara bisikan tanpa wujud rupa itu berbisik di telinganya. Tania langsung tersenyum tipis. Tania mengenal suara itu. Dengan segera, Tania membuka tasnya dan ia terheran saat melihat buku setebal novel "Bumi Manusia." Dan, buku tersebut berwarna hitam sedikit corak ungu yang nyaris seperti gerat petir. Namun, corak warna ungu itu tidak sedominan warna hitam.


"Perasaan gue nggak punya buku ini." Tania terheran.


"Ini gue Gael."


"Gael?"


"Yap. Gua akan berubah bentuk jadi buku, saat gue nggak harus menampakkan wujud gue ketika lo berada di antara orang-orang yang cukup ramai. Kita ngobrol lewat tulisan. Supaya apa? Lo nggak dianggap gila karena ngomong sendiri. Cara memakai buku ini, lo cukup buka lembaran buku ini---di mana aja semau lo. Terus, lo tulis apa aja yang mau lo tanyain, dan nanti gue jawab dengan tulisan pula. Buku ini akan menjadi saksi pertemanan kita. Di awal lembar pertama, sampai lembar terakhir, tulisan pertanyaan dan jawabannya akan abadi. Lo bisa lihat kapan pun tulisan ini, saat lo kangen sama gue," bisiknya.


Lalu, Tania membuka lembar pertama buku tersebut. Buku tersebut masih kosong tak bernoda tinta sedikit pun. Kemudian, Tania tersenyum tipis sambil meraih pulpen dan dengan iseng dia mulai menulis pertanyaan di lembar pertama.


Gael! Kapan lo nikah?✏️ (T)


Tania terkekeh saat menulis pertanyaan itu.


Ada pertanyaan yang lebih berbobot?✏️ (G)


Kapan lo punya pacar?✏️ (T)


Kapan-kapan aja.✏️ (G)


Dunia lo nggak asik.✏️ (T)


Itu bukan pertanyaan.✏️ (G)


Pertanyaan kok.✏️ (T)


Jangan jadikan ini seperti pesan Whatsapp!✏️ (G)


Ohahaha. Maafkeun.✏️ (T)


Mau tanya apa?✏️ (G)


Itu pertanyaan bukan jawaban.✏️ (T)


Tah lo paham. Gue berada di sisi jawaban, dan lo berada di sisi pertanyaan. Jadi, kalimat lo harus selalu pertanyaan, dan kalimat gue harus selalu jawaban.✏️ (G)


Oke. Lo di mana?✏️ (T)


Gue di sini.✏️ (G)


Di sini di mana?✏️ (T)


Kan gue jadi buku dulu untuk sementara.✏️ (G)


Oh gue lupa.✏️ (T)


Itu bukan pertanyaan.✏️ (G)


Gue lupa!✏️ (T)


Itu tanda seru, bukan tanda tanya.✏️ (G)


Dih.✏️ (T)


Udah dibilangin, itu bukan pertanyaan.✏️ (G)


Sorry. Hahah.✏️ (T)


Tania pun tersenyum tipis, setidaknya Gael selalu menghiburnya saat dia merasa bosan. Tidak selalu berwujud manusia, Gael mampu membuat Tania tersenyum. Namun, ketika Gael menjadi sebentuk buku pun, Gael mampu mengukir senyum di bibir Tania.


Lo nggak mau tanya soal kapan Titan akan tahu tentang Tristan?✏️ (G)


Itu bukan kalimat jawaban.✏️ (T)


Mangkannya tanya dulu. Itu juga bukan kalimat pertanyaan.✏️ (G)


Lah, emang kenapa gue harus tanya kapan Titan tahu tentang Tristan?✏️ (T)


Karena semuanya akan segera berakhir.✏️ (G)


Berakhir?✏️ (T)


Ya! Titan akan tahu Tristan.✏️ (G)


Terus?✏️ (T)


Lo harus persiapkan semuanya.✏️ (G)


Tapi--- ✏️ (T)


Namun, ketika hendak ingin menulis kalimat lagi, seorang guru pun datang memasuki ruang kelas ini. Dengan segera Tania menutup buku black-violet itu dan memasukinya ke dalam tas. Tania pun langsung fokus pada guru yang akan mengajar memberikan pelajaraan hari ini.


To be continued....


Jangan lupaaaaa berikan suara vote dan komen!!! 😙

__ADS_1


__ADS_2