Titan'S 2

Titan'S 2
31


__ADS_3


Selaraskah nada-nada nafas kita?


Serasikah warna-warna watak kita?


Setimpalkah beban-beban berat kita?


Sebanding bebayang haluan di seberang sana



Tania berjalan menelusuri koridor sekolah dengan posisi tangan yang memeluk sebuah buku. Tania hanya fokus berjalan. Pikirannya masih terbayang-bayang kejadian di gudang tadi. Apa ia harus senang, karena Titan menciumnya? Tapi mengapa ada perasaan seperti terluka di hati Tania. Karakter Titan sama sekali tidak bisa ditebak. Dia memang sosok cowok yang sama sekali tidak bisa ditebak. Sifatnya yang kadang selalu membuat Tania dihantui tanda tanya besar. Walaupun seperti itu, Tania membenci dirinya yang menaruh rasa peduli tinggi terhadap Titan---padahal Tania sadar, kalau ini benar-benar perasaan konyol.


Tania murung.


Ia merasa bahwa waktu menertawakannya dan waktu begitu jahat membuatnya masuk ke dalam cerita rumit ini. Dengan adanya cerita yang seperti ini, membuat Tania tahu dan sadar, bahwa kehidupan kadang kala selucu ini dan perasaan cinta itu nyata, bukan sekedar dongeng belaka. Keyakinannya terhadap cinta, kian tumbuh. Dan cinta, bukan hanya tentang mencari arti kebahagiaan, tapi pula harus siap mampu mengartikan segala perasaan, termasuk terluka karena cinta.


Kini, Tania bersembunyi di balik tembok. Ia memperhatikan ke arah kantin---yang terdapat Titan yang sedang bercengkrama riang bersama teman-temannya. Tania tersenyum tipis melihat ke arah Titan, terbesit perasaan sayang yang sungguh luar biasa. Merasa ingin memiliki, tapi ia tidak bisa memiliki.


"Gue semakin sadar dengan semua ini. Ternyata benar dengan pepatah; cinta akan bahagia melihatnya bahagia, walau dari kejauhan tanpa memiliki." Tania tersenyum miring tipis. "Seperti apa yang gue rasain sekarang. Gue yang hanya bisa memperhatikan dia dari kejuahan dan melihat dia tersenyum, bercanda gurau dari kejauhan itu membuat gue merasa bahagia. Walaupun sebenernya, dia adalah seorang peluka sejati untuk hati gue. Kenapa terlalu lucu seperti ini? Entahlah." Tania meremehkan dirinya sendiri dan rasa yang bersarang nakal dalam hatinya.


Setelah itu, Tania pun beralih dari tempat ini, dan berjalan menuju kelasnya. Ia berusaha kuat dengan perasaan kacaunya. Ia meyakini bahwa semuanya akan baik-baik saja, selama ia masih pandai menyembunyikan lukanya pada dunia.


***



Esok harinya, hari yang cukup membuat Titan tidak mood melakukan aktifitas. Ini adalah hari minggu, hari yang sangat membosankan untuknya. Kalau tidak ia bermalas-malasan di tempat tidur, ia pasti berkunjung ke rumah Rega. Apalagi, pikiran saat ini sedang kacau semeraut, karena berbagai masalah yang sedang ia hadapi. Terutama masalah keluarga yang tidak pernah ada habisnya. Bagi Titan, kebahagiaan terindahnya adalah hanya bisa kumpul dan saling bertukar pikiran bersama Ayah dan Ibunya. Namun nyatanya, Titan tidak mendapatkan kebahagiaan itu. Dari situlah, karakternya terbentuk.


Titan menjadi sosok yang tadinya senang dengan peraturan, lalu menjadi sosok yang susah diatur dan bertingkah semuanya. Karena ia merasa bahwa dunia tidak pernah peduli terhadapnya, hidup atau mati sekalipun.


"Titan!"


Panggil seseorang dengan gesitnya menghampiri Titan sambil membawa handuk kecil yang dikaitkan di pundaknya. Titan menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya tersebut.


"Lo mau ke mana, Tan?" Tanyanya.


"Eh elo. Panjang umur juga lo."


"Hehe. Emang lo mau ketemu gue?"


"Iya."


"Lah, buat apa? Ada konsulitasi apaan?"


Titan mengernyit remeh, "konsulitasi?"


"Iya. Kon-sulit-tasi."

__ADS_1


"Konsultasi maksud lo?" Titan tersenyum remeh.


"Udah ganti sekarang mah, Tan. Jadi konsulitasi. Khusus orang-orang yang dalam kesulitan. Kan kata konsulitasi diambil dari kon-sulit-tasi. Hehe." Rega bercanda receh. Titan hanya menggelengkan kepala pelan saja.


"Lo lagi jogging?"


"Iya."


"Biar apa?"


"Biar sehat, lah."


"Tayi!"


"Kok tayi?"


"Alasan lo klasik, Din."


"Hehe. Sebenernya, gue joging kayak gini biar supaya perut gue kotak-kotak gitu, kayak perut cowok-cowok korea, 'kan keren aja gitu."


"Khayalan lo ketinggian."


"Terserah gua, lah. Ngomong-ngomong lo ada perlu apa mau ketemu gue?"


"Ada yang mau gua omongin."


"Soal?"


"Tristan?"


"Iya. Lo tau 'kan soal Tristan?"


"Ta-tau, sih. Dikit."


"Lo bisa jelasin lebih detail ke gua nggak, soal Tristan."


Rega menggaruk tengkuknya sendiri yangg sama sekali tidak gatal. Rega benar-benar tidak tahu harus memberitahukan informasi apa kepada Titan.


"Hm. Anu, itu. Hm. Anu. Duh, gimana ya gue jelasinnya."


"Jelasin aja sebisa lo."


"Gue nggak tau harus mulai ceritanya harus dari mana."


"Alay sia jing."


"Bahasa lo seTan!"


"Udah. Apa susahnya sih jelasin ke gua."

__ADS_1


"Oke. Intinya, lo bukan adeknya Tristan. Nama lo sama nama Tristan cuma sama di inisialnya. TW! Dan, ini memang ada sangkutpautnya sama Tania!"


"Tania?" Titan mengernyit malas. "Gue emang udah menduganya. Semua emang karena cewek itu."


"Cewek itu?" Rega heran.


"Iya. Si Tania."


"Tunggu-tunggu. Lo nggak bisa gitu juga, Tan. Tania nggak salah. Dia justru korban dari kisah ini. Kenapa bisa gue bilang gitu? Lo sadar nggak, sih? Betapa sulitnya mempertahankan sebuah perasaan tapi kita tahu bahwa itu sangat menyakitkan. Tania mulai suka sama lo. Eh nggak-nggak, Tania udah jatuh cinta sama lo. Dia sayang sama lo. Dia bahkan, sulit menerima semua kenyataan bahwa dia harus mencintai cowok yang dulunya dia anggap hanya sebatas musuh bebuyutan."


"Ck! Basi!"


"Lah, ngapa?"


"Gue males sebenarnya bahas Tania."


"Suatu saat lo pasti akan sadar, betapa pentingnya Tania untuk masa depan hidup lo. Dia jodoh lo."


Titan tersentak saat mendengar kata jodoh yang terselip dalam kalimat Rega. "Maksud lo apa?"


"Jadi gini, kebetulan yang teramat sangat kebetulan. Pagi-pagi gini, gue nggak sengaja ketemu lo di sini. Ya walaupun, gue tau, rumah kita satu komplek beda blok. Tapi ini sungguh kebetulan yang super. Lo butuh gue, gue juga ada sesuatu sebenarnya yang gue tahu. Cuma gue nggak tau harus jelasinnya dari mana. Gue hanya sedang menjaga hati seseorang." Rega berujar panjang lebar.


"Bacot! Omongan lo muter-muter segala, jing!"


"Hehe." Rega cengengesan. "Sori. Jadi gini, lo harus tahu, kalau Tristan bukan abang lo. Sama sekali nggak ada keterikatan darah sama lo. Tapi, Tristan bisa dibilang dia otak dari cerita ini."


"Maksud lo?"


"Tristan berusaha menyatukan lo dan Tania."


"Atas dasar apa?"


"Karena Daviel."


"Siapa lagi Daviel?"


Rega kewalahan menjelaskan semuanya. Rega terlihat gerutu sambil menggaruk jidatnya yang sama sekali tak gatal.


"Aduh aing, teu bisa ngajelaskeunna. Hararese semeregehese."


"Ck!" Titan hanya berdecak pelan.


"Yaudah, nanti malem lo ke rumah gue aja, ya. Jangan lupa ajak si Rayn sama Jonathan biar ngopi bareng dah di rumah gua. Soalnya di rumah gua lagi nggak ada Teteh gue. Jadi bebas dan aman."


"Oke." Titan mengangguk pelan, sambil mengangkat ibu jemarinya, tertanda setuju.


"Nanti gue ajak Tania juga kalau bisa. Biar semuanya jelas, ya." Rega pun menyengir kuda. "Ya sudah, gue cabut dulu. Bye!" Rega pun kembali melanjutkan aktifitas lari paginya. Sementara Titan hanya mengangguk malas.


__ADS_1


Bersambung


__ADS_2