
Pagi hari, saatnya semua orang melakukan aktivitasnya seperti biasa. Lihatlah, Tania yang berjalan memasuki gerbang sekolah itu tampak sedingin kulkas, tidak perduli dengan lingkungan sekitar, ia hanya berjalan santai menuju kelasnya. Sesekali Tania menatap buku yang dipegangnya, meski memang wajahnya terpasang begitu datar. Sepertinya gadis ini memang sudah berubah. Tania begitu cuek, hanya tersenyum tipis saja pada mereka---siswa atau siswi lain yang notabene-nya teman yang ia kenali saja.
Kemudian langkah kakinya terhenti, saat ia melihat kegaduhan yang terdengar di dekat kantin belakang. Tempat tongkrongan Titan and the geng. Tania hanya menautkan alisnya samar, tatapannya fokus melihat tingkah Titan yang sama sekali tidak pernah tahu kalau Tania telah berubah karenanya.
"Semalem lo sholat isya, gak?" Tanya Titan pada Jonathan dan Rayn.
"Aduh, gue lupa," ucap Rayn.
"Yaelah lupa kok dipelihara," celetuk Jonathan.
"Emangnya lo sholat? Nggak, 'kan?" Rayn seperti kepancing emosi. Kemudian Jonathan cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hehe. Emang nggak."
"Idih sama juga 'kan kayak gue. Jangan sok pake ngatain gue, deh."
__ADS_1
"Gue mah udah ahli surga, Rayn."
"Muke gile, ahli surga dari mana? Sholat jarang, ngaji jarang, sodakohnya juga jarang, tapi maksiat mah jalan terus, lihat cewek bahenol langsung ditengok. ****. Terus lo bilang lo ahli surga gitu? Emangnya lo punya kenalan orang dalem? Nggak, 'kan?" Celetuk Rayn. Di sana Jonathan cengengesan.
Titan melerai, "udah-udah. Lain kali lu berdua yang rajin napa ibadahnya. Ya, walaupun kelihatannya kita ini anak badung, bandel, susah diatur, tapi kita sebagai manusia yaa harus ibadah sama Tuhan kita."
"Tuh, dengerin si Titan!" seru Rayn.
"Iya, Tan. Gue setuju," ucap Jonathan.
"Emangnya lo ngarti? Setuju apaan coba, gue pengen tahu."
"Hm."
"Sebenernya, peraturan itu ada hanya untuk dilanggar. Iya, 'kan? Tapi pepatah itu kita pake buat peraturan sekolah aja. Kalau peraturan agama, kita nggak boleh ngelanggar. Sedikit pun kita nggak boleh ngelanggar peraturan agama. Itu sih, yang sering pacar gue bilang. Lagipula, sebenernya gue males sekolah. Banyak aturan-aturan yang bikin gue mumet sendiri," ucap Titan. Sepertinya memang Titan mencintai sosok pacarnya tersebut sehingga apa yang dikatakan pacarnya selalu ia dengar.
__ADS_1
"Pacar lo luar biasa. Dia pasti sholehah?"
"Dia Istri idaman banget, sih, menurut gue. Dia yang ngebimbing gue juga. Dan gue ngerasain sendiri, bahwa setiap kali apa yang dia katakan itu suka bener."
"Iya, deh, iya. Lo beruntung deh punya pacar."
Kemudian Titan hanya terkekeh saja melihat kedua temannya yang memasang wajah malas kalau Titan sudah membicarakan pacarnya. Karena bagaimana pun juga, Jonathan dan Rayn pernah bertemu langsung dengan pacar Titan, membuat Jonathan dan Rayn terkadang tidak bisa bertingkah seperti biasanya. Di depan pacar Titan, keduanya dipaksa untuk bersikap ramah, sopan dan santun. Sepertinya memang pacarnya Titan ini begitu sangat istimewa.
Seseorang yang berdiri sejak tadi yang memokuskan pandangannya ke arah Titan tampak masih saja bergeming. Saat setelah mendengar kalau dengan bangganya Titan menceritakan sosok pacarnya, ada perasaan layu dari relung hati Tania.
"Pacarnya Titan itu siapa, ya?" Pikir Tania. Lagi-lagi muncul tanda tanya besar membebani pikiran Tania. "Duh, kok gue jadi kepo gini, sih. Lupain ini, Tania. Lo nggak boleh jadi penganggum rahasia. Karena jadi penganggum rahasia itu nggak baik buat diri lo sendiri. Apalagi, lo jadi pengaggum rahasia musuh lo sendiri. Aduh, sumpah ini gila banget." Tania melanjutkan langkahnya menuju ke arah kelasnya.
Tanpa disadari, Tania menjatuhkan catatan kecilnya ke tanah. Dengan refleks, Titan yang duduk di sana melihat ke arah Tania yang berlalu. Titan melihat sebuah buku kecil jatuh dari tas milik Tania. Tanpa memperdulikan kedua temannya, Titan berjalan menghampiri buku catatan tersebut dan mengambilnya. Wajah Titan terpasang biasa saja, sesekali Titan melihat ke arah Tania---yang memang sudah tidak ia temukan lagi dalam padangannya, karena Tania sudah cepat berlalu.
"Kangen?" Titan mengernyit saat melihat judul sampul catatan tersebut bertuliskan kata 'kangen', lalu Titan tersenyum remeh.
__ADS_1
"Gue kira lo cewek monster. Nyatanya, lo suka sama hal yang berbau picisan kayak gini. Bolehlah buku ini gue pinjem. Gue jadi penasaran sama isi catatan ini. Apa mungkin isinya tentang cowok yang lagi dia taksir? Ah, mana mungkin, sih. Setahu gue, dia nggak deket sama cowok mana pun." Lalu, Titan pun kembali ke tempat di mana kedua temannya sedang bercengkrama dalam canda. Titan memasukan buku catatan tersebut ke dalam tasnya sendiri, sementara kedua temannya sama sekali tidak menyadari gerak-gerik Titan. Setelah itu, Titan kembali larut dalam candaan receh bersama teman-temannya itu.
next? Coment!