Titan'S 2

Titan'S 2
24


__ADS_3


(Gael👆)


Saat Tania berada di dalam kelas. Di sana ada Ratu—teman sebangku Tania, terlihat seperti tidak biasanya. Ratu tampak dingin, dan tidak membuka pembicaraan apapun pada Tania. Tania tampak canggung, Ratu tidak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya. Wajah Ratu pun tampak begitu malas jika melihat ke arah Tania.


"Rat, lo kenapa?"


"Ngomong sama siapa?"


"Ya sama elo, lah."


"Oh. Gua kira lo ngomong sama tembok."


"Rat, lo kenapa, sih? Dingin banget sama gue? Gue ada salah ya sama lo?"


"Lo pikir aja sendiri."


"Ya nggak bisa gitu dong, Rat. Gue 'kan nggak ngerti kenapa sikap lo tiba-tiba dingin kayak gini ke gue. Lo harus jelasin dong ke gue, kenapa sikap lo berubah kayak gini."


"Sorry, sepertinya gue nggak bisa duduk sebangku sama lo lagi." Ratu pun bergegas membawa tasnya, dan pindah ke bangku lain untuk diduduki.


"Rat, lo kenapa?" Tania langsung bangkit berdiri dan menghampiri Ratu yang pindah duduk ke bangku paling belakang.


"Lo jangan ganggu gue lagi, Tan! Lo bukan sahabat gue lagi!"


"Ya lo harus kasih tau penjelasannya kenapa lo kayak gini sama gue?" Tania memasang wajah ketidakmengertiannya terhadap tingkah Ratu yang berubah drastis hari ini.


"Soal buku catatan harian lo! Ternyata, lo sedalem itu suka sama Titan? Iya?!" Ratu berujar pelan, namun terdapat penekanan di ujung kalimatnya.


Tania seakan tidak mengerti arah pembicaraan Ratu yang entah akan berujung membicarakan apa. Pada intinya, Tania masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Ratu, yang tiba-tiba berubah sikap pada Tania.


"Lo kenapa nanya kayak gitu?"


"Lo nggak sadar, Tan?"


"Sadar apanya?"


"Lo udah melukai perasaan gue!"


"Maksud lo apa? Gue nggak ngerti."


"Selama ini gue diem, selama ini gue pura-pura polos. Seharusnya lo peka sama apa yang terjadi sama diri gue, gue bahkan orang pertama yang sesak saat tau lo bermimpi tentang Titan di siang bolong. Gue bahkan kepo berat sama mimpi lo itu, karena gue pengen tau, sedalem apa cerita lo sama Titan yang ada di dalam mimpi lo. Selama ini gue diem, selama ini gue menganggap semuanya baik-baik aja. Tapi, gue rasa sekarang cukup. Udah waktunya lo harus tau yang seharusnya, gue cinta sama Titan!" Ratu berujar penuh emosi, Tania terkejut bukan main saat mengetahui semua pernyataan yang terlontar dari mulut Ratu.


Bibir Tania begetar, ia menahan tangisnya agar tidak pecah. "Rat, kenapa lo nggak bilang dari dulu? Kenapa lo baru bilang sekarang?"


"Karena lo adalah orang yang egois!"


Mendengar kalimat itu, hati Tania seakan hancur dan remuk. Bagaimana bisa, jika Ratu yang selama ini dikenal baik oleh Tania justru berbalik membencinya? Ini benar-benar diluar kendali Tania. Tania sama sekali tidak tahu jika ternyata Ratu mencintai Titan. Karena, tidak ada sedikitpun tingkah Ratu mencirikan kalau ia menyukai Titan. Itu yang membuat Tania tidak bisa berkutik apa pun.


"Sejak kapan lo suka sama Titan?"


Ratu terdiam.


"Sejak kapan, Rat?" Tania mengulang kalimatnya lagi.


"Lo nggak perlu tau! Intinya, sekarang lo bukan temen gue lagi!"


"Rat. Ada sebuah pengakuan yang mau gue kasih tau sama lo! Iya, gue emang suka sama Titan sekarang! Gue emang jatuh cinta sama dia sekarang! Betapa bodoh dan konyolnya gue sekarang, mencintai seseorang yang ternyata itu adalah musuh bebuyutan gua! Gue nggak pernah berpikir akan sejauh ini gue terjatuh! Gue nggak bisa menyalahkan cinta yang juga datang secara tiba-tiba setelah mimpi itu terjadi dalam hidup gue! Apa lo tau, betapa menyakitkannya kisah ini buat gue! Gue emang mencintai Titan saat ini, tapi harapan gue cukup kecil untuk bisa mendapatkan Titan! Karena apa? Banyak hal yang nggak lo ketahui, Rat! Banyak hal!" Tania berujar dengan mata berkaca-kaca, di sana Ratu terdiam.


Tiba-tiba ...


Terdengar suara tepuk tangan seseorang yang baru saja datang dan memasuki kelas ini dengan memasang wajah yang menunjukkan senyum remehnya.


"Akting lo cukup keren, Rat." Seseorang itu memuji Ratu. Apa maksud perkataannya? Ratu pun langsung menunjukkan wajah datar dan penuh penyesalan.


Tania tampak bingung. "Akting? Maksudnya apa ini?"


"So-sorry, Tan." Ratu berujar dengan memasang wajah sedikit menyesal.


"Yap! Gue menyuruh Ratu untuk menjebak lo! Dan sekarang gua cukup puas, karena mulut lo sendiri yang bilang. Kalau apa? Coba gue pengen denger lagi, kalau lo apa?" ucapnya dengan nada meremehkan, seraya membeberkan daun telinganya sendiri seperti menantang Tania untuk mengulang kalimatnya lagi. "Kalau lo jatuh cinta sama gue," katanya, lagi. Ya, seseorang yang tadi memberi tepukan tangan dan menyuruh Ratu menjebak Tania adalah Titan Wirasena Rajendra.


DEG!


Jelas itu membuat Tania tersakiti. Alhasil, air mata Tania pun menetes membasahi pipi. Lalu, Tania menatap Ratu dengan tatapan kecewa.


"Gue kecewa sama lo, Rat." Tania berucap dengan bibir yang bergetar karena hancurnya perasaannya saat ini. "Kok lo tega sih, sama gue?"


"Sorry, Tan. Gue ngelakuin ini karena terpaksa." Ratu berusaha memohon agar Tania mengerti posisinya.


Tania menghapus air matanya sendiri. "Iya, gue tau. Gue adalah orang yang selalu dipaksa untuk mengerti semuanya. Tapi, gue juga harus mengerti, kalau semuanya nggak pernah mau mengerti tentang posisi gue yang tersulit sekalipun. Iya, gue tau. Gue cuma cewek lemah, gue cewek bodoh, dan gue ...." Tania tidak bisa melanjutkan kalimatnya, ia malah menangis begitu rapuh.


Titan hanya menatap Tania dengan sorot mata yang biasa saja namun seperti menyiratkan sebuah perasaan. Mungkin, ada perasaan iba menyelimuti hati Titan, namun Titan menangkisnya dengan cepat. Dengan memberanikan diri, Tania pun menghadapkan badannya ke arah Titan, dan menatapnya dengan sorot yang memilukan.


"Iya. Gue jatuh cinta sama lo. Iya. Ini emang terlalu konyol. Gue mau minta maaf sama lo, seharusnya gue nggak membiarkan perasaan ini tumbuh di hati gue. Karena seharusnya gue juga sadar, lo nggak akan pernah mau baik sama gue. Kita musuh. Mungkin selamanya kita akan bermusuhan. Sama-sama saling melukai dan menyakiti. Meskipun dalam detik ini, gue udah mulai berhenti untuk mengusik ketentraman hidup lo. Gue berubah, mungkin lo nggak sadar. Gue menghindar, mungkin lo juga nggak sadar. Itu semua gue lakuin cuma buat lo berpikir, ada penyebab yang tersembunyi selain rasa cinta yang gue miliki. Lo nggak tau apa-apa. Silahkan, lo membenci gue sedalam samudera, juga gak apa-apa. Karena gue tau, gue bukan penyebab Tristan dan Riana gagal menikah! Lo harus tau itu!" Tania berujar sambil menahan tangis, ini benar-benar sangat memilukan. Situasi pun seperti genting. Untung saja, kelas tidak terlalu ramai, karena ada sebagian murid yang belum datang.


"Tristan?" Titan mengerutkan dahinya, heran.


Tania mengusap air matanya sendiri yang telah lancang terjun bebas membasahi pipi. "Iya! Tristan. Apa yang lo pikirkan setelah lo mendengar nama Tristan yang terlontar dari mulut gue? Selama ini lo nggak tau 'kan, siapa mantan calon suaminya Kak Riana?"


Hening sejenak.


Titan memikirkan sesuatu yang membuat raut wajahnya terlihat sangat serius. Tania tidak memiliki cara lain, selain ia harus memberitahukan yang sebenarnya pada Titan. Sekali pun, ini akan membuat kebencian Titan semakin kuat pada Tania. Tania tidak peduli.


Setelah beberapa detik Titan terdiam untuk memikirkan sesuatu, tatap mata Titan pun kembali tertuju pada Tania. Sorot mata Titan tampak serius. "Apa yang lo ketahui tentang Tristan? Apa lo juga tau tentang kematiannya?"

__ADS_1


Yap! Yang Titan tahu adalah tentang berita kematian Tristan yang pernah dibicarakan Rega padanya tempo lalu. Namun, pada kenyataannya Tristan belum meninggal.


Tania tersenyum kecut, "dari hal terkecil aja lo nggak tau?"


"Apa yang lo tau?"


Tania malah menggantungkan obrolannya. Tania justru terdiam tidak tahu harus memulai menjelaskannya dari mana.


"Gue—"


"Jangan ceroboh! Ini belum saatnya Titan tau tentang keberadaan Tristan. Kalau dia tau, maka lo terancam tidak akan pernah bisa ketemu Daviel, dan kecil kemungkinannya untuk Titan bisa jatuh cinta sama lo."


Belum sempat melanjutkan kalimatnya. Telinga Tania terbisik suara Gael yang entah datangnya dari mana.


"Gue nggak bisa jawab!"


Tanpa basa-basi lagi, Tania pun keluar kelas ini dengan telapak tangan yang menutupi bibirnya untuk berusaha agar tangisnya tidak pecah, lagi.


"Tan, lo mau ke mana?" Ratu sedikit berteriak saat Tania keluar kelas. Namun sayangnya, Tania tidak menggubris Ratu. Tania mungkin sangat kecewa, hatinya sedikit terluka.


Ratu pun memasang wajah serius pada Titan. Titan sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun pada Tania. Dengan santainya, Titan beralih untuk duduk di kursinya, Ratu pun dengan sigap menghampiri Titan dengan sedikit emosi.


"Gila lo, ya. Lo jahat, Titan!"


Titan mengernyit pada Ratu yang begitu polosnya mengatakan hal tersebut.


"Emangnya lo nggak?"


"Lo ja-hat!"


Titan tersenyum pahit. "Emangnya lo nggak jahat?"


"Ya gue 'kan akting kayak tadi karena terpaksa. Lo 'kan yang maksa gue!"


"Terus lo kenapa mau?"


"Lo bener-bener nggak punya hati!"


"Rat, lo denger ya. Karena lo cewek, gue mau ngomong baik-baik sama lo. Seharusnya, kalau lo emang temennya Tania, lo nggak akan mau nerima ajakan gue buat ngejebak Tania. So, siapa yang lebih jahat? Gue apa lo? Jelas kalau gue jahat, gue musuh Tania. Kalau lo? Temen kok nyakitin." Titan berujar datar. Ratu pun kesal dan terdiam seribu bahasa. Titan pun dengan coolnya membuka buku catatannya sendiri untuk sekedar mencari kesibukan, sambil menunggu guru masuk ke kelas ini untuk mengajar.


***





Tania kini berada di ruang UKS. Entah kenapa, daya tahan tubuhnya terasa lemas. Atau mungkin, efek dari rasa sakit atau rasa kecewa? Entahlah. Sebenarnya, dari awal ia memulai pagi ini dengan situasi yang buruk. Ditambah lagi, emosinya naik-turun karena efek dari menstruasi.


"Ya Tuhan, kenapa sesakit ini."


Tania menyandarkan punggungnya ke ujung brankar sederhana yang terdapat di ruang UKS ini. Kakinya dibiarkan lurus, untuk sejenak ia merefleksikan dirinya dari rasa sakit yang menyerang fisik dan relung hatinya.


"Tan? Lo kenapa?"


"Lo bawa obat pereda rasa nyerinya?"


"Nggak. Kalau lagi datang bulan, gue jarang minum obat untuk meredakan rasa nyerinya. Nantinya hilang sendiri rasa nyerinya."


"Iya, deh. Lo berarti nggak ikut pelajaraan pertama?"


"Nggak."


"Oh, ya sudah. Lo istirahat aja di sini."


"Iya."


"Btw, sekarang si Titan singgah di kelas lo, ya?"


"Bukan cuma singgah di kelas gue. Dia pun dengan lancangnya singgah di relung hati gue." Tania membatin.


"Eh, ditanya kok diem."


"Hm. Iya. Gue sekarang sekelas sama Titan."


"Nggak nyangka, ya."


"Nggak nyangka kenapa?"


"Yang dulunya jauh-jauhan, sekarang deket-deketan. Yang dulunya musuh-musuhan, bisa jadi nanti sayang-sayangan."


"Lo ngomong apa sih Maya Sari."


"Ngomong apa adanya."


"Lo ngaco, ah."


"Oh iya, lo nggak main badminton lagi?"


Tania menggelengkan kepala. "Nggak."


"Kenapa?"


"Gue 'kan udah keluar dari eskul itu."


"Semenjak ketuanya diganti Titan, ya?"


"Hm."

__ADS_1


"Padahal gue fans lo."


"Fans?" Tania menggelengkan kepala pelan, disertai senyum tipis yang seolah ia tidak pantas untuk memiliki fans atau penggemar.


"Nih, ya. Gue Maya Sari si ketua PMR, sama staf jajaran gue, suka sama cara lo bermain badminton. Lo tau nggak? Si Rayn, temennya Titan itu, dia 'kan suka sama lo."


"Apa?"


"Iya. Rayn suka sama lo."


"Nggak mungkin."


"Yeh, lo mah nggak percaya. Gue 'kan temen sekelas Rayn. Gue tau seluk-beluknya dia. Gue juga tau gimana badnya si Titan. Apalagi Jonathan. Tau semua gue tentang trio ******* itu."


Tania pun terdiam. Ia tidak bisa memperpanjang obrolan tersebut. Karena ia memang tidak ingin terlalu panjang membahas soal itu. Kini, Tania hanya fokus istirahat, padahal di dalam hatinya ia benar-benar tidak baik. Hari ini sangat membuatnya menyedihkan, bahkan Tania sangat kecewa terhadap Ratu. Detik ini juga, Tania memutuskan untuk tidak berteman dengan siapapun.


"Ya udah, lo istirahat aja deh, ya. Gue cabut dulu. Mau ke kelas. Udah bel. Bye."


"Hm."


Maya pun keluar dari ruang UKS ini. Yang tersisa hanya Tania sendiri. Tampaknya, Tania kini lebih tenang, meskipun dalam kesendirian.


"Tahap pertama udah lo lalui. Tapi, ini belum seberapa."


Suara itu muncul secara tiba-tiba dari arah samping kanan Tania. Dengan segera Tania langsung menoleh ke arah sampingnya. Dan, ya, sudah ada seseorang yang berdiri di sana.


"Kedatangan lo selalu bikin gue jantungan."


"Sorry."


"Udah biasa."


"Seharusnya kalau emang udah terbiasa, lo nggak kaget lagi, dong?"


"Lo mau apa ke sini, Gael?"


"Lo mastiin aja, kalau lo baik-baik aja."


"Sayangnya gue lagi kurang baik."


"Kenapa?"


Gael pura-pura tidak mengetahuinya. Padahal jelas, Gael mengetahui hal apa yang membuat hati Tania hancur hari ini.


"Terlalu menyakitkan untuk gue ceritain."


"Lo masih diberi kesempatan kedua untuk mempertimbangkan pilihan lo. Gue harap, lo pilih koma aja. Biar gampang." Gael berujar santai, sementara Tania langsung membulatkan matanya ke arah Gael.


"A-apa lo bilang? Nggak. Gue nggak mau koma."


"Kenapa? Karena lo takut bikin orang di sekitar lo khawatir?"


"Iya." Tania menampakkan wajah murung.


Gael menghela napas pelan. "Lo tetap yakin dengan pilihan lo?"


"Sangat yakin!"


"Coba lo lihat hari ini, betapa menyedihkannya diri lo. Lo dipermalukan tadi, lo disakiti tadi, lo dilukai, apa lo nggak sedih? Dan itu tuh bagian dari proses yang lo pilih."


"Iya. Gue tau! Setidaknya cuma perasaan gue yang terluka di sini, dan nggak melibatkan semua orang yang gue sayang untuk ikut terluka dalam kisah gue!" Tania kembali berkaca-kaca. Nada bicaranya sedikit emosi.


Gael lagi-lagi menghela napas pelan.


"Hati lo terbuat dari apa? Kenapa lo sekuat tenaga untuk menjaga perasaan orang lain agar tidak cemas dan terluka. Sementara lo? Perasaan lo terancam terluka sangat parah."


"Karena gue paling nggak bisa ngelihat orang yang gue sayang cemas dan terluka."


Gael terdiam. Untuk pertama kalinya ia kalah berdebat. Padahal, dari dunia bayangan, Gael tidak pernah kalah untuk berdebat, sekalipun itu berdebat dengan Dewa kematian. Tapi kali ini, Gael kalah berdebat dengan sosok manusia polos seperti Tania. Yang bisa Gael lakukan saat ini hanyalah memandangi Tania yang sedang berbaring lemah di atas brankar sederhana itu, sorot mata yang biasa namun amat sangat serius. Gael tidak tau apa yang sedang berkeliaran di otak Tania, mengapa ia rela terluka untuk tetap kukuh mempertahankan pilihannya.


"Lo udah makan?"


Gael membuka suaranya lagi, kali ini ia mengalihkan pebicaraan.


"Udah. Tadi pagi 'kan gue udah sarapan."


"Gue nggak nanyain lo sarapan atau nggak. Makan sama sarapan beda. Tadi pagi lo sarapan cuma pake roti? Itu berarti lo belum makan."


"Hm. Iya."


"Ya sudah. Lo tunggu di sini. Biar gue beliin lo makanan."


"Hah? Gimana caranya? Semua orang 'kan nggak bisa ngelihat lo?"


"Hari ini gue banyak belajar dari lo. Gue akan berubah jadi manusia walau gue harus menahan rasa sakit. Gue paling nggak bisa ngelihat lo menanggung banyak rasa sakit. Perut lo nanti sakit kalau nggak makan."


"Nggak usah, gak apa-apa."


"Kali ini lo nggak bisa nolak. Dan nggak bisa maksa gue, untuk jangan berubah jadi manusia. Iya, gue tau, jadi manusia 10 menit bagi gue itu rasanya sakit bukan main. Tapi, lo udah membuat gue belajar hari ini. Rasa sakit yang menyerang kita itu menjadi tidak akan terasa apa-apa, jika kita menjaga perasaan orang lain agar tetap tenang, tidak cemas ataupun terluka. Setidaknya, kita pun akan mendapatkan ketenangan itu juga."


"Tapi...."


"Udah lo tunggu aja di sini. Gue beliin makanan dulu buat lo."


Gael beralih keluar ruangan ini untuk membelikan Tania makanan. Tania sedikit heran, dan pada akhinya Tania merasakan sesuatu yang jauh lebih tenang dari sebelumnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Gael. Di saat semua orang berusaha untuk melukai gue, lo justru satu-satunya sosok yang peduli sama hidup gue."


To be continued...


__ADS_2