
***Flashback on***
"Bagaimana ini... Kenapa tiba-tiba ada lamaran?Aku harus bagaimana, aku pikir tadi hanya acara silaturahmi dengan keluarga tante Wilda?" Keluh Ainun saat sudah berada di kamarnya. Dia sudah mondar - mandir seperti setrika.
"Kakak setuju? Bagaimana dengan kak Aby?" Tanya Sintha yang tiba - tiba muncul di kamar mengagetkan Ainun.
" Aduh,Sin...kamu jangan ribut sebut - sebut nama Aby.Jangan tambah kepanikan kakak. Ini kakak juga lagi mikir." Kata Ainun kesal. Sintha mengangguk mengangkat dua jari tangannya serta memarkan deretan giginya.
" Kakak kabur saja sama kak Aby." Seru Sintha berbinar setelah beberapa saat terdiam.
" Yaa,ampun Sin.... Kamu mau merusak nama kakakmu ini. Bagaimana juga dengan mama dan bapak?Pasti mereka akan malu. Kamu kalau mau bantu jangan kasi ide yang tidak masuk akal." Ucap Ainun kesal sambil menyentil kening adiknya.
" Aduhh,kak Ainun sakit...." Protes Sintha cemberut, sambil mengusap keningnya.
" Makanya yang masuk akal idenya..." Kata Ainun Ketus.
Beberapa kali Ainun menghela nafas panjang, pikirannya buntu. Bingung alasan apa yang harus dia berikan pada kedua orangtuanya agar membatalkan pernikahannya. Waktunya juga sisa sebulan lagi sejak lamarannya hari ini.
" Ainun,.besok Hendra akan kesini. Dia ingin bertemu denganmu. Besok kamu jangan kemana - mana yah?" Kata pak Rahmat pada putrinya saat makan malam. Ainun hanya mengangguk pasrah.
" Kak,kok mau siih...?" Tanya Sintha saat mereka sudah berdua di kamar, mereka memang tidur sekamar.
" Kak, nanti aku tidur dimana kalau kak Ainun sudah nikah? Masa sekamar kak Roy. Aduh...Sintha tidak mau. Kalau kak Ainun sama kak Aby, rela deh Sintha tidur bertiga sama kakak." Ucap Sintha senyum-senyum sambil melamun.
" Sin...Bisa diam tidak. Aku lagi pusing ini..." Kata Ainun kesal mendengar Sintha banyak mengeluh.
" Tidur berempat sama kakak mau tidak,Sin?" Kata Vitha yang tiba - tiba muncul sambil tersenyum di depan pintu kamar yang memang belum terkunci.
Vitha adalah anak tertua pak Rahmat,.dia sudah berkeluarga dan sudah memiliki satu anak, Reyana gadis cilik tiga tahun yang selalu membuat rumah pak Rahmat ramai bilang mereka sedang menginap. Suami Vitha, kak Randy adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan yang mengharuskan Vitha dan anaknya ikut dengan suaminya tinggal di rumah dinas yang disiapkan perusahaan.
Mereka akan berkunjung ke rumah pak Rahmat bila Randy mendapat cuti, hari raya atau ada acara keluarga seperti lamaran Ainun tadi,.itupun Vitha datang hanya berdua Reyana karena suaminya tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
__ADS_1
Ainun dan sintha sigap menegakkan tubuh mereka saling pandang lalu beralih melihat Vitha.
" Sin,tuh kamar kakak kosong tidur disitu saja,tapi harus selalu rapi yah..." Kata Vitha kembali pada Sintha.
" Kenapa diam? Tidak suka kakak ada disini?" Tanya Vitha lagi.
" Bukan begitu kak...Cuma, apa kakak...." Ucapan Ainun terpotong oleh ucapan Bitha.
" Iya,kakak tahu kamu pacaran sama Aby dan kamu sebenarnya tidak ingin menikah dengan Hendra." Kata Vitha sambil duduk di dekat adiknya.
" Maaf kak... Sintha tidak bilang apa - apa, sumpah...." Ucap Sintha cepat dengan eskpresi wajah menegang.
Dia takut Vitha akan marah bila tahu dia menyuruh Ainun kabur dengan Aby yang selalu dia bahas bersamaan Ainun setiap mereka berdua di kamar..Vitha hanya mengeleng- geleng melihat tingkah adik bungsunya itu.
" Nun,apa alasanmu tidak ingin menikah?" Tanya Vitha serius.
Lama Ainun menunduk dan berpikir lalu menjawab "Apa pernikahan tanpa cinta bisa berjalan baik kak, tanpa saling mengenal?" Ucapnya lirih.
" Apa kamu sangat mencintai Aby,Nun...? Bila Aby mencintaimu mengapa dia menyembunyikan hubungan kalian dari semua orang?" Tanya kak Vitha membuat Ainun terdiam dan sedikit tertampar.
" Kami punya alasan kak... Itu kesempakatan kami menyembunyikan hubungan kami sampai kami siap mengatakan pada semua orang." Ucap Ainun.
" Baik... Kakak tidak akan ikut campur dengan hubunganmu dan Aby. Tapi jika berurusan dengan malu keluarga kakak harus turun tangan. Nun,kamu tahu bapak dan mama sudah tua, mereka berharap bisa melihat setiap anaknya duduk cantik di pelaminan. Usiamu sudah cukup dewasa Ainun, sudah saatnya jika kamu menikah sekarang. Apalagi calon yang di disetujui bapak dan mama bukan orang lain, masih punya ikatan keluarga dengan kita. Semoga saja dengan alasan itu kamu tidak akan disia-siakan oleh Hendra."Jelas Vitha dengan lemah lembut.
"Aby masih muda, wajar bila pikirannya untuk kesana belum ada. Kamu mau menunggunya sampai kapan?" Sambung Vitha kembali.
"Tapi kak.....Ainun,,," Ucapan Ainun menggantung takut membuat Vitha akan menjadi marah.
"Iya,kakak faham ketakutanmu, tapi yakinlah pilihan orangtua itu tidak perna salah.Tidak ada orangtua yang ingin anaknya menderita,nun...." Jelas Vitha meyakinkan Ainun.
"Iya,kak..Aku hanya ragu pada diriku sendiri kak.Apa aku bisa menjalaninya." Kata Ainun ragu.
__ADS_1
"Kakak paham,nun...Kamu harus yakin melakukannya karena ibadah dan ingin membahagiakan orangtua. In syaa allah,semuanya akan mudah saat kamu pasrahkan semuanya padanya." Kata Vitha kembali, berharap adiknya ikhlas menjalani rumah tangganya kelak.
Ainun hanya menghelah nafas dan memejamkan mata. Dia tidak rela mimpi dan harapannya bersama Aby kandas di tengah jalan, meski Aby sudah merelakannya menikah dengan pilihan orangtuanya. Tapi Ainun masih memiliki banyak keraguan untuk pernikahannya dan rasanya pada Abyan sudah sangat dalam yang tidak bisa dia lepaskan.
"Beri aku waktu kak...Aku belum bisa memahami semuanya..." Kata Ainun setelah beberapa waktu terdiam.
"Kakak harap keputusanmu tidak membuat orangtua kita malu,Nun...." Kata Vitha akhirnya dan berlalu keluar kamar.
Ainun hanya mengangguk dan membaringkan dirinya di tempat tidur,memejamkan matanya meski Ainun tidak tidur. Sintha sudah terlelap sejak tadi,dia tidak ambil pusing dengan percakapan kedua kakaknya daripada dia salah bicara nantinya.
***
Waktu begitu cepat berlalu hingga tidak terasa acara pernikahan Ainun hari ini telah selesai, Ainun resmi menjadi Istri Hendra. Kedua keluarga sama-sama berbahagia, tapi tidak untuk Ainun.
Dia menyembunyikan semua perasaan sedih dan tidak relanya. Mencoba menjalani rumah tangganya, ingin menguji kesabaran suaminya dengan tidak peduli padanya. Dia ingin tahu sampai kapan mereka berdua bisa bertahan dengan ikatan rumah tangga tanpa cinta di dalamnya. Ainun selalu menghindar dari suaminya, mencari gara-gara agar suaminya tidak betah bersamanya.
Dan disinilah dia sekarang di rumah om Rahman, orangtua Jihan kakak dari ibu Afifah. Ainun melarikan diri dari suaminya yang selalu meminta haknya. Ainun takut, dia tidak ingin melakukan hubungan suami istri sebelum dia yakin pada hatinya. Ainun takut punya anak tapi menjadi janda. Entah dari mana Ainun punya pemikiran seperti itu. Mungkin dia merasa tidak nyaman dengan berita selebritis yang sering muncul di TV janda muda yang memiliki anak. Ainun berpikir dengan menikah karena cinta akan membuat anak-anak juga akan selalu bahagia dan memiliki tumbuh kembang serta mental yang baik, tentu karena tidak akan ada perceraian bila kedua orangtuanya saling mencintai.
"Kak Ainun.. sebenarnya aku takut sama bapak kalau tahu kakak ada disini." Keluh Jihan saat Ainun selesai telponan dengan Abyan.
"Tidak apa-apa,han...kakak akan memastikanmu aman." Ucap Ainun menenangkan Jihan.
"Tapi kak, hari ini ayah dan ibu sudah pulang dari rumah nenek. kalau melihat kakak disini bagaimana?" Kata jihan kembali panik.
"Nanti kakak sembunyi di kamar Evi atau di kamar mandi." Ucap Ainun santai.
Dia sebenarnya juga sedikit khawatir, takut dan was-was memikirkan apa yang harus dia lakukan jika Om dan tantenya melihatnya ada disitu. Mereka pasti sudah tahu kalau Ainun meninggalkan rumah suaminya tanpa izin, pasti om dan tantenya akan menegurnya dan menyuruhnya kembali.
***flashback off***
...***please dukung aku yach,aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.. terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...
__ADS_1
...###jangan lupa tinggalkan jejak yach,koment,like, dan jangan lupa vote nya juga terimakasih. ###...