
Minggu berganti minggu, hari-hari kami makin berwarna sejak ke tiga gadis itu selalu ada di rumah membantu pekerjaan bapak rumah tangga Beny, menggantikan pekerjaan Beny lebih tepatnya.
Sejak kejadian malam itu saat Danti and the genk ngambek-ngambekkan, mereka juga sudah lebih sering mengunjungi kami. Membuat Yudi maki sering cemberut dan marah-marah pada kami agar tidak meladeni bial mereka semua datang, khawatir akan sepupunya dan teman-temannya akan kecewa pada kami.
Apalagi tak jarang pula mereka perang tatapan saat tak sengaja bertemu dengan ke tiga gadis staf kantor perumahan yang hampir setiap hari memang mampir di rumah. Ada-ada saja alasan mereka untuk mampir dan akhirnya akan tinggal berlama-lama melakukan banyak hal bersama Beny di dapur. Semua itu membuat Yudi khawatir jangan sampai sepupu dan genknya membuat masalah di tempat kami yang akhirnya akan sampai ke telinga om Riswan.
Sejujurnya kami juga khawatir akan hal itu tapi mau bagaimana lagi, kami juga merasa tidak enak bila tidak ramah pada Danti dan teman-temannya. Bagaimanapun kami harus berterima kasih pada om Riswan bukan, salah satunya dengan bersikap baik dan ramah pada ke dua putrinya dan teman-temannya. Yaa, seperti menelan buah simalakama. Membuat kami serba salah.
Seperti pagi ini Danti, Tania, dan Erni sedang berkunjung.
" Kalian tidak kuliah?" Tanyaku pada mereka yang baru saja memasuki rumah. Melihat ini awal minggu, harus mereka tidak lagi pulang.
" Kak Aby ngusir nih? Baru juga masuk rumah... " Jawab Danti cemberut.
" Sensi amat dek, lagi kedatangan tamu yah." Godaku padanya.
" Habis bukan tanya yang lain.. langsung ke inti." Sahut Danti lagi.
" Hanya bertanya ade cantik. Ini hari apa, tidak biasanya kalian kemari di awal minggu." Kataku beralasan.
" Habis ujian minggu lalu kak, jadi seminggu ini lagi bebas. Palingan hanya ada perbaikan nilai. Gampang lah itu.." Jelas Tania pula.
" Ooh,begitu.." Kataku hendak berlalu melanjutkan aktifitas kami setiap hari.
" Mau kemana kak? Masa kami di tinggal." Seru Erni pula, sambil melihat kesana kemari di dalam rumah yang memang sepi.
" Kerja lah.." Sahutku singkat.
" Kami bagaimana..?" Tanya Danti lagi.
" Tuh, Beny ada di belakang lagi nyuci pakaian. sama dia saja.... sebentar lagi juga selesai." Kataku kembali ingin melangkah.
" Kak Riyan, Kak Roy dan Kak Ansel mana?" Tanya Tania juga.
" Itu..." Kataku sambil menunju ke arah bangunan yang sudah menjulang tinggi tak jauh di hadapan kami.
" Haahh.. bangunan tiga lantai itu hasil kerja kalian?" Kata Erni terkejut.
" Iya.. sudah yah..." Kataku melambaikan tangan pada mereka.
" Lama amat,By.. mules atau malah tidur lagi." Omel Riyan padaku saat tiba disana.
__ADS_1
" Tuh, di hadang sama pemuja kalian." Kataku sambil menunjuk ke arah rumah yang memang terlihat dari lantai dua bangunan. Tampak para gadis itu masih duduk di teras rumah, kemudian berdiri serentak masuk ke dalam rumah.
" Seperti di komando yah." Ucap Sahid pula mengikuti kami yang melihat ke arah rumah.
" Sudah nanti saja ngobrolnya.. Mereka mungkin sampai siang, karena tadi katanya habis ujian jadi bebas." Jelasku lagi sambil memulai mengambil martil yang tergeletak hendak membuat kuseng jendela.
Pembagian tugas memang kami lakukan untuk mempercepat proses pengerjaan pembangunan gedung berlantai tiga ini. Aku, Sahid dan Riyan fokus pada pembuatan kuseng dan rangka Atap sedang Yudi, Roy dan Ansel lebih fokus pada finishing dinding dan lantai. Kerja keras kami membuahkan hasil, hanya tiga bulan bangun ini sudah terlihat sempurna, apalagi bila semua finishing bangunannya selesai pasti akan terlihat lebih menarik.
Kami bekerja dalam diam, fokus pada apa yang ada di hadapan kami masing-masing.
" Seriusnya.. atau lagi puasa bicara?" Tegur Risma sambil menenteng tempat air minum dan beberapa gelas.
" Iya, sampai tidak menyadari kedatangan kita." Ucap Zahra pula sambil tersenyum meletakkan beberapa kotak kue di meja dekat tangga.
" Lebih baik banyak bekerja daripada banyak bicara bukan." Sahut Ansel dengan senyum genitnya.
" Yaa...Yaa... ini cemilan dan air panas, selamat menikmati." Balas Risma sambil tersenyum manis sambil membungkuk ala-ala pelayan resto hendak berlalu.
" Manis sekali.. jadi pengen di suapin sama kamu." Goda Ansel kembali.
" Hahaha... Gombal saja kamu, Sel.." Cibir Risma dengan wajah merona.
" Wah, pantas saja sejak tadi aku mencium aroma harum ternyata bidadari lagi turun dari khayangan nyangkut disini." Kata Riyan penuh senyuman, baru keluar dari salah satu ruangan.
" Sudah yah, masih ada kerjaan juga. Ini cuma di suruh sama pak Ilham untuk mengantarkan cemilan. Di makan, kami permisi...." Ucap Zahra lembut dan tersenyum menarik lengan Risma agar segera pergi dari hadapan Ansel dan Riyan.
" Sebentar benar neng, ngobrol sama abang dulu napa?" Kata Riyan senyam-senyum kembali menggoda mereka.
" Nanti deh, Yan.. kalau mau ngobrol.. jam pulang kantor." Sahut Zahra melambaikan tangan yang mulai menjauh.
Aku hanya sementara mengintip dari salah satu ruangan yang sementara di pasangkan pintu jendela tanpa berniat untuk keluar.
" Siapa...?" Tanya Sahid yang melihat cukup lama mengintip di salah satu lubang.
" Biasa staff idola kalian.."
" Yakin bukan idola kamu,By.." Ledek Sahid. Aku hanya mengangkat bahu pura-pura tidak peduli.
" Jangan sok-sokan jual mahal deh, By.. Aku tahu siapa yang tiap malam kamu temani teleponan dan temani chat." Goda Sahid lagi sambil tetap fokus pada pekerjaannya.
" Sok tahu.."
__ADS_1
" Nuri dan Zahra..." Kata Sahid lagi.
" Sok tahu... " Aku kembali mengelak pada iya.
"Hahahha.... kamu yah sukanya diam-diam padahal serangannya, Beeeyyy... lebih fatal." Ejek Sahid kembali dengan kekehan.
" Iyaa... Iyaa... memang harus begitu kan daripada tidak peka,ada yang naksir tapi tidak menyadari..." Kataku akhirnya dengan sengaja mengejeknya pula.
"Siapa? Aku..?" Tanya Sahid bingung.
" Entah..." Jawabku lalu berlalu meninggalkannya.
" By, siapa... Risma bukan?" Tanyanya makin penasaran.
" Mira..." Kataku sebelum berbelok keluar menuju Ansel dan Riyan yang sedang menikmati kue yang di bawa Risma Tadi.
Waktu menunjukkan pukul sebelas siang, kami sedang duduk menikmati kue di tangan masing-masing dengan segelas Teh hangat. Meregangkan otot beberapa Menit sebelum melanjutkan bekerja lagi.
***********
🎶🎶🎶
Kau auraku, oh,
pancarkan sepercik harapan
Datanglah merasuk, menjelma, meleburkan cinta
Kubawa kau terbang menembus awan yang beriring
Kembangkan senyuman bagai bunga bawa keindahan....
🎶🎶🎶
Senandung lagu yang kunyanyikan berulang sambil memainkan gitar Beny di teras rumah malam ini. Mengingat, mengenang kebersamaanku bersama Iren dan kini memikat Zahra dan Nuri. Namun merindukan Ainun, Huuuhh...Sungguh rumit cintaku ini.
Aku lebih menyukai sikap dan perlakuan Zahra padaku, mungkin karena kami hampir seumuran meski usiaku masih lebih tua di atasnya, hingga memiliki pikiran yang lebih santai soal perasaan. Tidak seperti Nuri yang memang masih jauh lebih mudah dariku, kadang lebih labil tapi setidaknya tidak seperti Danti dan temannya yang lain. Ahh, daya tarik keduanya yang berbeda membuatku egois untuk memiliki ke duanya.
(Bersambung)
...*** Happy Reading****...
__ADS_1
...aku juga berharap karyaku bisa memuaskan reader semua.......
...Terimakasih dan mohon maaf bila masih banyak typo nya........