True Love Bad Boy

True Love Bad Boy
Pagiku Cerah


__ADS_3

Di ruang tamu, Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tampak Yudi, Sahid, Riyan dan Beny masik terjaga dalam posisi nyamannya masing-masing.


" Ben, bisa berhenti tidak. Sejak tadi bolak balik saja. Aku tidak bisa tidur merasakan pergerakanmu." Keluh Sahid kesal.


" Kenapa sih, Ben tidak tidur?" Tanya Riyan yang sejak tadi memang masih sibuk dengan handphonenya.


" Aku khawatir sama Winda. Kan aku tidak bermaksud membuatnya sedih." Ucap Beny merasa bersalah.


" Sudahlah Ben... Besok saja kamu pikirkan lagi, semoga besok Winda sudah tidak nagmbek lagi." Ucap Yudi pula memenangkan, meskipun masih kesal dengan Riyan. Yudi mengabaikannya, toh masih ada hari esok, dia juga belum menanya pasti pada Danti apa yang sebenarnya.dia sebenarnya juga merasa tidak nyaman dengan kegelisahan Beny sejak tadi yang terlalu banyak gerak.


" Tuh, lihat si Ryo... Dia saja punya masalah malah sudah tidur nyenyak, di kamar pula dengan Abyan dan Ansel." Kata Riyan bersungut-sungut.


" Kenapa, Yan..? Sepertinya kamu belum berhasil membujuk Danti." Ejek Sahid pula.


" Mau di bujuk bagaimana nomornya saja tidak aktif." Keluh Riyan.


" Jangan coba-coba mempermainkan hati sepupuku, Yan...." Ucap Yudi tegas.


" Iya, Yud... ini lagi berusaha memperbaiki. Lagian dia juga cuma salah paham. Aku kan kemarin cuma bantu-bantu saja di dapur, tidak ngapain-ngapain ini..." Kilah Riyan tidak mau disalahkan.


" Iya,tidak ngapain-ngapain.. tapi ingat tuh yang lagi sekolah di kota mau diapakan.. Awas saja sampai menyakiti Danti. Cari pelarian, aku maklum tapi jangan sepupuku juga yang jadi korban." Omel Yudi kembali.


" Sudah nanti panjang lagi.. Tidur!!! Kan besok masih bisa di bahas..." Kata Sahid sambil menguap.


" Hid, kamu tidak suka salah satu dari mereka?" Tanya Riyan penasaran.


" Siapa?"


" Genknya Danti dan genknya Mira"


"Hhhmmm... Semuanya cantik.... Uuuuuaaaahhhh."


" Terus...."


" Ngantuk... besok saja bahasnya,Yan..." Keluh Sahid dengan suara serak menahan kantuk.


" Yah, Sahid..."


" Sudah, Yan... Tidur saja... Besok kita kerja loh." Kata Yudi pula yang sudah mulai kehilangan kesadaran.

__ADS_1


Akhirnya Riyan pasrah dan membenarkan posisi tidurnya berusaha memejamkan mata. Beny juga sudah terlelap sejak terakhir kata-katanya di ucap.


*******


Pagi hari seperti biasa semua bangun lebih cepat, cuma bedanya bukan Beny yang sibuk di dapur melainkan Nuri dan Ranti yang menyiapkan menu sarapan kami. Kami masih asyik berbincang-bincang sambil bercanda ria menunggu para gadis menghidangkan menu sarapan pagi ini.


" Siapa yang akan mengantar mereka?" Tanyaku di sela obrol kami tentang pembahasan finishing bangunan yang tengah kami kerja.


" Katanya mereke di jemput supirnya Erni." sahut Yudi sambil menyesap rokok di tangannya.


" Sarapan sudah siap." Seru Beny yang muncul dari arah dapur, memutuskan obrolan kami di ruang tamu.


" Ya, cuma ini Ben...?Bosan..." Ucap Ansel lemas.


" Syukuri saja, Sel... Sisa ini juga.... " Kata Beny menghidangkan sambal ayam dan ikan asin dengan nasi panas di meja. Bergiliran kami menyendok nasi dan lauk lalu mencari posisi duduk lesahan yang nyaman untuk menikmati sarapan kami.


" Untuk makan siang apa, Ben?" Tanya Yudi pula sambil menyendok lauk yang ada.


" Itu kiriman tante Rasti, ada mie instan sama telur balado, dendeng, kentang mustofa, telur asin juga ada.. tidak tau apa lagi, Aku belum membuka semua bungkusannya." Kata Beny sambil mengingat-ingat isi setiap kantongan yang di meja dapur.


" Mana telur baladonya, kenapa tidak di hidangankan sih,Ben..?" Omel Ansel menuju arah dapur mencari yang diinginkan.


" Kan, tiap minggu juga ada jatah makanan dari pak agus. Kenapa harus irit." Balas Ansel lagi.


" Iya tapi bahan,mentah ini sudah di olah tinggal di panasi saja sblum di hidangkan." Jelas Beny tetap tak mau kalah.


" Biar saja kak Beny... nanti aku bantu masak deh untuk siang dan malam sebelum pulang." Ucap Nuri menengahi.


" Ini kak Ansel telur baladonya." Sambungnya sambil meletakkan piring yang di bawahnya dari dapur di hadapan kami.


" Ya, Nuri... kenapa dikasi... Langsung ludes loh." Kata Beny makin memelas.


" Sebenarnya kamu itu bukan ngirit masak, cuma memang doyan telur baladonya jadi takut kehabisan, iya kan Ben...?" Cibir Sahid menyendok beberapa telur balado di hadapannya. Membuat Beny makin cemberut.


" Tidak apa kak Ben... Nanti aku bawain lagi kalau kesini." Kata Ranti pula menghibur Beny.


" Kalau mau bawa telur balado... Bawa satu karung yah, Ran...?" Kata Roy pula cengengesan mengejek Beny.


" Baru tau aku kalau Beny suka telur balado." Kataku pula sambil tetap mengunyah dan mengambil membersihkan piring tempat telur balado yang sudah habis.

__ADS_1


" Tuh kan aku hanya kebagian sebiji...." Gumam Beny akhirnya, melihat tingkahku menuang nasi panas pada piring bekas balado dan menikmatinya dengan lahap.


" Hahahaha...." Tawa cekikikan Nuri dan Ranti terdengar tak tertahan.


Setelah menikmati sarapan kami, kami bergegas akan berangkat menuju tempat kerja seperti biasa. Membiarkan Beny bersama Nuri dan Ranti di rumah membereskan sisa bekas sarapan kami tadi di dapur dan masak untuk makan siang nanti.


" Ben, masih betah?" Tanya Yudi sebelum kami meninggalkan rumah. Dijawab dengan anggukan oleh Beny.


" Yah, Betahlah tiap hari ditemani bidadari." Ledek Riyan senyum-senyum.


" Aku juga betah kalau tiap hari hanya di rumah di ladeni dan di kelilingi bidadari." Sahut Ansel pula senyam senyum.


" Ya, sudah kalian di rumah aku yang kerja." Kata Beny cemberut.


" Hahahaha... makin sering sama cewek tingkahmu juga sudah seperti mereka saja,Ben.. ngambekan.." Ucap Roy pula sambil tertawa.


Aku hanya tersenyum melihat kelakuan Beny yang salah tingkah diganggu seperti itu.


" Sudah,jangan membuatnya merona.. nanti malah makin merajuk lagi." Kata Sahid pula cengengesan.


"Ayo.. baik-baik di rumah yah, Ben... Masak yang enak." Kata Ansel lagi di sisa tawanya.


Kamipun berjalan beriringan menuju tempat kerjaan kami di selingi Senda gurau sepanjang perjalanan.


" Selamat pagi, pejuang keluarga. Semangat sekali." Sapa pak Ilham tersenyum ramah melihat ke arah kami, kepala bagian di kantor perumahan.


" Pagi pak.. Tumben datang lebih pagi dari yang lain?" Jawab Sahid sambil mensejajarkan langkah mereka.


" Iya, ini ada rapat bersama investor, mintanya diadakan jam tujuh pagi." Ucapnya sambil melihat jam pada lengannya.


" Oohh, kalau begitu kami lanjut kerja dulu pak." Kata sahid berbelok mengikuti langkah kami yang berada di depannya. Pak Ilham hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman khasnya lalu berjalan lurus ke arah pintu kantor dan membukanya.


Tidak berapa lama, beberapa staf kantor perumahan mulai berdatangan termasuk Mira dan Risma yang melambaikan tangan pada kami.


(Bersambung)


...*** Happy Reading****...


...aku juga berharap karyaku bisa memuaskan reader semua.......

__ADS_1


...Terimakasih dan mohon maaf bila masih banyak typo nya........


__ADS_2