
Percaya diri, dua kata yang keluar dari mulutku membuat Beny semakin gelisah. Tampak dari bahasa tubuhnya yang semakin tidak tenang.
" Kenapa?" Tanyaku akhirnya,setelah menunggu sanggahan darinya.
" Apa aku bisa?" Tanyanya masih tidak yakin dengan wajah lemas.
" Kamu lagi suka sama seseorang?" Tebakku akhirnya.
Beny tersenyum dengan mata berbinar lalu kembali meredup " Aku takut di tolak." Ucapnya singkat.
" Beny, yang aku kenal... orangnya ceria, periang, tulus dan dan selalu bisa membangun suasana hangat. Jadi kamu tampilkan apa adanya dirimu saja. Dan ingat... percaya diri." Jelasku tegas padanya.
" Siapa sih? Yang kamu lihat tempo hari saat kita dalam perjalanan kemari?" Tanyaku kembali penasaran.
" Iya..."
" Yang mana karena yang aku lihat waktu itu mereka berdua?" Tanyaku kembali. Mata Beny membelalak menatapku.
"Jadi kamu juga melihatnya? Yang aku lihat cuma satu orang tapi kamu lihat dua... Tapi Kenapa seolah-olah tidak melihat? Ooh, Iya.. Abyan kan memang seperti itu yah...?" Ucap Beny yang di jawab oleh dirinya sendiri, aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.
" Yang satu namanya Mira dan yang satu lagi namanya Zahra." Ucapku kembali.
Tatapan Beny maki membulat " Kamu mengenalnya?" Ucapnya sedikit tertahan, menatapku dengan tatapan takjub.
" HAhahaha... Biasa lah, Ben... Sepertinya perasaanmu sudah membaik yah." Kataku sambil tertawa melihat wajahnya yang seakan tak percaya.
" By, bagaimana bisa kamu berkenalan dengan mereka? Ketemu dimana?" Tanyanya makin penasaran,dengan mimik seperti biasa.
" Makanya jangan doyan tidur." Ucapku sambil tersenyum mengejek.
" Saat kita pertama kali tiba disini, kamu dan Sahid malah keenakan tidur. Aku hanya sekedar melihat-lihat sekitar rumah dan tidak sengaja bertemu mereka di belakang rumah. Mereka lagi ke toilet, lihat kan toilet yang di belakang? Tapi waktu itu mereka sedang bertiga." Jelasku panjang lebar.
" Terus.. Terus...."
" Kalau terus- terus yaah nabrak kalau tidak kecebur... Hahaha..." Kataku tertawa,mengisengi Beny tak ingin bercerita lagi.
" Sudah yah, aku harus lanjut menyelesaikan pekerjaan yang tadi." sambungku hendak berlalu.
" Yaa, Aby... aku masih ingin bertanya... " Ucapnya kembali memelas.
" Kalau ingin lebih jelas, kesana saja." Kataku kembali menoleh padanya seraya menunjuk kantor perumahan yang tidak jauh dri tempat kami.
" Bagaimana, Beny mana?" Tanya Ansel saat melihatku masuk ke dalam rumah. Dia masih sibuk mengutak-atik Hpnya, yang lain sepertinya sudah pergi lebih dulu.
" Sudah aman, tapi biarkan saja dulu. Nanti juga kembali seperti biasa... Ayoo...." Ucapku sambil mengajaknya kembali bekerja.
" Kau sengaja menungguku atau mengkhawatirkan Beny?" Tanyaku saat kami berjalan beriringan.
__ADS_1
" Aku khawatir sama Beny, diakan labil.. Aku pikir dia akan minta pulang." Jawab Ansel.
" Kenapa takut di suruh masak?" Balasku tersenyum-senyum.
" Bukan... Hanya kasian saja. Kakak tau kan Beny seperti apa." Jawab Ansel lagi.
" Iyaa, Tapi sepertinya Beny tidak ingin pulang dalam waktu dekat ini." Seruku sambil tersenyum penuh maksud meninggalkannya melangkah ke arah Roy yang sudah bergelut dengan cangkulnya. Ansel hanya mengerutkan kening berpikir dengan maksud ucapanku yang ambigu baginya.
******
Waktu terus berjalan,hari berganti hari. Tidak terasa hampir sebulan kami disini, rutinitas yang berulang setiap harinya mulai membuat kami sedikit jenuh dan lelah. Hingga hari ini memutuskan untuk istirahat full seharian, mengembalikan stamina agar kembali bugar dan segar.
Sebelum memulihkan stamina, aku lebih memilih bersih-bersih lebih dulu. Di saat yang lain masih betah bermalas-malasan di tempat tidur, aku meraih beberapa pakaian bersih yang kubiarkan tergantung beberapa minggu ini hendak kucuci di belakang rumah. Sedangkan pakaian kerjaku Selalu aku cuci setiap sore hari sepulang kerja sebelum mandi.
Yah,di belakang rumah terdapat bak besar bersebelahan dengan Toilet kantor pengurus perumahan, memang difungsikan sebagai tempat mencuci umum. Beberapa penghuni perumahan yang tinggal berdekatan dengan kami kadang lebih memilih berkumpul dan mencuci disini saat weekend.
Lantainya cukup luas dan di semen jadi lebih bebas untuk mencuci pakaian daripada mencucinya dalam bilik kamar mandi. Tidak hanya pakaian terkadang ada juga yang memarkir kendaraan roda duanya untuk dicuci, katanya lebih hemat daripada membawanya ke tempat pencucian kendaraan.
" By, lagi apa?" Tegur Beny saat melihatku dari pintu belakang, melangkah mendekatiku sambil menenteng ember yang dibawanya dari dalam rumah.
Aku menoleh melihatnya " Tidak lihat..?" kataku ketus. Beny hanya nyengir, ikut berjongkok di sampingku membuka keran air dan mulai mengisi ember yang dibawanya.
" Untuk apa? Bukannya ada keran juga di dalam rumah?" Tanyaku heran.
" Air di dalam tidak mengalir, terpaksa harus mengambil dari sini." Jawabnya tersenyum -senyum.
" Hai,Ben... airnya belum mengalir?" Sapa Mira tersenyum manis.
"Iya.." Jawab Beny antusias.
" Masa..? Kemarin aku sudah lapor pada bagian PDAM katanya tidak ada masalah. Apa mungkin ada pipa yang patah di dalam rumah?" Jelas Zahra panjang lebar.
" Iya, coba di cek lebih teliti dulu deh,Ben.. " Sambung Risma pula.
"Iya, nanti aku periksa ulang." Sahut Beny penuh senyuman. Aku lebih memilih diam melihat interaksi mereka berempat, memilih fokus dengan cucian yang ada di depanku meski sedikit risih dengan kehadiran ketiganya.
" Beny... Beny... " Suara teriakan Riyan terdengar dari dalam rumah, tidak lama pasti dia akan menampakkan diri. Radarnya kan sangat kuat kalau urusan wanita dan benar saja dia sudah berjalan tergesa-gesa saat melihat Beny sedang berbincang dengan ketiga gadis itu.
" Beny, ternyata kamu disini sejak tadi aku mencarimu." Kata Riyan sok kesal, sambil mencari cela ingin berkenalan.
" Ada apa,Yan mencariku...?" Tanya Beny polos.
" Kenalin dong.." Bisik Riyan.
" Oiyaa,, Mir.. kenal kan ini salah satu temanku.. kami kan ada tujuh orang,nah ini namanya Riyan.. kalau itu namanya Aby.." Ucap Beny panjang lebar memperkenalkan kami.
"Yan, By.. ini Mira,Risma dan zahra... "Sambung Beny lagi dengan senyum yang tidak pernah memudar sejak tadi.
__ADS_1
" Abyan kan yah...?" Kata Mira memastikan.
" Kok Tahu?" Jawab Riyan kaget dan memandangku penuh tanda tanya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk ke arah mereka. buru-buru menyelesaikan pekerjaanku dan berlalu ke dalam rumah.
" Hai... Kalian tinggal disini? kok baru bertemu?" Ucap Riyan mulai menggencarkan serangan.
" Tidak, kami cuma ngantor disana." Balas Risma dan menunjuk kantor perumahan.
" Sudah.. Ayoo... kami permisi dulu." Kata Zahra saat keluar dari toilet hendak berlalu.
" Sebentar, aku juga ingin." Kata Mira dan berlalu masuk ke toilet.
Setelah menuntaskan hajadnya, mereka semua pamit dan berlalu menuju kantor perumahan kembali.
🎶🎶🎶
Hei, kamu hatiku dag dig dug saat aku melihatmu
Jatuh dihadapanku buat aku buru-buru mendekatimu
Langsung ku tanyakan apakah kau baik-baik saja
Memangnya aku jatuh dari mana
Kau bidadari jatuh dari surga dihadapanku ea
Kau bidadari jatuh dari surga tepat di hatiku ea
🎶🎶🎶
Terdengar senandung Beny saat sibuk di dapur, diselingi suara air mengalir di dalam bak kamar mandi.
"Aku jatuh cinta kepada dirinya...... sungguh-sungguh cinta, oh, apa adanya...." Senandungku pula mengejeknya. Beny menoleh menatapku sinis dan membuatku malah tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahahahahha......"
(Bersambung)
...***Happy Reading***...
...Semoga pelan - pelan sudah bisa up rutin lagi yach....
...Jadwal kehidupan nyata mulai bisa dikondisikan, jadi mohon dukungannya reader sekalian....
...Dan aku juga berharap karyaku bisa memuaskan reader semua.......
...Terimakasih dan mohon maaf bila masih banyak typo nya........
__ADS_1