True Love Bad Boy

True Love Bad Boy
Ngepantai Nyantai


__ADS_3

Hari ini hari ke dua kami di rumah om Riswan. Hari terakhir kami bersantai melepas penat perjalanan kami dari kampung, besok kami sudah mulai ikut ke tempat kerja dengan om Riswan.


Om Riswan mengajak kami untuk jalan-jalan sebelum memulai aktivitas kami ke esokan harinya. Beny paling senang karena setelah sarapan kami akan ke pantai. Dengan semua barang bawaannya, dia tanpa henti terus bersenandung. Rencananya kami akan berenang di pantai yang katanya sangat indah dan ombaknya cukup aman untuk berenang.


Kak Anton juga masih setia mengantar kami kemana - mana. Katanya dia senang melihat kami antusias ingin jalan -jalan, rasanya kembali muda.


" Kapan lagi waktunya refreshing bila sudah di kampung pasti akan sibuk membantu bapak di sawah dan di beberapa kebun." Ujar kak anthon kala kami sedang menikmati sarapan pagi ini.


"Ben, jangan keterlaluan deh bawa barangnya. Kita tak akan menginap." Tegur kak anton melihat Beny yang bolak balik mengangkat barangnya ke mobil.


"Iya,Ben.. Kamu seperti orang mau kemping saja." Sahut Roy pula l.


"Sempat bisa benaran kemping,kak An.." Sahut Beny ceria.


"Tidak bisa, Ben.. Disana di larang kemping." Seru Danti pula tersenyum geli.


Tak hanya kami tapi om Riswan , tante Rasty serta Danti dan Winda juga ikut. Kami akan menikmati weekend ini dengan bermain air.


"Semua sudah siap?" Seru kak Anthon yang sudah duduk manis di kursi pengemudi.


"Ansel dan Yudi belum tampak sejak tadi kak." Jawab Sahid pula.


"Kak Ansel masih di wc tadi, katanya perutnya mules." Sahut Winda pula sambil bersandar di samping mobil.


"Yudi paling masih di kamar. Aku susul dulu deh, lama benar mereka." Ucap Beny berlalu masuk ke dalam rumah.


" Sudah siap semua yah?" Kata om Riswan saat keluar rumah dan mendekat ke arah mobil di ikuti tante Rasty.


"Ansel dan Yudi masih di dalam,om.." Jawab kak Anthon.


" Muat tidak ini?" Tanya tante Rasty tidak yakin dengan kondisi mobil yang kami gunakan karena sudah penuh sesak dengan barang yang akan kami gunakan nanti untuk bakar - bakaran ikan dan jagung.


" Muat kok tan, nanti biar Beny di bagasi." Sahut Riyan cengengesan sambil melihat ke arah Beny yang bersungut - sungut berjalan ke arah kami.


"Kamu bisa saja Yan,kasian Beny nya dong." Ucap tante Rasty tertawa mendengar perkataan Riyan.


" Kenapa Ben?" Tanya Sahid lagi.


"Sebentar lagi Ansel baru selesai mandi." Katanya lagi.

__ADS_1


"Astaga..benar - benar itu anak." Keluh Sahid.


" Sudahlah sabar saja.nah itu mereka." Sahut om Riswan pula.


"Ayo berangkat. Maaf sudah membuat menunggu." Ucap Yudi pula tergesa - gesa.


"Yud,kamu bawa mobil om." Sahut om Riswan sambil memberikan kunci mobilnya pada Yudi.


"Siapa yang ingin ikut sama om?" Jangan bertumpuk semua disitu." Ucap om Riswan pada kami.


Riyan dan Beny akhirnya berebut menuju mobil om Riswan tentu saja karena ada Danti dan Winda disana.


"Kenapa semuanya pindah kesitu, ini masih muat?" Seru kak Anthon karena melihat Roy dan Ansel juga turun dari mobil. Aku benar geleng - geleng melihat tingkah mereka.


"Sel, jangan ikut kegenitan deh.. Duduk!" Seruku pada Ansel. Ansel hanya tersenyum kecut melihat ke arahku.


Setelah berbagai kerepotan dan kerempongan untuk naik mobil akhirnya mobil perlahan meninggalkan halaman rumah om Riswan secara beriringan. Perjalanan ke pantai akan memakan waktu sekitar setengah jam dari rumah om Riswan. Tapi itu tidak akan membuat kami bosan karena di sugihi dengan pemandangan indah sepanjang jalan.


Tidak terasa akhirnya kami tiba juga di tujuan, mobil om Riswan yang dikemudikan Yudi tiba lebih dulu di parkiran disusul dengan mobil kami. Udara laut yang menenangkan dan menentramkan segera menyambut kami meski anginnya cukup kencang.


Beny langsung berlari ke pinggir pantai setelah turun dari mobil. Dia bak anak kecil yang baru melihat pantai dan ombak. Tak terkecuali Danti, Winda, Riyan, Ansel, Roy dan Sahid. Aku hanya tersenyum senang melihat tingkah mereka. Jika mama, bapak dan adik - adik dekat sudah pasti aku akan mengajaknya juga kesini.


Suasana pantai masih cukup sunyi, waktu memang baru menunjukan pukul 08.00. Masih terlalu pagi sebenarnya untuk menikmati suasana pantai. Tampak beberapa pedagang yang baru mulai membuka jualan mereka yang akan dijajakan.


"Iya,nanti.." Seruku seraya melambaikan tangan.


Aku lebih memilih membantu tante Rasty merapikan barang bawaan. Perlengkapan kami yang akan kami gunakan untuk membakar jagung dan ikan. Om Riswan tampak asyik ngobrol dengan kak Anthon di salah satu rumah - rumahan tepi pantai.


Aku dan Yudi bergantian menurunkan alat bakaran dan beberapa perlengkapan makan yang akan kami gunakan nantinya.


" Kalau butuh bantuan jangan diam - diam saja." Ucap Sahid mengagetkanku, dia datang bersama Roy.


" Masih bisa di tangani kok..." Ucapku santai sambil tersenyum.


" Aby mau jadi anak manis nih, bantuin tante Rasty. Beny kayaknya salah strategi ini." Ledek Roy senyum - senyum menaik turunkan alisnya.


"Apa sih,Ro... Nih bawa kesana..." Kataku sok kesal sambil menyodorkan kardus air minum padanya.


"Ro..Ro..ROY,By... " Ucap Roy cemberut menarik paksa kardus yang kusodorkan.

__ADS_1


"Hahaha... Makanya jangan sok meledek. Kesal sendiri kan... " Kataku tertawa puas melihatnya kesal.


" Sudah semuanya,By..?" Tanya Yudi padaku saat melihatku menutup pintu mobil.


"Sudah tinggal menyalakan api saja untuk pembakaran..." Jawabku sambil berjalan ke tempat tante Rasty berada. Yudi manggut - manggut dan mengikutiku.


Aku mencoba menyalakan api untuk pembakaran jagung dan ikan bersama Sahid dan Roy. Danti dan Winda sudah bergabung dengan tante Rasty mengolah makan yang akan kami makan nanti, serta menghidangkan aneka jajanan yang kami bawa.


Yudi sudah bergabung dengan om Riswan dan kak anthon, sesekali Yudi kembali bergabung dengan kami yang sedang membakar jagung.


Ansel, Riyan dan Beny juga sudah mendekat ikut bergabung. Kami membagi tugas, Ansel dan Riyan yang mengupas jagung, sedang Sahid dan Roy membersihkan ikan yang hendak di bakar. Tante Rasty,Winda dan Danti menyiapkan sambal untuk ikan bakar nantinya. Canda tawa kami tiada henti terus terdengar, tentunya lebih sering karena mengisengi Beny yang lebih sering merengek karena di jahili.


Bosan karena di ganggu tak ada habis - habisnya, Dengan sedikit menggerutu Beny memilih mengambil gitarnya yang tergeletak di samping om Riswan lalu mulai memainkannya dan bernyanyi di dekat kami.


🎶🎶 Jreng....jreng...jreng... 🎶🎶🎶


Begini nasib jadi bujangan


Ke mana mana asalkan suka


Tiada orang yang melarang


Hati senang walaupun tak punya uang


Hati senang walaupun tak punya uang


Apa susahnya hidup bujangan


Setiap hari hanya bernyanyi


Tak pernah hatinya bersedih


Suasanan makin semarak tentunya karena permain gitar Beny. Apalgi Danti dan Winda ternyata juga mempunyai suara yang merdu dan sesekali ikut bersenandung menyanyikan beberapa lagu.


...***maaf Slow Up reader cantik N ganteng.....akibat kesibukan di dunia nyata yang tidak bisa dihindari,maaf yaahh.....***...


Happy Reading......


...***please dukung aku yach,aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.. terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...

__ADS_1


...###jangan lupa tinggalkan jejak yach,koment,like, dan jangan lupa vote nya juga terimakasih. ###...


~Jangan lupa di jadikan favorit juga yah~


__ADS_2