
"Saya kecewa Abyan.....Saya sangat kecewa dengan kalian berdua. Kalian kawan baik, seharusnya bisa berbicara dari hati ke hati bila ada masalah." Ucap Pak Rahmat, papa Roy panjang lebar. Tersirat raut, marah, kecewa, lelah,dan sedih dari wajahnya.
Aku diam.
"Ainun belum kami temukan..entah dia bersembunyi dimana." Katanya lagi setelah menunggu beberapa saat respon dariku.
"Maaf,pak....tapi aku benar tidak tahu keberadaan Ainun." Ucapku penuh penyesalan.
Ya, aku menyesal mengabaikan Ainun. Seandainya tidak, sudah pasti hal ini bisa di hindari. Aku pasti tahu apa rencana Ainun setelah pernikahannya.
Beberapa kali dia menghubungiku lewat telpon yang selalu tidak kuhiraukan. Terkadang aku menyuruh Ansel atau Davina untuk mengangkatnya bila ponselku tidak berhenti berbunyi karena panggilannya. Ada saja alasan yang aku berikan, mengatakan aku sedang di kamar mandi atau sedang tidur.
Pak Rahmat mengangguk-angguk "jadi itu alasan perkelahian kalian?" Tanyanya kembali, sepertinya dia tidak tahu alasan perkelahian kami yang berakhir di ruangan UGD.
"Iya,pak.. Roy menuduhku membawa Ainun kabur." Ucapku dengan suara pelan. Aku takut ucapanku akan memancing pak Rahmat emosi.
Beliau hanya menarik nafas panjang dan menepuk-nepuk bahuku " Baiklah,,kalau kondisimu sudah membaik datanglah ke rumah sebentar sore. Kita bicarakan semuanya." Katanya hendak berlalu.
Aku menangguk dan berucap " Sekali lagi Aku minta maaf,pak..." Sebelum dia berbalik membelakangiku kluar dari ruangan.
***
Sebelum duhur kami semua sudah meninggalkan puskesmas. Aku lebih memilih istirahat di rumah nenek dari pada pulang ke rumah. Ternyata mama, bapak dan adik-adikku sudah menungguku. Mereka terlihat khawatir menatapku berjalan memasuki rumah, entah apa yang dikatakan tetangga pada mereka.Aku sedang berbaring di kamar, ketika Ansel, Beny serta Yudi masuk kamar.
"Kenapa sampai kejadian sih kak?" Sesal Ansel menatapku.
"Tunggu..tunggu... maksudnya apa ini?" Tanya Beny.
"Tidak benarkan Aby yang menyembunyikan kak Ainun?" Tanyanya memperjelas.
"Ya,jelas tidaklah..." Jawab Ansel sambil menjitak kepala Beny.
"Iish,tidak usah main tangan deh,sel...." Ucapnya cemberut.
"Kayak cewek deh,Ben.. Cuma di jitak sedikit saja sudah cemberut." Kata Ansel mencibir.
"Iihh,Ansel tega.... Sakit tahu..!!" Ucapnya makin di buat-buat seperti ban**
"BENY......."Teriak kami serentak..Sumpah geli abis melihat kelakuan Beny seperti itu. Ini anak memang tidak jelas, kadang waras kadang ges**k.
Beny hanya cengar-cengir melihat ekspresi kesal kami."peace kakak....."
"Jadi benar,by..kamu pacaran sama Ainun?" Tanya Yudi pula,yang ku jawab dengan anggukan kepala.
"Sejak kapan,By? ckckck....mantap ini, kok bisa kita tidak tahu yah?tak nampak...." Kata Beny takjub.
"Lebay kamu,Ben... kamu saja yang tidak tahu. Aku tahu kok." kata Ansel lagi-lagi mencibir Beny.
"Iyalah,adik Abyan... kalau aku yang tahu terus kamu tidak,itu baru mengherankan.." Ucap Beny kesal.
__ADS_1
"Sebentar sore kita ke rumah Roy." Kataku membuat semuanya terkejut.
"Sudahlah.By... biar bagaimana Roy itu teman kita, soulmate kita. Tidak usah di perpanjang." Ucap Beny sok bijak.
Kini giliran aku yang menjitak kepalanya gemes " Sok tahu kamu,Ben...Sok bijak...."
"Iihh,,,apaan sih adik kakak sama saja. Suka jitakin orang." Keluhnya sambil mengusap kepalanya.
" Makanya kalau orang ngomong dengar dulu sampai selesai." Ucapku kesal.
"Tadi pak Rahmat memintaku datang kerumahnya membicarakan masalah tadi." Sambungku sambil memperhatikan ekspresi mereka semua.
"Yakin nih tidak akan ada keributan lagi?" Ucap Beny was-was.
"Semoga.." Kataku singkat.
"Aku hubungi sahid dan yang lain deh. Biar rame, Biar banyak tenaga yang bisa nahan kamu..." Ucap Yudi khawatir.
"Kenapa aku?" Tanyaku heran.
"Benar-benar kesambet ini anak. Tidak sadar dengan perbuatannya." Ucap Beny sambil geleng memperlihatkan lengan dan sikunya yg kelihatan lebam.
Aku masih memandang heran." Itu kenapa apa,Ben?"
"Kamulah...tidak sadar tadi aku sama Riyan kerepotan memisahkan kamu sama Roy.. Roy sih, gampang ditahan kamunya yang bikin kewalahan. Mana Ansel lama sekali baru muncul." omelnya kesal.
Ansel hanya senyam senyum " Kalau diingat lucu juga kamu sama Riyan tadi. Harusnya aku tidak usah turun tangan kayaknya...hahaha...." Kata Ansel sampai terbahak.
Aku melotot mendengarnya. Apa iya? Aku juga sampai memukul Beny dan Riyan.
"Kamu tega kakak Aby... kamu mendorongku begitu kuat hingga aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi...." Ucap Beny sok dramatis.
"Yaa elah Ben,makin miring saja tuh otak..." Ucap Ansel sambil geleng-geleng tidak habis pikir dengan tingkah Beny.
"Iyaa,ini karena kakak Aby...." Ucap Beny sok manja.
"Sumpah,Ben..tanganku gatal sekali melihat tingkahmu." Ucap Ansel sambil mengusap-usap kepalan tangannya.
"Hahaha..." Tawaku dan Yudi pecah melihat ekspresi Beny yang benar-benar ketakutan melihat Ansel.
"Sudah,Sel.. nanti Beny kencing celana karena melihat tampang garangmu..." Ucap Yudi pula.
"Iih,pada rese nii gangguin Beny..." Kembali Beny bertingkah sok gemulai.
"Berhenti tidak,Ben....sumpah geli lihat tingkahmu seperti itu." Sentak Ansel melotot.
"Peace...." Ucap Beny sambil memamerkan deretan giginya.
"Ooh iya,, Dion dan Riyan kerumah Roy yah?" Ucapku menyadari tidak ada mereka.
__ADS_1
"Iyaa,mereka yang membantu memapah Roy..parah kamu,By...Rumuk tuch badan Roy pastinya."Ucap Yudi geleng-geleng.
"Iya,jalan saja susah itu anak.." Kata Beny pula membenarkan.
Aku jadi merasa bersalah, separah itu kah, padahal niatku tadi hanya menghindari setiap serangannya.
"Tidak usah merasa bersalah begitu,By.... sedikit banyak juga ada salah Roy sampai dia mengalami seperti itu." Kata Yudi menyadari perubahan di wajahku.
"Iya,kak... sepertinya memang sebaik kita ke rumah Roy memperjelas semuanya. Tidak enak juga kalau seperti ini, ada yang mengganjal padahal kita semua berteman baik." Pungkas Ansel pula.
"Aku coba telpon Ainun dulu." Putusku setelah terdiam.
Beberapa kali aku menghubungi ponselnya, ternyata tidak bisa tersambung. Apa mungkin Ainun sengaja menonaktifkan hpnya. Nantilah qperjelas di rumahnya.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu,By... nanti sore kita kumpul di rumah Roy. Sebaiknya kami pulang dulu...." Ucap Yudi sambil memberi isyarat pada Beny agar mengikutinya.
"Iya,By..kami pulang dulu. Selamat istirahat......" Ucap Beny sok centil sambil berlalu.
Ansel hanya mengikuti mereka keluar, entah benar mereka pulang atau nongkrong di teras rumah. Aku malas memikirkannya dan memilih untuk tidur, setelah makan dan minum obat tentunya. Kepalaku benar-benar terasa berat entah efek obat atau karena perkelahian tadi yang baru terasa.
*****
Setelah tertidur cukup lama,aku merasa cukup enakan. Aku meregangkan tubuhku sambil keluar kamar, aku melihat Ansel sudah rapi dan asyik menonton TV, rumah kelihatan sunyi. Sore-sore begini biasa nenek dan tante Mirna sibuk di belakang rumah mengurus kebun sayurnya bersama kurcaci - kurcacinya, pastinya cucu-cucu nenek.
Aku menghempaskan tubuhku di samping Ansel, dia tampak terkejut dengan keberadaanku.
"Sudah enakkan ,kak?" Tanyanya sambil memperhatikan pergerakanku.
"Lumayan....lumayan pegal......" Ucapku sambil terus meregangkan tubuh.
"Encok kali kak....." Kata Ansel Asal sambil tersenyum mengejek.
Aku hanya melirik sinis, dan beranjak berlalu menuju dapur. Tidur cukup lama membuat aku merasa lapar lagi. Setelah menyendok nasi dan lauk di meja aku kembali ke samping Ansel dan makan dengan lahap.
"Wiihh,,,tidak takut tembem kak?" Katanya lagi melihat porsi makanku.
"Bod*h amat lah.... Ternyata butuh energi banyak kalau lagi main hati begini. Makanya harus makan banyak biar energinya full." Ucapku sambil mengunyah.
"Main hati atau patah hati kak?" Ucapnya lagi masih dengan senyum mengejek.
"Teserah kamu lah,Sel.. yang jelas aku lapar." Jawabku kesal tapi sambil terus mengunyah.
Akhirnya aku lebih memilih pindah makan di dapur daripada di sindir terus oleh Ansel, puas sekali sepertinya dia meledekku.
Setelah makan, aku kemudian bersih-bersih diri dan bersiap-siap menuju rumah Roy. Aku memperhatikan lengan dan wajahku di cermin. llLumayan juga luka yang kudapat dari perkelahian tadi pagi. Syukurnya tak ada luka yang harus di jahit seperti pada Roy. Yaa,kening Roy harus dijahit. Aku tidak perna membayangkan pukulanku sekeras itu, kasian juga Roy.
Tidak begitu lama aku sudah siap, dan menghampiri Ansel yang sejak tadi sudah menunggu.
"Ayoo......" Ajakku padanya.
__ADS_1
...***please dukung aku yach,aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.. terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...
...###jangan lupa tinggalkan jejak yach,koment,like, dan jangan lupa vote nya juga terimakasih. ###...