
"Sepertinya urusanku sudah selesai Roy, Ainun sudah ketemu. Aku pulang yah?" Kataku pada Roy saat semuanya sudah masuk ke dalam rumah om Rahman.
"Masuklah dulu,By... tidak enak sama om dan tante." Bujuk Roy.
"Tidak usaha, salam saja sama om dan tante. Ayo sel.. masih mau disini atau pulang?" Tanyaku pada Ansel.
" Ayo,kak.. aku juga ingin ganti baju...aku sudah tidaknya nyaman..." Ucap Ansel sambil mengibaskan bajunya.
"Ya sudah aku pamit dulu.Aku juga sekalian pulang." Kata Roy akhirnya dan berlalu masuk ke dalam rumah.
Kami berempat akhirnya pulang kerumah masing-masing dan berjanji akan berkumpul sebentar malam di rumah Riyan.
*****
Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur kala tiba di rumah. Sungguh lelah...lelah hati dan lelah pikiran,.kupikir urusanku dengan Ainun selesai kala acara pernikahannya berakhir, ternyata berlanjut dengan aksi kabur-kaburannya yang menyeret namaku.
"Yan,.sudah pulang? Bagaimana Ainun,mama dengar dia hilang? sudah gempar ini." Ucap mama berdiri di depan pintu kamar.
"Iya,ma... tadi ketemu di rumah pak Rahman." Kataku sambil terduduk di pinggir rosban.
"Yan, jangan kesana dulu yah..takutnya kalau ada apa - apa kamu lagi yang disalahkan." Kata mama khawatir. Aku hanya memperhatikan wajah mama dan mengangguk, sepertinya Ansel cerita sama mama kalau aku lihat dari ekspresinya.
"Ansel cerita yah,ma..?" Tanyaku memperjelas.
Mama mengangguk." Bukan cuma cerita Ansel,yan... tapi kan mama lihat waktu di rumah nenek kondisimu setelah berkelahi dengan Roy." Kata mama pula.
"Iya,mama.. Aku sama Roy sudah baik kok, Ainun juga sudah ketemu tadi. Sudah tidak ada masalah ma..." Kataku menenangkan mama.
" Syukurlah kalau begitu yan. Yah, sudah ayo..makan dulu...." Ajak mama lalu berlalu keluar kamar. Aku bangkit dan mengekor dibelakangnya menuju meja makan.
Pukul 7.30 malam aku dan Ansel menuju rumah Riyan,kami berjalan seperti biasa.
"Bagaimana kak, Ainun tadi bilang apa?" Tanya Ansel memecahkan kesunyian dalam perjalanan kami.
"Dia bersikeras tidak ingin melanjutkan pernikahannya." Ucapku sambil menarik nafas panjang. "Sudah,sel.. tidak usah di bahas, biar diurus sama keluarganya. Aku tidak ingin punya masalah dengan Roy lagi hanya karena Ainun." Jelasku seraya terus melangkah.
Ansel tidak menggubris, pasti dia tahu kalau aku masih luka hingga tak ingin membahasnya lagi. Tidak begitu lama kamu tiba di rumah Riyan, ternyata sudah ada Yudi dan sahid.
" Tadi bagaimana,By.. ketemu Ainun nya?" Tanya Sahid setelah aku duduk di dekatnya.
" Bagaimana Yan, ketemu tidak tadi..." Kataku malah bertanya pada Riyan.
Sahid hanya mengerutkan alis mendengarku bertanya pada Riyan bukan menjawab pertanyaannya.
" Memang Riyan tidak cerita,hid?" Tanya Ansel pula, memperjelas.
"Cerita apa, kami ini baru tiba saat kalian juga datang. Belum sempat bicara apa-apa sama Riyan."Jelas Yudi pula.
"Ooh..kirain cuma mau memancing macan ngamuk, malah bertanya pada kak byan...."Ejek Ansel tertawa. Sahid hanya mencibir mendengar Ansel.
" Hai..Hai.. semua kawan-kawanku sekalian.. Cowok imut sudah datang......" Teriak Beny setelah memarkir motornya dan berjalan ke arah kami.
" Bisa tidak usah berisik tidak,Ben..." Tegur Ansel kesal, yang di tegur hanya cengengesan.
__ADS_1
" Roy dan Roni mana nih? Sepertinya sudah lama Roni tidak perna gabung.ada yang tahu kabarnya tidak?" Kata Beny mengalihkan sambil meletakkan gitar yang di selempang di bahu tadi.
"Iya,ya... Roni kemana lama juga itu anak tidak perna muncul?" Tanyaku pula dan menatap mereka satu persatu, baru menyadari tidak perna bertemu Roni.
"Iya, terakhir dia bilang ada kerjaan ikut kakaknya ke kota Mx mengantarkan pesanan orang." Ucap Yudi pula. Kami semua hanya manggut-manggut mendengarnya.
" Serius amat nih... Bahas apa....?" Ucap Roy yang baru tiba sambil menghempaskan bok*ngnya disamping Riyan.
" Roni,ada kerjaan tidak ngajak-ngajak." Jelas Beni sok kesal.
" Memang kamu bisa kerja, Ben?" Tanya sahid meledek.
" Bisalah,kerja apa dulu?" Kata Beny menantang tak terima diremehkan. Kami semua hanya tertawa mendengar percakapan Beny dan sahid.
Diantara kami Beny memang anak mami,dia tidak bisa seperti kami yang biasa kerja serabutan. Mungkin karena kehidupan orangtuanya yang cukup berada, apalagi Beny anak bungsu dari dua bersodara. Kakaknya juga sudah menikah dan hidup kecukupan di kota Mx.
" Sudahlah,Hid... Kamu suka iseng sama Beny..." Kata Yudi menengahi, Beny sudah cemberut menatap kami.
" Maaf,Ben...jangan diambil hati yah.." Ucap sahid senyam senyum.
"Eh,By pertanyaan Sahid belum kamu jawab..." Kata Yudi pula, masih penasaran juga rupanya.
" Huuphh,, Ainun sudah ketemu.. Lebih jelasnya tuh,tanya adiknya....." Kata Ansel mewakiliku sambil menunjuk Roy untuk menjelaskan lebih rinci, Aku hanya diam tidak ingin berkomentar.
"Kak Ainun sudah di rumah untuk sementara. Masih di interogasi sama Om Hasan dan tidak boleh keluar rumah sementara waktu." Jelas Roy terlihat sedih.
" Ketemu dimana,Roy?" Tanya Sahid masih penasaran.
" Rumah om Rahman.... sembunyi dibantu sama Jihan." Jelas Roy kembali.
" Iyaa,Aku salah...tanpa bertanya langsung menyerang Aby..." Kata Roy menyesal.
" Sudah, semuanya juga sudah baik-baik saja sekarang tidak usah di pikirkan." Kataku akhirnya.
Tidak nyaman melihat Roy selalu merasa bersalah. Padahal aku yang lebih merasa salah, kenapa harus menjalin hubungan dengan kakaknya hingga harus saling melukai seperti ini.
" Tidak ada makanan ini,yan?" Tanya Beny pada Riyan, sepertinya ini anak sudah kembali ke mode aslinya.
" Ada tunggu sebentar... " Kata Riyan dan berlalu masuk ke dalam rumah.
" Riyan lalod deh, harusnya sebelum kita-kita datang itu makanan sudah standby disini." Kata Beny protes.
" Banyak protes saja kamu itu,Ben...Ben...."kata Yudi geleng-geleng.
" Nyanyi dulu, Ben baru aku kasi makan." Teriak Riyan dari dalam rumah, ternyata dia mendengar ocehan Beny tadi.
" Aku tidak bisa nyanyi,Aby aja yang nyanyi..." Seru Beny mulai memainkan gitarnya.
" Berarti yang aku kasi makanan aby dong,kamu tidak usah.." Kata Riyan sambil meletakkan beberapa toples cemilan lalu berlalu ke dalam rumah kembali mengambil minuman.
Sahid sudah senyam senyum melihat ekspresi wajah Beny dengan hidung yang sudah kembang kempis kehabisan kata.
" Abang Sahid puas amat lihat aku tersalimi." Ucap Beny sok sedih.
__ADS_1
" Mulai deh,aktingnya,Ben..." Sindir Roy pula.
" Main Saja, Ben...Tuh kue habisin sekalian..." Kata Ansel menimpali, dia sudah mulai kesal melihat tingkah Beny yang sering berlebihan.
" Peace kakak Ansel, jangan marah-marah, adik takut..." Kata Beny sambil senyam-senyum pada ansel.
" Sini deh,Ben... Males aku dengar perdebatan kalian.." Kataku sambil meraih gitar Beny dan memainkannya, melangkah sedikit menjauh dari mereka.
๐ถJreng.....jreng....๐ถ
kukatakan dengan indah dengan terbuka
hatiku hampa.......
sepertinya luka.......
menghampirinya.......
kau beri rasa yg berbeda.......
mungkin ku salah.......
mengartikannya......
yang kurasa cinta.....
tetapi hatiku......
selalu meninggikanmu.....
terlalu meninggikanmu.....
selalu meninggikanmu......
kau hancurkan hatiku.....
hancurkan lagi.....
kau hancurkan hatiku tuk melihatmu....
๐ถ๐ถ๐ถ(Peterpan_ku Katakan Dengan Indah)
Aku tidak perduli apa permainanku benar atau tidak, menepi dari yang lain aku mencoba menghibur diriku dengan bermain gitar sambil bernyanyi kecil. Mengenang semua yang terjadi hingga yang terakhir terjadi tadi pagi.
Ainun sudah tidak menghubungiku, entah dia marah atau barang-barangnya disita pak Rahmat, aku sudah tidak ingin tahu. Biar waktu yang akan memperbaiki semuanya kelak.
" Hai,Aby... ngapain disitu? Nanti kesambet loh.." Teriak Riyan memanggilku bergabung dengan mereka. Aku hanya melangkah dengan malas mendekati mereka kembali.
...***please dukung aku yach,aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.... terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...
...###...
Please........ Please.........Please........... Please........
__ADS_1
...Mohon tinggalkan jejak Komen dan Like, sebagai masukan untuk penulis yach..?!!...
...serta jangan lupa vote nya juga terimakasih............๐...