True Love Bad Boy

True Love Bad Boy
Curhatan Beny


__ADS_3

🎶Menanti kejujuran, harapkan kepastian


Hanya itu yang sanggup aku lakukan


Menanti kejujuran, harapkan kepastian


S'moga damai jadi kenyataan🎶


Sepenggal lagu terdengar merdu dari arah dalam bangunan yang ada di sampingku. Aku berusaha mempertajam pendengaran, menghentikan sebentar aktivitasku. Penasaran siapa gerangan pemilik suara merdu itu, hingga fokusku pecah saat Roy melemparku dengan batu kerikil.


"By, jangan melamun dulu.. matahari sangat terik, Ayoo cepat selesaikan." Omel Roy padaku.


Aku hanya menghela nafas panjang tanpa mempedulikannya ucapannya. Masih berusaha mencuri dengar kembali suara yang tadi, namun hasilnya nihil. Mungkin yang punya suara sudah menyadari keberadaan kami hingga menghentikan aktivitas bernyanyinya.


Haaahh... Aku membuang nafas kasar kembali melakukan pekerjaanku. Ini semua gara-gara Roy,harusnya dia tidak usah cerewet.Omelku dalam hati.


Aku terus menggerutu dan masih mempertajam pendengaran sempat masih bisa mendengarkan suara merdu itu kembali, namun hasilnya nihil.


"Hai, kalian.. ayoo kembali.. nanti dilanjutkan." Teriak Yudi pada kami.


"Ayo,By.. matahari sungguh tak bersahabat hari ini, panasnya.... " Keluh Roy sambil beranjak mendahuluiku.


Kami berjalan menuju mes untuk melepas penat dan makan siang sebelum melanjutkan kembali pekerjaan kami kembali setelahnya.


Sudah ada semingguan kami memulai pekerjaan ini, aku, Roy dan Sahid menggali lahan bagian Barat dan utara. Ansel, Yudi dan Riyan menggali lahan bagian timur dan selatan. Proses awal sebelum memulai proses pembangunan pondasi dasar bangun. Tidak main-main pak Agus mempercayakan kami bangunan inti dari pembangunan perumahan ini, Kantor yang menyatu dengan dapur dan mes pegawai.


Sebenarnya aku sedikit heran dengan perumahan yang di bangun, kenapa harus ada mes untuk pegawai kantor perusahaan kalau juga membangun perumahan dengan memasang harga promo yang terjangkau? Dan dari awal aku memang mengira akan mengerjakan bangunan perumahan seperti pada umumnya yang terkadang bersubsidi pemerintah, tapi setelah melihat situasi dan kondisinya sungguh di luar dari perkiraanku. Tapi sudahlah terserah pemilik dan investornya sajalah.. Selama gaji kami selalu lancar, lebih baik mengabaikan semua pertanyaan-pertanyaan yang selalu melintas di benakku.


" Hai.. kalian tahu tidak tadi aku bertemu dengan wanita yang kalian bilang kunti.." Seru Beny kegirangan saat melihat kami beriringan memasuki rumah sementara kami.


" Kamu kali ini masak apa, Ben..?" Tanyaku tanpa mempedulikan ucapannya.


"Aby, tidak seru.. bukannya merespon ucapanku malah membahas makanan. Tadi aku cuma masak nasi dengan telur dadar." Jawabnya dengan muka cemberut.


" Makasih,Ben.. Ayo makan." Ucap Riyan sambil berlalu menuju dapur dengan menyentak Beny untuk mengikutinya. Beny hanya menurut meski tetap saja dengan wajah di tekuk.


Setelah menyendok nasi dan lauk, kami semua duduk lesehan di lantai dekat dapur. Mencari posisi ternyaman masing-masing. Beny benaran menjadi chef handal selama kami disini, mencuci piring saat kami selesai makan dan beres-beres rumah saat kami berangkat kerja. Benar-benar seperti istri yang baik mengerjakan semua urusan rumah dengan rapi dan tanpa mengeluh. Hanya minus nyuci dan urusan ranjang.Hehehe....


" Ben, kamu masih betah disini?" Tanya Yudi setelah beberapa menit tidak ada suara saat kami semua mulai makan.

__ADS_1


" Kenapa,Yud? Kamu mau mengusirku?" Tanya Beny sinis dan tidak suka.


" Astaga....Ben,baru seminggu kamu mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga.. Sudah sangat menjiwai menjadi seorang istri." Ujar Roy dengan wajah kaget dibuat-buat.


" Iya,Ben.. sensi amet... " Sambung Sahid pula sambil tetap mengunyah.


" Habisnya pertanyaan Yudi seperti itu?" Balas Beny masih dengan wajah cemberutnya.


" Bukan begitu,Ben... justru karena aku kasian melihatmu. Segala urusan di rumah,kamu semua yang mengerjakan. Aku hanya berpikir sempat kamu ingin pulang tapi tidak enak mengutarakan pada kami." Jelas Yudi panjang lebar.


"Haaahhhh....." Beny hanya menarik nafas panjang dan terdiam cukup lama.


" Kenapa,Ben?" Tanyaku akhirnya.


" Aku hanya kesepian saat kalian pergi bekerja dan saat pekerjaanku di rumah sudah selesai." Keluhnya sambil mengaduk-aduk makanannya dengan tangan.


" Hahahhaha.... Benar-benar seperti seorang istri yang kesepian kamu,Ben... Kamu sangat menjiwai.. Pas... Pas... Hahhaaha..." Ucap Riyan sambil tertawa tiada henti.


" Puas sekali kamu,Yan.. " Wajah Beny makin memelas dengan mata berkaca-kaca.


" Nah loh,Yan.. tanggungjawab..." Ucap Roy saat melihat Beny pergi memisahkan diri dari kami mebawa piring makannya ke dapur.


" Biarkan saja dulu, nanti juga cerita." Ucap Ansel acuh,masih fokus dengan makanan di piringnya.


" Haaahhh....." Helaian nafas kasar Yudi dan Sahid terdengar bersamaan.


Akhirnya kami menghabiskan makanan siang kami dalam diam dan tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Setelah meletakkan piring kotor di tempat cuci piring yang pastinya akan di cuci Beny nantinya. Sebenarnya kami ingin membagi tugas piket setiap harinya agar adil,tapi karena keberadaan Beny rencana pembagian tugas itu tinggal rencana. Lagi pula Beny tidak pernah memgeluh, malah dia sendiri yang menawarkan diri. Kamipun setuju, hitung-hitung untuk memperlancar dan mempercepat pekerjaan kami.


"Ben... " Sapaku saat mendekati Beny yang sedang duduk sendiri di bawah salah satu pohon Pinus di samping rumah. Beny hanya menoleh sebentar dan kembali melamun.


" Mau cerita?" Tanyaku lagi.


" Haaahhh.... Sebenarnya aku malu sama kalian." Ucapnya sambil tertunduk.


" Malu kenapa?" Balasku lagi.


" Aku tidak sekuat kalian.. Aku seperti bukan laki-laki." Katanya senduh.


" Kenapa bicara seperti itu? Tidak semua laki-laki harus bisa mengerjakan pekerjaan berat." Ucapku Berusaha menyemangatinya. Aku mengerti mungkin dia tersinggung dengan candaan Roy dan Riyan tadi.

__ADS_1


" Laki-laki sejati itu...... " Aku terdiam sebentar mencari kata-kata yang tepat agar Beny bisa menerima apa yang aku sampaikan dan bisa membuatnya kembali semangat.


"Apa?" Tanyanya tidak sabar. Aku tersenyum menatapnya.


" Menjadi seorang Laki-laki sejati itu.....tentang bagaimana kamu menjalankan tanggung jawab, memberikan dampak positif pada orang-orang di sekitarmu, dan teguh dalam pendirian. Seorang laki-laki sejati itu...... Juga akan selalu menepati janjinya kepada siapa saja dan memperlakukan wanita dengan baik, bukannya menyakiti dan merendahkan mereka." Ucapku dengan pasti menatap lurus ke depan lalu menoleh tersenyum pada Beny.


Astaga,apa benar itu keluar dari mulutku, apa benar itu hasil pemikiranku. Kau sungguh bijak Abyan Abraham gumamku penuh senyum dalam hati.


Beny memandangku dengan mimik heran dan meletakkan punggung tangannya di keningku " Kamu tidak demam,By..?"


Aku hanya memasang wajah pasrah diperlakukan seperti itu.


"Kenapa? Aku memang tidak sedang demam." Ucapku sedikit kesal, aku tahu Beny sedang meledekku.


" Tapi kenapa bahasamu sangat tinggi?" Katanya dengan mimik menahan senyum.


" Baiklah,Ben.. seperti kamu sudah dalam keadaan baik-baik saja." Kataku hendak berlalu, dengan wajah kesal.


" Hai, By... jangan merajuk dulu. Aku belum merasa tenang." Kata Beny kembali dengan wajah serius.


" Haaahh... jadi?" Tanyaku dengan membuang nafas kasar dan urung meninggalkannya, duduk kembali di tempatku semula.


Beny hanya terdiam tenggelam dalam pikirannya sendiri dalam beberapa waktu.


" By, Aku... ingin seperti dirimu dan yang lain.. Aku ingin disukai, dicintai dan terlihat menarik di depan wanita." Katanya sambil tertunduk.


" Hanya itu?" Tanyaku santai. Beny hanya menangguk mengiyakan.


" Kalau itu mudah saja Beny.." Balasku tersenyum tulus padanya.


" Bagaimana?"


"Percaya diri..." Jawabku dan menepuk-nepuk bahunya masih dengan senyum tulus.


(Bersambung)


***Happy Reading***


...maaf Slow Up reader cantik N ganteng.....akibat kesibukan di dunia nyata yang tidak bisa dihindari,maaf yaahh.....***...

__ADS_1


...***Aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.. terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...


__ADS_2