
Malam Harinya kami sudah kumpul dirumah Riyan untuk menbahas apa yang di katakan Riyan padaku dan Ansel tadi pagi.
"Jadi bagaimana maksudnya ini,Yan.. Ceritamu tadi pagi." Kata Ansel saat kami sudah duduk berhadapan di teras rumah Riyan.
"Beli minuman dulu deh,Ben.. Supaya tidak kering ini tenggorokan." Kata Roy pula.
"Ah,kamu Roy.. Itu saja dipikiranmu..." Kata Beny jengkel.
"Itu si Wanto katanya yang menuduh kita. katanya dia lihat salah satu dari kita lagi di depan toko pak Rizal sebelum terjadi penyerangan itu." Sahut sahid pula mengalihkan perhatian Roy.
" Memangnya siapa yang sempat ada di depan tokonya pak rizal? Aku sudah lama tidak kesana, malas saja melihat tingkah anaknya yang terlalu sombong." Kataku pula penasaran.
" Aku,By..tapi waktu itu motorku hanya mogok kehabisan bensin memang pas depan toko pak Rizal. Hingga akhirnya aku mendorongnya sampai rumah. Aku memang sempat duduk sebentar disana sambil menelpon Riyan tapi tidak diangkat. Sudah apes motor mogok malah di tuduh jadi pelaku penyerangan gara-gara mogoknya pas depan toko pak Rizal." Sungut Yudi kesal.
"Betul-betul itu si Wanto belum pernah dapat bogem mentah tuh sampai berani-berani mengusik kita." Kata Ansel sambil memperbaiki posisi duduknya, mulai tersulut emosi.
"Iya maunya apa coba langsung memfitnah seperti itu." Kataku pula mulai emosi.
"Ben,buruan beli minuman dulu. Seru nih mulai panas.." Kata Roy pula senyum-senyum, daritadi minuman saja yang dia pikir.
"Biar seger bro...." Ucapnya lagi seakan mengerti dengan tatapan tajam kami.
" Yang sponsori siapa nih? Aku sih siap-siap saja di suruh untuk pergi membeli." Kata Beny pula cengengesan.
"Ah Ben,,,,tahumu memang hanya menikmati saja." Kata Sahid pula mencibir.
"Setidaknya patunganlah, masa aku lagi.. Aku lagi.. Sudah menawarkan diri untuk pergi membeli..." Kata Beny panjang lebar dengan wajah memelas.
"Ya udah nih kumpulkan berapa....." Kataku menyodorkan selembar uang padanya.
"Cuma Aby nih....?" Tanya Beni lagi dan meminta pada yang lain masih dengan wajah cemberut.
"Kalau cuma Aby yang ngasih berarti yang aku belikan minuman cuma aku dan Aby yah...." Katanya sambil tertawa senang hendak berlalu.
" Tunggu Ben,nih... pelit..." Kata Roy sambil menyodorkan uangnya di ikuti yang lain. Beny cuma senyam-senyum menerima pemberian yang lain kemudian benar-benar berlalu.
" Bukan pelit,Ro.. tapi ngirit..." Ucap Beni seraya tertawa dan belari takut di kejar oleh Roy.
"Jadi bagaimana?" Tanya Riyan kembali, paling semangat karena masih kesal sudah dimarahi habis-habisan sama tante Senab, tantenya.
"Tanya Wanto baik-baik dulu deh maksudnya apa menuduh kita seperti itu." Kata Yudi bijak.
"Iya,aku setuju..Sebaiknya seperti itu." Kataku pula membenarkan.
Akhirny Beny muncul, sambil meletakkan bawaannya dia bilang bertemu Wanto tadi dijalan." Aku ketemu Wanto, seperti sinis begitu lihat aku."
__ADS_1
"Pasti lihat belanjaan kamu Ben,pengen juga tuh dia..." Kata Roy tertawa kecil.
"Pengen gabung gitu...." Tanyanya sinis.
"Eh,bentar deh Dion kemana...lama juga tuh bocah menghilang." Kata Ansel menyadari beberapa kali pertemuan kami tanpa kehadiran Dion.
"Iya,sibuk tuh anak jagain bapaknya yang lagi sakit. Katanya dirujuk ke kota MR,tapi kondisinya sudah mulai membaik."kata Yudi menimpali.
"Dion nelpon kamu,Yud? Kenapa kita tidak dikasi kabar sih,parah tuh anak. Kan sempat kita bisa bantu-bantu apa gitu?" Kataku pula.
"Iya,waktu acaranya sih Suryo kan aku mau ajak tuh tapi dia bilang lagi di kota MR..."Jelas Yudi kembali.
"Oooo...." Serentak kami ber O ria.
"Jadi gimana nih,kita datangi saja tuh si Wanto. Mumpung tadi lagi nongking sama Rehan, Dandy dan Kifly di pinggir jalan." Kata Beny pula.
"Besok aja..." Kata Yudi.
"Sekarang saja mumpung tahu orangnya dimana. Daripada besok dicari belum tentu ketemu." Jelas Riyan yang memang sejak tadi sudah semangat sekali.
" Yaa,sudah ayo sajalah kalau sy..." Ucap Sahid pula.
" Ayoo klo begitu... Kalau aku besok bisa sekarang juga bisa." Kataku pula. Ansel dan Roy hanya ikut mengangguk mengiyakan yang aku katakan.
Setelah berdiskusi cukup alot dan menghabiskan minuman yang di beli Beni akhirnya kami sepakat mendatangi Wanto. Kami pun menuju ke tempat yang di sebutkan Beny.
" Memang kalian kan..?" Kata Wanto santai.
" Buktinya apa? Kamu itu cuma merusak nama kami, iya memang benar kami memiliki kebiasaan buruk suka mabuk mabukan buka berarti setiap ada kejahatan kami pelakunya." Kata Sahid pula turut mengeluarkan unek-uneknya.
"Kelakuan kalian tuh memang pas jadi pelaku.Tuh mulut kalian saja sudah bau minuman sekarang. Habis mabuk mabukan kan lalu kesini?" Kata Wanto makin menghakimi kami. Aku masih diam mendengarkan mereka bertengkar mulut. Ansel sudah mulai melangkah maju, aku tahu dia ingin apa.
"Sudah...jangan bertengkar. Tidak enak mengganggu jam istirahat orang-orang ini sudah malam." Kata Dandy menengahi memisahkan Wanto dan Riyan yang sudah berhadapan dan adu tatap.
Aku kembali mundur dan menarik Ansel agar menjaga jarak. Aku masih waras tidak begitu terpengaruh dengan minuman yang sempat kami minum tadi. Hanya Ansel memang sudah sedikit mabuk, dan mulai selalu ingin maju hendak menyerang Wanto.
" Tidak bisa Wanto harus minta maaf dan membersihkan nama kami.." Kata Riyan masih emosi dan memang sudah terpengaruh dengan minuman yang kami minum tadi.
" Nama apa yang mau dibersihkan sudah sana.. Kelakuan seperti ini saja. Sudah mau sok suci." Kata Kifli pula yang berdiri di samping Wanto sambil medorong bahu Riyan.
Ternyata perbuatan Kifli malah menyulut emosi semua. Aku dan Ansel yang pertama memukuli Kifli, hingga Rendy dan Dandi tidak bisa memisahkan kami. Tak terkecuali Riyan dan Sahid dia juga memukul kifli beberapa kali membuat Beny ,Roy dan Yudi kewalahan memisahkan kami. Hingga tanpa aku sadari Rendy sudah berhasil memanggil beberapa bantuan dari warga yang sedang ronda untuk memisahkan kami.
"POLISI.....!!!!" Teriak Rendy saat tiba kembali dengan beberapa orang yang ikut serta, hingga langsung membuat kami kambur tunggal landak.
Yang tadinya aku berboncengan dengan Roy. Malah tanpa kami sadari berlari tanpa tentu arah. Entah bagaimana dengan nasib Roy,Beny dan Yudi...kami meninggalkan mereka yang awalnya sibuk memisahkan kami.
__ADS_1
"STOP,By...cape ini..." Kata Sahid sambil terengah-engah.
"Aduh,kita sudah tidak dikejar kan?" Kata Riyan sambil duduk di tanah.
"Ngapain pada lari sih?" Tanya Ansel pula bersungut-sungut.
"Memangnya kamu tidak dengar tadi Rendy bilang apa,sel...?" Tanya Riyan yng masih ngos-ngosan. Ansel hanya mengeleng sambil berjongkok di dekat Riyan.
"Ngapain pada duduk sih. Ayoo,pulang.. mau tidur di kebun apa. Mana gelap banyak nyamuk..Ayo..." Kataku mengeluh tidak merespon ucapan mereka.
"Kak Aby.. Memangnya tadi kenapa lari?" Kata Ansel mendekatiku yang mulai berjalan kembali. Kami hanya mengunakan senter pada Hp sebagai penerangan.
"Kamu kenapa lari?" Tanyaku balik padanya.
"Karena kalian lari..jadi aku ikut lari." Kata Ansel santai tanpa dosa.
Aku Riyan dan Sahid sempai berhenti dan menoleh pada Ansel.
"Mabuk ini anak...." Kata Sahid pula.
"Sama saja kali kalian juga lagi mabuk kan.." Kata Ansel tidak mau kalah.
"Sudah deh Hid,tidak usah di komentari..jalan saja terus." Kataku pula.
"Kita kemana ini?" Tanya Riyan kembali.
"Pulang..." Kataku singkat.
"Yakin mau pulang? Kita belum tahu kondisi Kifli loh,masih bernyawa atau tidak." Ucap Riyan lagi. Membuat langkah kami serentak terhenti dan menoleh padanya.
Deg.
Deg.
Deg.
(Bersambung)
...**please dukung aku yach,aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.... terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...
...###...
Please........ Please.........Please........... Please........
...Mohon tinggalkan jejak Komen dan Like, sebagai masukan untuk penulis yach..?!!...
__ADS_1
...serta jangan lupa vote nya juga terimakasih............💕...