
🎶🎶🎶🎶
Sahabat sejatiku
Hilangkah dari ingatanmu
Di hari kita saling berbagi
Dengan kotak sejuta mimpi
Aku datang menghampirimu
Kuperlihat semua hartaku
Kita slalu berpendapat
Kita ini yang terhebat
Kesombongan di masa muda yang Indah
Aku raja kaupun raja
Aku hitam kaupun hitam
Arti teman lebih dari sekedar materi
" STOP... !!! Tidak ada yang mendengar tepuk tangan Danti yah?" Seru Nuri mengagetkan kami semua.
Kami baru sadar kalau sedang dalam permainan dan botol berhenti tepat pada Riyan, aku dan yang lain bernafas lega.
" Siapa nih yang mau bertanya sama kak Riyan?" Kata Nuri lagi sambil memandang kami satu persatu.
Kami serentak mengacukan tangan tentu saja berbagai keisengan bermunculan di pikiran kami masing - masing yang memang ingin mengerjai Riyan.
" Sepertinya kak Yudi deh yang pertama kali mengangkat tangan." Ucap Winda pula menimpali.
" Kalau Yudi yang memberi tantangan pasti mudah." Kata Riyan tersenyum meremehkan Yudi.
" eehhm..ehhm.., silahkan kak Yudi." Ucap Danti pula menengahi.
" Hhm, Riyan...pilih tantangan atau pertanyaan?" Kata Yudi dengan senyum jahil.
Terlihat Riyan berpikir untuk memilih, apalagi dia belum tahu tantangan dan pertanyaan apa yang akan diberikan padanya.
" Lama benar mikirnya.. Cepatan,Yan..." Ucap Beny tidak sabar melihat ekspresi Riyan yang masih menimbang - nimbang pilihannya.
" Tantangan saja deh." Sahut Riyan pasrah.
" Baik.. berenang sambil cari kerang." Kata Yudi senyum - senyum.
" Mudah banget, Yud.." Protes Ansel.
" Menyelam dong?" Tanya Riyan putus asa.
" Itu saja sudah membuat muka Riyan seperti itu." Kata Yudi tersenyum senang sambil menunjuk ke arah Riyan.
"Tidak juga kak.. Sepertinya air masih surut. Hanya satu kerang saja kak.." Kata Danti pula senyum-senyum menyemangati.
__ADS_1
"Baiklah... Awas yah,jangan ada yang iseng. " Kata Riyan pasrah, namun tetap mengancam sambil berjalan ke arah pinggir pantai. Kami mengikuti tentu dengan niat masing - masing.
Aku dan Ansel sudah bersiap hendak mendorongnya saat sudah berada di pinggir pantai, tapi Sahid memberikan isyarat untuk menunggu sebentar lagi. Dan saat air sudah sampai mata kaki Riyan kami bergegas mennariknya hingga ke tengah air sampai pinggang kami.
Riyan hanya berteriak tidak jelas di iringi tawa para gadis yang merasa puas.
" Bagaimana kak, dapat kerangnya?" Tanya Nuri saat Riyan berjalan dengan susah payah menuju tepi pantai.
" Dapat,tapi sudah mati." Ucap Riyan sambil mengacukan tangannya yang menggenggam cangkang kerang kecil.
" Lanjut yah?" Kata Tania lagi penuh semangat.
" Aku sudah yah, dingin sekali rasanya." Keluh Riyan memeluk tubuhnya kedinginan.
" Jangan dong kak.. Lanjut saja, itu ada selimut. Pakai itu dulu." Kata Ranti pula.
" Ayoo lanjut lagi.." Kata Beny pula sambil memperbaiki duduknya di samping Sahid.
" Ok.."
🎶🎶🎶
Pegang pundakku jangan pernah lepaskan
Bila ku mulai lelah
Lelah dan tak bersinar
Remas sayapku jangan pernah Lepaskan
Bila ku ingin terbang
Ku slalu membanggakanmu
Kaupun slalu menyanjungku
Aku dan kamu darah abadi
Demi bermain bersama
Kita duakan segalanya
Merdeka kita kita merdeka
🎶🎶🎶🎶
Kami terus bernyanyi sambil memindah tangankan botol yang kami pegang dengan cepat, takut botolnya berhenti tepat pada genggaman kami.
Karena keasyikan dengan permainan yang kami lakukan sampai melupakan apa niat awalku bersama Ansel dan yang lain untuk menceburkan Yudi, Riyan dan Roy.
Waktupun berjalan terus, hingga tak terasa senja sudah hampir menjemput. Teman - teman Danti sudah pamit terlebih dahulu sejak tadi. Kini tinggal kami yang masih membereskan barang - barang bawaan yang akan disusun rapi kembali di dalam mobil.
" Sudah semua,Yud?" Tanya om Riswan pada Yudi saat menghampiri kami yang duduk bersandar di samping mobil.
" Sudah om.... Tinggal menunggu Danti dan Winda yang sedang berganti pakaian." Sahut Yudi sambil menunjuk ke arah toilet umum yang tak jauh dari tempat parkiran mobil. Om Riswan hanya mengangguk dan berlalu memasuk mobil bergabung dengan tante Rasti yang sejak tadi sudah duduk manis di dalam mobil.
Setelah semuanya selesai kami pun bergegas meninggalkan area pantai menuju ke rumah om Riswan kembali.
__ADS_1
" Menurut kalian Ranti cantik tidak?" Ucap Beny memecahkan kebisuan kami di dalam mobil.
" Cantik kok...Erni cantik, Tania cantik, Nuri juga cantik, Cherly juga cantik." Ucapku beberapa menit kemudian karena tidak ada yang menanggapi pertanyaan Beny.
" Jawaban apa itu,Bhy.." Kata Beny kesal.
" Salahnya dimana coba, Ben?" Keluhku pula tidak mengerti.
" Sepertinya aku jatuh hati pada Tania deh." Gumam Sahid pula. Kami semua terdiam dan saling pandang.
" Sadar,Hid.. Ingat yang jauh." Kata Yudi pula.
" Sepertinya aku juga tertarik sama Erni atau Nuri yah.. Bingung Aku.." Sahut Riyan pula sambil menerawang.
" Masih ada pengakuan lagi kah?" Tanya Roy pula risih,padahal sebenarnya dia juga penasaran pada Erni.
" iyaa semuanya cantik - cantik yah..Cherly cukup menarik." Kata Ansel pula senyum-senyum.
" By, gimana?" Tanya Beny padaku sambil senyam-senyum penuh arti.
" Bagaimana apanya?" Tanyaku pura - pura tidak mengerti.
" Kalau Aby, tidak usah ditanya.. Diam - diam begitu,biasanya Aby punya pilihan sendiri deh. Mau memastikan dulu, ada yang berani mendekati incarannya tidak?" Ucap Yudi menaik - turunkan alisnya sambil senyam - senyum padaku.
" Apa sih,Yud.." Ucapku sok kesal.
" Tepat sasaran sekali bapak Yudi ini." Seru Roy sambil tepuk tangan ikut meledekku.
"Jadi penasaran di antara cewek - cewek itu yang di lirik Aby siapa yah?" Kata Riyan pula melihat ke arahku seraya senyum-senyum pula.
" Pembahasan kalian tidak jelas." Kataku ketus.
" Sepertinya aku bisa menebak.." Kata Ansel pula ikut-ikutan meledekku.
" Siapa,Sel..? Semoga bukan incaranku. Berat ini saingan sama Abyan.." Kata Beny memasang wajah sok khawatir.
" Astaga, kalian ini.. Sepertinya Beny sudah tidak menarik, sampai - sampai aku yang di goda terus." Ucapku benar mulai benaran kesal.
" Hahahahahaha... Slow,Bhy... Santai... seperti di pantai.. " Kata Yudi menenangkanku seraya tersenyum jahil.
Aku hanya melirik sinis padanya lalu memalingkan pandanganku keluar jendela mobil. Pemandangan yang kami lihat saat menuju ke pantai sudah tak terlihat.
Suasana di luar sudah mulai gelap, penerangan sepanjang jalan sudah mulai menyala. Lampu-lampu di setiap rumah dan toko yang kami lewati juga sudah terlihat terang.
Setelah pembahasan tadi, semuanya terdiam dan larut dalam pikiran masing - masing. Bahkan Beny dan Riyan sudah terlelap saja, sungguh hari yang melelahkan tapi menyenangkan.
Aku membenarkan posisiku dan mencoba memejamkan mata. Rumah om Riswan tidak begitu jauh, tapi tertidur sekitar sepuluh hingga lima belas menit sungguh sangat aku inginkan sebelum tiba di rumah. Karena pastinya setelah tiba, tidak akan bisa tidur sebelum larut malam. Banyak hal yang harus disiapkan sebelum memulai pekerjaan ke esokan harinya.
Apalagi kemungkinan besarnya kami akan pindah rumah lagi agar lebih mudah dalam bekerja. Efesien waktu dan tenaga tentunya bila tempat tinggal lebih dekat dari tempat kerja dan pastinya tidak akan terlalu capek.
...*maaf Slow Up reader cantik N ganteng.....akibat kesibukan di dunia nyata yang tidak bisa dihindari,maaf yaahh.....***...
Happy Reading......
...***please dukung aku yach,aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.. terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...
...###jangan lupa tinggalkan jejak yach,koment,like, dan jangan lupa vote nya juga terimakasih. ###...
__ADS_1
~Jangan lupa di jadikan favorit juga yah~