True Love Bad Boy

True Love Bad Boy
Pelarian 01


__ADS_3

Deg.


Deg.


Deg.


Iya,iya... perasaan tadi Kifli sudah tidak bergerak saat kami masih memukulinya.


"Coba telpon Yudi,Yan..." Kataku pada Riyan. Akhirnya kembali duduk di tengah kebun singkong beralaskan tanah.


Riyan mencoba menghubungi Yudi tapi tidak ada respon.


Membuat Sahid kembali panik "Apa mungkin mereka di bawa ke kentor polisi?"


Ansel masih sibuk dengan dirinya sendiri, menggaruk dan mengibas-ngibaskan tangannya dari serangan nyamuk.


Aku menghelah nafas panjang "Coba aku hubungi Beny." Ucapku lagi..


"Halo,Ben.. Kamu dimana?" Tanyaku saat Beny mengangkat telponku.


"Di rumah..Kenapa By?Kamu dimana?" Katanya seperti ketakutan.


"Di kebun... Bagaimana Kifli?" Tanyaku langsung pada tujuanku menelponnya.


"Aku..Aku....tidak tahu.. Waktu kalian lari,aku juga langsung tancap gas..." Ucapnya terbata bata.


"Mungkin, Roy dan Yudi tahu... Aku sempat melirik, mereka tidak sempat kabur karena langsung di kepung warga."Jelas Beny kembali masih terdengar gugup.


" Ada yang melihat mu pulang?" Tanyaku kembali.


"Aku tidak yakin...yang jelas aku melihat Kifli sudah tak bergerak sewaktu kalian lari." Katanya makin panik.


Aduh, bagaimana ini? tiba-tiba wajah bapak, mama, nenek dan adik-adikku terbayang di pelupuk mataku. Aku benar - benar khawatir bila terjadi yang tidak - tidak pada kifli, apa kami benar -benar telah membunuhnya. Oh,tidak!!! Semoga Kifli masih bisa tertolong.


Aku terdiam sampai akhirnya Beny kembali berbicara "Kalian dimana? Seperti kasus ini benar-benar akan ditangani polisi, By.... Motor Riyan sepertinya juga ditahan disana."


"Ya,sudah Ben.. Nanti aku telpon lagi."Ucapku dan memutuskan sambungan telpon. Aku sedikit lemah mendengar penjelasan Beny. Banyak kekhawatiran yang melintas dibenakku.


"Bagaimana Aby?"Tanya Sahid tidak sabar.


"Katanya motor Riyan ditahan.. Sepertinya akan ditangani polisi. Beny tidak tau kondisi Kifli."Jelasku pada mereka.


"Coba telpon Yudi lagi,Yan..." Kata sahid lagi.

__ADS_1


Riyan kembali menelpon Yudi dan..


"Halo,yan.. kalian dimana? Kifli keritis, langsung masuk ICU..."Jelas Yudi tanpa menunggu Riyan bertanya terlebih dulu.


Kulihat wajah Riyan memucat dan hampir menjatuhkan Hpnya. Aku langsung mengambil alih dan bertanya pada Yudi.


"Dimana,Yud? kamu tidak apa-apa kan?" Tanyaku khawatir.


"Tidak...Aku, Roy, dan Beny sudah dirumah. Polisi sudah menangani kasus ini, kalian dicari.. kami hanya disuruh bersaksi."Kata Yudi menjelaskan.


"Terus, apalagi?" Tanyaku.


"Sebaiknya kalian sembunyi dulu deh.takutnya keluarganya ngamuk." Ucap Yudi lagi.


"Baiklah, bisa jemput kami.. Antar kami ke kota X untuk sementara di tempat Yoga." Kataku akhirnya.


"Iya,nanti subuh aku jemput tunggu aku di belakang gudang kosong.. Aku tutup dulu." Kata Yudi kembali dan menutup panggilan.


"Ayoo...." Ajakku pada semuanya sambil berdiri ingin melanjutkan perjalanan.


"Kita mau kemana?" Tanya Ansel bingung.


"Ke gudang kosong di ujung kampung.. nanti Yudi menjemput kita.." Jelasku sambil melangkah.


"Polisi nyari kita....." Jawabku pelan.


"Kenapa kita di cari sama polisi kak?" Tanya Ansel namun rupanya ingatannya masih error.


Aku menarik nafas kasar dan menahan langkahku, ku genggam kedua bahu Ansel dan mengguncangnya "Kamu ingat,sel.... tadi habis apa?" Aku sedikit gusar bertanya pada Ansel yang masih dengan mode melayangnya.


"Ingat.. Tadi mukul Kifli terus kejar-kejaran sama kakak, Riyan sama sahid."Jawab Ansel senyum-senyum.


"Astaga, ini anak kenapa ketularan Beny sih.." Ucapku mulai kesal.


"Masa bodo deh,sel... Jalan terus saja." Kataku kembali sambil menyeret langkahnya. Riyan dan Sahid hanya mengeleng-geleng melihat kami. Aku, Riyan dan Sahid memang tidak begitu mabuk lagi setelah berlari.


Tidak begitu lama kami berjalan, dan sudah tiba di tempat janjianku bersama Yudi. Kami semua terduduk mecoba merebahkan diri dengan alas seadanya. Memgistirahatkan tubuh dan pikiran yang lumayan lelah akibat kejadian tadi. Masih cukup waktu untuk tidur sebelum Yudi datang menjemput kami. Tanpa bersuara kami terhanyut pada pikiran masing-masing. Masih mengingat kejadian tadi, berharap tidak terjadi apa-apa pada Kifli. Hingga semuanya terlelap dalam mimpi masing-masing.


🎶🎶Kring.....kring...kring....🎶


Aku terbangun sedikit malas mendengar nada ponsel yang tak mau berhenti berdering. Perlahan aku membuka mata, sedikit demi sedikit kesadaranku pulih. Kami semua tertidur di gudang kosong. Gudang yang sempat menjadi tempat penyimpanan koperasi desa dan kini sudah tidak terpakai lagi serta tidak terurus.


"Halo...." Kata Riyan menjawab telpon yang masuk di hpnya.

__ADS_1


(.........)


"Iya,kami ada di dalam...tunggu sebentar..." Katanya dan menutup panggilan.


"Siapa,yan...?apa Yudi...?" Tanyaku sambil membenarkan posisiku untuk duduk.


"Iya,ayoo cepat...bangunkan Ansel....Yudi sudah menunggu di dpan."Ucapnya sambil membangunkan Sahid.


Kami berempat bergegas melalui pintu belakang gundang mengendap-endap menuju ke mobil Yudi yang sudah terparkir menunggu kami.


"Lama amat kalian ini....ayo cepat, jangan sampai ada polisi yang melihat kita..." Keluh Yudi melihat sekitar dan mengawasi kami yang berjalan kearahnya.


"Bagaimana kondisi disana,Yud? Aku belum sempat mengabari orang rumah?" Kataku saat masuk ke dalam mobil.


"Polisi dimana-mana. Rumah kalian mungkin sudah di jaga polisi sekarang. Sepanjang jalan saja sudah banyak polisi.. nanti kalian lihat saja sendiri saat kita melewatinya." Jelasnya sambil menyetir.


"Tapi, tak ada yang mencurigaimu kan?atau mengikutimu kesini?" Tanya Riyan pula khawatir.


"Tenang saja.. penjelasan yang aku berikan semalam sepertinya masuk akal untuk mereka."Ucap Yudi kembali dengan santai.


"Kondisi Kifli bagaimana?dia tidak apa-apa kan?" Kata Ansel dengan wajah panik,sepertinya dia baru benar-benar menyadari yang terjadi semalam.


"Masih di ICU tapi katanya masa kritisnya sudah lewat." Ucap Yudi lagi berusaha menenangkan kami.


"Haah,separah itu.....?" Kata Ansel lagi terkejut.


"Iya,alis dan pelipisnya ada yang robek, kehilangan banyak darah..sempat di jahit dan katanya juga ada tulang yang patah." Jelas Yudi kembali.


Kami mulai terngangah melihat apa yang tampak di hadapan kami tanpa mempedulikan ucapan Yudi. Sepanjang jalan tampak polisi dan tentara membawa senjata laras panjang berjaga-jaga dan beberapa menggunakan mobil patroli yang sempat melewati kami dan berbelok terpancar memasuki beberapa lorong-lorong.


"Itu semua di kerahkan mencari kalian..." Kata Yudi seakan mengerti dengan diamnya kami yang memandang sekeliling.


Sepertinya memang tidak bisa pulang hanya untuk mengganti baju atau pamit sama bapak dan mama. Nanti saja menghubungi mereka saat sudah tiba di tempat yang aman. Lama kami masih saling diam tenggelam pada pikiran masing-masing.


"Tadi Roy katanya ingin ikut dan menunggu di batas desa." Ucap Yudi kembali memecahkan kesunyian.


"Beny, bagaimana?" Tanya Ansel lagi.


"Dia aku suruh mengawasi pergerakan polisi kalau-kalau ada yang menyadari kalau aku menjemput kalian."Jelas Yudi lagi.


"Sekalian mengumpulkan informasi tentang kondisi Kifli dan tindakan apa yang dinginkan keluarganya. Aku juga menyuruh Beny ke rumah nenek memberikan informasi kalau kalian baik-baik saja sekalian ke rumah Riyan dan Sahid. Pasti semuanya sudah khawatir." Katanya Yudi kembali seakan mengerti dengan isi pikiran kami yang memang sudah kemana -mana. Sungguh Yudi bisa diandalkan dalam kondisi seperti ini.


...***please dukung aku yach,aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.. terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...

__ADS_1


...###jangan lupa tinggalkan jejak yach,koment,like, dan jangan lupa vote nya juga terimakasih. ###...


__ADS_2