True Love Bad Boy

True Love Bad Boy
Pujaan Hati Beny


__ADS_3

Aku benar - benar tidak bisa menghentikan tawaku, aku berlari ke ruang tamu setelah melihat lirikan sinis Beny. Takut piring yang dia cuci akan melayang ke mukaku.


" Senang sekali, By... " Ucap Yudi Heran melihat tawaku tiada henti.


" Beny kalau jatuh cinta lucu.." Ucapku di sisa tawa.


" Ledek terus, ledek saja terus... " Kata Beny seraya duduk di samping Sahid.


" Tumben, By.. puas ganggu Beny. Biasanya kamu cuek dengan sikon apapun." Seru Roy pula sambil mepebaiki posisi duduknya. Aku hanya mengangkat kedua bahuku dan masih tersenyum-senyum ke arah Beny yang mulai cemberut.Aku pikir semuanya masih betah berguling - guling di kamar, ternyata salah.


" Sepertinya kak Aby juga ketularan Beny, lagi terjatuh..... " Kata Ansel pula yang berjalan dari arah kamar, duduk lesehan di depan pintu masuk.


" Sok tahu... " Ucapku sedikit ketus.


" Genk's sepertinya aku juga terjatuh..." Kata Riyan sambil senyam-senyum duduk bersandar pada Sahid. Play*boy satu ini memang tidak ada habisnya bila soal jatuh cinta. Entah mengapa Mita masih selalu setia menyandang status pacar Riyan.


"Nah,kan... Bermunculan,memang menarik teman-temannya si Danti itu." Kata Sahid geleng-geleng kepala.


" SOK TAHUUU....." Kataku serentak bersama Riyan dan Beny.


"Hahahahaha.... kompaknya kalian." Tawa Roy pecah mendengar ucapan kami.


" Jadi begini yah, kalian ingat waktu pertama kali kita kesini gadis yang di lihat Beny. Nah, dia kerja di kantor perumahan." Jelasku akhirnya.


" Jadi kalian jatuh cinta dengan gadis yang sama? Sungguh terlalu..." Seru Roy terkejut dengan ekspresi wajah di buat-buat.


" Enak saja... Aku tidak sedang jatuh cinta." kilahku cepat.


" Akan jatuh cinta kan,kak.." Goda Ansel lagi seraya mengedipkan sebelah matanya.


" Sejak kapan kamu genit, Sel?" Ucapku sok heran. Ansel malah cengengesan mendengar ucapanku.


"Berarti..... Riyan,kamu suka sama gadis yang di suka Beny?" Tanya Roy kembali, setelah terdiam mendengar pembicaraanku dengan Ansel.

__ADS_1


" Memang Riyan suka yang mana?" Tanya Beny was-was menatap ke arah Riyan, yang di tatap malah hanya senyam senyum saja.


"Memangnya ada berapa gadis? kenapa selama kerja aku tidak perna melihat seorang gadis pun dari kantor itu." Kata Sahid ikut penasaran.


" Kamu terlalu fokus,hid..Ada cuma kita tidak tahu orangnya yang mana, waktu itu kan pak Agus sempat bilang lima orang pria dan lima orang wanita staf kantornya, tapi kita juga tidak bertanya apa semua wanita sudah berkeluarga atau masih gadis. Mungkin memang stafnya ada yang masih gadis." jelas Yudi pula mengira - ngira.


" Aku jadi penasaran bagaimana sih itu cewek." Ucap Ansel pula menatap kami satu-satu seakan mencari tahu arti sorot mata kami.


Aku beranjak dan berlalu masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan ucapan Ansel, memilih menikmati waktu luang dengan tidur sepuasnya.


****


seharian kemarin kami sangat menikmati waktu istirahat dengan cara masing - masing. Aku memilih tidur, sejak obrolan berakhir di ruang tamu. Aku hanya terbangun untuk mengisi perut dan saat ingin ke toilet. Tidak peduli dengan kegiatan yang lain, yang terkadang mengganggu tidurku saat mendengar suara tawa dan canda mereka.


Pagi ini kami mulai beraktivitas seperti hari-hari lalu. Aku, Sahid dan Yudi sudah siap di teras rumah, duduk santai sambil mengobrol ringan soal pekerjaan kami ketika pak Agus datang mengunjungi kami.


"Assalamualaikum.. " Ucap pak Agus sambil tersenyum sambil memarkir motornya.


" Waalaikumsalam... " Jawab kami serentak.


" Tidak usah, disini saja.. Saya hanya ingin Melihat-lihat hasil kerja kalian. Kemarin saya kesana tapi kalian tidak ada." Jelasnya seraya membenarkan posisi duduknya di samping Sahid.


" Iya, pak kemarin kami memilih istirahat karena bekerja tiada henti beberapa hari lalu." Jelas Sahid pula.


" Iya, pekerjaan kalian cukup cepat, jangan terlalu memaksakan diri." Balasnya sambil mengangguk-angguk.


" Eh,ada pak Agus.. Mau minum apa pak, saya buatkan." Tawar Beny yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.


" Roy,Riyan dan Ansel mana.. ?" Tanyaku pada Beny.


" Tidak usah repot-repot,Ben..kami mau langsung ke lokasi saja, bapak di suruh ambil gambar bangunan yang sedang dikerjakan." Balas pak Agus sambil tersenyum.


" Yah, sudah mari berangkat bersama pak.." Ucap Yudi menawarkan.

__ADS_1


" Ben, Suruh mereka cepat.. lagi apa sih?" Omelku ingin mengikuti langkah pak Agus,yang sudah lebih dulu bejalan bersama Yudi dan Sahid.


" Haaaahhh, Biasa By.. mereka lagi rebutan di belakang." Katany sambil menarik nafas berat.


" Rebutan apa?" Tanyaku heran,mengurungkan langkahku. Beny hanya tertunduk sambil mengangkat tangannya mempersilahkanku melihat sendiri.


Aku masuk kembali ke dalam rumah menuju pintu belakang. Semakin dekat langkahku semakin jelas aku mendengar suara canda tawa pria dan wanita.


Ternyata mereka bertiga sedang asyik ngobrol dengan Mira dan Risma.


" Hai, kalian bukannya cepat malah ngobrol disini." Teriakku pada mereka, yang membuat Mira dan Risma terloncat kaget.


" Santai By... Kami sudah mau jalan kok." Ucap Riyan cengengesan.


" Kami kerja dulu yah, sampai bertemu nanti." Kata Riyan pamit dengan kerlingan genit. Membuat Mira dan Risma hanya tertawa melihat tingkahnya, aku sudah berjalan lebih dulu mendahului mereka.


" Kalian yah, bedakan mana waktu harus kerja mana harus nyantai. Lihat cewek saja sudah lupa tujuan kita kesini." Omelku pada mereka saat sudah tiba di lokasi tempat kerja.


" Alah,By.. Biasa aja napa.. seperti tidak suka sama cewek saja." Balas Riyan ketus, berlalu ke arah Yudi.


" Bukan masalah suka tidaknya. Lihat waktu... sekarang waktunya kerja bukan pacaran." Ucapku sudah dengan nada tinggi. Emosiku benar-benar terpancing dengan ucapan Riyan.


" Sudah, hal seperti ini saja sudah ingin ribut lagi. Sana By, bantu Sahid... Untung pak Agus sudah pergi, Malu kalau beliau tahu." Kata Yudi menengahi perdebatan kami.


Ansel dan Roy tampak hanya diam dan mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan masing-masing, mungkin menyadari akan kebenaran dari ucapanku. Aku melangkah ke arah Sahid masih dengan berbagai macam omelan yang aku ucapkan dalam hati.


" Lagi baca mantra apa, By..?" Ejek Sahid sambil tersenyum-senyum. Aku menatap sinis padanya tanpa membalas ucapannya, situasi tadi berhasil merubah moodku.


" Santai,By.. jangan sensian seperti Beny ah.. tidak cocok... " Kata Sahid lagi sambil memamerkan deretan giginya. Aku masih diam memilih mengerjakan pekerjaanku yang tadi sudah tertunda beberapa menit. Kami bekerja dalam diam, tidak seperti biasanya yang selalu selingi senda gurau. Sampai saat waktu pulang pun kami semua dalam diam, hanya Sahid dan Yudi selalu sibuk diskusi soal bangunan yang kami kerjakan.


Sore hari saat ingin membersihkan diri,aku melihat Beny masih Betah di belakang rumah ngobrol dengan Mira. Sepertinya mereka makin dekat.


(Bersambung)

__ADS_1


...***Happy Reading***...


__ADS_2