True Love Bad Boy

True Love Bad Boy
Memulai Awal Baru di Kampung Orang 2


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan pak Agus aku kembali mengitari setiap ruang di tempat tinggal sementara kami, hingga langkahku terhenti di kamar yang di tempati Beny dan Sahid. Terlihat mereka berdua kembali tertidur setelah menurunkan semua barang dari mobil.


Aku hanya menggeleng-geleng Melihat keduanya dan melanjutkan langkahku kembali hingga ke pintu belakang rumah saat mendengar suara tawa wanita dari sana. Entah kemana perginya yang lain lebih dulu melakukan tour keliling melihat pembangunan perumahan. Perlahan aku membuka pintu saat mendengar suara senda gurau dari beberapa orang di luar sana.


"Eh, maaf.. kami sudah mengganggu." Ucap salah seorang dari mereka santun menyatukan ketua tangan serta menganggukkan kepala seolah minta maaf.


"Ah, tidak apa.. mungkin saya yang sudah mengganggu obrolan kalian. Aku sedang melihat - lihat tempat ini tanpa sengaja mendengar suara dari luar." Balasku beralasan seraya tersenyum.


Aku memperhatikan mereka satu persatu, dari ketiganya, aku baru menyadari kalau salah satunya adalah gadis yang dilihat Beny tadi.


"Maaf,apa kalian warga disini?" Tanyaku kembali sambil melirik gadis yang sejak tadi hanya melihat ke arah lain.


" Iya, Rumah kami tidak begitu jauh dari sini dan bekerja di bagian promosi dan administrasi perumahan ini. Perkenalkan namaku Mira, yang baju biru Risma, dan baju hitam Zahra." jelas wanita itu kembali sambil memperkenalkan teman-temannya.


"Oh,Namaku Abyan.. " Jawabku singkat dan tersenyum ramah.


"Baik kalau begitu kami permisi dulu. Tadi hanya menumpang ke toilet saja." Ucapnya kembali sambil mulai berlalu menuju arah kantor perumahan yang ternyata tidak jauh dari rumah tempat tinggal kami.


Aku hanya tersenyum seraya menganggukkan kepala sebagai isyarat mempersilahkan mereka melanjutkan aktifitasnya kembali.


"Siapa?" Tiba-tiba aku dikejut dengan suara Ansel yang muncul dari samping rumah di ikuti Riyan, Yudi, dan Roy.


"Kalian dari mana?" Tanyaku tanpa menjawab pertanyaan Ansel.


"Bukannya menjawab malah balik bertanya, kami dari depan cari jajanan. sampai disini terasa kembali lapar." Keluh Roy sambil memperlihatkan kantongan yang dia bawa.


Aku hanya manggut-manggut sambil membulatkan bibir tanpa suara setelah mendengarkan penjelasan Roy dan melangkah kembali ke dalam rumah.


" Pak, ini sebenarnya perumahan untuk pegawai kantor yang ada di depan atau untuk semua masyarakat yang berminat?" Tanyaku pada pak Agus sambil duduk di dekat Om Riswan.


"Paling banyak yang berminat pegawai kantor yang ada di depan tapi tidak tertutup juga kalau ada masyarakat yang minat." Jelas pak Agus.


"Disini ada berapa pekerja pak?" Tanya kak Anthon pula,dia masih setia menemani kami dan akan pulang ke kampung besok pagi.


"Lumayan ada 5 kelompok dengan kalian, Karena pembangunan masih akan terus berlanjut hingga beberapa meter lagi ke bagian belakang rumah ini." Jelasnya kembali.


"Tapi, mungkin kalian tidak bisa saling bertemu setiap hari karena jarak yang cukup jauh di tambah masih banyak pohon-pohon yang belum di tebang." Sambung pak Agus kembali seraya mengajak kami keluar melihat ke arah yang beliau maksud.

__ADS_1


Tampak memang beberapa tempat masih terlihat seperti hutan, tapi bisa terlihat di baliknya ada beberapa bangunan yang sementara di bangun, di perjelas dengan beberapa mobil pengangkut bahan bangunan yang tiada henti berlalu lalang yang menandakan memang terjadi pembangunan di beberapa tempat sekitar sini.


"Kenapa tidak sekalian di tebang saja pak pohon-pohonnya lalu di bangun?" Tanya Riyan penasaran juga.


Sebelum menjawab pak Agus tampak tersenyum "Sebagian belum berhasil nego dengan pemilik lahan, jadi masih belum merata pembangunannya."


"Jadi kami akan mengerjakan yang mana pak?" Tanya Ansel pula.


Aku masih serius memandangi sekeliling lokasi perumahan, cukup asri terlihat seperti perumahan dengan konsep taman dengan pohon-pohon yang tinggi.


"Mari.. kita ke sana.." Ajak pak Agus menujuh arah timur dari tempat tinggal kami, tepat di samping kantor yang di tuju oleh Mira tadi.


" Disini rencananya akan di bangun sebuah mes dan dapur umum untuk pegawai perumahan." Jelas pak Agus sambil menunjuk ke arah sekeliling tempatnya berdiri.


" Cukup luas bila patokannya pada batang bambu yang terpasang tiap sudut.." Ujar Yudi pula.


" Iyaa, nanti saya perlihatkan gambar desain bangunannya. Bisa kan?"Ucap pak Agus kembali seraya tersenyum.


" Insyaa allah pak.. " Balas Yudi pula dengan senyuman. Yaa,diantara kami semua, Yudi dan Sahid yang paling paham soal bangunan. Aku, Ansel, Roy,Riyan hanya membantu- bantu saja sebagai asisten,heheheh...


" Pak Agus ini bangunan apa?" Tanya om Riswan sambil menunjuk bangunan kecil di samping kami. Bangunan yang terlihat hanya berukuran 3X3m. Sejak tadi memang om Riswan hanya terdiam dan mengikuti langkah kami melihat-lihat.


" Ada berapa orang pak pengurusnya?" Tanya Roy pula.


"sekitar 10 orang, 5 orang laki-laki bagian seles dan promosi 5 orang wanita bagian administrasi."Jelasnya kembali sambil mengarahkan kami kembali ke mes tempat tinggal kami.


"Lalu bapak... ?" Pertanyaan spontan Ansel membuat pak Agus tertawa keras.


" Pak Agus ini, salah satu bos besar juga disini." Kata Om Riswan mewakili seraya tertawa pula.


Kami pun mengangguk-angguk dengan jawaban om Riswan.


" Pak Riswan ini bisa saja.. Saya hanya diberi kepercayaan untuk menjadi penanggung jawab soal pembangunan perumahan ini." Kilah pak Agus.


" Oh,iya.. kalian istirahatlah dulu.. setelah duhur saya kesini lagi membawa desain bangunan yang akan kalian kerjakan." Ucap pak Agus pamit dan berlalu setelah bersalaman dengan om Riswan.


" Om,serius pak Agus bosnya?" Tanya Ansel masih penasaran.

__ADS_1


"Iya,sebagian besar wilayah perumahan ini adalah lokasi pak Agus. Apalagi beliau juga pegawai senior di kantor perusahaan tekstil yang ada di depan itu, makanya beliau yang lebih di beri kepercayaan sebagai penanggung jawab pembangunan perumahan ini." Jelas om Riswan kembali dengan sabar.


"Ooh,lokasinya luas om.. Tapi tidak mungkin pak Agus juga yang punya anggaran pembangunan kan?" Tanya Ansel lagi,rasa penasaran belum tuntas rupanya.


" Hahahaha... Ansel,Ansel.. kamu kalau penasaran detail sekali ingin tahunya.. investornya banyak,om juga kurang tahu.." Ucap om Riswan memutus rasa penasaran Ansel.


"Yah sudah kalian baik-baik disini.Om,pulang dulu..untuk lebih jelasnya bila ada yang mengganjal tanyakan pada pak Agus. Ayoo,thon... " Putus om Riswan sambil memanggil kak Anthon untuk pulang.


"Baik-baik kalian.. salam sama Beny dan Sahid.. itu anak sampai disini malah doyan tidur." Keluh kak Anthon menyalami kami satu persatu.


"Baik kak.. hati-hati juga di jalan, selamat sampai di kampung." Ucapku mewakili yang lain. Dibalas anggukan oleh kak anthon dan berlalu mengikuti langkah om Riswan yang lebih dulu menjauh dari kami.


" Masih pukul 10.00 pagi.. Kita melakukan apa dulu?" Gumamku saat kami sudah tinggal berlima di teras mes.


"Tiduran bisa... makan juga bisa, jalan-jalan juga bisa.." Sahut Riyan sambil berlalu masuk ke dalam rumah. Membuatku tersadar dari lamunanku.


"Maksudmu apa,Yan?" Tanyaku linglung mengekorinya ke dalam rumah.


" Aku mau berlayar di alam mimpi,By.. tadi kan bangun pagi sekali." Ucapnya seraya memperbaiki posisi baringnya di tumpukan tas dalam kamar.


"Yang benar saja,Yan... harusnya kita mulai masak untuk makan siang dan malam,dan nanti sore mulai mengukur dan menandai lokasi yang akan kita kerjankan.Jadwal padat,Yan.. itu Beny dan Sahid harusnya kamu bangunkan.." Omel Yudi akhirnya mewakili semua unek-unekku yang belum sempat aku keluarkan.


"Yah..Yah... akhirnya sekarang Yudi ketularan Abyan kalau soal omelan." Balas Riyan kesal, seraya duduk kembali dan beranjak ke kamar sebelah untuk membangunkan Sahid dan Beny.


"Hai,kenapa namaku lagi yang ikut di sebut,aku sejak tadi hanya diam." Protesku akhirnya yang memilih duduk lesehan di samping kamar.


"Haahh,, ini baru hari pertama kalian sudah seperti ini. Kita disini masih lama,jadi kendalikan ego dan emosi kalian." Seru Ansel pula seraya menghembuskan nafas kasar.


"Tumben bijak..." Ledek Riyan kembali tak kehabisan kejahilan mengundang emosi kami satu persatu. Ansel hanya berlalu tidak ingin terpancing dengan ke-reseh-an Riyan mengganggunya.


"Sepertinya memang ada baiknya kamu membangunkan Beny,Yan.. Daripada yang kamu mengisengi kami,salah sedikit kamu biru-biru." Omelku akhirnya kesal.


Membuat Riyan akhirnya tergelak terbahak-bahak "Hahahhaha..... "


(Bersambung)


...maaf Slow Up reader cantik N ganteng.....akibat kesibukan di dunia nyata yang tidak bisa dihindari,maaf yaahh.....***...

__ADS_1


...***Aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.. terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...


__ADS_2