True Love Bad Boy

True Love Bad Boy
Perang Menggigil


__ADS_3

Aku masih di posisiku kala Beny juga ikut keluar dengan penampilan yang berlumuran tepung memenuhi sebagian badan dan wajahnya. Aku dan Yudi sampai melongo melihatnya.


" Masak atau habis perang tepung, Ben?" Tanyaku menahan tawa.


" Winda, mana By...?" Tanyanya terburu-buru melangkah dengan wajah panik.


" Sudah mulai jadi play*boy yah, Ben?" Sindir Yudi geram.


" Bukan begitu, Yud... Aduuh, kenapa serba salah begini sih." Jawab Beny dengan wajah bingung dan berkaca-kaca, dia menghentikan langkahnya di teras rumah karena sudah tidak melihat keberadaan Winda.


" Makanya jangan serakah, bagi-bagi...." Ejek Ansel tersenyum miring tapi tetap mengunyah,memegang piring gorengan lalu duduk di sampingku.


" Staf kantor mana,sudah pada pulang?" Tanyaku pada Ansel.


" Tuh, lagi di temani sama Sahid ngobrol." Jawab Ansel seraya menunjuk dapur.


" ABYAN... ABY....!!!! Kamu memang tidak pernah mau melihatku senang yah.. Cerita apa saja kamu sama mereka tadi?" Teriak Riyan penuh emosi dari luar rumah, terburu-buru masuk ingin menemuiku.


" Aku..? Maksud kamu?" Tanyaku bingung pada Riyan saat kami sudah berhadapan di depan pintu, berusaha tidak terpancing emosi padanya.


" Kenapa mereka semua malah marah-marah? Tidak ada yang ingin mendengar penjelasanku, Danti malah minta putus." Teriak Riyan lagi frustasi.


" Hei, kapan kamu jadian sama Danti? Kau menyakiti sepupuku berarti berurusan denganku,bukan dengan Abyan..." Gertak Yudi tidak suka.


Beny, hanya bisa menelan ludah secara kasar sedikit gemetar melihat ekspresi wajah Yudi.


Yudi memang jarang marah, lebih banyak diam di antara kami tapi bilang sudah emosi dia sama gilanya denganku.


" Tenang, Yud... Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Ayoo duduk..." Ajakku menengahi, kulihat keduanya sama-sama terbakar emosi.


" Diam,By... ini bukan urusanmu." Ucap Yudi dengan penekanan pada nada bicaranya.


" Urusanku lah, kalian sahabat-sahabatku... Ayo duduk dulu, kita bicarakan baik-baik." Kataku pula dengan intonasi yang juga sudah meninggi.


Akhirnya merekapun ikut duduk karena tarikan tanganku. Tatapan keduanya pun tidak saling putus, Riyan menatap tajam padaku sedang Yudi menatap tajam pada Riyan dan Beny. Aku hanya bisa menghelah nafas berulang kali agar tidak terpancing ikut emosi dengan mereka.


" Akukan sudah bilang, Yan.. jangan coba-coba dekati Danti. Sebelum berangkat juga aku sudah memperingatkanmu, kenapa kamu tidak peduli? Kamu pasti berpikir bisa menyembunyikan dariku kan?" Oceh Yudi masih tidak terima.

__ADS_1


" Sel, panggil sahid.. suruh mereka yang di belakang juga pulang." Titahku pada Ansel yang masih fokus pada gorengannya.


" Sudah deh,By.. jangan sok bijak." Kata Riyan terus memancingku.


" Apa saja yang kau katakan pada mereka, kenapa tidak memberi tahu kalau mereka kesini?" Cercanya padaku.


" Lah, kalian yang terlalu fokus dengan kegiatan di dapur. Masa kamu tidak mendengar saat mereka mengucapkan salam, Winda juga beberapa kali meneriaki Beny." Jelasku tidak terima, Beny lagi-lagi hanya menelan ludah mendengar ucapanku.


" Eh, ada apa kok pada tegang?" Kata Mira melihat semua ekspresi kami.


Ternyata mereka bertiga malah mengikuti Sahid dan Ansel masuk ke ruang tamu, bukannya menyuruh mereka pulang malah memanggilnya masuk.


" Bukannya pada pulang, ini sudah malam loh?" Kataku tidak menjawab pertanyaan Mira.


" Iyaa ini kami mau pamit." Kata Zahra mewakili yang lain. " Oya, aku tadi sempat masak sambel ayam di belakang di panasi saja kalau bersisa." Sambungnya menatapku lekat. Aku paham maksud tatapannya tapi aku tidak ingin menambah masalah lagi.


Sudah sebulan ini mereka sering stay di rumah memasak untuk kami, meringankan pekerjaan Beny tentunya. karena itu juga kedekatanku dengan zahra tidak bisa di hindari, meski kadang cuma bisa berbicara lewat tatapan saja. Tapi aku paham apa yang dia maksud, begitu pula dengan tatapanku padanya.


Aku menghindari komunikasi intens dengan Zahra, karena ada beberapa hati dan hubungan yang harus di jaga. Aku tahu Sahid, Roy juga tertarik padanya, Ansel juga masih bimbang antara Zahra dan Risma, Riyan jangan ditanya lagi. Kelihatan memang dia mendekati Risma padahal sebenarnya dia lebih tertarik pada Zahra. Hanya menunggu Ansel saja lebih milih yang mana. Hanya Beny yang menjatuhkan pilihannya sejak awal pada Mira meski dia tidak perna mengutarakannya, tapi kami semua memahami itu. Meski yang aku lihat Mira lebih tertarik pada Sahid, Mendekati Beny hanya agar bisa dekat juga dengan Sahid. Yudi pun berpendapat demikian, aku perna membahas ini berdua dengannya, menanyakan padanya tentang pendapatnya.


" Iyalah, kan Lisa pakai pelet....." Gurauku padanya dengan senyuman mengejek.


" Bukan begitu, By.. Kamu lihatkan.. Sesabar apa dia menghadapiku dengan semua kenakalan-Kenakalan kita selama ini." Jelasnya kembali beralasan.


"Iya, paham... Kalian memang serasi, Lisa punya pemikiran dewasa begitu juga denganmu. Meski kamu masih labil dan sering bikin ulah dengan kami." Olokku padanya maki jadi. Yudi hanya tertawa mendengar perkataanku. Saat itu sore hari saat semua sudah kembali ke rumah kami berdua masih membereskan beberapa peralatan yang ada.


Kami sebenarnya saling memahami, tak ingin saling menyakiti satu sama lain. Cuma terkadang emosi kami yang selalu tidak stabil membuat semua selalu kacau seperti malam ini. mungkin karena efek mir*as yang sering kami konsumsi, kebiasaan yang tidak bisa hilang meski kami sedang di kampung orang. Seperti saat ini Riyan mencurigai tentang sesuatu yang sebenarnya tidak ada.


" Iya terimakasih, maaf sudah merepotkan." Jawabku segera dengan mimik wajah datar, berharap mereka segera berlalu.


" Ayo masuk..."


Tampak Roy menggandeng tangan seseorang dan menariknya masuk. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 malam.


" Siapa Roy...?" Tanyaku, belum kelar masalah Riyan datang lagi dua wanita yang di bawa Roy. Ampun... Ampun...


" Eh, bukannya kalian sudah pulang?" Tanyaku heran saat Ranti dan Nuri melangkah dengan malas masuk ke dalam rumah. Parahnya lagi Nuri langsung duduk di dekatku dan bersandar di bahuku, tanpa menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


" Mereka ketinggalan. Paling nanti Danti kesini lagi menjemputnya." Jelas Roy di nafas ngos-ngosan.


" Kenapa,kalian kejar-kejaran?" Tanyaku melihat eskpresinya kelelahan. Roy hanya mengangguk mengiyakan pertanyaanku. Aku ingin tertawa sebenarnya, ini lucu membayangkan Roy dan Riyan kejar-kejaran di kegelapan,tapi kutahan karena sedang ada dua orang yang lagi perang urat saraf di hadapanku.


Aku melirik ke arah Nuri yang masih bersandar di bahuku. Lalu melihat ekspresi wajah Zahra yang duduk manis di samping Ansel, tersirat rasa tidak suka yang berusaha dia sembunyikan saat tatapan mata kami bertemu.


" Nur, berat..." Kataku sambil menggoyangkan bahuku.


" Kak Aby bilang aku gendut?" Protesnya kesal.


" Bukan begitu.. bisa tidak duduknya yang benar." Kataku mencoba sabar mengahadapinya.


" Kalau begitu kami permisi dulu, sepertinya kalian ada masalah penting." Ucap Zahra seraya berdiri di ikuti Mira dan Risma tanpa suara. Tatapan Zahra masih tertuju padaku, berpaling saat sudah berada di ambang pintu.


" Bukan masalah apa-apa, Ini hanya saudari-saudarinya Yudi yang datang berkunjung." Kata Sahid senyum-senyum merasa tidak enak, Zahra hanya tersenyum dan mengangguk paham.


" Hati- di jalan, maaf tidak bisa mengantar." Sesal Ansel yang mengantarkan mereka hingga di depan pintu sambil melambaikan tangan.


" Tidak apa dekat ini..." Terdengar suara Risma menjawabnya.


" Tatapannya dalam yah?" Tanya Nuri dengan tersenyum miring mengintimidasiku.


" Maksudnya?" Tanyaku pura-pura tidak mengerti.


" Kak, Kami nginap yah? Danti dan yang tidak mau kembali menjemput kami." Ucap Ranti sambil meletakkan Hp yang sejak tadi di tatapan dan menarik salah satu bantal yang tergeletak sejak tadi dan merebahkan diri.


(Bersambung)


...*** Happy Reading***...


...Semoga pelan - pelan sudah bisa up rutin lagi yach....


...Jadwal kehidupan nyata mulai bisa dikondisikan, jadi mohon dukungannya reader sekalian....


...Dan aku juga berharap karyaku bisa memuaskan reader semua.......


...Terimakasih dan mohon maaf bila masih banyak typo nya........

__ADS_1


__ADS_2