
Dengan mengendarai motor om Irwan, suami tante Mirna aku dan Ansel menuju rumah Roy.
"Assalamualaikum...." Aku mengucapkan salam saat sudah berada di teras rumah. Suasana rumah terlihat sepi.
"Waalaikumsalam....Masuk,By...Sel...." Balas mama Roy yang menyambut kedatangan kami. Mukanya kelihatan sedih dan lelah. Aku hanya mengangguk dan masuk ke dalam rumah di ikuti Ansel.
"Maaf,mam.... Aku tidak bermaksud melukai Roy." Ucapku menyesal sambil menggenggam tangannya.
"Masuklah..temui Roy di kamar..." Ucapnya lembut mengusap tangan seakan memaklumi.
Aku baru ingin beranjak saat sebuah suara membuat kami menoleh ke arah pintu.
"Assalamualaikum.... kamu sudah datang Aby, Ansel..." Ucap Pak Rahmat di ikuti beberapa orang di belakang beliau. Aku dan Ansel hanya mengangguk.
" Ketemu,pak....?" Tanya ibu Afifah pada suaminya. Ternyata pak Rahmat dari rumah keluarganya untuk mencari Ainun.
"Belum...aku curiga dia ada di rumah kak Rahman karena disana tak ada yang menyambutku. Hanya Jihan di rumah dia juga tidak mengizinkanku masuk. Katanya ada tugas sekolah dia mau keluar dan tidak ada orang di dalam rumah. Padahal aku sempat mendengar suara batuk dari dalam rumah." keluhnya panjang lebar.
"Iya,kak Rahman tadi sempat telpon. Jihan memang hanya bersama Evi, kata kak Rahman hari ini baru bisa pulang karena kemarin katanya sempat banjir di rumah mertuanya kendaraan tidak ada yang bisa lewat." Kata ibu Afifah menimpali.
"Mam,,kami ke kamar Roy dulu.. ingin melihat kondisinya." Kata Ansel sambil memberi isyarat padaku untuk mengikutinya. Ibu Afifah hanya mengangguk.
"Aby kamu disini dulu... saya mau bicara." Kata pak Rahmat tegas.
Akhirnya aku duduk kembali, hanya menatap Ansel yang berlalu ke kamar Roy. Sebenarnya sedikit was-was juga ditinggal sama Ansel. Bukannya takut di keroyok hanya takut salah berucap yang nantinya akan membuat beliau - beliau yang sudah memasang tampak sangar bak jaksa penuntut umum makin curiga padaku. Dihadapku sudah ada sodara Pak Rahmat dan Ibu Afifah yang tadi datang bersama Pak Rahmat.
"Santai,By....ini minum dulu..." Ucap Tante Mennik adik ibu Afifah dari arah dapur sambil membawa minuman dan beberapa cemilan. Yah,tante Roy satu ini suka sekali guyonan, orangnya memang lucu. Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.
"Kamu tahu kalau Ainun meninggalkan rumah suaminya?" Tanya om Hasan pula, kakak pak Rahmat. Pak hakim sudah mulai bertanya berarti sepertinya Sidang sudah di mulai.Keluhku dalam hati.
"Iya,Om...Roy yang memberi tahu tadi pagi." Jawabku tetap terlihat tenang.
"Kamu tahu dia kemana?" Tanyanya kembali.
"Tidak,om.. Sejak tadi pagi saya mencoba menghubungi nomor ponsel Ainun tapi tidak bisa di hubungi." Ucapku jujur, om Hasan tampak mengangguk-angguk.
"Kamu yakin, tidak tau keberadaan Ainun?" Ucapnya kembali menyelidik.
"Iya,om... Saya benar-benar tidak tahu." Ucapku meyakinkan.
" Kamu tidak tahu tempat kesukaan Ainun?" Tanyanya lagi.
"Ainun lebih sering bersama saudara - saudara sepupunya. Mungkin saja salah satu dari mereka ada yang tahu keberadaannya atau mungkin sedang bersama salah satu dari mereka." Ucapku yakin.
Karena setiap bertemu denganku diluar rumah bila tak bersama Sintha, biasanya Ainun bersama Ritha ataupun Jihan. Tentu saja aku tidak berani mengatakan itu di depan para hakim yang terhormat, bisa-bisa aku dijatuhi hukuman berat dari pak hakim.
Mereka semua mengangguk dengan jawabanku. Ainun memang jarang keluar rumah, bila keluar rumah dia tidak pernah keluar sendiri.
" Tapi sepertinya memang benar kecurigaan pak Rahmat kalau Ainun bersama Jihan sekarang." Ucapku kembali meyakinkan.
"Tahu dari mana kamu...?" Kini Om Ridwan yang bertanya, adik bungsu pak Rahmat. Dia terlihat sinis menatapku. Dia memang yang paling tidak suka bila melihat kami, teman-teman Roy.
"Karena saya sering melihat kebersamaan mereka...." Ucapku sedikit ragu,masih di curigai tidak ini.batinku.
"Baik,sedekat apa kamu dengan Ainun?" Tanya pak Hasan kembali mengintrogasi.
"Maksudnya om?" Tanyaku sedikit bingung,aku jadi gelagapan ditanya seperti itu. kalau dekat sih dekat sekali bahkan pernah tidur bareng,batinku.ups.....jangan sampe ketahuan,alamat ini kalau sampai bocor.
__ADS_1
"Kamu benar punya hubungan dengan Ainun?" Tanyanya kembali.
Aduh aku jawab apa ini. Aku diam, memikirkan jawab yang tepat untuk para hakim dihadapanku. Kulihat mereka tidak sabar mendengarkan jawabku, semuanya memandang penasaran padaku.
ingin ku jawab iya apa tidak jadi bumerang padaku.ingin menyangkal dimana harga diriku yang tidak gentle,aku laki-laki harus berani.
Beberapa menit terdiam akhirnya aku meng iya kan pertanyaan om Hasan.
"Iya,...." Ucapku singkat tapi yakin.
"Kamu tahukan Ainun sudah jadi istri orang, kenapa kamu masih mengganggunya." Kata om Ridwan makin sinis, ini omnya Roy kok bikin emosi yah, bikin tangan gatal mau noyor.
"Tidak,om..sudah lama saya tidak komunikasi lagi dengan Ainun. Pertemuan terakhir kami pun di hari akad nikahnya."Jelasku berusaha menahan emosi.
"Saya sangat mengharap kejujuranmu, By...saya tahu kamu anak baik." Kata Pak Rahmat pula.Wah,benar.Aku memang di curigai menyembunyikan Ainun.
"Baik,pak.... Kalau memang tidak percaya sama saya. Mari kita cari sama-sama." Putusku tegas.
Aku tidak suka di curigai seperti ini, benar bukan aku yang menyembunyikan Ainun tapi aku yang dipojokan.
"Alah,,jangan munafik Aby. Anak muda macam kamu pasti sudah mengatur semuanya. Supaya kelihatan anak baik-baik,iya kan?" Tuduh Om Ridwan.
Benar-benar ini orang minta di hajar. Aku mengepalkan tanganku menahan emosiku yang sudah ingin meledak. Seandainya hanya ada kami berdua sejak tadi aku sudah memukulnya hingga remuk, tapi aku masih menghargai Pak Rahmat dan ibu Afifah. Aku berusaha menahannya, nafasku sudah naik turun. Aku tahu wajahku pasti sudah memerah menahan amarah.
"Sudah Ridwan, kamu ini sebenarnya ingin membantu atau mau menambahkan masalah." Tegur om Hasan tegas.
Yang ditegur hanya memasang wajah jengkel menatapku. Aku tidak peduli aku tidak gentar dengan tatap itu.
"Apa rencanamu,Aby...?" Tanya om Hasan akhirnya.
Aku meraih ponselku di kantong celana, dan memulai menghubungi Ainun. Hanya beberapa detik panggilanku di angkat olehnya.
"Hallo,by... kenapa baru menelpon? Kemana saja tidak perna mau mengangkat teleponku?" Pertanyaan Ainun berentetan tanpa jeda.
Aku sengaja mengaktifkan loudspeaker ponselku agar semua mendengarnya. Aku sebenarnya agak degdegan jangan sampai Ainun bicara macam -macam yang menyudutkan kami berdua.
"Maaf,Kamu lagi dimana?" Jawabku sedikit merasa bersalah.
"Tidak apa - apa, yang jelas kamu sudah menghubungiku. Apa kita bisa bertemu,by..?" Tanya Ainun lagi sedikit memelas.
"Mau ketemu dimana?" Jawabku singkat.
"Serius kamu mau, Kamu tidak lagi bareng Roy kan?" Tanyanya mulai curiga.
"Tidak, aku tidak bersama Roy." sanggahku cepat.
"Bahasamu beda,By.. seperti ada yang mengawasi pembicaraan kita." Kata Ainun lagi. Benar Ainun curiga, aku harus bisa menyakinkannya.
"Tidak,Ay... sepertinya kamu sudah tidak percaya padaku. Tapi aku benar-benar minta maaf Ay...untuk semuanya." Kataku lagi meyakinkannya. iya,aku benar-benar minta maaf karena lagi membohongimu seperti ini.
"Iya, bisa kita bertemu besok. kamu ke rumah Jihan, aku tunggu. Aku tidak bisa meneruskan pernikahanku,By...Aku tidak bisa..." Kata Ainun dengan suara serak. Aku tahu dia sekarang menangis.
"Maaf,Ay....." Hanya itu yang bisa aku katakan padanya, hingga membuat Ainun makin terisak.
"Tidak,By..bukan salahmu. Besok kita ketemu yah?" Katanya lagi.
"Iya....sudah jangan menangis lagi, aku tutup yah...besok kita bertemu." Kataku lembut.
__ADS_1
"Iya sampai bertemu besok, By...." Kata Ainun sebelum menutup telponnya.
Aku tertuduk sejak tadi, tidak berani menatap beliau-beliau dihadapanku.Tanpa kusadari ternyata Ansel dan Roy sudah duduk bergabung dengan kami sejak aku bicara dengan Ainun.
"Bagaimana om?" Tanyaku pada om Hasan, setelah beberapa waktu menenangkan diriku. Jujur aku ikut terhanyut dengan isak Ainun tadi, aku tahu Ibu Afifah dan tante Mennik sudah menangis tertahan sejak aku bicara dengan Ainun.
"Bagaimana Rahmat, mau kesana malam ini atau ikuti Aby besok kesana?" Tanya om Hasan pada adiknya.
"Mungkin sebaiknya saya tidak usah ikut om. Biar bapak dan om saja yang jemput Ainun." Saranku pula.
Om Hasan mengangguk membenarkan "iya, bisa juga seperti itu."
"Nanti saya bantu hubungi Ainun lagi agar tidak kemana-mana. Jangan sampai kabur lagi." Kataku lagi.
"Ogh,iya..Sintha mana mam,, bisa saya bicara?" Tanyaku pada ibu Afifah.
"Sin,kemari sebentar..." Teriak ibu Afifah,tampak Sintha dari balik gorden pintu tengah yang ternyata sedang menguping pembicaraan kami.
" Sin, aku harap kamu tidak mengatakan pada Ainun apa yang kamu lihat sekarang. Jangan sampai dia hilang lagi, kamu tidak kasian pada Ainun dan aku?" Kataku pada Sintha, dia tertunduk dan mengusap ujung matanya.
"Jadi kamu tahu sintha dimana kakakmu?" Tanya Pak Rahmat dengan nada marah pada anaknya.
"Maafkan Sintha pak... aku diancam sama kak Ainun, kalau aku bilang dia dimana." Kata Sintha bergetar.
"Yaa,ampun Sin.....kamu lihat akibatnya kan sekarang, seandainya kamu bicara... tuh,lihat kakakmu Roy tidak akan kejadian seperti itu." Kata ibu Afifah juga kesal.
"Maaf,ma...." Katanya lagi tercekik menahan isak.
"Sudahlah ma,pak...sudah ketahuan ini kak Ainun dimana.. ." Kata Roy menengahi.
"Maaf ya bro... Aku tidak bermaksud melukaimu." Kataku mendekati Roy dan merangkulnya.
"Aku yang minta maaf,by... harusnya aku bertanya dulu padamu. Tidak seharusnya aku langsung menyerangmu seperti tadi." Sesal Roy pula. Aku mengangguk dan merangkulnya erat.
"nah gitu dong....kitakan jadi adem juga melihatnya." Kata Beny yang ternyata sudah ada di depan pintu bersama yang lain.
"Salam dulu,ben....." Kata Yudi pula.l,yang ditanya hanya cengar-cengir.
"Om rapatnya sudah selesaikan?" Tanya Roy, om Hasan hanya mengangguk.
"kenapa Roy?"tanyanya pula.
"Acara anak muda segera di mulai." Kata Roy senyam senyum.
"Ayoo, kita ke markas... Sin,bawa minum dan cemilan ke markas." Katanya pada teman-temannya serta meneriaki Sintha.
Sejak acara pernikahan Ainun, rumah Roy belum benar-benar sepi. Apalagi masalah Ainun yang kabur menjadikan rumahnya ramai lagi.
"Keadaanmu bagaimana Roy? aku benar-benar minta maaf." Kataku menyesal saat tiba di samping rumah Roy yang kami jadikan markas.
"Sudah mendingan,By... tidak apa-apa kok. kuat ini..." Kata Roy sambil melihatkan otot lengannya yang tidak ada.
"Gaya mu Roy....di bant*ng Aby juga kamu sudah pingsan." Sindir Sahid pula. Kami semua tertawa,Senangnya bila akur seperti ini,semoga masalah Ainun benar-benar sudah selesai besok.
...***please dukung aku yach,aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.. terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...
...###jangan lupa tinggalkan jejak yach,koment,like, dan jangan lupa vote nya juga terimakasih. ###...
__ADS_1