
Tidak seperti biasanya aku bangun lebih awal, senang sekali rasanya sudah berada di kampung sendiri. Aku melangkahkan kaki menuju taman belakang rumah menikmati udara pagi yang cukup dingin, segar....nyaman sekali.... Aku menghirup udara cukup dalam sambil merentangkan tangan dan memejamkan mata..Menikmati sensasi yng berbeda dari beberapa bulan yang lalu di kampung orang.
"Sudah bangun,By..."sapa bapak saat melewatiku yang sedang duduk menghadap ke kebun sayur mama.
"Iya,pak....kangen dengan udara kampung."Jawabku sopan.
Bapak hanya mengangguk dan berjalan memetik beberapa cabai yang sudah memerah.
" Kalau masih banyak pohon seperti ini tentu udaranya masih bersih... pernafasan juga terasa lega tidak seperti di kota, pagipun sudah banyak polusi,bikin sesak." Kata bapak kembali menjelaskan.
"Iya,pak.. Lebih enak tinggal di tempat yang udaranya bersih.."Jawabku membenarkan.
Aku jarang berbicara sama bapak,tak sedekat mama. Entah karena naluri kami sebagai laki-laki yang memiliki gengsi tinggi untuk mengungkapkan rasa sayang dan perhatian atau karena intensitas kebersamaan kami yang kurang karena bapak dari dulu jarang di rumah selalu sibuk di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan rumah dan keperluan adik-adik. Kalau pun ada di rumah bapak biasanya habiskan hanya untuk tidur, aku maklum pasti lelah dengan usianya yang sudah tidak muda lagi tapi masih harus membanting tulang membiayai keluarga.
" Ansel belum bangun,By...atau tidak pulang?" Tanyanya kembali saat melihatku melamun.
" Ada di kamar,pak.. Belum bangun sepertinya masih lelah dengan perjalan kemarin." Jawabku lagi masih menatap lurus ke depan.
"Tanaman sayur mama makin banyak,pak...? Sudah ada yang berbuah juga." Kataku lagi sambil berjalan menyusuri kebun sayur mama yang tidak terlalu luas.
"Iya, lumayan untuk tambahan belanja dapur katanya dan ada tempat membuang stress kalau lagi jengkel sama Mail dan Vidya kata mama.." Ucap bapak sambil tersenyum.
Aku ikut tersenyum " Mereka masih bandel yah,pak...?"
" Iya,masih suka main di sawah... di suruh ngaji malah main lumpur." Ucap bapak lagi sambil terkekeh.
Aku tertawa mendengar penuturan bapak." Sama seperti aku yah,pak..dan Ansel?" Kataku lagi sambil tersenyum.
" Iya,kamu sama Ansel...bapak maklum karena laki-laki.. Ini Vidya ikut-ikutan sama Mail, main sama anak cowok.." Keluh bapak menghelah nafas berat seraya geleng-geleng kepala.
" Iya,pak nanti aku coba tegur Vidya juga..." Ucapku sambil tersenyum.
Senang juga meski cuma obrolan seperti ini aku bisa lebih dekat dengan bapak. Jarang sekali bisa bicara banyak seperti ini dengan bapak.
"Waah, seru sekali obrolannya.. Sampai kedengaran di dapur tawa kalian." Kata mama pula ikut bergabung di samping bapak.
__ADS_1
"Ini ma, bapak cerita soal Mail dan Vidya suka bikin mama jengkel." Ucapku sambil tersenyum.
"Iya,By... itu anak berdua setiap pulang ngaji pasti mandi lumpur. Bagaimana mama tidak jengkel bila tiap hari begitu?" Keluh mama pula.
" Kenapa tidak menyuruh Ryo dan Davina tegur mereka,ma..?" Tanyaku gemes.
" Kalau mereka yang tegur malah bikin mama tambah stres, yang ada perang ke 7 di rumah,bikin tambah pusing...." Kata mama lagi.
Aku tertawa mendengarnya, Ryo dan Davina memang tidak main-main kalau sama adik-adiknya langsung main tangan bila ada yang tidak dia sukai pada adiknya. Dan tentu saja yang kena puk**lan tidak tinggal diam, malah akan membalas, hasilnya tentu saja bikin mama pusing karena suara tangisan dan teriakan yang saling sahut menyahut.
"Nanti,ma.. Aby yang tegur...." Kataku akhirnya.
Mama mengangguk sambil memetik beberapa sayuran. Bapak sudah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu membawa beberapa cabai dalam genggaman tangannya, katanya kopinya takut dingin.
Setelah cukup lama duduk menikmati udara pagi, matahari makin tinggi aku memutuskan masuk ke dalam rumah untuk bersih-bersih dan sarapan tentunya.
Saat aku menikmati sarapan pagi nasi goreng buatan Davina, Ansel keluar dari kamar. Berjalan terhuyung mengucek matanya.
"Bangun jam berapa kak? Aku kira sudah ada di rumah nenek?" Ucapnya berjalan menuju meja makan hendak menyendok nasi goreng juga.
" Ketularan Beny yak kak....Lebay,"Ucapnya kesal.
" Cuci muka dulu... jorok tau, belum cuci muka langsung makan." Kataku ketus.
Akhirnya dia meletakkan piringnya kembali dan berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Tidak lama Ansel sudah kembali ke meja makan dengan wajah berseri menyendok nasi goreng dengan semangat hingga isi piringnya mengunung.
Lagi-lagi aku menegurnya..." Ingat yang di belakang,sel..."
"Iya,kakak Abyan yang terhormat..." Serunya kesal.
"Pulang ke rumah kok bikin kak Aby jadi lebih cerewet siih...." Keluhnya seraya duduk di hadapanku.
"Bukan cerewet Ansel ganteng....cuma mengingatkan." Tegasku kembali sambil tersenyum sok manis.
Ansel hanya mencibir dan mengunyah nasi goreng dengan lahapnya. Aku hanya mengeleng-geleng melihatnya. Kami makan dengan lahap, begitu rindu dengan masakan rumah.
__ADS_1
Seharian aku dan Ansel hanya menghabiskan waktu kami di rumah hingga lupa dengan janjian kami di rumah Riyan. Aku masih asyikk main dengan adik bungsuku saat Ansel menerima telpon dari Beny. Cukup lama aku mendengarnya berbicara hingga Ansel memutuskan panggilannya dengan kesal. Aku tahu pasti Beny mengganggu Ansel dengan berbicara sok manja dan mesra.
" Kenapa sel..siapa yang telpon...? Kenapa kelihatan kesal begitu...?" Tanyaku sok penasaran.
" Beny,nanyain kenapa tidak ke rumah Riyan tadi siang, katanya anak - anak bakar - bakaran ikan sama ayam." Jelasnya seraya duduk di dekatku sambil menghujani ciuman pada si bontot, Reski yang tak hentinya tertawa kegelian.
" Terus....ciluk baahh....katanya nanti....ciiilllluuukk.......setelah magrib.......baabkkk..... nyuruh kita kesana....baaakkkk.....masih pada.... ciiillukkk........ ngumpul..... bbbaaakkk.....katanya..." Kata Ansel lagi sambil bermain dengan Reski yang terus tertawa-tawa.
" Apa siih,sel..tidak jelas kamu..." Kataku kesal.
" Hahahaha....habis Reski maki gemes kak..," Katanya Ansel tertawa terus menciumi Reski.
Akhirnya kuraih Reski ke dalam pangkuanku, agar Ansel berkata lebih jelas.
" Yang jelas ngomongnya,Sel....." Titahku kesal.
" Beny nyuruh kita kesana setelah magrib, wajib-harus katanya mereka menunggu. Sebenarnya siih aku masih malas keluar kak. Masih betah di rumah aja dulu...." Keluh Ansel panjang lebar sambil tak henti bermain ciluk bak tanpa suara dengan Reski.
" Iyaa,aku juga masih malas kemana-mana..." Kataku pula memasang tampang lemes.
" Ya,sudah tunggu saja telponnya lagi nanti sore, kalau masih nelpon yang terpaksa kita kesana tapi kalau tidak,yaa...tidak usah..." Putus Ansel lagi. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Tatta...tatta....uyun..kii..uyun..kii..." Kata cadel Reski sambil menarik-narik bajuku memintaku untuk menurunkannya dari pangkuanku.
Aku menurunkannya dan membiarkannya kembali bermain dengan Ansel dan mainannya yang berserakan dimana-mana.
Tidak terasa waktu berputar hingga sore hari Aku, Ansel tertidur di ruang tengan dengan berbagai mainan yang berserakan. Tadi kami bermain sangat riuh karena Ryo, Davina, Yuyun, Mail dan Vidya ikut bergabung. Baru kali ini kami berkumpul bersamaan dan bermain dengan sibontot Reski hingga tertidur bersama di ruang keluarga. Indahnya kebersamaan kami, semoga hingga menua nanti kami tetap seakur ini.
(Bersambung)
***maaf Up nya lama reader cantik N ganteng.....akibat kesibukan di dunia nyata yang tidak bisa dihindari,maaf yaahh.....***
Happy Reading......
...***please dukung aku yach,aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.. terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...
__ADS_1
...###jangan lupa tinggalkan jejak yach,koment,like, dan jangan lupa vote nya juga terimakasih. ###...