
Beberapa bulan berlalu setelah kejadian kami memukuli Kifly. Aku mendengar kabar kalau dia sudah pulang ke rumah, kondisinya sudah lebih baik. Setelah mendapatkan informasi dari Yudi kalau situasi sudah aman, kami semua berencana untuk pulang. Lumayan selama pelarian bukan hanya sekedar bersembunyi kami juga mencari pekerjaan sebagai penyambung hidup di kampung orang.
Hasil bisa kami gunakan sebagai untuk makan sehari-hari dan ongkos untuk pulang tentunya.
Temanku Yoga sangat baik beserta keluarganya,tapi kami tetap tahu diri jadi kami hanya beberapa hari menginap di rumahnya lalu pamit dan lebih memilih tinggal di tempat kerja.
Hidup berpindah-pindah selama di kampung orang sunggu menyiksa, rindu dengan suasana rumah. Meski sering komunikasi dengan adik-adik, mama dan bapak, tentu berbeda bila bisa bertemu setiap hari. Enam bulan dalam pelarian membuat kami tidak sabaran untuk kembali. Tepat hari ini kami sudah bersiap-siap untuk pulang besok hari.
"Kak Byan,nanti kesini lagi tidak?" Tanya Naila manja padaku. Kami sedang menikmati udara siang hari di depan mes pekerja. Sejuk di bawah pohon jambu air.
"Iya,Nay...kalau tidak ada halangan aku akan kesini lagi." Kataku sambil tersenyum menenangkannya.
Naila pacarku selama disini,rumahnya beberapa rumah dari mes tempatku menginap. Membuatnya sering main ke mes meski hanya nongkrong di bawah pohon jambu seperti sekarang. Di depan mes memang disiapkan tempat istrihat seperti bangku taman. Bagaimana dengan nama-nama wanita yang selalu di absen Ansel? tentunya masih sama tapi hanya sebatas komunikasi lewat telepon,Naila mana tahu.
"Janji yah? sering-sering telpon juga yah....?" Ucapnya merajuk.
"Iya...kalau sudah sampai di rumah nanti langsung kok." Kataku lagi mengusap lembut kepalanya seraya tersenyum manis.
" Pacaran terus... barang bawaan sudah siap belum ini." Ucap Riyan meledek kami seraya duduk di sebelahku.
"Bilang saja sirik..."Jawabku sambil tersenyum mengejek.
" Ngapain...pacarku lagi menunggu di kampung." Ucap Riyan membanggakan kesetiaannya.
" Iyaa,tahu playboy kampung." Kataku sambil tertawa.
" Malah disini..sudah pada siap belum ini?" Kata Sahid pula turut bergabung bersama kami.
" Sudah siap,Ansel mana?" Kataku balik tanya.
"Ansel tidak jauh beda sama kakaknya.Tuh lagi mojok." Ucap Sahid sambil menunjuk samping mes yang memang memiliki bangku taman pula.
Kami serentak menoleh melihat Ansel yang sedang ngobrol dengan Melati, sepertinya obrolan mereka lebih berat daripada kami.
"Hai,sel.....sudah siap belum.Nanti saja lanjut ngobrolnya di telpon." Teriak Riyan mulai bosan.
Ansel hanya menoleh dan mangajukan jempolnya.
__ADS_1
Setelah pamit dengan Naila,kami semua menuju terminal menggunakan mobil yang sengaja pinjam untuk mengantarkan kami. Yoga sebenarnya menawarkan ingin mengantar kami sampai di rumah masing-masing, tapi kami merasa tidak enak hati terlalu banyak merepotkannya selama ada di kota ini. Yoga sudah sangat membantu kami dan akhirnya kami setuju hanya di antar sampai di terminal saja. Begitu banyak barang bawaan sebagai oleh-oleh yang kami bawa lebih banyak buah tangan dari keluarga yoga sih sebenarnya.
Perjalanan yang melelahkan, cukup memakan waktu dan energi. Setelah masuk waktu shalat isya kami sudah sampai di terminal. Perjalan memakan waktu 6 jam membuat badan kami serasa remuk karena mobil yang kami tumpangi penuh sesak,sambil membawa barang masing-masing kami berjalan keluar terminal mencari keberadaan Yudi yang katanya ingin menjemput kami.
"Kakak,Aby.....!!!!" Terdengar teriak memanggil namaku, kami semua mencari keberadaan suara yang terdengar.
Kami tahu pasti Beny, paling rame kalau ada dia, benar saja dari jauh Beny terlihat tak berhenti melambaikan tangannya dan tak hentinya tersenyum kearah kami.
"Tidak berubah kamu , Ben...." Ucap Ansel sambil merangkul leher Beny, saat kami sudah berhadapan dengan Beny dan Yudi.
"Eerghh.... sakit,Sel......" Ucap Beny berusaha melepaskan diri dari rangkulan Ansel.
"Apa kabar kalian...??" Sapa Yudi pula sambil tersenyum menjabat tangan persabatan pada kami satu persatu.
"Alhamdulillah,baik..Yud..." Sambut Sahid sambil tersenyum,diamini dengan anggukanku bersama Riyan.
"Selamat datang kembali...." Kata Beny bak pelayan hotel yang menjemput tamunya. Serentak kami semua menyerang Beny dan merangkulnya erat.
"Hhmm....huuffh.....erghh...." Teriak Beny tidak karuan terhimpit oleh tubuh kami berempat.Yudi hanya tertawa-tawa melihat tingkah kami.
"Haahhh....huuhhh...huuffhhh.....kalian.... mau bunuh...... aku yah......" Omel Beny ngos-ngosan saat kami sudah melepaskannya.
"Oyaa,Roy tak ikut menjemput...?" Tanya Ansel pula sambil melihat sekitar mencari Roy.
"Katanya besok saja ketemu di rumah Riyan. Dia lagi banyak kerjaan,pak Rahmat ngasih dia setumpuk kerjaan setiap hari."Jelas Beny mulai mengatur nafasnya normal.
"Ayoo jalan..panas ini,malah ngobrol disini." Keluh Beny lagi akhirnya,sudah lelah jadi bulian kami.
"Iya ayoo...mau kemana ini? Langsung pulang atau nongki-nongki dulu?" Tanya Yudi sambil berjalan ke arah mobil yang ternyata tidak jauh tempatnya parkir.
"Pulang dulu deh.....Asli cape...." Kata Ansel pula dengan wajah memelas.
"Besok aja kumpulnya di rumah Riyan...."Sahutku pula membenarkan.
"Ok...Ayoo....." Sahut Yudi sambil tancap gas.
"Bagaimana kabar Yoga...?" Tanya Yudi kembali sambil menyetir mobil.
__ADS_1
"Alhamdulillah,semua sehat. Yoga titip salah buat kalian semua... Katanya kalau ada kesempatan kesanalah jalan-jalan...."Jawabku sambil melihat ke arah kiri dan kanan. Lumayan rindu dengan kondisi kampung halaman. Meskipun gelap, setidaknya masih cukup bisa melihat dengan bantuan lampu jalan.
"Waalaikumsalam..." Jawabnya serentak.
"Oleh-oleh ada tidak....?"Tanya Beny pula.
"Buat Yudi ada,buat kamu tidak..."Sahut Sahid pula,diikuti tawa kami semua.
Beny hanya cemberut dan menarik nafas panjang.
"Tenang,Ben...ada kok,,,," Kata Riyan menghibur.
"Riyan memang is the Best deh....paling sayaaanggg samaaa Riyaan......" Kata Beny sok dramatis dengan senyum kebahagiaan ingin memeluk Riyan.
"Tapiiii.......Bohong... Hahahaha.... "Ucap Riyan tebahak. Aku tahu Beny pasti jengkel dibuatnya. Terbukti dengan dia diam saja tanpa merespon kata-kata Riyan.
" Ada kok,Ben.. besok yah di rumah Riyan..."jawabku pula sedikit lemas, kasihan juga melihatnya selalu dijahili. Daripda nanti makin panjang lebih baik jadi penengah pula.
"iya.... Abyan memang yang paling tulus.." gumamnya pelan tapi masih bisa kami dengar.
Hinggal akhir nya sudah tak ada yang bersuara. Selang 15 menit kami sudah sampai, pertama Yudi mengantar Sahid lalu Riyan dan terakhir aku, Ansel dan Beny.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 malam saat aku memasuk rumah. Mama kelihatan sudah tidur saat kami mengetuk pintu terlihat dari raut wajahnya menahan ngantuk saat membukakan kami pintu rumah.
"Bapak mana,ma..?kok mama yang buka...?" Tanyaku sambil menjinjing barang-barang yang aku bawa.
"Sudah tidur, cape pulang dari sawah tadi sore.." Jawabannya sambil berlalu kembali masuk ke kamar.
"Kalian istirahatlah..besok baru ngobrol...." Teriaknya lagi dari dalam kamar.
Aku dan Ansel bersih-bersih diri sebelum merebahkan diri ditempat tidur.
(Bersambung)
***maaf Up nya lama akibat kesibukan di dunia nyata yang tidak bisa dihindari***
Happy Reading......
__ADS_1
...***please dukung aku yach,aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.. terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...
...###jangan lupa tinggalkan jejak yach,koment,like, dan jangan lupa vote nya juga terimakasih. ###...