True Love Bad Boy

True Love Bad Boy
Menemukan Ainun


__ADS_3

Sesuai kesepakatan tadi malam, semuanya sudah berkumpul lagi dirumah pak Rahmat. Aku dan Ansel lebih memilih menginap daripada bolak balik, nanti yang ada aku di curigai lagi sudah mengatur semuanya oleh om Ridwan, bila Ainun kabur lagi. Aku sangat berharap Sintha benar-benar tidak memberi tahu kakaknya tentang rencana kami.


Pukul 09.00 pagi kami sudah duduk kembali di ruang tamu rumah pak Rahmat berbincang sebelum menuju rumah pak rahman menjemput Ainun.


"Sudah bicara sama Ainun,by..." Tanya om Hasan padaku.


"Belum om,ini saya baru mau telpon." Jawabku sambil memencet nomor hp Ainun.


Tidak menunggu lama Ainun mengangkat telponnya "Halo, By.....jadi kesini..?jam berapa..?" Tanya Ainun manja.


Seperti semalam aku mengaktifkan loudspeaker ponselku lagi "iya,Ay...nanti aku kesitu, ini aku lagi bantu om perbaiki pipa air yang lepas. Maaf,ya...setelah ini aku jalan."Kataku sedikit memelas.


Bukan karena apa,dengan yang lain mungkin aku biasa berbohong tapi dengan Ainun baru kali ini melakukannya. Iya,banyak wanita yang dekat denganku tanpa sepengetahuan Ainun, tapi bila berhubungan dengan Ainun aku mengabaikan semuanya dan fokus pada Ainun.Yaa,secinta itu aku padanya meski tidak bisa kupungkiri kalau aku laki-laki yang sama seperti laki-laki lain selalu jelalatan bila melihat yang bening-bening diluar sana.


"Iya,By....tak Apa,aku menunggumu."ucapnya lembut,membuatku makin merasa bersalah.


"Maaf yah,Ay....." Kataku lirih.


"Ada apa,By... Sejak semalam kamu sering sekali minta maaf?apa kamu bikin masalah lagi?" Tanya Ainun khawatir.


Aku tahu dia mulai curiga, Ainun sangat tahu sekali tentang aku. Ah, kenapa aku tidak nekat saja melamarnya waktu Ainun belum jadi istri orang.Sekarang aku benar-benar merasa kehilangan, Ainun paling mengerti aku meski aku tidak mengatakan apapun,Ainun tahu harus bagaimana menenangkanku kala aku benar-benar sedang emosi dan gusar.Benar-benar aku kehilanganmu,Ay...Batinku.Aku merasakan panas dimataku sambil memandang layar ponselku. Aku berusaha menenangkan diriku, kuat Abyan gengsi bila sampai kamu meneteskan airmata.


"Tidak,Ay... maksudnya aku mungkin sedikit lambat dari janjian kita." Ucapku mengalihkan.


"Iya,tak masalah,By...ya sudah selesaikan kerjaanmu lalu kemari. Aku tutup yah,By...." Ucapnya kembali menutup panggilan tanpa aku jawab.


"sebaiknya bapak dan om berangkat sekarang." Kataku setelah yakin panggilan Ainun benar-benar sudah terputus.


"Iya,ayo...Rahmat,Ridwan. Aku juga sudah bicara dengan Rahman tadi. Dia sudah menunggu kita katanya tapi katanya Ainun tidak dirumahnya,Dia sudah memeriksa kamar Evi dan Jihan." Ucap Om Hasan panjang lebar.


"Apa om?Tidak ada?" Tanyaku kaget.


Om Hasan hanya mengangguk "Ayoo,kita lihat.." Katanya kembali dan keluar rumah. Dengan menggunakan mobil mereka bertiga menuju rumah pak Rahman.


"Bagaimana menurutmu,By.. Kita jalan sekarang?" kata Roy pula saat mobil omnya sudah hilang dari pandangan.


"Ayoo,tapi aku sama siapa?" Tanyaku saat melihat Ansel sudah duduk di boncengan motor Roy.. Mereka hanya menertawakaku, Syukurnya tidak lama muncul Riyan, Akhirnya kami berempat menyusul kerumah pak Rahman. Aku menyuruh Riyan berhenti saat sudah dekat dari rumah om Rahman.


"Kenapa By?" Tanya Riyan kala aku tepuk pundaknya untuk berhenti.


"Kita tunggu disini." Kataku sambil meraih ponsel disaku celana.


"Halo Roy,putar balik... Kangan sampai di depan rumah, nanti kita ketahuan...." Kataku saat Roy mengangkat telponku, untungnya dia belum sampai di depan rumah om Rahman.


Tanpa menunggu jawaban Roy aku mematikan panggilan.Aku lihat dia benar memutar balik motornya,dan bergabung bersamaku dan Riyan.


"Lalu bagaimana?" Tanyanya saat ada dihadapanku.Aku mulai berpikir.


"Telpon om Hasan,tanyakan apa Ainun ada tapi katakan padanya jangan menyebut nama atau memperjelas kalau dia bicara denganmu." Kataku menjelaskan. Roy mengangguk dan mulai menelpon.


"Ayoo,By..." Katanya setelah panggilannya ditutup.


"Apa...?" Tanyaku heran dan bingung.

__ADS_1


"Ainun tidak ada katanya...." Kata Roy.


"Tunggu aku telpon Ainun kembali." Kataku meraih ponselku,tapi ternyata ainun lebih dulu menghubungiku.


"Halo,Ay..kamu dimana? Aku di depan rumah om rahman ini?" Ucapku cepat. Sambil memberi isyarat pada Roy dan Ansel bersembunyi beserta sepeda motornya.


"Kita tidak usah bertemu di rumah, aku sedang berjalan mencari angkot. Bapak dan om tiba-tiba ada dirumah om Rahman." Katanya seperti orang dikejar.


"Mau kemana?" Tanyaku.


" Ketemu di terminal saja yah?" Katanya lagi.


"Berikan ponselnya pada Jihan, aku mau bicara." Kataku tegas.


"Kenapa,,? Nanti saja bicaranya bila sudah di terminal." Ucapnya lagi.


"Berhenti,Ay...tunggu aku disitu. Berikan ponselnya pada Jihan" Kataku sudah tidak sabar.


"Halo kak Aby...ini Jihan.." Kata jihan tersendat-sendat.


"Han, bawa pulang kak Ainun sekarang." Kataku.


"Kemana kak?" Tanya jihan lagi.


"Kerumah kamu sekarang, aku tunggu 5 menit."kl Kataku pada jihan tegas, lalu memutuskan sambungan telpon.


Aku benar-benar panik dibuat Ainun,apa maksudnya coba, dia benar-benar ingin merusak namaku kalau seperti ini.


"Bagaimana, By...?" Tanya Roy yang melihatku sedikit gusar.


"Sebaiknya kamu dan Ansel bersembunyi dulu. Bila kalian sudah melihat Ainun berjalan mendekatiku hubungi om Hasan agar segera kesini." Kataku kembali pada Roy.


Cukup lama aku menunggu, Ainun belum muncul. Aku mulai tidak sabar ingin meraih ponselku untuk menghubunginya, sampai ada yang menepuk bahuku dari belakang. Hampir saja aku terloncat memeluknya sampai aku sadar itu istri orang. Ainun tersenyum manis padaku dan juga Riyan.


"Katanya sama Ansel?" Ucapnya mencari keberadaan Ansel.


"Tidak,Ansel tidak punya motor,mending sama Riyan." Kataku ikut tersenyum.


"Jadi aku cuma dimanfaatkan niih.." Kata Riyan sok kesal.


"Huussstt......jangan berisik, ganggu saja.tuch tepokin nyamuk dengan benar saja,usir lalat niih banyak...." Ucapku sambil mengibas-ngibaskan tangan mengejek Riyan,mengalihkan rasa cemas dan was-was serta berbagi rasa yang sebenarnya menyelimuti hatiku.


Ah,andai semua tahu hatiku sebenarnya masih hancur, hatiku masih luka. Kemarin aku menghindar untuk mengobatinya, belum kering kini basah lagi melihat senyuman dan wajah Ainun di hadapanku.


"Kok melamun,By...?" Tanyanya saat kami sudah berdua.


Aku tahu Riyan pasti sudah menarik Jihan menjauh dari kami, mereka mungkin sudah bergabung dengan Roy dan Ansel yang entah dimana bersembunyi.


"Tidak Ay....aku hanya merasa seperti mimpi masih bisa berbicara denganmu sedekat ini, status kita sudah beda." Kataku jujur.


"Maaf bila belakang ini aku menghindarimu." Kataku lagi.


"Kata maaf sekarang sudah jadi gaya bicaramu yah,By..." Ucapnya meledekku. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Ay,kamu mau kemana? pulang yah, jangan seperti ini?" Kataku akhirnya sudah cukup berbasa basi dengan Ainun.


Ainun diam. Aku tahu perasaannya sedang campur aduk. Aku juga sama, tapi aku ingin berbesar hati melepas cintaku padanya, asal dia berbahagia dengan pilihan orangtuanya.


"Aku tidak tahu,By.. Aku hanya ingi pergi jauh untung menenangkan diri. Kak Hendra baik,By... tapi aku tidak bisa memberinya harapan palsu dengan pura-pura bahagia ada disampingnya." Kini Ainun menagis setelah mengatakannya.


Aku sangat ingin memeluk menenangkannya,tapi aku tahu banyak mata yang sedang mengawasi kami apalagi posisi kami yang sedang berada di tepi jalan.


"Ay,ini berat untuk kita berdua. Jujur aku juga kehilanganmu. Aku juga sakit, kecewa, marah, sedih tapi...semua sudah terjadi Ay,, Maaf,ini salahku yang tidak ada daya memperjuangkanmu.." Kataku seraya tertunduk.


Ini kali pertamaku bicara jujur memperlihatkan kerapuhanku pada Ainun setelah lamaran Hendra waktu itu.


Ainun menoleh padaku, menatapku lekat. "By,benar kamu sesedih ini kehilanganku?" tanyanya lirih.


"Kita masih bisa bersama,By...aku akan pergi,dan kita bisa memulainya kembali meski untuk sementara kita LDR yah?" Katanya menyakinkanku.


"Apa yang kamu pikirkan,Ay..?" Tanyaku memandang nanar padanya.


"Aku ingin pergi ke kota Mx, lamaran kerjaku diterima di perusahaan NM, aku akan bekerja dan sementara menenangkan diri disana. Aku akan pulang disaat semuanya sudah menerima keputusanku." Katanya menjelaskan penuh keyakinan.


Aku sunggup terkejut mendengar penjelasannya "Ay, Bagaimana dengan bapak dan mama? kamu tidak mengiraukan perasan mereka? Hendra mungkin tidak masalah, dia bisa menikah lagi atau mungkin megejarmu sampai disana."tanyaku tidak habis pikir.


Ainun tersenyum sedih "Aku tahu,By..aku sudah mempermalukan mereka tapi,aku benar-benar tidak yakin bisa menjalani pernikahan ini."


"Kenapa tidak menolak dari awal,Ay..bila memang kamu tidak mau." Aku sudah mulai hilang sabar dibuatnya.


"Harusnya kamu menolak, daripada bertindak seperti ini. Bukan hanya orangtuamu yang malu, tapi aku juga jadi sasaran amukan keluargamu. Mereka tahu Ay,, Mereka tahu tentang kita." Sungguh aku sudah tidak bisa membendung semua rasa yang kutahan selama ini,tuduhan Om Ridwan, perkelahianku dengan Roy. Semuanya terbayang sekarang, dan itu membuat emosiku memuncak.


Ainun kaget mendengar suaraku yang mulai meninggi " Kenapa,By... Apa yang terjadi saat aku pergi? Sintha tidak menceritakan apapun padaku.." Katanya bingung dan berubah khawatir.


"Pulanglah,Ay... Aku mohon, sungguh aku menyesal dengan yang terjadi antara kita. Sungguh aku sangat sedih melihat kenyataan kalau kamu sudah menjadi istri orang lain,Tapi aku mohon, Ay...kembalilah demi orangtuamu." Kataku sambil berusaha menenangkan diri.


" Tidak, By... aku tidak mau.. Aku harus ke kota Mx untuk interview dan memulai mimpi kita." Ainun menentangku.


Dia sudah beranjak ingin pergi, aku mulai gelisah melihat kesana kemari..Dimana Roy dan yang lain bersembunyi, mengapa om Hasan dan pak Rahmat belum muncul.


" Tunggu,Ay...jangan seperti ini." Kataku masih menahannya. Aduh,mana siih mereka semua.batinku.


" Apalagi,By.. kalau kamu tidak ingin mendukungku tidak masalah. Yang jelas aku tidak bisa melanjutkan pernikahanku kembali denganmu ataupun tanpamu." Katanya kembali hendak berlalu. Aku ternganga mendengarnya,maksudnya apa nih.


"Ainun....!!!" Teriakan yang membuat kami sama-sama menoleh kearah asal suara. Tampak pak Rahmat, om Hasan dan yang lain sudah berdiri di belakang kami berjejeran seperti barisan palang bambu. Aku bernafas lega, akhirnya mereka datang juga.


"Ayoo ke rumah om Rahman,kita bicara disana." Kata om Hasan memberi isyarat padaku. Aku mengangguk dan memperhatikan eskpresi Ainun yang sangat terkejut.


"Ayoo,Ay..." Ajakku membuyarkan lamunannya.


Ainun melangkah lemah dihadapanku, dia bergandeng dengan Jihan andai tidak dia mungkin sudah terjatuh.


"Kenapa lama sekali baru memanggil om Hasan?Hampir saja kakakmu kabur lagi tadi." Bisikku kesal pada Roy.


Roy hanya tersenyum "Permintaan Ansel katanya biar kakaknya bisa bicara dari hati ke hati hingga benar - benar bisa melepaskan kakakku. Biar lebih plong katanya" Ucap Roy menepuk bahuku.


Aku sempat terpaku menghentikan langkahku, adikku benar-benar...maksudnya apa coba,yang ada tambah membuat lukaku makin parah ini berlama-lama dengan Ainun tadi.

__ADS_1


...***please dukung aku yach,aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.. terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...


...###jangan lupa tinggalkan jejak yach,koment,like, dan jangan lupa vote nya juga terimakasih. ###...


__ADS_2