
" Mel... " panggilku.
Melly mengangkat kepalanya sambil berucap dengan lirih " Aku suka sama kamu...."
Aku menarik nafas dalam sebelum mejawabnya kembali, bangga? Jelas... Lelaki mana yang tidak merasa tersanjung, tidak memiliki apa - apa tapi bikin cewek-cewek klepek - klepek. Tapi aku tidak egois memanfaatkan mereka, aku tahu tidak bisa memberi harapan pada semua cewek.
" Maaf, Mel.. Maksudnya apa yah? Aku tidak mau membuatmu salah paham dengan sikapku ke kamu karena aku hanya menganggapmu sebatas teman, kamu pahamkan?"Jelasku panjang lebar pada Melly.
" Byan, apa tidak bisa lebih? Kita sudah kenal lama? Dan rasa yang aku punya padamu sepertinya cukup jelas untuk kita menjalin hubungan yang lebih pasti?" Ucapan Melly serius dan penuh harap padaku.
Aku kembali menarik nafas dalam kembali, aku menatap manik mata Melly dia juga sedang menatapku. Cantik iya, tapi aku tidak bisa memberinya harapan lebih dari teman dan hanya menganggapnya sebagai seorang adik karena Ansel punya rasa padanya.
" Mel, kamu sudah bertemu Ansel?" Tanyaku kembali, tidak menggubris kata-katanya.
" Belum, Ansel selalu menelpon mengajakku bertemu tapi aku selalu mencari alasan untuk menolaknya." Ucap Melly kembali pelan.
" Hai, katanya sibuk?" Sapa Ansel tiba - tiba. Iya aku memang sempat mengirim pesan padanya tadi sebelum mengajak Melly pergi.
" Dapat kaosnya...?" Aku mengalihkan perhatian Ansel agar tidak melihat wajah terkejut Melly terlalu lama.
Ansel hanya mengangguk sambil tersenyum dan kembali mengajak Melly berbicara " Dari mana kok bisa sama Kak Byan?" Tanyanya masih penasaran.
" Tadi ke rumah nenek, aku langsung ajak kesini saja supaya bisa bertemu dengan kamu." Ucapku cepat. Aku takut Melly mengatakan yang sebenarnya kalau dia ingin bertemu denganku bukan bertemu Ansel.
" Yah, sudah aku duluan... Masih ada urusan..." Kataku lalu berdiri, aku melihat ketidakrelaan Melly kutinggalkan bersama Ansel. Aku hanya tersenyum dan segera berlalu, lega sudah mempertemukan mereka semoga tidak ada masalah.
Akhirnya aku berjalan masuk ke arah pasar, yah aku ingat farfumku habis sekalian beli dulu sebelum pulang.
Cukup lama ternyata aku memilih wangi farfum yang kuinginkan, tidak terasa 2 jam berlalu begitu cepat hampir memasuk waktu magrib. Aku bergegas menunggu angkot yang menuju arah rumahku. Setiba di rumah aku buru-buru membersihkan diri sebelum larut malam, aku harus ke rumah Riyan. Malam ini kita semua janjian kumpul disana.
Setelah mandi aku sudah bersiap - siap untuk keluar lagi. Aku mencari Ansel, tadi sempat berpapasan depan pintu saat aku hendak masuk ke dalam rumah.
" Ansel mana dek?" Tanyaku pada Davina, adik perempuan pertamaku.
" Kak Ansel sudah pergi, kak. Tadi hanya mengganti baju saja.." Sahut Davina tanpa menoleh padaku,dia sedang serius mengerjakan tugas sekolahnya.
Aku hanya tercenung mendengarnya, kuusap kepala adikku dan berlalu. Mungkin Ansel menungguku di rumah nenek. Aku melangkah dengan buru-buru sambil menyuruh Davina menutup pintu. Aku berjalan menyusuri jalan di kegelapan, rumah nenekku tidak begitu jauh dari rumah orangtuaku cukup dengan berjalan kaki. Rumah teman-temanku pun sama, aku hanya berjalan kaki bilang ingin kesana.
Sampai di rumah nenek aku juga tidak menemukan Ansel, aku langsung ke dapur dan mengambil segelas air putih untuk lepaskan dahagaku berjalan tadi. Sepertinya tadi aku berlari, tidak mungkin sehaus ini bila aku berjalan santai. Tanpa menegur penghuni rumah, kulanjutkan perjalananku menuju rumah Riyan.
__ADS_1
" Aby .... Abyan ....." Baru beberapa langkah aku mendengar ada yang memanggil. Tampak Beny buru - buru memakir motorx dan berlari ke arahku.
" Ada apa?" Tanyaku heran.
" Kamu dari mana, aku barusan ke rumahmu kata adikmu,kamu ke rumah Riyan. Aku juga kesana dan kamu tidak ada?" Ucapnya tampak cemas.
" Ini Aku baru mau ke rumah Riyan, ada apa kamu mencariku?" Kataku kembali.
" Ansel rese, sepertinya dia mabuk berat... Sekarang dia ada di rumah Yudi, menantang semua orang yang ada disana dengan par*ng." Jelas Beny kembali panik.
" Astaga.... Ayoo, cepat kesana.....!!" Kataku kaget, aku menarik Beny untuk menaiki motornya dan segera mengantarku ke rumah Yudi.
" SIAPA YANG BERANI...!!! MAJU SATU PERSATU KALAU KALIAN JANTAN...!!!!" Suara teriakan Ansel sudah terdengar olehku.
Aku melihatnya sudah mengacungkan sebilah par*ng. Semua orang terlihat ketakutan,tidak ada yang berani mendekat padanya.
" ANSEL.......!!!" Teriakku sambil berjalan ke arahnya.
Ansel menoleh melihatku dan malah tertawa " kenapa kemari kakakku.....? Mau pamer kamu kak....?"
" Selamat kakakku sayang....." Ucapannya kembali sambil tertawa-tawa.
Ansel kembali tertawa dan berkata"Bangga kamu kak,Melly lebih memilih mu daripada aku.Malah kalian sudah jadian tadi,iyakan?"
Aku kaget dengan ucapannya " Siapa yang bilang?"
Ansel tersenyum sinis " Dion, melihat kalian tadi pegangan tangan naik di angkot dan makan bersamaan di warung." Katanya ketus padaku.
" Astaga,Ansel...!! Dion kamu percaya, seperti kamu baru kenal dia saja. Itu anak kan memang biang gosip, persis ibu-ibu rumpi..."Jelasku gemes.
"Aku tadi mengajak Melly ke warung dekat pasar karena aku tahu kamu sedang disana.Bukannya tadi aku mengirimkan pesan untuk menemuinya?" Kataku kembali.
Ansel hanya tersenyum sinis kembali berdiri dan berbicara tidak jelas.Aku memanggil Beny untuk membantuku membawanya pulang.
"Ben,antar kami yah,kerumah nenek sajalah terlalu malam untuk pulang ke rumah." Kataku dan di sambut anggukkan oleh Beny.
"Yud,kami pulang...Terimakasih yah...." Kataku pula pada Yudi dan di jawab anggukan olehnya.
Akhirnya aku dan Ansel di bonceng Beny ke rumah nenek.Aku memapah Ansel masuk kerumah nenek,kebetulan om yang tinggal bersama nenek belum tidur dan membukakan pintu untuk kami.Ansel sudah tidak sadar waktu kubaringkan di tempat tidur.
__ADS_1
*****
Keesokan harinya aku bangun Ansel sudah tidak ada di sampingku.Aku begegas hendak ke kamar mandi membersihkan diri.Namun baru berapa langkah aku keluar kamar tiba-tiba sebuah pukul mengenai pipiku,tante dan sepupuku yang melihat berteriak histeris.Aku jatuh tapi berusaha bangun mencari siapa pelakunya.
"KENAPA,apa salahku?"Tanyaku pada Ansel.
Ansel masih mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Kakak tahu aku suka sama Melly kenapa kakak masih mendekatinya juga?" Ucapnya geram.
"Tidak,sel...kamu salah...."Sanggahku cepat.
"Aku tidak ada hati sama dia,aku hanya menganggapnya adik saja.Aku tahu kamu suka sama dia,Kenapa kamu selalu lebih percaya orang lain daripada aku sih,sel...."jawabku yang mulai kesal pula.Rasa sakit di pipiku tidak dihiraukan.Ansel masih ingin menyerangku untung nenek langsung muncul melerai kami.
"CUKUP.....!!!Hanya karena wanita kalian seperti ini.Bikin malu,pertengkaran kalian sampai terdengar di tetangga...Kalau masih mau lanjut tidak usaha ada yang menginap disini lagi...." Ucapnya tegas menatap kami satu persatu.
Syukurlah ucapan nenek bisa menahan emosi Ansel untuk menyerangku lagi.Aku hanya diam dan berlalu ke kamar mandi,meninggalkan Ansel yang masih berdiri mematung dengan tangan yang masih mengepal.Aku sudah tidak bisa menahan pipis.
Selesai menuntaskan hajat,aku keluar dari kamar mandi dan melihat sekitar mencari keberadaan Ansel untuk menyelesaikan permasalah kami tapi ternyata aku sudah tidak menemukan Ansel,kata tante Mirna dia pamit pulang ke rumah.Aku segera menghubungi Davina,adikku yang selalu bisa kuandalan untuk urusan rumah.
"Dek, Ansel ada dirumah?" SMS yang kukirim.
"Iya, kak Ansel sedang tidur kak... Baru saja tiba di rumah. Kakak lagi dimana, kenapa tidak bersama kak Ansel pulang?" Balas Davina disertai pertanyaan.
"Aku di rumah nenek,dek..Yah sudah kabari kakak kalau Ansel keluar rumah." Balasku kembali.
"Siap,bos.." Balas Davina singkat.
Aku menghelah nafas dan membaringkan tubuhku kembali di tempat tidur melayangkan pikiran dengan kejadian tadi. Entah apa yang dipikirkan Ansel hingga berani memukulku seperti itu.
Aku lega Ansel benaran pulang ke rumah,aku khawatir kalau dia keluyuran dan cari gara - gara dengan orang-orang yang bertemu dengannya. Adikku itu kadang sedikit tidak waras bilang sedang emosi seperti itu.
Aku juga tidak ingin pulang ke rumah bila kondisi Ansel seperti itu, yang ada kami akan ribut lagi. Biarlah untuk beberapa waktu seperti ini, membiarkannya tenang dulu.
Happy Reading......
...***please dukung aku yach,aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.. terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...
...###jangan lupa tinggalkan jejak yach,koment,like, dan jangan lupa vote nya juga terimakasih. ###...
__ADS_1