True Love Bad Boy

True Love Bad Boy
Mulai Berpetualang Lagi


__ADS_3

Setelah pembahasan minggu kemarin kami semua sudah sibuk mempersiapkan apa saja yang ingin dibawa ke tempat om Riswan, om dari Yudi.


Om Riswan orang yang sangat ramah,kami semua akrab dengan beliau. Meski usia kami beda jauh tapi om Riswan tidak perna memandang remeh ataupun mengucilkan kami yang memang bandel.Itu pula yang menjadi alasan Beny sangat antusias ingin ikut serta dengan kami ke tempat om Riswan.


Yaa,kali ini Beny benar-benar ikut, selama seminggu ini dia paling heboh dan paling rempong dengan segala macam bawaannya. Tidak seperti sebelumnya saat kami memiliki pekerjaan di luar kampung yang dia lakukan hanya menunggu kepulangan kami. Walau kami sering mengajaknya untuk ikut serta, meski hanya untuk sekedar jalan-jalan melihat keindahan kampung lain Beny tidak perna mau.


Keberangkatan kami kali ini bahkan sampai harus menyewa mobil untuk mengangkut barang-barang bawaan kami yang tidak akan muat bila menggunakan mobil angkutan umum. Walau kami hanya beberapa minggu disana,tapi sepertinya Beny tak ingin kecolongan bilang menginginkan sesuatu. Dia membawa banyak sekali barang yang membuat mobil penuh sesak.


"Sumpah,ini Beny mau pindah rumah yah..." Keluh Riyan sambil meletakkan koper Beny pada bagasi mobil.


"Ini siih,barang Beny semua di bagasi..." Kata Sahid pula melihat isi bagasi mobil.


"Aduuuhhh,parahnya lagi.....mau-maunya juga, kita yang di suruh angkat-angkat barangnya seperti ini,mana berat semua..." Keluh Roy pula sambil meletakkan ransel Beny lagi dan menarik nafas panjang kelelahan.


"Wiiihh,,kalian memang kawan-kawanku paling top, paling baik, paling sayaaannnggg deh......" Ucap Beny sambil berjalan cepat ke arah kami penuh senyuman.


"Astaga,Beny..itu apa lagi di punggung...." Seruku pula kaget melihat ke arah Beny.


"Ini makanan...tenang saja, semuanya kebagian kok..." Ucapnya tersenyum santai, sambil lepaskan ransel bawaannya dan meletakkan di kursi belakang. Kami semua hanya geleng-geleng melihat tingkahnya.


"Ben,coba lihat deh..bagasinya sampai sesak begitu....kamu bawa apa saja?" Tanya Ansel pula kesal.


"Hanya makanan, pakaian,dan perlengkapan sehari-hari...." Ucap Beny tanpa merasa bersalah, sambil mengingat-ingat isi masing-masing tasnya.


"Iyaa,tapi kelewatan,Ben... seperti disana tak ada makanan saja..." Omel Ansel gemes.


"Titip Beny yah nak...jewer aja kalau dia nakal...jangan biarkan jalan sendiri yah,terus kalau malam jangan dibiarkan keluar rumah yah..." Ucap ibu Marni yang berjalan ke arah kami dengan tatapan khawatir, membuyarkan perdebatan kecil kami.


"Iyaa,Bun...Kami pasti akan menjaga Beny..." Sahutku tulus seraya tersenyum, berusaha menenangkan ibunda Beny.


"Apaan siih,Bun..Beny bukan barang di titip-titip,,Beny sudah besar loh..." Ucap Beny cemberut dari dalam mobil.


"Wajar kalau bunda khawatir,Ben...kamu pergi begitu jauh, mana lama...perjalanan kamu saja itu, memakan waktu sehari semalam,tau...! Kamu juga baru kali ini pergi tidak bersama bunda dan ayah kan?" Omel Ibu Marni sendu pada Beny, berat melepai anak bungsunya.

__ADS_1


"Iya,bun..tidak usah khawatir,ada kami kok yang menemani Beny...In syaa allah aman kok,bun... Mohon doanya saja semoga kita semua sehat-sehat disana...." Ucap Yudi pula sambil tersenyum pada ibu Marni.


"Tentu,Bunda pasti akan selalu mendoakan kalian...." Ucap Ibu Marni mulai berkaca-kaca.


"Waahh,Ramai sekali...sampai penuh sesak begini...rupanya kalian semua pergi yah, pantas saja Beny ingin ikut..." Kata ibu Marni lagi saat menyadari siapa saja yang ada di dalam mobil.


"Iyaa bun...kalau begitu kami pamit,Bun...." Ucapku sopan yang masih berdiri di samping mobil seraya meraih tangan ibu Marni dan menciumnya di ikuti oleh yang lain,lalu kembali masuk ke dalam mobil.


"Doakan kami selamat sampai tujuan yaahh,Bun..." Kata Yudi yang paling akhir menyalami ibu Marni.


"Iyaa,kalian hati-hati di jalan, baik-baik di kampung orang..jaga sikap,jaga kesehatan..jangan samakan disini..." Nasehat ibu Marni pada kami.


Aku jadi teringat dengan ucapan mama dan bapak setiap aku dan Ansel keluar kampung. Ternyata kekhawatiran setiap orangtua sama, selalu berharap anaknya kembali dalam keadaan sehat dan selamat tanpa kurang satu apapun. Belum berangkat aku sudah kangen sama mama dan bapak.


Akhirnya setelah pamit dengan bunda dan ayah Beny, mobil perlahan melaju keluar dari halaman rumah Beny. Beny tanpa henti melambaikan tangan pada kedua orangtuanya,hingga benar -benar tak terlihat lagi. Bebeberapa menit berlalu kami semua terdiam tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Pejalanan kami ini pasti akan sangat melelahkan, tiba di tempat om Riswan palingan lusa.


Kami berangkat berdelapan,kak Anthon yang menyetir mobil, nanti bisa gantian dengan Yudi ataupun Roy bila merasa lelah. Kami memang hanya menyewa mobil tanpa menyewa sopir karena kebetulan kak Anthon juga ada keperluan di tempat om Riswan.


"Keripik aku mana yah.. perasaan tadi aku simpannya disini.. padahal bunda sengaja membuatkan banyak katanya untuk cemilan di jalan..." Gumam Beny masih terus mencari.


"Baru juga setengah jalan,Ben..sudah mau ngemil saja..." Kata Sahid pula menimpali.


"Bukan begitu hanya ingin memastikan saja... Sayangkan kalau ketinggalan...enak loh..." Ucap Beny sambil terus mencari.


"Nah,ini dia...!!!" Seru Beny sambil membenarkan posisi duduknya kembali.


"Aduuuhhhh,Beny....Kakiku....." Seru Riyan pula sambil memegangi pahanya kesakitan.


"Hehehe....Maaf,,maaf...." Ucap Beny sambil tersenyum kecut.


"Sudah tahu sempit,Ben..Jangan banyak bergerak...." Omel Ansel pula.


Beny,Yudi dan Riyan memang duduk berdekatan di bangku belakang supir,Ansel duduk di depan bersama kak Anthon sedang Aku, Sahid dan Roy di bangku paling belakang.

__ADS_1


"Heboh betul,kenapa siih...?" Tanya Roy yang baru saja terbangun.


"Belum juga sampai perbatasan,Ro...Kamu sudah mimpi saja..." Sindir Beny cengar-cengir.


"Ro...Ro...R O Y...Roy,,suka banget sebut nama orang asal - asalan..." Sungut Roy sambil menguap.


"Itu Beny..menginjak kakinya Riyan...." Sahut Yudi.


"Oohh....." Ucap Roy sambil membenarkan posisi tidurnya kembali.


"Semalam kamu begadang,Yah..Sejak tadi kerjamu tidur terus,atau kamu lagi kurang sehat?" Tanya Sahid pada Roy.


"Begadang....semalam mamanya Vitha minta di bantu bikin bekal untuk di bawa anaknya merantau." Gumam Roy terkantuk-kantuk.


"Bilang saja bikin bekal untuk kamu..Panjang amet..." Protes Beny.


"Yah,ngorok...kamu dicuekin,Ben... Hahaha..." Kata Sahid sambil tertawa melihat Roy yang kembali tertidur.


Akhirnya tak ada suara lagi saat kami benar-benar sudah melewati beberapa kampung,sampai kak Anthon bersuara "Ada yang mau singgah beli air minum atau buang air kecil?"Tanya kak Anthon saat melihat toko di dekat mesjid.


"Turun,Sel..Beli air putih untuk kita..." Seruku pada Ansel yang duduk di depan.


Selang beberapa menit mobil melaju kembali,aku juga sudah terkantuk-kantuk. Kulihat Sahid dan Roy benar-benar tertidur sangat nyenyak, Beny jangan ditanya, setelah menginjak kaki Riyan dia sudah tidur nyenyak mengikuti jejak Roy. Yudi dan Riyan masih asyik bertukar cerita,begitu juga dengan Ansel dan kak Anthon yang terdengar serius membahas tentang belajar menyetir, sepertinya Ansel tertarik untuk belajar menyetir mobil.


Perlahan kesadaranku makin menurun hingga aku pun tak mendengarkan apa-apa lagi, aku pun terlelap.


***maaf Slow Up reader cantik N ganteng.....akibat kesibukan di dunia nyata yang tidak bisa dihindari,maaf yaahh.....***


Happy Reading......


...***please dukung aku yach,aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.. terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...


...###jangan lupa tinggalkan jejak yach,koment,like, dan jangan lupa vote nya juga terimakasih. ###...

__ADS_1


__ADS_2