
Jam 4 subuh aku sudah tidak bisa memejamkan mata lagi hingga sayup - sayup terdengar suara azan dari mesjid yang memang tidak jauh dari rumah om Riswan.
Hari ini kami akan memulai aktivitas kami di kampung om Riswan. Bekerja seperti biasa saat merantau di kampung orang, kali ini pun kami akan bekerja sebagai buruh bangunan di sebuah perumahan yang sedang di bangun di daerah perkantoran untuk para stafnya.
Pikiranku masih melayang kemana - mana saat suara tante Rasti membangunkan kami.
" Haiii parah, lelaki bangunlah.. Hari ini adalah hari yang panjang. Kegiatan kalian banyak mulai hari ini." Seru Tante Rasti tiada henti sambil bergelut dengan aktivitasnya di dapur.
" DANTI.... WINDA...!!! Yaahh, ampun... Kalian juga belum keluar kamar..!!" Teriakan Tante Rasti lagi pada kedua anak gadisnya.
" Aduh, Tante.. Pagi sekali sudah heboh.. tidak usah repot - repot, kami bisa jajan dalam perjalanan ke tempat kerja.." Kata Yudi sebelum masuk kamar mandi membersihkan diri.
" Malaikat membagi rejeki di waktu subuh,Yud.. kalau bangun kesiangan jadi tidak dapat jatah rejeki dong." Sahut tante Rasti semangat.
" Iyaa,tante.. " Balas Yudi tak mau ambil pusing dari dalam kamar mandi.
" Kamu langsung mandi,Yud.. Biar tidak ngantri nantinya." Kata tante Rasti kembali.
Tanpa merepon ucapan tante Rasti, Yudi langsung menguyur badannya. Sudah kebiasaan dia selalu mandi pagi sebelum memulai aktivitasnya setiap hari.
" Pagi tante..." Sapa Beny seraya duduk di salah satu kursi, masih dengan muka bantal.
Tante Rasti menoleh " Yang lain sudah bangun,Ben?"
"Sudah tante.. sudah berbaris di teras sambil membungkus badan masing - masing dengan sarung mereka.." Kata Beny dan tersenyum tipis.
" Lagi apa,Ben.. sampai berbaris?" Tanya tante Rasti heran.
" Lagi lihat para gadis om Riswan kumpul sambil berenang.." Kata Beny cekikikan berlalu masuk kamar mandi saat melihat Yudi keluar.
Tante Rasti menoleh heran.." Danti dan Winda berenang?" iya merasa tak memiliki kolam renang di depan rumah. Hanya ada sungai kecil, dan tidak mungkin Danti dan Winda berenang disana.
" Maksudnya anak itiknya om Riswan tante.." Ucap Yudi menjelaskan karena melihat ekspresi tante Rasti yang tampak sangat terkejut.
__ADS_1
" Yang ampun Beny, tante pikir... " kata tante Rasti mulai mengerti dan hanya geleng-geleng kepala seraya tersenyum.
Tidak berapa lama akhirnya menu sarapan sudah siap, kami semua duduk melingkar di atas tikar seperti biasa menikmati menu sajian tante Rasti. Makan ramai-ramai sangat nikmat meski hanya menikmati sepiring nasi goreng dan dadar telur yang tersaji. Namum semua merasa sangat puas dan kekenyangan.
Setelah sarapan,kami semua sudah siap duduk di teras menunggu om Riswan yang akan mengantar dan menujukkan tempat kerja kami.
Katanya tidak begitu jauh,tapi akan sangat sulit bila kami harus pulang balik dari tempat kerja ke rumah om Riswan. Hingga om Riswan meminta pada pihak developer menyiapkan penginapan yang dekat dari lokasi pekerjaan.
" Semuanya sudah siap?" Tanya Om Riswan melihat terdiam di teras. Om Riswan tampak sudah segar dan siap untuk berangkat.
" Siap, Om.. " sahut Beny semangat.
"Tidak ada yang tertinggal kan?" Tanyanya lagi.
" In syaa allah, aman om.. Kalau pun ada yang tertinggal bisa kesini lagi. " Sahut Yudi pula yang di sambut senyuman oleh om Riswan.
"Yaa, sudah ayo berangkat." Kata om Riswan lagi.
" Tante,kami pamit yah, doakan kami sehat-sehat di tempat kerja. " Kata Sahid yang berpamitan lebih dulu dan disusul oleh yang lain.
Kami semua tenggelam dalam pikiran masing-masing sepanjang perjalanan. Jujur beberapa hari disini aku mulai rindu dengan kampung halamanku, orangtua serta adik-adikku. Meski jarang di rumah tapi setiap hari aku bisa pulang dan bertemu dengan mereka.
Suasana sunyi dipecahkan oleh suara teriakan Beny terlihat sangat terkejut dan mengusap wajahnya berulang kali " ASTAGAAAA....... "
" Apa,sih Ben.. gendang telingaku bisa rusak dengar suaramu." Keluh Roy yang memang duduk berdekatan dengan Beny.
"Kamu tidak lihat Roy,itu tadi cewek cantik sekali.. " Ucap Beny tak henti melihat ke arah belakang.
"Aku pikir apa, Ben.. Ben.. " Keluh Sahid pula sambil menggeleng - gelengkan kepala.
"Serius... Apa hanya aku yang melihatnya?" Ucap Beny kembali meyakinkan.
" Mungkin hantu,Ben.. secara ini masih pagi." Kata Riyan pula ikut berkomentar ingin menakuti Beny.
__ADS_1
"Apa mungkin, mana ada hantu yang masih berkeliaran dengan kondisi langit yang sudah kemerahan seperti itu...ini sudah sangat terang." Omel Beny seraya menunjuk kearah langit sebelah timur. Disambut cekikihan oleh yang lain.
" Bisa saja,Ben.. mbak kuntinya penasaran sama kamu jadi setia nunggu kamu lewat..hahah...." Ucap Yudi pula tertawa-tawa.
" Kalian... " Beny menarik napas dalam tidak menyelesaikan kata - katanya. " Tunggu saja saat dia muncul lagi kalian pasti akan terpesona. Aku yakin dia bukan hantu." Sambung Beny masih kesal,melihat yang lain turun satu persatu dari mobil,menyisahkan dirinya, Riyan dan aku yang berada di bangku paling belakang.
" Sudahlah,Ben... ayo turun." Ucapku sambil mendorongnya agar segera turun.
Sebenarnya aku juga melihat gadis yang dilihat Beny. Sepertinya, mungkin dia tinggal disekitar sini, artinya bisa saja kami nantinya akan sering bertemu. Aku yang memang terkadang sedikit tidak peduli dengan lingkungan sekitar terkadang memang masa bodoh dengan beberapa hal, termasuk dengan apa yang baru saja menjadi perdebatan Beny dengan yang lain soal gadis tadi.
"Yud, kesini.." Teriak om Riswan pada Yudi. Terlihat dia serius sedang berbincang dengan seseorang.
Kami memang masih berdiri di dekat mobil sambil masih bercanda, menanti om Riswan yang berbicara terlebih dahulu dengan mandor tempat kami akan bekerja.
Hanya sebentar, Yudi mendekat kembali ke arah kami. " Ayoo, turunkan barang yang di mobil,kita langsung ke basecame." Ucap Yudi sambil membuka pintu mobil.
" jauh tidak..?" Tanya sahid pula.
"Dekat. Mobil memang cuma bisa sampai disini. jalannya belum terlalu bisa dilewati mobil kecil." sambung Yudi menjelaskan kembali.
Kami semua hanya mengangguk dan mengikuti langkah Yudi. Om Riswan masih asyik berbincang di ruang tamu basecame dengan kepala mandor, sambil memperhatikan kami yang beberapa kali mondar - mandir memasukan barang ke tempat tinggal baru kami. Sebuah rumah kecil dengan ruang tamu yang menyatu dengan ruang makan, memiliki 2 kamar tidur, satu kamar mandi yang hanya terpisah sekat dengan dapur.
Setelah semua barang selesai kami pindahkan dari mobil,kami semua terpencar menelisik tempat baru kami ini. " Lumayan, memiliki perlengkapan dapur seadanya." Gumamku saat berada di dapur dan melangkah kembali ke ruang tamu.
" Kalau untuk air bersihnya dimana yah pak?" Tanyaku sopan kepada pak Agus, kepala mandor yang murah senyum.
" Ada yang nyetok setiap pagi. Kalau mau minum atau masak pakai air yang ada di galon itu." Jawabnya seraya menunjuk ke arah galon di sudut meja kompor.
"Air keran hanya dipakai untuk mandi dan nyuci yah, airnya sedikit agak bau bila hujan derasa.. tapi masih cukup bersih kalau hanya untuk mencuci dan mandi." Sambung pak Agus lagi masih dengan senyum ramahnya.
Happy Reading......
...maaf Slow Up reader cantik N ganteng.....akibat kesibukan di dunia nyata yang tidak bisa dihindari,maaf yaahh.....***...
__ADS_1
...***Aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.. terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...
...###jangan lupa tinggalkan jejak yach,koment,like, dan jangan lupa vote nya juga terimakasih. ###...