
Setelah kejadian kemarin aku dan Riyan kebanyakan diam, tidak seperti biasa saling melemparkan candaan.
Hari ini kami bekerja seperti hari-hari sebelumnya, lebih banyak fokus pada pekerjaan masing-masing. Aku lebih sering ngobrol dengan Sahid dan Roy, mungkin karen kita satu tim.
Beny jangan di tanya makin hari sudah tidak pernah mengeluh ini itu lagi soal pekerjaan bapak rumah tangganya, terlihat selalu ceria. Hehehe....
Mira, Risma dan Zahra sudah tak malu-malu lagi untuk berkunjung di rumah kami. Saat kami semua berada di rumah atau bahkan hanya ada Beny. Hubungan yang lain dengan mereka bertiga cukup dekat hanya aku, Sahid dan Yudi yang sedikit memberi jarak pada mereka. Entahlah, aku masih ingin menilai mereka wanita seperti apa dan tentunya ingin memberi kesempatan pada ke empat play*boy cap kambing itu.
Hingga sore ini keributan kembali di mulai, Tanpa kami tahu tiba-tiba Danti dan teman-temannya datang mengunjungi kami.
" Assalamualaikum..." Seru Winda saat sudah berada di depan pintu dengan wajah cerianya.
" Waalaikumsalam... Hai,Win... sama siapa?" Sambutku senang dengan senyum manis.
Kebetulan aku memang lagi berada duduk selonjoran di ruang tamu sambil bermain handphone, kami memang pulang lebih awal hari ini.
" Tuh, sama kak Danti in the genk..." Jawabnya menunjuk arah pintu seraya masuk dan ikut duduk lesehan di ruang tamu.
Ya, memang tak ada kursi pasti di ruang tamu kami. Hanya bangku kayu yang kadang tertinggal di teras depan saat kami sedang kumpul dan lupa di angkat masuk kembali.
" Siapa saja..?" Tanyaku penasaran menatap ke arah pintu. Belum sempat Winda menjawab sudah terdengar beberapa orang yang mengucapkan salam dari depan pintu.
" Eh, kalian... Ramai sekali.." Kataku menyambut semuanya tetap dengan senyum khasku, tampak Danti, Nuri, Ranti,Tania, Erni, dan Cherly.
" Ganggu tidak ini?" Tanya Ranti tersenyum manis lalu duduk di samping Winda.
" Tidaklah.. Tumben kesini? Kenapa tidak kasi kabar? Supaya kami adakan upacara penyambutan." Candaku pada mereka.
" Lebih seru jadi kejutan lah kak...." Sahut Tania pula tersenyum.
" Yang lain dimana kak?" Tanya Winda celingak-celinguk melihat ke arah dalam, rupanya dia mendengar suara ribut-ribut dari dapur.
Beny dan yang lain memang sedang berkumpul di dapur,sedang membuat aneka gorengan mumpung besok weekend katanya, pegawai kantor semua akan libur esok hari jadi tidak masalah pulang agak malam.
" Itu Beny dan yang lain lagi pada sibuk masak di dapur. Yudi lagi mandi, sahid tuh di kamar lagi tidur." Kataku lagi menjelaskan.
" Kalian pakai jasa juru tanak yah, kok ada suara cewek?" Tanya Erni penasaran.
" Ooh, paling pegawai kantor di belakang rumah mungkin mencium masakan Beny jadi mampir." Kataku beralasan. Kenapa aku jadi keki yah,serasa tertangkap basah, padahal bukan aku pelakunya tapi aku yang deg-degan. Keluhku dalam hati.
__ADS_1
" Oya, ada perlu apa kesini?" Tanyaku mengalihkan.
" Ini mama mengirimi kalian makanan, katanya di tunggu ke rumah tidak perna muncul. Khawatir tuh sama ponakan kesayangannya." Jelas Danti dengan nada jutek,seraya menunjuk beberapa kantongan yang dia letakkan di dekat pintu masuk.
" Banyak sekali.. Terimakasih, kenapa kalian repot-repot membawanya kan bisa telpon nanti Yudi kesana mengambilnya." Kataku tersenyum tidak enak.
" Sekalian jalan, kami ingin malam mingguan di rumah Erni.. kebetulan lewat sini jadi sekalian." Jelas Danti.
Ooh,,,Nanti kalau istirahat kerja lagi kami kesana deh,nginap semalam untuk melepas kangen tante dan ponakannya. " Kataku senyum-senyum.
" Terus ini naik apa? ini sudah sore sekali.. pulangnya pakai apa?" Tanyaku lagi khawatir. Bila di kampung tinggal pinjam motor Om Irwan atau mobil Yudi untuk mengantar,nah disini.. sudah tak ada koneksi, kebanyakan persimpangan, banyak semak dan hutan lagi.
" Santai kak.. Erni bawa mobil plus supir. Tuh lagi nunggu di mobil. " Jawab Erni pula, mengerti kekhawatiranku.
" Kenapa tidak di ajak kesini, sekalian minum - minum kopi?" Tanyaku lagi celingak - celinguk melihat keluar.
"Hehehe.. tidak apa kak, sudah biasa." Tawa Erni sambil memperbaiki posisi duduknya.
" Aku mau ke dapur deh bantu kak Beny." Ucap Winda mengalihkan perhatianku dan mulai berlalu masuk, aku hanya memandang tanpa bisa mencegahnya, di ikuti Danti, Erni, dan Ranti. Menyisakan hanya aku,Nuri dan Tania.
Sudahlah,yang terjadi... terjadilah. kataku dalam hati pasrah.
" Baru saja kak.." Sahut Winda yang kembali ke posisi semula. Danti hanya cemberut di perlukan seperti itu oleh Yudi.
" Mereka siapa kak?" Tanya Danti jutek, rupanya dia sempat melihat ke dapur lebih dulu daripada yang lain.
" Hanya pegawai kantor perumahan sini." Kata Yudi sambil duduk di dekatku.
" Sahid, belum bangun juga?" Tanya Yudi padaku mengalihkan perhatian.
Aku mengangkat bahu lalu berkata " Mungkin... Kalau belum gabung di belakang berarti masih di kamar. Biarkan saja, nanti juga bangun."
" Kak Ben, masak apa?" Teriak Winda, sepertinya sudah sangat penasaran, mengapa mereka betah di dapur sedang ada tamu yang ribut - ribut di luar tapi tak kunjung di hampiri. Tak berapa lama muncul Roy dan Ansel, membawa beberapa piring gorengan, mungkin mendengar teriakan Winda atau hanya kebetulan kegiatan masak - masaknya sudah selesai.
" Wiiihh..... Ada angin apa sampai bidadari berkumpul disini, Kapan datang?" Seloroh Ansel senyam-senyum, saat melihat semuanya.
" Baru.. Bikin apa kak?" Jawab Danti melirik piring yang dibawa Ansel.
" Oh, ini... Tunggu sebentar biar aku ambil lagi." Katanya hendak berlalu tapi di tahan oleh Winda.
__ADS_1
" Ayo,kak aku bantu.." Ucap Winda.
" Iyaa, Aku juga ikut.." Kata Ranti pula.
" Tidak usah, biar Ansel saja." Cegah Roy pula.
" Siapa sih di belakang kak?" Bisik Nuri akhirnya padaku. Aku sempat terkejut dengan keberanian Nuri berbisik di telingaku membuat tubuhku meremang.
" Kak Aby... Kak.." Panggil Nuri lagi karena aku tidak merespon ucapannya.
" Eh, itu... kamu bilang apa?" Aku bingung harus menjawab apa, untung tidak ada yang melihat perubahan ekspresi wajahku.
" Beny dengan siapa di belakang, sepertinya kalian menyembunyikan sesuatu?" Tanyanya kembali.
Aku hanya menarik nafas panjang " Tidak ada... "
" Ayo, kak pulang... " Ajak Winda, dengan wajah sedihnya.
Nah kan, ketahuan... Kataku dalam hati.
" Buru-buru sekali, ngobrol dulu saja disini dek." Kata Yudi lemah lembut, dia tahu apa yang membuat sepupunya itu murung. Winda hanya menurut saat di tarik untuk duduk di samping Yudi.
" Kami pamit dulu kak.. Ayoo, sudah hampir malam." Kata Danti pula dengan ekspresi wajah yang tak terbaca, dia paling akhir keluar dari dapur. Seperti di komando semuanya serentak berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar.
" Danti, tunggu... Dengar dulu." Kata Riyan yang terburu-buru mengikuti langkah Danti yang keluar lebih dulu.
Aku dan Yudi saling tatap penuh tanya tentang apa yang terjadi. Kenapa Danti dan Riyan seperti orang pacaran yang tengah marahan dan cemburu keluar dari dapur. Karena yang kami tahu hanya tentang Winda yang tertarik pada Beny, Winda sedikit banyak lebih terbuka dan sering menceritakan isi hatinya padaku dan Yudi, memang berbeda dengan Danti yang lebih tertutup. Pembawaan keduanya memang sangat berbeda.
(Bersambung)
...*** Happy Reading***...
...Semoga pelan - pelan sudah bisa up rutin lagi yach....
...Jadwal kehidupan nyata mulai bisa dikondisikan, jadi mohon dukungannya reader sekalian....
...Dan aku juga berharap karyaku bisa memuaskan reader semua.......
...Terimakasih dan mohon maaf bila masih banyak typo nya........
__ADS_1