True Love Bad Boy

True Love Bad Boy
Menunggu Penjelasan


__ADS_3

Kami semua saling tatap mendengar ucapan Ranti yang dengan santai membenarkan posisi baringnya di hadapan kami, sambil kembali bermain handphone.


" Tidak boleh, kalian harus pulang. Nanti aku telpon Danti atau Winda untuk menjemput kalian." Tegas Yudi serasa mengambil hpnya untuk menelpon.


" Nomor mereka semua tidak ada yang aktif." Kata Ranti lagi santai.


" Mereka bertiga itu siapa kak?" Tanya Ranti dengan posisi duduk kembali.


" Kalian jadi mata-mata yah, Atau malah jadi umpan?" selidik Riyan mulai melupakan amarahnya tadi padaku.


" Ini karena kak Roy.. mengahalangi langkah kami dan menyeret kami meminta mendengarkan penjelasannya. Aku ini siapa coba, pacar bukan gebetan bukan. Harusnya tuh yang di tahan tadi Erni, Tania sama Danti." Omel Ranti panjang lebar, tapi akhirnya menyadari keceplosannya.


" Pacarnya mereka bertiga disini siapa?" Tanya Yudi menyelidik. Ranti hanya pamer gigi sambil mencolek Nuri dengan sikunya. yang di colek masih fokus dengan hpnya tanpa mempedulikan tingkah Ranti.


" Nur... " Panggil Ranti pelan.


" Nuri...." Ulang Yudi.


" Eh... Iya,kak.. kenapa?" Tanyanya dengan mimik bingung.


" Kamu tidak mendengar percakapan kami?" Tanya Yudi mengernyitkan kening.


"Hehhe...Maaf, Maaf... Aku lagi asyik bermain game." Ucapnya tersenyum canggung.


" Kamu tahu pacarnya Erni, Tania dan Danti?" Tanya Yudi kembali.


" Tahu... Kak Riyan, Kak Roy dan Kak Ansel kan?" Ucap Nuri dengan ekspresi wajah ragu dan yang namanya di sebut sudah salah tingkah.


" Lalu Winda..?" Tanya Yudi kembali. Nuri hanya menggelengkan kepalanya, menandakan dia tidak tahu. Yudi menatap ke arah Beny.


" Tidak, Yud... aku tidak pacaran sama Winda, kalau dekat iya.. tapi tidak pacaran. Aku kan takut sama kamu." Ucap Beny cepat.


" Itu artinya kamu memberi harapan palsu pada Winda, Ben.." Tuduh Ansel ikut mengintimidasi Beny.


" Tidak, kami hanya berteman saja. Winda setuju kok.. " Sanggah Beny lagi dengan wajah bingung.


" Sama saja, Ben.." Kata Roy juga memojokkan Beny. Beny hanya diam dengan wajah ketakutan akan amarah Yudi.


" Sudah lah.. aku tidur dulu.. selesaikan urusan kalian." Ucapku hendak berlalu.


" Enak saja, urusanmu denganku belum selesai." Sahut Riyan cepat.


"Haaahhh, apalagi? Aku tidam tahu menahu dengan cerita dan kisah kalian." Ucapku dengan napas kasar.


" Begini, aku belum banyak cerita waktu mereka datang karena mendengar suara tawa kalian dari dapur jadi mereka langsung menuju ke dapur tanpa sempat aku cegah. Di dapur aku tidak tahu apa yang mereke lihat hingga semuanya beriringan keluar dengan wajah di tekut. Mau percaya atau tidak terserah kamu, yang jelas tidak mungkin aku ingin merusak hubungan kita hanya masalah perempuan." Tegasku panjang lebar dan berlalu.

__ADS_1


" Benar Yud.. Aku juga tidak pacaran dengan Winda, dan juga tidak memberinya harapan palsu. Dia memang sempat mengutarakan isi hatinya tapi aku menolak secara halus, dan dia terima agar kita berteman saja. Sama dengan Aby aku juga tidak ingin hubungan kita rusak karena masalah wanita." Jelas Beny pula tertunduk, tak ingin di salah pahami oleh Yudi lagi.


" Terus kalian berdua apa yang ingin kalian sampaikan?" Tanya Yudi pada Ranti dan Nurj setelah cukup lama terdiam menyimak dan memahami ucapan Beny.


" Tidak ada..." Sahut Nuri.


" Kalian bertiga hubungi wanita-wanita kalian suruh mereka menjemput temannya ini. Jangan sampai akan menjadi masalah untuk kita disini." Omel Yudi dengan tatapan tajam padan Riyan, Roy dan Ansel.


" Baik karena masalahnya selesai, mari kita makan. sejak tadi aku benar-benar sangat lapar, kamu masak apa Ben.?" Keluh Sahid panjang lebar, mendorong Beny ke arah dapur.


" Aku tidak masak." Ucap Beny pendek, membuat langkah Sahid terhenti.


" Astaga... gorengan ini tidak cukup mengganjal perutku." Keluh Sahid geram.


" Banyak makanan di dapur Zahra tadi masak, lalu ada kiriman makanan juga dari tante Rasti." Sahutku berlalu dari arah dapur membawa segelas air minum menuju kamar.


" Bukannya kamu tidur, By..." Tanya Sahid.


" Mana busa tidur kalau perut lapar." Sungutku dari dalam kamar.


Akhirnya semuanya memilih makanan malam, menyudahi perdebatan dan perang untuk sementara. Mengabaikan dua gadis yang sedang menikmati permainan di handphone mereka masing-masing.


" Kak, kamu tidak apa-apa?" Tanya Ansel saat selesai makan dan masuk ke kamar. Saat itu aku masih sibuk ngobrol dengan Zahra melalui pesan handphone.


" Itu Erni pacaran sama Roy.." Kaya Ansel lagi.


" Hubungannya sama aku apa?" Tanyaku makin bingung.


" Bukannya kakak suka sama Erni?" Tanya Ansel lagi.


" Sok tahu... Aduh, sel jangan suka bikin gosip. Nanti masalah lagi." Kataku khawatir.


" Tapi, waktu main di pantai kakak tidak berhenti melihat ke arah Erni." Kata Ansel lagi.


" Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, Sel.. Sudah ah, sana gabung sama yang lain. Ganggu saja kamu ini." Omelku mengusirnya keluar dari kamar.


" Kak, serius... padahal aku suka loh sama Erni, tapi aku kira kakak juga suka jadi aku jadian sama Tania." Curhatnya.


" Kak..."


" hhm..."


" Sebenarnya kakak suka sama siapa?" Tanya Ansel lagi.


" Aduh, sel... Sana deh... kalau kamu suka sama Erni kenapa nembak Tania. Kalau suka ya suka, kenapa harus kakak yamg jadi alasannya kamu. Yang ada sebenarnya kamu yang plin plan. Sekarang kamu juga lagi bingung milihkan antara Risma dan Zahra." Kataku mulai ketus, jengkel dengan tingkah Ansel yang seperti itu.

__ADS_1


" Hehehe.. kok tahu kak, kelihatan yah." Katanya malu-malu.


" Sama aku apa yang tidak kelihatan dari kamu, sudah sana. Jangan menggangguku lagi.." Usirku kembali pada Ansel.


" Jadi sebenarnya kakak sukanya sama siapa?" Tanya Ansel lagi masih kekeh ingin tahu isi hatiku.


Aku hanya mengangkat bahu tak ingin menjawab pertanyaannya yang sudah kesekian kalinya di utarakan.


" Kak Aby, serius... " Katanya merajuk.


" Kamu tidak cocok merajuk seperti itu, sudah sana.. Nanti yang lain salah paham lagi sama kita." Usirku mulai kesal padanya.


" Aku pikir kalian tidur,malah ngobrol." Kata Roy saat berada di depan pintu kamar yang terbuka lebar, berjalan ke arah kami.


" Aku mau tidur tapi Ansel tidak berhenti curhat." Kataku lalu membenarkan posisiku.


" Curhat apa, Sel masih bingun antara Risma dan Zahra.. Tania mau diapakan." Ledek Roy sambil berbaring di sampingku.


" Kalian kalau mau ngobrol di luar sana. Kapan aku tidurnya kalau kalian berisik." Omelku berbalik dengan tatapan menusuk melihat ke arah mereka.


" Hahahaha... By, kamu kok sensian sih. Galak amat..." Gelak Roy menjahiliku.


" Tadi Ansel, sekarang tambah kamu.. Aku jadi malah tidak bisa tidur." Kataku seraya duduk bersila menghadap pada mereka.


" Mana gadis-gadis itu, sudah pergi semua." Tanyaku kembali mengalihkan bahasan Ansel tadi.


" Belum, jam segini mana tega sih By di suruh pulang. Tidak mengganggu ini. Lagian tuh ada satpam Yudi yang selalu menemani." Kata Roy lagi.


" Suruh tidur di kamar kalian saja, kalian tidur di ruang tamu. Pintu kamarnya lebih kuat dan toilet di dalam jadi tidak akan ada yang bisa jahil sama mereka." Kataku sambil kembali berbaring.


" Iya, Kakak Abyan... memang seperti itu titah bapak Yudi yang terhormat sejak tadi." Kata Roy kesal.


" Makanya aku kesini.. mending tidur sama kamu daripada di ruang tamu." Lanjut Roy.


(Bersambung)


...*** Happy Reading***...


...Semoga pelan - pelan sudah bisa up rutin lagi yach....


...Jadwal kehidupan nyata mulai bisa dikondisikan, jadi mohon dukungannya reader sekalian....


...Dan aku juga berharap karyaku bisa memuaskan reader semua.......


...Terimakasih dan mohon maaf bila masih banyak typo nya........

__ADS_1


__ADS_2