
Hari - hariku kosong, sekosong hatiku.*F*irt love never die.... Apa iya itu Ainun? Entahlah... padahal selama bersama Ainun, aku tetap memiliki banyak gebetan. Roy tahu kalau dayang-dayangku banyak makanya dia tidak perna curiga dengan hubunganku dan Ainun.
🎶 Kring...kring...kring 🎶
🎶 Tocke....Tocke....Tocke 🎶
Tuh kan belum apa-apa, hpku sudah tak berhenti berbunyi. Beberapa panggil dan pesan yang masuk selalu kuabaikan. Sudah berapa hari sejak pernikahan Ainun aku mengabaikan bunyi ponselku.Teman-temanku lebih sering menghubungi Ansel akhir-akhir ini dan Ansel selalu berhasil mengalihkan mereka bila bertanya tentangku.
"Sampai kapan kak?" Ucap Ansel membuyarkan lamunanku.
"Apanya?" Tanyaku bingung.
"Kak Byan seperti orang kesurupan... Kebanyakan diam." Keluhnya kesal melihatku.
"Tuh..Lany, Mira, Linda, Hana, Rea, Dian, Tari, Santi,,,,, Aduh siapa tadi itu yang terakhir nelpon yah?" Keluh Ansel sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal mengingat - ingat nama - nama cewek yang menghubungiku.
"Absen terus,sel... Kenapa tidak sekalian kamu catat?" Kataku mengejek meski sedikit kesal.
"Makanya kak... Jangan suka kasi harapan sama cewek - cewek. Aku kan jadi ikut pusing, kadang aku salah sebut nama kalau bertemu mereka." Keluh Ansel.
"Tidak salah,Sel.... bukannya kamu jagonya PHP-in cewek...?" Ucapku membalas Ansel, Ansel hanya nyengir mendengar ucapanku.
"Sudah, ah... ngantuk,tidur sana....." Kataku lagi padanya sambil memejamkan mata jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam.
Sebenarnya bukan jam tidurku,tapi akhir-akhir ini sudah mejadi jam tidurku.Aku jarang keluar rumah kadang hanya ke kebun belakang rumah melihat berbagai jenis sayuran tanaman mama,itu cukup membuat mata dan pikiranku sedikit segar.
Aku menghindar dari semua teman-temanku, hanya Ansel yang masih selalu bergantung dengan mereka.
"Kak..." Ucap Ansel lagi,kupikir dia sudah tidur.
"Hhm,,,"
"Ainun mencari kakak. Dia memaksaku mempertemukannya denganmu." Kata Ansel lagi.
Aku hanya diam.
__ADS_1
"Sepertinya dia tidak nyaman dengan pernikahannya. Tadi aku mendengarnya menangis di hadapan orangtuanya...tapi aku tidak mendengar jelas yang mereka bicarakan." Sambungnya lagi.
"Yang aku dengar dari Roy dia kabur dari rumah mertuanya." Katanya lagi setelah menunggu beberapa saat tidak ada respon dariku.
"Ainun sempat mengatakan padaku akan pergi jauh jika aku tidak mempertemukan dengan kak Byan." Ucap Ansel lagi pelan.
Aku menghela nafas kasar " Sudahlah,sel..biar keluarganya yang urus.Tidur..."
*****
Keesokan harinya aku sudah segar, rencananya mau ke rumah Riyan pagi ini. Sepertinya sudah cukup aku berdiam diri, semoga ada kerjaan agar lebih bisa mengalihkan rasa kosong di hatiku. Riyan dan Roy yang selalu dengan mudah mendapatkan info loker,makanya kami lebih sering nongkrong di kedua rumah itu. Berhubung aku lagi menghindar dari Roy,jadi aku ingin ke rumah Riyan saja.
Aku hendak berbelok masuk ke halaman rumah nenek saat sebuah pukul mengenai pelipisku. Aku terhuyung, hampir tersungkur. Aku berusaha menyeimbangkan diriku agar tidak terjatuh dan menoleh mencari siapa orang yang berani memukulku.
"Kamu tega By...!!!KAMU TEGA ABYAN...!!" Teriak Roy di belakangku dan berusaha menyerangku kembali.
Tanganku mengepal, Aku spontan menghindari dan membalas pukulannya hingga mengenai pipi kanannya. Aku juga tidak terima dengan perlakuan Roy padaku, tanpa bertanya langsung menyerangku seperti itu. Cukup lama kami bergelut saling serang, tak ada yang berani memisahkan kami sampai terdengar teriakkan yang menghentikan perbuatan kami.
"HENTIKAN...!!!ABYAN.....ROY...... BERHENTI KALIAN!!!" Teriak nenekku.
Di usianya sekarang nenek masih cukup disegani. Nenek dan kakekku memang salah satu tokoh masyarakat yang cukup terpadang dan disegani di lingkungan kami. Meski kakek sudah tidak ada tapi nenek masih sama seperti dulu, selalu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan dalam bermasyarakat. Usia tuanya tidak nampak pada fisiknya yang kelihatan masih segar bugar, mungkin karna nenek tidak perna mau diam. Segala pekerjaan selalu dikerjakannya sendiri, meski ada anak, menantu bahkan cucunya yang bisa dia harapkan.
Ansel masih berusaha menahanku, Beny dan Riyan juga sudah menolong Roy untuk bangkit karena dia sempat terjatuh waktu aku memukulnya tadi. Muka kami sudah sama-sama babak belur. Lebih parah Roy sih, bibirnya seperti robek cukup parah.
"SEKARANG,SEMUANYA MASUK KE DALAM RUMAH..." Seru nenek kembali tegas, raut wajahnya memerah karena terlihat sangat marah.
Aku, Ansel, Roy, Beny dan Riyan menurut saja. Aku dan Roy masih saling lirik saat Roy melangkah melewatiku masuk ke dalam rumah nenek.
"Mir,ambilkan air minum...." Ucapan nenek pada tanteku saat kami sudah di dalam rumah.
Tante Mirna mengangguk dan berjalan menuju dapur, tidak berapa lama tante Mirna sudah kembali dengan beberapa gelas air putih yang dia letakan diatas meja.
Rupanya tadi kami jadi tontonan parah tetangga. Aku menyadarinya saat nenek menyuruh kami masuk ke dalam rumah. Cukup lama nenek terdiam, mungkin menunggu kami tenang.
"Jelaskan...?" Ucap nenek akhirnya. Aku hanya melirik ke arah Roy yang masih tertunduk.
__ADS_1
"Abyan....Roy....?" Ucapnya lagi.
Aku menarik nafas panjang sebelum menjawab "Aku tidak tau,nek.. Roy tiba-tiba menyerangku."
"Kak Ainun menghilang.." Kata Roy singkat tapi ada kesedihan dan amarah dalam pernyataannya.
"Maksudnya kamu menuduh aku?" Kataku mulai terbakar emosi lagi.
"Kata Sintha kamu pacaran sama Kak Ainun, beberapa hari ini kamu tidak perna gabung bersama kami lagi, kamu menghilang. Bisa saja kamu sibuk merapikan rencanamu ingin membawa kabur kak Ainun." Kata Roy yakin dengan mata memerah menahan amarah dan kesedihannya.
Aku tersenyum sinis dengan pernyataannya "Kalau aku ingin membawa kabur Ainun kenapa harus menunggu selesai akad?" Kataku menantangnya.
"Karena kamu mau terlihat sok baik di keluargaku padahal kamu musuh dalam selimut. Pagar makan tanaman." Kata Roy penuh amarah dengan mata menyala.
Aku terpancing, aku melompat dan menyerangnya kembali.
"Sepicik itu pikiranmu Roy" Kataku sambil memukulinya. Ansel tidak sempat menahanku, akhirnya kami kembali berguling di lantai.
"ABYAN....CUKUP!!!KAMU INGIN JADI PEMBUNUHAN...!!!ROY BISA MATI...." Seru nenek menyentakku.
Ansel, Beny dan Riyan selalu kewalahan menahan seranganku.Yaa, begitulah aku saat emosiku sudah memuncak. Aku tidak ingat apa-apa, seperti kesetanan menghancurkan yang ada di depanku.
Dengan nafas tersengal-sengal aku berhasil di tahan oleh Ansel dan Beny,Yudi dan Dion juga sudah datang membantu Riyan memapah Roy.
"Lebih baik bawa ke puskesmas dulu Yud.." Ucap nenek pada Yudi. Yudi mengangguk dan berjalan menuju halaman ternyata dia memang membawa mobil.
"By, sepertinya kamu juga butuh perawatan?" Kata Riyan padaku, dia kembali ke dalam rumah setelah membantu Roy masuk ke dalam mobil.
"Nanti biar dengan kami." Ucap Beny pula. Riyan menangguk dan menyusul Yudi dan Dion.
Akhirnya aku bertiga Ansel dan Beny berboncengan menuju puskesmas terdekat untuk mengobati lukaku. Aku melihat orangtua Roy ada disana,aku hanya menunduk tak berani menatap mereka.
Aku menyesal bisa-bisanya tersulut emosi oleh Roy, harusnya aku bisa menahan diri. Tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi. Aku sudah berbaring di ruang UGD menunggu pemeriksaan dokter, sedang luka Roy sementara ditangani perawat yang bertugas, terdengar samar ada lukanya yang harus di jahit. Aku juga merasa sedikit pusing, beberapa luka terbuka juga terdapat di lengan dan tanganku. Pikiranku menerawang masih memandang langit ruangan, saat sebuah sentuhan mengejutkanku.
Happy Reading.....
__ADS_1
...***please dukung aku yach,aku harap karyaku bisa memuaskan reader semua.. terimakasih dan maaf bila masih banyak typo nya.***...
...###jangan lupa tinggalkan jejak yach,koment,like, dan jangan lupa vote nya juga terimakasih. ###...