
Astuti mendengarkan penuturan Jeydan tentang kebakaran yang terjadi dua puluh tahun lalu yang menyebabkan istri dan anak Direktur UT Holding meninggal dunia. Astuti ikut prihatin akan hal itu.
"Jadi, inti dari cerita saya barusan, sebenarnya untuk menanyakan tentang bayi yang bu Tuti temukan di malam kejadian kebakaran tersebut."
Astuti hanya diam, ia mencoba mencerna kemana arah pembicaraan ini.
"Maksud bapak?" Tanya Astuti bingung.
Jeydan menghela napas panjang. Lalu dia melirik pada Yuda, pengawalnya untuk menjelaskan pada Astuti.
"Jadi maksud tuan Jeydan…" Yuda mengatakan, bahwa sebenarnya Jeydan mempertanyakan apakah benar Astuti menemukan bayi di depan panti dua puluh tahun lalu, tepat saat kejadian kebakaran.
Astuti mulai paham, tapi ia tidak langsung menjawab. Ia seperti mencoba mengingat sesuatu, lalu ia berdiri untuk mengambil sebuah buku besar.
"Mungkin buku ini bisa membantu bapak untuk menemukan jawaban yang bapak cari." Ujar Astuti sambil memberikan buku besar yang berisi catatan tahun, bulan, tanggal, hari dan jam saat anak anak asuhnya pertama tiba di panti.
Yuda membantu Jeydan memeriksa buku besar tersebut. Hingga akhirnya Yuda menemukan dua nama bayi perempuan yang ditemukan di depan panti pada malam kebakaran itu.
"Wulan Karista dan Keyla Cantika. Apa kedua anak ini masih di panti atau mungkin sudah diadopsi?" Tanya Jeydan.
__ADS_1
"Mereka tidak pernah diadopsi." Jawabnya ragu.
"Lalu, bisakah saya bertemu mereka?"
"Eee, sebenarnya anak saya yang bernama Wulan, memang masih tinggal di panti. Tapi, malam ini dia menginap di rumah temannya." Tutur Astuti yang mulai merasa khawatir.
"Satu orang saja juga tidak apa apa." Ucap Jeydan dengan raut wajah sedikit memaksa.
"Maaf pak, tapi anak saya yang satunya sudah tidak tinggal di panti sejak dua tahun lalu." Jelasnya.
Jeydan merasa kesal. Tapi, ia tetap tersenyum pada Astuti.
"Iya, pak. Silahkan!" Sahut Astuti cepat.
Jeydan akhirnya meninggalkan panti dengan perasaan sedikit kesal karena tidak bisa menemui kedua gadis yang dia yakini salah satunya adalah putri Cakra.
"Cari tahu keberadaan dua gadis itu. Jika sudah ketemu, untuk sementara awasi mereka dari jauh, jangan membuat mereka takut." Jeydan memberi perintah pada Yuda.
"Baik tuan." Jawab Yuda.
__ADS_1
Setelah Jeydan meninggalkan panti asuhan, Astuti langsung menelpon Wulan. Ia mengatakan pada Wulan, untuk tidak usah pulang dulu ke panti dalam beberapa hari ini. Setelah menelpon Wulan, ia juga menelpon Keyla dan meminta Keyla untuk lebih hati hati dan jangan datang ke panti untuk sementara waktu.
Sementara itu, Cakra yang hendak istirahat setelah menghadiri rapat dan juga bertemu beberapa klien hari ini, dikejutkan dengan kabar bahwa putranya Bara sedang dalam keadaan kritis.
"Diki, batalkan jadwal untuk besok. Kita segera ke Jakarta sekarang." Perintahnya pada Diki Sekretaris kepercayaannya sejak dulu hingga sekarang masih selalu setia berdiri disampingnya.
"Apa terjadi sesuatu, tuan?" Tanya Diki.
"Terjadi sesuatu pada tuan muda Bara… mereka mengatakan saat ini dia dalam keadaan kritis." Jelas Cakra yang hendak memakai pakaiannya kembali.
"Maafkan saya tuan, tapi menurut saya sebaiknya kita berangkat besok pagi saja. Sekarang sudah larut malam, cuaca juga tidak mendukung untuk kita berangkat ke Jakarta." Diki menyarankan.
Mendengar saran Diki, membuat Cakra kembali duduk di sofa. Kemudian ia menghela napas untuk membuat dirinya merasa lebih tenang.
"Istirahatlah malam ini, tuan. Besok pagi pagi sekali kita akan langsung berangkat ke Jakarta."
"Baiklah. Kamu juga pergilah istirahat." Ucapnya.
Diki pun bergegas meninggalkan kamar Cakra. Ia langsung menuju kamarnya untuk segera beristirahat, karena besok akan segera berangkat pagi pagi sekali.
__ADS_1