
Mobil yang dikemudikan Bara melaju kencang menerobos jalan raya yang lumayan lengang sore ini. Ia ingin segera tiba ke rumah Papanya untuk menemui Keyla. Tapi, sayangnya niat untuk bertemu Keyla harus ia tunda lagi kali ini. Karena, ia harus segera terbang ke Thailand.
Beberapa saat yang lalu, Timo menelpon dan memintanya untuk segera ke Bandara, karena pesawat yang dipesankan Timo untuk penerbangan Bara ke Thailand akan segera lepas landas dalam waktu kurang dari dua jam kedepan.
"Dia gadis yang bahkan bisa membanting tubuh kekar Jehan. Aku tidak perlu mengkhawatirkannya. Lagi pula, dia berada di rumah papa yang dikawal dua puluh empat jam oleh pengawalnya tanpa henti." Ujarnya meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak mengkhawatirkan Keyla.
Namun, tetap saja perasaan khawatir terus mengganggunya. Ia ingin menemui Keyla meski sebentar saja, tapi ia tidak punya banyak waktu karena harus segera bersiap dan berangkat ke bandara.
Tapi, beruntungnya saat mobilnya melewati Caffe tempat Keyla bekerja. Ia berhenti di sana dan meminta nomor handphone Keyla pada Jojon.
"Mudah sekali bocah itu di tipu. Dia langsung percaya saja saat gue mengaku sebagai kakaknya Keyla." Ia tertawa merasa lucu.
Saat Bara melanjutkan perjalanan menuju rumahnya, tanpa ia sadari, mobilnya berpapasan dengan mobil papanya yang baru saja berangkat dari kos Keyla setelah mengantar Keyla untuk mengambil pakaian dan handphonenya.
"Tuan, sepertinya itu mobil tuan muda." Wawan menunjuk mobil Bara yang baru saja melintas di seberang sana.
"Benarkah?" Cakra melihat kebelakang untuk memastikan. Keyla pun ikut menoleh.
"Entah apa yang membuatnya begitu sibuk seharian. Padahal harusnya dia istirahat santai di rumah atau pergi kencan dihari liburnya." Cakra menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Sudah berapa lama nak Keyla bekerja di rumah putra saya?"
"Hah?" Keyla terkejut dan bingung harus menjawab apa. Sementara dirinya sendiri tidak tahu mengapa tiba tiba berada dirumah itu.
"Tidak usah takut begitu, saya tidak akan melaporkan pada tuan muda tentang pembicaraan kita ini." Selidiknya.
"Aaa…, saya baru mulai bekerja sejak kemarin sore tuan." Jawab Keyla asal.
"Sayang sekali, nak Keyla pasti tidak tahu banyak tentang putra saya. Terlebih tentang apakah dia berkencan dengan seorang gadis, atau pun mungkin dia pernah membawa seorang gadis ke rumahnya secara diam diam."
"Saya sungguh tidak tahu tentang hal itu, tuan."
Cakra menghela napas, lalu ia kembali menoleh kearah Keyla yang duduk disampingnya.
"Apakah menurut nak Keyla putra saya tampan?"
Pertanyaan kali ini sungguh tidak bisa di jawab oleh Keyla. Ia merasa belum pernah melihat tuan muda sama sekali. Karena, ia tidak pernah kepikiran bahwa tuan muda itu adalah pria berdarah, si om duda pemilik hp yang membuatnya diikuti seharian oleh Jehan. Ia mengira om duda itu hanya anak buah Cakra sama seperti Jehan.
"Biasanya wanita akan langsung menjawab bahwa putra saya sangat tampan. Tapi, kenapa nak Keyla tampak ragu?" Tanya Cakra, karena Keyla tidak kunjung menjawab pertanyaan darinya.
__ADS_1
"Sepertinya tuan muda sangat tampan, tuan."
Jawaban Keyla membuat Cakra tertawa. Baru kali ini ia mendengar ada wanita yang mengenal putranya dan mengatakan sepertinya putranya tampan.
Sedangkan Keyla menyengir ngeri, karena merasa memberikan jawaban yang tidak sesuai keinginan tuan Cakra.
"Nak Keyla sangat lucu. Saya suka jawaban itu, kamu benar, sepertinya putra saya memang tampan." Ulangnya.
Krrruuukkk...
Tiba tiba suara cacing di perut Keyla terdengar bergemuruh oleh Cakra dan juga Wawan.
"Oh perutku. Aku sangat kelaparan!" Serunya dalam hati sambil memegangi perutnya.
"Nak Keyla kelaparan?" Tanya Cakra yang dibalas dengan anggukan oleh Keyla.
Cakra tersenyum, lalu ia memerintahkan Wawan untuk mampir di restoran terlebih dahulu.
"Sebenatar lagi nak Keyla bisa makan sepuasnya." Ujar Cakra.
__ADS_1
"Terimakasih tuan. Maaf saya sepertinya selalu merepotkan tuan." Ucap Keyla malu malu.