
Sejak hari pertama Wulan menginjakkan kaki dirumah mewah kediaman Cakra, tidak sekalipun ia menghubungi Keyla, begitu juga sebaliknya. Meski Keyla sangat ingin mengetahui keadaan sahabatnya itu, ia tetap memutuskan untuk tidak menghubungi sampai Wulan sendiri yang menelpon atau pun menanyakan kabarnya lebih dulu.
"Keyla… berhentilah mengkhawatirkan Wulan. Dia sudah bahagia dengan keluarga barunya. Kamu harus menjalani kehidupanmu seperti biasanya..." Keyla bicara pada dirinya sendiri.
Saat ini Keyla sedang berada di toilet umum rumah makan Padang tempat ia biasa makan siang sebelum berangkat ke Caffe untuk bekerja.
"Semangat, Keyla! SE-MA-NGAT." Teriaknya sambil menghela napas lega. Ia pun keluar dari sana dan segera menuju kasir untuk membayar makan siangnya.
Keyla mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dan masih dikembalikan dua puluh lima ribu lagi oleh mbak kasirnya.
"Terimakasih, mbak." Ucap mbak kasir ramah. Keyla hanya tersenyum untuk membalas ucapan terimakasih dari mbak kasir cantik itu. Kemudian, Keyla melanjutkan perjalanannya menuju Caffe.
Sementara itu, mobil Bara berhenti tepat di depan kampus dimana Wulan menimba ilmu. Kini Wulan sudah memasuki tahap semester akhir, sehingga kuliahnya hanya sesekali saja dalam seminggu.
"Nanti pulangnya minta jemput pak Wawan aja, ya. Aku nggak bisa jemput, soalnya ada urusan." Ucap Bara saat Wulan hendak turun dari mobil.
"Iya, kak. Terimakasih sudah mengantarku."
Setelah Wulan turun dari mobilnya, Bara langsung tancap gas menuju laboratorium tempat pengetesan sampel DNA. Ia langsung turun dari mobil dengan membawa kantong plastik kecil masuk ke gedung lab tersebut. Setelah beberapa menit kemudian, ia keluar hanya dengan tangan kosong. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya.
"Je, loe dimana?" Ia menelpon sambil menyetir. Itulah bagusnya punya mobil mewah, Bara tidak perlu repot memegang hp dan meletakkan ditelinganya saat menelpon seseorang. Ia hanya cukup menekan tombol panggil dan langsung bicara dengan orang yang ingin diajaknya bicara.
"Apa? Tempat rongsokan?" Tanya Bara heran.
"Apa…" Mendadak Bara menepikan mobiknya. Ia terdiam mendengarkan penuturan Jehan.
"Gue tunggu loe di Caffe." Ujarnya setelah beberapa menit terdiam mendengarkan penjelasan Jehan yang sepertinya berhasil menemukan titik terang tentang kecelakaan empat belas tahun lalu.
Setelah panggilan berakhir, Bara merebahkan punggungnya disandaran kursi mobilnya. Ia menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan kembali. Ia ulangi hingga tiga kali, barulah setelah itu ia melanjutkan perjalanan menuju Caffe kopi tempat yang disarankan Jehan untuk mereka bertemu.
Bara melirik jam ditangannya, "Ternyata sudah jam dua. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat." Ungkapnya.
Perjalanan Bara untuk tiba di Caffe memakan waktu hampir lima belas menit. Saat tiba disana, rupanya Caffe tidak terlalu ramai dan itu membuatnya sedikit merasa lega. Bara mulai kehabisan energinya karena ia merasa hari ini sudah terlalu lelah setelah mendapat omelan dari Papa dan harus berpura pura baik pada Wulan.
"Secangkir Hot Americano sepertinya cocok untuk suasana saat ini." Gumamnya saat melangkah memasuki Caffe. Ia duduk di meja yang menghadap langsung ke jalanan.
__ADS_1
"Selamat datang. Mau pesan apa, m…m, mas!" Ucap Keyla terkejut saat mengetahui siapa pelanggannya itu.
"Kamu!" Bara pun tidak kalah terkejut karena tidak menyangka akan bertemu dengan Keyla di Caffe.
"Silahkan memasan, mas." Ulang Keyla.
"Kamu bekerja di sini juga?"
"Mohon sebutkan pesanan anda?" Keyla mulai berpura pura tidak mengenal Bara.
"Hot Americano and roll cake."
"Mohon tunggu sebentar." Keyla tersenyum, lalu ia berlalu menuju meja barista.
"Dia punya berapa pekerjaan sih dalam sehari? Bukannya Jehan bilang dia bekerja di Indomart dan klinik…" Gumamnya bicara sendiri.
"Keyla, silahkan antarkan pesanan."Jojon mengingatkan, karena ia sudah meletakkan hot Americano dan roll cake di nampan Keyla.
"Oh, maaf Jon. Aku melamun." Ucap Keyla. Baru saja ia pergi dari meja Bara, eh sekarang melangkah menuju meja itu lagi.
"Pesanan anda telah datang. Hot americano dan roll cake." Ia meletakkan dengan sangat hati hati.
"Wulan baik baik saja." Ujar Bara yang berhasil membuat Keyla menahan langkahnya.
"Apakah kamu ingin menemuinya? Aku bisa membawamu untuk bertemu dengannya." Lanjut Bara.
Keyla sangat ingin bertemu sahabatnya itu. Sejenak ia hampir saja berbalik dan mengatakan 'iya' pada Bara. Tapi, ia teringat tentang janjinya pada diri sendiri untuk tidak menghubungi ataupun menemui Wulan sebelum Wulan sendiri yang lebih dulu menemuinya.
"Aku rasa kamu sangat merindukan Wulan, bukan?"
Keyla membalikkan tubuhnya, ia menghadap kearah Bara, "Maaf, saya tidak mengerti apa yang anda katakan."
"Apa?" Bara merasa bingung mendengar respon dari Keyla yang berpura pura tidak mengenalnya.
Sementara ia merasa heran dan agak kesal, Keyla pun sudah melangkah pergi menghilang dari hadapannya.
__ADS_1
Waktu terus berputar.
[16:15]
Cukup lama Bara memperhatikan Keyla yang sedang bekerja. Ia sangat berharap pengunjung akan semakin sepi saat sore, agar bisa bicara dengan Keyla. Tapi, ternyata semakin sore pengunjung Caffe semakin ramai.
"Kenapa Jehan tidak juga kunjung datang..." Rutuknya mulai kesal. Ia sudah menghabiskan sepotong roll cake dan secangkir kopi, Jehan masih juga belum datang.
Saat sedang merasa bosan menunggu, handphonenya berbunyi. Panggilan dari Jehan.
"Loe dimana? Gue udah sampai lumutan nunggu di caffe." Rutuk Bara.
"Nggak jadi ke sini? Gila loe, Je. Kenapa baru ngabari sekarang…" Ia melangkah keluar dari caffe. Ia sudah meninggalkan uang di nota pembayaran yang tergeletak begitu saja di meja tempat ia duduk barusan.
Diam diam Keyla memperhatikan Bara, perlahan ia mendekati meja tempat tadi Bara duduk untuk melihat kepergian mobilnya.
"Iihh, aku ngapain sih. Idih amit amait…" Gumam Keyla.
Dengan cepat ia mengambil uang pembayaran di meja itu dan membawanya ke meja kasir.
Sementara itu, mobil Bara menuju tempat barang rongsokan yang dimaksud oleh Jehan. Tidak lupa ia mengabari Timo untuk membatalkan datang ke caffe.
"Timo, loe dimana?"
"Di jalan menuju Caffe, bentar lagi sampai." Jawab Timo yang ternyata saat ini sedang keramas di kamar mandi rumahnya.
"Putar balik, Jehan merubah rencana. Loe pulang aja." Perintah Bara pada Timo.
"Loh kok gitu? Gue udah hampir sampai ini." Timo pura pura kesal, padahal ia cekikikan menahan tawa bahagia karena tidak jadi bertemu di caffe.
"Sorry Tim. Gue juga baru tahu Jehan merubah rencananya. Gue aja udah nunggu hampir tiga jam di sana sendirian." Celoteh Bara yang ditertawakan oleh Timo.
"Ya udah lah, terserah." Timo mengakhiri pembicaraan itu lebih dulu, karena sudah tidak tahan untuk tertawa.
"Rasain sana. Enak kan nunggu sendirian, tiba tiba janji dibatalkan..." Rutuknya.
__ADS_1
"Gue berkali kali ikut kesana kemari bersama kalian, tapi nggak tahu apa tujuan dari mengikuti perintah kalian."
"Rasain sana… gue mau liburan, mumpung nggak ada kerjaan." Ia pun melanjutkan acara keramasnya.