
Jehan menunggu cukup lama didepan ruang VVIP tersebut. Hingga ia dihampiri oleh seorang wanita cantik yang tidak mahir berbahasa inggris. Wanita itu menyapa Jehan menggunakan bahasa Thailand yang sama sekali tidak dimengerti oleh Jehan.
Karena kesal, Jehan tidak bisa mengerti apa yang dikatakannya gadis itu pun pergi begitu saja.
"Gue nggak ngerti, lagian kalaupun gue ngerti gue juga nggak bakal mau sama dia. Cantik sih, tapi bukan tipe gue." Ucapnya.
Sementara itu, Bara masih didalam sana. Kini dia benar benar mendapatkan informasi dari Mona tentang Jeydan.
"Kamu mengenal Jeydan?" Tanya Bara saat Mona memperlihatkan foto foto Jeydan yang sering berkeliaran di Bangkok.
"Tentu saja aku kenal. Dia membayar tubuhku dengan harga mahal setiap kali datang ke Bangkok dan dia akan membayar dua kali lipat saat aku yang menghampirinya ke Jakarta." Tutur Mona yang membuat Bara merasa kasihan pada wanita itu.
"Kenapa kamu menjadi wanita seperti ini, Mona?" Tanya Bara kemudian.
"Karena uang."
Bara mengangguk paham. Ternyata lembaran kertas yang disebut uang memang sangat berbahaya.
"Hahahaaa…" Tiba tiba Mona tertawa terbahak bahak membuat Bara bingung.
"Aku tidak serendah itu, Bara. Aku menjadi seperti ini karena dijual oleh ayahku. Lalu, setelah harga diriku benar benar hancur, aku pun ketagihan saat para lelaki biadab itu memandikan aku dengan uang mereka."
Mona bangkit dari tempat duduknya. Ia duduk disebelah Bara sangat dekat.
__ADS_1
"Jangan bergeser, Bara. Aku hanya ingin bersandar di bahumu untuk sebentar saja." Mona langsung merebahkan kepalanya tepat dibahu Bara.
Tidak ada yang bisa Bara lakukan, kecuali membiarkan Mona bersandar padanya. Ia merasa iba pada wanita itu.
"Aku tidak seberuntung tokoh utama wanita dalam novel, yang saat dijual ayah mereka untuk melunasi hutang, mereka di jual pada tuan muda yang kaya raya. Aku, hanya wanita biasa yang dijual untuk menjadi pelacur." Ungkapnya.
Mona menangis. Air matanya menetes begitu saja saat ia mengingat kembali saat pertama dijual oleh ayahnya.
"Tidak bisakah kamu mencintaiku, Bara?" Mona mendongak lalu tiba tiba hendak menerkam bibir Bara, untungnya Bara bergerak cepat. Ia mendorong tubuh Mona menjauh darinya.
"Apa aku semenjijikkan itu, Bar? Aku masih mencintaimu. Hanya kamu yang aku inginkan."
Mona berlutut sambil memegang sebelah pergelangan kaki Bara.
"Tidak perlu mencintaiku, Bara. Cukup jadikan aku wanita yang bisa memuaskan hasratmu. Datanglah padaku kapanpun kamu mau. Kamu boleh memperlakukan aku seperti apapun."
Bara menghela napas panjang, lalu ia menarik tubuh Mona untuk berdiri.
"Maafkan aku Mona. Aku tidak bisa mencintaimu. Mengertilah."
Ia menghapus air mata dipipi Mona, lalu memeluk tubuh Mona dengan pelukan yang sangat menenangkan.
"Sebaiknya, katakan apa yang ingin kamu beritahukan padaku tentang Jeydan." Ujar Bara sambil melepas pelukan itu.
__ADS_1
Sesaat mona terdiam, lalu ia melangkah dan kembali duduk di sofa tempat awal ia duduk. Bara pun kembali duduk dengan perasaan lega.
"Jeydan memerintahkan anak buahnya untuk membunuhmu. Mereka akan membunuhmu malam ini di kamar hotel tempat kamu menginap."
"Apa?"
"Saat ini sepertinya anak buahnya sudah menuju kamarmu. Mereka akan menghabisi kamu malam ini, Bara." Ujarnya.
"Kamu tidak berbohong?"
"Tidak. Aku serius. Aku wanita yang ia bayar untuk memuaskan nafsunya. Aku mendengar saat dia bicara dengan anak buahnya untuk menghabisi Bara Leonardo. Aku terkejut saat mendengar ia memerintahkan anak buahnya untuk membunuhmu."
"Makanya, aku sengaja menghubungi kamu untuk datang ke sini, supaya rencana mereka gagal."
Mona menjelaskan panjang lebar, tapi Bara tidak bisa mendengar penjelasannya dengan baik, karena pikirannya teringat pada dua sahabatnya yang tertidur pulas di kamar itu.
"Mona, maafkan aku. Jaga dirimu baik baik, berhati hatilah pada Jeydan. Hubungi aku saat kamu dalam bahaya. Aku harus pergi sekarang!"
"Bara tungu!"
Bara tidak memperdulikan panggilan Mona. Setelah meraih paper bag, ia pun lagsung keluar dari ruangan itu meninggalkan Mona yang kembali menangis tersedu sedu. Ia masih sangat merindukan Bara.
"Ternyata rindu ini tidak terobati dengan hanya melihatmu sebentar Bara. Oh Tuhan, aku menginginkan Bara seutuhnya." Gumamnya dalam tangisan.
__ADS_1