
[06:45]
Sinar matahari menembus jendela kamar yang membuat Wulan merasa sesuatu menyilaukan matanya. Ia membuka mata perlahan dan melihat sekeliling yang berbeda dari tempat tidurnya. Ia menghela napas lega saat melihat Keyla berbaring disebelahnya. Rupanya, ia tidur di kamar kos Keyla setelah menangis dan bercerita banyak hal dengan sahabatnya itu tadi malam.
"Key bangun!" Ia menepuk pelan bahu Keyla.
"Gawat Keyla bisa terlambat berangkat kerja." Ucapnya panik saat melihat jam di sudut kanan bawah layar handphonenya.
"Keyla bagun... sekarang sudah jam tujuh!" Teriaknya sambil memukul bahu Keyla agak kuat.
"Hah, apa? Ada apa? Apa ada penyusup?" Keyla terbangun, ia bergerak layaknya sedang berlatih silat.
"Udah jam tujuh, Keyla. Bukankah kamu harus berangkat kerja?" Ulangnya.
Keyla mulai sadar, ia melirik jam yang terletak di atas meja riasnya. "Ya ampun!" Teriaknya.
Ia berlari menuju kamar mandi sambil mengomel kesal karena Wulan tidak membangunkannya lebih awal.
"Malah nyalahin aku. Kamunya yang susah dibangunin…" Cibir Wulan yang tidak mau disalahkan.
Saat dua sahabat itu sedang berdebat, di rumah megahnya Bara sedang berusaha menghabiskan sarapan paginya. Jehan mengawasinya sejak tadi dan memaksanya untuk memakan sarapannya hingga habis.
"Je, ini gue benaran mau muntah. Rasanya nggak muat lagi di perut gue." Berpura pura akan muntah.
"Habiskan tuan muda. Saya tidak ingin melihat tuan muda terus terusan berbaring di ranjang itu." Tegasnya. Ia menatap tajam mata Bara.
"Baiklah. Akan saya habiskan." Menyendok lagi makanan kemulutnya.
"Lagian siapa juga yang mau terus terusan berbaring disini. Toh, gue seperti ini juga karena keteledorannya. Kurang hati hati dan kurang teliti." Rutuk Bara sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
Jehan mengerti apa yang dikatakan tuan mudanya itu. Ia juga masih menyesal sampai saat ini, makanya ia bertekad untuk membantu tuan muda sembuh lebih cepat. Seperti yang dokter Salman sarankan, Bara harus makan tiga kali sehari, tepat waktu dan makan makanan yang bergizi, terutama sayuran hijau.
"Maaf mengganggu tuan muda!" Susi masuk ke kamar tiba tiba.
"Ada apa mbak Susi?" Tanya Jehan.
"Ada seseorang yang mencari tuan muda."
"Siapa?"
"Seorang bapak bapak, katanya ia ingin menemui tuan muda. Ada hal penting yang ingin ia katakan."
"Baik mbak. Mbak Susi silahkan kembali. Saya yang akan menemui tamu itu." Ucap Jehan.
"Baik den Jehan. Saya permisi tuan muda." Hanya anggukan pelan dari Bara untuk mbak Susi.
"Tuan muda, saya akan menemui tamu sebentar. Mohon habiskan sarapan anda."
"Selamat pagi, nak. Maaf kedatangan saya mengganggu." Ucapnya sopan.
Jehan hanya tersenyum. Sebentar dia menelisik jauh kedalam mata lelaki tua itu. "Dia hanya orang biasa dan sepertinya tidak berbahaya." Pikir Jehan.
"Ada perlu apa bapak datang kemari?" Jehan bahkan tidak mempersilahkan lelaki itu untuk duduk.
"Saya ingin bertemu dengan tuan Cakra. Tapi, mbak yang tadi mengatakan ini bukan rumah tuan Cakra, ini rumah tuan muda anaknya tuan Cakra." Lelaki itu mulai bertutur.
"Untuk apa bapak menemui tuan Cakra?"
Sejenak pria itu tampak ketakutan dan bingung, lalu ia tiba tiba berlutut di hadapan Jehan.
__ADS_1
"Mohon ampuni saya… tolong pertemukan saya dengan tuan Cakra. Tidak, tidak… pertemukan saya dengan tuan muda juga tidak masalah. Ada rahasia penting yang harus segera saya ungkapkan. Rahasia ini menyangkut kisah dua puluh tahun yang lalu." Tutur lelaki itu. Ia mengoceh seperti menghapal naskah.
Jehan mulai curiga dan merasa ada sesuatu yang aneh tentang lelaki tua itu.
"Rahasia apa yang ingin anda katakan pada tuan Cakra?" Ujar Bara yang muncul tiba tiba.
Lelaki itu mendongak dan menatap wajah Bara untuk beberapa detik. Kemudian ia kembali menunduk dan memohon untuk diampuni.
"Apa yang anda lakukan, hingga anda berlutut memohon ampunan seperti ini?" Bara berjongkok. Ia menatap wajah takut lelaki itu yang tidak berani menatapnya.
"Begini tuan, sebenarnya…"
Lelaki itu mulai bercerita. Ia mengatakan, bahwa dua puluh tahun lalu, saat rumah Cakra di bakar ia melihat orang orang berpakaian hitam dan bertopeng yang membakar rumah itu. Setelah orang orang bertopeng itu pergi, ia pun mendekati rumah itu dan mendengar suara tangisan bayi. Dengan segenap keberanian ia menerobos api dan berhasil menemukan bayi yang tergeletak dilantai, sementara istri Cakra sudah terbaring tidak sadarkan diri.
Lelaki tua itu mengatakan, bahwa malam itu ia berhasil menyelamatkan bayi Cakra dari kebakaran itu. Tapi, ia gagal menyelamatkan ibu dari bayi itu.
Malam itu ia sangat ketakutan, khawatir rombongan bertopeng itu akan kembali dan menangkapnya. Ia pun berlari sejauh mungkin dari rumah itu hingga menemukan rumah panti, ia ingat saat itu pukul tiga dini hari. Bayi malang itu ia letakkan tepat di depan panti tersebut.
Sampai saat ini ia selalu menyimpan rahasia itu sendiri. Tapi, beberapa hari yang lalu saat melewati panti, ia melihat seorang lelaki yang tampak lebih muda beberapa tahun darinya mengunjungi panti. Ia mencoba mendengarkan perbincangan antara pengasuh panti dengan tamunya yang tidak ia ketahui.
Tamu itu mengaku pernah bertemu saksi yang menyelamatkan bayi Cakra. Namun, pada kenyataannya ia tidak pernah bertemu orang itu sebelumnya.
Lelaki itu juga mengatakan maksud dari yang ia ceritakan, tidak lain hanya agar Cakra menyelamatkan putrinya yang mungkin saja akan diambil oleh orang tersebut.
"Apa anda sedang mengarang cerita, atau sedang menulis novel!" Teriak Bara geram.
"Saya sungguh mengatakan yang sebenarnya tuan muda. Saya sanggup mati jika apa yang saya katakan adalah kebohongan." Ucap lelaki itu penuh keyakinan.
Sangat sulit bagi Jehan dan Bara untuk percaya pada cerita lelaki itu.
__ADS_1
"Saya akan memastikan terlebih dahulu, tuan muda." Ucap Jehan.
"Dan anda harus segera meninggalkan tempat ini pak tua." Jehan menarik kuat tubuh lelaki tua itu untuk segera berdiri. Lalu, Jehan mengantarkan lelaki tua itu hingga kedepan rumah dan memasukkannya kedalam mobil taksi.