
Setelah terbang selama tiga jam, Bara akhirnya tiba di ibu kota Thailand. Ia disambut oleh orang asing yang dikirimkan Timo dan Jehan untuk menjemputnya.
"Bukannya menjemput, mereka malah mengirim orang lain untuk menjemput gue." Rutuknya kesal.
Bara diantarkan hingga tiba di hotel. Beruntungnya Timo memesankan kamar VIP untuknya di hotel yang memang merupakan gedung aset perusahaan.
Seluruh tubuhnya terasa sangat lelah. Ia begitu sibuk seharian bahkan tenaganya terkuras karena bersedih saat mengetahui tentang bundanya. Sehingga saat ini ia memutuskan untuk mandi dan sedikit meringankan pikirannya dengan berendam di air hangat.
Cukup lama Bara berada di kamar mandi. Setelah merasa puas, ia pun segera membungkus tubuhnya dengan bathrobe. Lalu, ia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur yang sangat empuk dan nyaman. Saat akan memejamkan mata, ia malah teringat pada Keyla.
"Apa kabar gadis itu?" Bara pun meraih handphone yang ia letakkan diatas nakas. Ia menekan tombol hijau untuk menghubungi Keyla.
Tidak butuh waktu lama, panggilan itu masuk dan langsung dijawab oleh Keyla.
"Apa kamu berada di rumah tuan Cakra?" Tanya Bara saat panggilan tersambung.
"Hoo oo... anda si tuan muda?" Tebak Keyla yang saat ini sedang berbaring diatas tempat tidur yang sama dengan tempat tidurnya di kamar kost.
"Apakah kamu akan menginap disana?"
"Tentu saja. Di rumah ini jauh lebih nyaman. Aku sudah memiliki teman yang baik, tuan dan nyonya yang juga baik." Celotehnya menyombongkan diri.
"Apakah kamu sudah bertemu dengan tuan putri?"
"Belum sempat. Tuan putri baru saja pulang dari bermain bersama dengan tuan putri bungsu. Aku pikir, kami akan bertemu besok."
__ADS_1
"Baiklah…"
"Tuan muda, ada beberapa hal yang sebenarnya ingin saya tanyakan." Teriak Keyla yang meminta Bara untuk tidak mengakhiri pembicaraan.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
Seseorang mengetuk pintu kamar Bara, sepertinya petugas hotel yang mengantarkan makan malam untuknya. Ia memesan makanan beberapa saat yang lalu.
"Tungu sebentar." Ucap Bara yang kini menghampiri petugas hotel.
"Wadhikha…" Petugas hotel itu mengucapkan salam berbahasa Thailand, baru kemudian dia bicara bahasa inggris pada Bara.
"Thank you!" Ucap Bara saat makanannya sudah diantarkan dan di sajikan diatas meja di depan televisi.
"Tuan muda, apakah anda di luar Negeri?" Tanya Keyla, ia mendengar percakapan Bara dengan seseorang menggunakan bahasa inggris.
Tiba tiba suara tawa Keyla memekakkan telinga Bara, ia bahkan menjauhkan hp dari daun telinganya.
"Apa ada yang lucu!"
"Tuan muda ternyata suka bercanda juga, ya."
"Saya tidak sedang bercanda sama sekali." Mulai menyendok makan malamnya.
"Tadi sore sebelum tiba di rumah tuan Cakra, pak Wawan sama tuan Cakra melihat mobil tuan muda. Aku juga menoleh untuk melihat mobil tuan muda, tapi aku tidak tahu yang mana mobil anda." Celoteh Keyla.
Kedua sudut bibir Bara terangkat sempurna. Ia tersenyum mendengar cara Keyla bicara padanya. Bukannya meladeni Keyla, Bara malah menyalakan televisi dan mengeraskan volumenya. Hingga terdengar oleh Keyla melalui hp nya.
__ADS_1
"Tuan muda benar benar di Bangkok?" Tanya Keyla. Ia mendengar suara orang orang Bangkok berbicara.
"Iya. Apa kamu tidak mendengar suara orang orang berbicara bahasa Thailand?"
"Wuah, hebatnya menjadi orang kaya. Baru saja tadi sore masih berada di Jakarta, malam harinya sudah berada di luar Negeri." Keyla mengoceh sambil menguap.
"Apa kamu sudah mengantuk?"
"Sepertinya begitu. Mungkin pengaruh obat yang diberikan mbak Susi padaku. Dia bilang obat ini dari dokter Salman. Mmh, aku bahkan tidak mengenal dokter Salman, jadi bagaimana caranya untuk berterimakasih." Keyla berceloteh sendiri sambil memegangi botol bening berisi beberapa butir pil berwarna putih.
"Bagaimana demamnya, apa sudah sembuh?"
Bara baru ingat, Keyla mengalami demam tinggi dan menggigil kedinginan saat ia temukan pingsan tadi pagi.
"Berkat kebaikan dan kemurahan hati tuan muda, sepertinya demamku sudah sembuh." Keyla menguap lagi.
Bara tersenyum, ada perasaan aneh yang menggelitik hatinya. Ia bahkan merasa masih ingin mengobrol dengan gadis itu, tapi ia merasa kasihan saat mendengar gadis itu menguap beberapa kali.
"Tidurlah. Besok kamu mulai bekerja sebagai pengawal tuan putri."
"Iya tuan muda. Selamat malam."
Keyla mengakhiri pembicaraan itu segera. Lalu, ia menarik selimut dan memejamkan matanya yang memang sejak tadi terasa sangat berat.
"Selamat malam." Ucap Bara saat panggilan telah berakhir.
Ia pun melanjutkan makan malamnya sambil menunggu kedua sahabatnya datang menemuinya.
__ADS_1
"Dia tidak jadi bertanya!" Bara menggeleng geleng sambil tersenyum.