
Hari ini Bara pulang lebih awal, dan saat ini ia sedang diperjalanan menuju rumah.
"Apa yang kamu temukan hari ini, Je?"
"Tidak ada yang begitu spesial dari penyelidikan hari ini, tuan muda."
"Begitukah?"
"Iya tuan muda."
Bara mengangguk paham. Tatapan matanya menatap jalanan di luar sana. Ia merasa lelah seketika Jehan mengatakan tidak mendapat info apapun dari penyelidikan hari ini.
"Tuan muda, anda di panggil tuan Cakra untuk makan malam bersama."
"Mmm…"
Jehan mengemudikan mobil menuju rumah utama.
"Haruskah aku katakan pada tuan muda?" Bisiknya dalam hati. Jehan merasa tidak enak.
"Tuan muda…"
Bara menoleh pada Jehan.
"Sebenarnya kemarin ada seseorang yang memberi info tentang kecelakaan empat belas tahun lalu."
"Lalu?" Tanya Bara dengan ekspresi datar.
"Katanya dia tahu keberadaan mobil yang menabrak tante Lanjani."
"Dimana mobil itu?"
"Di tempat rongsokan mobil bekas."
"Ya sudah, kita kesana sekarang!" Ajak Bara dengan tidak sabaran.
__ADS_1
"Sebaiknya jangan dulu, tuan muda."
"Loh kenapa?"
"Saya akan melakukan penyelidikan terlebih dahulu, tuan muda."
Bara menghela napas. "Kamu benar Je. Harusnya kita tidak terburu buru seperti waktu itu."
"Iya tuan muda. Saya akan segera menyelidiki tempat itu terlebih dahulu." Ujar Jehan.
"Hati hatilah Je."
Jehan mengangguk sambil tersenyum.
"Ada satu lagi tuan muda."
"Apa?" Tanya Bara tegas.
"Salah satu teman bibi Lanjani, meminta tuan muda menemuinya. Tidak perlu terburu buru, jika tuan muda senggang, datanglah berkunjung. Dia berpesan seperti itu, dan saya rasa dia sangat dekat dengan bibi."
Bara mengangguk pelan, lalu ia merebahkan kepalanya di sandaran kursi.
"Baik tuan muda."
Saat Bara dan Jehan masih dalam perjalanan, Wulan sedang menikmati fasilitas kamar mewahnya. Ia baru saja selesai mandi berendam dalam bathtube.
"Tuhan, izinkan aku untuk menjadi putri tuan Cakra yang sesungguhnya."
Wulan menatap dirinya dalam cermin besar dihadapannya. Ia tersenyum senang melihat betapa elegannya ia memakai bathrobe dengan rambut berbalut handuk.
Tok, tok…
Terdengar suara ketukan pintu kamarnya dari luar. Dengan segera Wulan membukakan pintu.
"Maafkan saya mengganggu tuan putri!" Seru gadis seusia dengan Wulan.
__ADS_1
"Tidak apa." Jawab Wulan canggung.
"Saya diperintahkan nyonya untuk membantu tuan putri bersiap untuk acara makan malam keluarga." Ujar gadis bernama Linda yang merupakan pembantu baru di rumah ini.
"Oh begitu. Masuk aja." Ajak Wulan. Linda pun ikut memasuki kamar luas nan mewah itu.
"Kebetulan sekali aku baru saja selesai mandi. Aku kebingungan harus memakai pakaian seperti apa untuk malam ini." Tutur Wulan sambil memeriksa pakaian dalam tas bawaannya sejak tiba di rumah ini.
Linda melangkah mendati lemari pakaian, ia membuka lemari tersebut yang sudah di isi dengan beberapa pakaian yang cocok untuk Wulan.
"Tuan Putri bisa memilih diantara dres dres ini." Ucap Linda menyarankan.
"Loh, itu bukan pakaian aku. Tadi malam aku sudah memeriksa lemari itu kok. Aku tahu ada beberapa pakaian di situ, tapi aku pikir itu bukan pakaianku." Ujar Wulan sedikit malu.
"Semua pakaian ini milik tuan putri. Pakaian pakaian ini dipilihkan langsung oleh nyonya untuk tuan putri." Linda menjelaskan.
"Benarkah?"
"Iya tuan putri."
Wulan tersenyum senang, ia melangkah mendekati lemari pakaian, lalu mulai mencoba beberapa dress yang menurutnya sangat mewah dan bagus.
"Apakah aku terlihat cantik menggunakan dres ini?" Tanya Wulan pada Linda. Ia memilih dress berwarna pink, motif polkadot dengan pita putih di bagian pinggang.
"Sangat cantik tuan putri." Puji Linda.
"Baiklah aku akan memakai ini." Wulan tersenyum senang.
"Kak Bara akan terpesona melihat betapa cantiknya aku malam ini." Pikirnya. Ia benar benar jatuh hati pada Bara yang bisa jadi berstatus sebagai kakak angkatnya.
"Oh ya, nama kamu siapa?" Tanya Wulan saat Linda membantunya merapikan dress pink pilihannya.
"Nama saya Linda, tuan putri."
"Nama yang indah. Aku suka namamu. Aku akan mengingat kamu sampai kapanpun, karena kamu sangat baik dan begitu menghormati aku." Ujar Wulan.
__ADS_1
"Terimakasih tuan putri. Suatu kehormatan bagi saya bisa melayani tuan putri dan membantu tuan putri." Jawab Linda sambil tersenyum.
"Kenapa pujian tuan putri terdengar seperti ejekan ditelangaku." Bisik Linda dalam hati.