
Jehan terperangah kaget mendengar jawaban profesor yang mengatakan ia diancam oleh Diki dan diminta untuk merahasiakan identitas Keyla.
"Dasar tua bangka pembohong." Ujar Jehan kesal.
Dia tahu Profesor berbohong. Karena Jehan mendengar Jelas dan melihat dengan jelas apa yang dibicarakan Profesor beberapa saat lalu pada anak buah Diki.
"Saya sangat menyesal karena telah membohongi nak Bara. Tapi inilah kenyataan yang sebenarnya." Ucap Profesor.
"Apa. Jelaskan sekarang juga dan jangan bertele tele." Ujar Bara tampak emosi mengetahui dirinya dibohongi oleh profesor yang sangat dipercayainya selama ini.
"Sebenarnya Keyla adalah putri kandung Diki."
"Anda berbohong!" Hardik Bara.
"Tidak nak Bara. Saya mengatakan yang sebenarnya. Keyla adalah putri kandung Diki. Dia meminta saya untuk merahasiakan dan melindungi Keyla selama ini."
Bara mematung setelah mendengar pernyataan itu. Dia tidak bisa mempercayai apa yang dikatakan profesor. Terlebih karena hatinya telah jatuh pada Keyla. Dan bagaimana jadinya jika kenyataannya ayah kandung dari gadis yang dicintainya adalah pembunuh bundanya.
Berbeda dengan apa yang pikirkan Bara, Jehan malah semakin yakin bahwa Keyla adalah putri kandung Cakra. Karena menurutnya tidak mungkin Diki membiarkan putrinya hidup sulit selama ini.
"Jangan jangan… Wulan…" Pikir Jehan.
Dia mulai curiga bahwa Wulanlah putri kandung Diki yang sengaja ia buat menjadi putri kandung Cakra, agar bisa menjadikan putri kandungnya pewaris perusahaan Cakra.
__ADS_1
"Wulan putri kandung om Diki. Kenyataan ini yang lebih masuk akal menurutku." Bisik Jehan dalam hati.
"Anda yakin tidak membohongi saya lagi kali ini?" Ujar Bara dengan tatapan tajamnya.
"Sungguh nak Bara. Inilah kebenaran yang sesungguhnya."
"Lalu siapa Wulan. Anda pasti tahu kan?" Tanya Bara curiga.
Lagi lagi profesor menghela napas dalam. Dia menunjukkan wajah menyesalnya lagi pada Bara.
"Apa Wulan benar benar putri kandung Papa?" Tebak Bara ragu.
Dan profesor mengangguk yakin. Anggukan itu membuat Bara dan Jehan sama sama terkejut.
"Itulah kenyataannya nak Bara."
"Tapi hasil dna Wulan dipalsukan. Saya tahu itu, Prof."
"Semuanya dipalsukan oleh Diki dengan bantuan salah satu anak buahnya yang belerja di laboratorium. Hasil itu sengaja dibuat palsu untuk mengelabui Jeydan."
"Apa?" Bara semakin tidak mengerti.
Jehan yang tadinya percaya Keyla putri kandung Cakra, malah dibuat bingung setelah mendengar cerita dari Profesor barusan.
__ADS_1
"Profesor yakin tidak berbohong kali ini?" Tanya Bara sekali lagi.
"Saya tidak berbohong nak Bara. Wulan adalah putri kandung tuan Cakra. Diki meminta anak buahnya untuk membuat hasil dna yang tampak palsu untuk mengelabui Jeydan yang ingin membalas dendam pada papamu tuan Cakra melalui Wulan."
"Benarkah?" Bara masih belum bisa percaya.
"Diki adalah sahabat saya dan dia juga merupakan orang kepercayaan tuan Cakra. Diki membakar rumahnya di malam yang sama saat rumah tuan Cakra dibakar oleh Jeydan." Tuturnya mulai bercerita.
"Diki sengaja membakar rumahnya untuk menyelamatkan istri dan putri kecilnya dari Jeydan. Dia berharap Jeydan akan menganggap istri dan putri kecilnya hangus terbakar bersama rumahnya."
Baik Bara maupun Jehan mendengarkan cerita itu dengan serius.
"Bedanya, papamu Cakra kehilangan istri dan anaknya malam itu. Tapi, Diki hanya kehilangan rumahnya..." Profesor menghela napas sebentar.
"Dia menyembunyikan istrinya yang dibuat lumpuh oleh anak buah Jeydan di rumah sakit Kuala Lumpur dengan bantuan sahabat baiknya. Sedangkan putri kecilnya dia titipkan di panti asuhan dan meminta saya untuk mengawasinya dan merahasiakan identitas putrinya selamanya." Lanjutnya menjelaskan.
"Lalu, bagian mananya yang membuat profesor merasa diacam oleh om Diki?" Tanya Bara mulai curiga.
Mendengar pengakuan Profesor, malah sangat jelas profesor terlihat mencoba melindungi dan membantu sahabatnya itu dengan cara menyembunyikan identitas asli putrinya. Tidak ada ancaman sama sekali.
"Maafkan saya nak Bara. Saya berbohong lagi. Sebenarnya saya tidak diancam sama sekali oleh Diki. Tapi, saya tulus membantunya."
"Hah…" Bara menghela napas. Lalu dia tertawa sebentar.
__ADS_1
"Sungguh menggemaskan persahabatan kalian." Ujarnya tampak kesal.