Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 46 Memecahkan guci


__ADS_3

Merasa sudah lebih baik, Keyla pun turun dari ranjang luas berkasur empuk itu. Ia melangkah mendekati cermin besar yang merupakan pintu lemari pakaian.


"Dress ini terlalu mewah untuk ku!" Serunya saat melihat pantulan dirinya dalam cermin besar itu.


Kemudian, ia tersenyum sambil menyentuh dress putih tangan panjan, selutut yang membalut tubuhnya.


"Kenapa mereka memakaikan dress putih padaku, seperti mayat saja." Celotehnya.


Dress putih yang dipakainya memang tampak biasa saja. Tapi, percayalah harga dress itu bahkan lebih mahal dari gaji perbulan yang didapatkan Keyla.


Ia kembali melihat wajahnya dicermin. "Wajahku sangat pucat, dengan dress ini aku benar benar terlihat seperti mayat."


Keyla kembali ke tempat tidur, ia duduk di pinggir kasur sambil menjuntaikan kakinya. Matanya menatap semangkok bubur dan segelas air putih di meja samping ranjang itu.


"Aku sangat tidak suka bubur." Ucapnya.


Perutnya terasa kosong, ia kelaparan. Tapi, bubur itu sungguh bukan makanan yang ingin dimakannya.


"Aku harus pulang." Gumamnya. Ia melangkah perlahan menuju pintu kamar. Kupingnya ia letakkan di daun pintu untuk mendengarkan situasi diluar sana yang ternyata sangat sunyi.


Perlahan tangannya mulai meraih ganggang pintu dan berhasil membuka pintu kamar itu tanpa suara sedikitpun. Ia merasa lega karena tidak mendapati siapapun di luar kamar sehingga memudahkan untuk menuju pintu keluar dari rumah megah itu.


"Rumah seluas ini terasa sangat sunyi dan kosong." Pikirnya.


Ia melanjutkan langkahnya sambil sesekali melirik sekeliling untuk memastikan tidak ada yang melihatnya.


"Kenapa tidak ada satu pun foto di rumah ini. Bukankah biasanya orang orang kaya suka memajang foto keluarga dengan ukuran yang besar." Batinnya sambil memperhatikan dinding rumah yang benar benar kosong. Bahkan satu cicak pun tidak ada yang menempel disana.


Karena terlalu asyik memperhatikan dinding sambil terus melangkah, Keyla tidak menyadari ada meja kecil yang diatasnya terpajang sebuah guci. Tangannya tidak sengaja menyenggol meja itu yang menyebabkan guci jatuh kelantai.


"Aaaaaa…" Teriak Keyla tertahan. Matanya membola melihat pecahan guci berselaburan di lantai.


Sementara itu, Susi dan Intan yang sedang berada di dapur terkejut mendengar suara jatuhnya guci itu. Mereka pun langsung berlari menuju sumber suara dan mendapati Keyla berdiri sambil membekap mulutnya sendiri menatapi pecahan guci dilantai.


"Nona!" Susi mendekati Keyla.


"Maaf." Ucap Keyla.

__ADS_1


Ia merasa sangat bersalah dan takut kali ini.


"Guci ini harganya pasti sangat mahal? Apa yang akan terjadi padaku selanjutnya?" Pikirnya, lalu ia tiba tiba jatuh tak sadarkan diri di lantai.


"Keyla apa yang kamu lakukan? Kenapa malah pura pura pingsan sih?" Rutuknya dalam hati menyesali tingkah anehnya sendiri.


"Nona!" Teriak Susi dan Intan yang merasa khawatir.


"Apa yang harus kita lakukan, mbak Susi?" Tanya Intan khawatir.


"Sekarang cepat panggil sekuriti, minta tolong untuk mengangkat nona dan membawanya kembali ke kamar." Perintah Susi pada Intan. Ia lupa bahwa sekuriti tidak tahu mengenai Keyla. Harusnya ia merahasiakan tentang Keyla dari sekuriti sekalipun.


"Baik mbak." Intan segera melangkah keluar rumah. Ia memanggil seorang sekuriti yang duduk di pos gerbang rumah.


"Ada apa mbak Intan?"


"Pak, tolong bantu, seseorang pingsan, dia butuh pertolongan." Ucap Intan pada sekuriti itu.


Merekapun segera masuk dan saat mereka masuk, Keyla sudah sadarkan diri. Ia duduk berlutut dilantai sambil meminta maaf karena telah memecahkan guci dan juga karena berpura pura pingsan. Susi ikut duduk di lantai sambil meminta Keyla untuk berhenti minta maaf.


"Maaf pak sepertinya dia sudah sadarkan diri." Intan meminta agar sekuriti itu meninggalkan mereka.


"Selamat datang tuan." Sapa sekuriti yang baru saja keluar dari rumah itu.


"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Cakra, ia heran melihat sekuriti itu keluar dari rumah Bara, sementara tugasnya menjaga di luar rumah.


"Hanya kejadian kecil, tuan. Seorang pembantu baru, pingsan setelah memecahkan guci." Jawabnya.


Sekuriti itu memang berpikir Keyla adalah pembantu baru yang dibawa langsung oleh tuan muda.


Cakra mengangguk paham.


"Apa tuan muda sudah pulang?"


"Belum tuan." Jawabnya.


"Ya sudah, kamu kembali ketempatmu." Perintah Cakra pada sekuriti itu, sementara ia melangkah masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Susi, Intan… apa yang terjadi?" Tanya Cakra saat melihat mereka duduk dilantai bersama seorang gadis yang ia pikir gadis itu adalah pembantu baru seperti yang disebutkan sekuriti tadi.


"Tuan!" Susi dan Intan langsung berdiri dan sedikit menundukkan kepala pada Cakra. Mereka terkejut dengan kedatangan Cakra secara tiba tiba.


"Jadi gadis ini pembantu baru yang memecahkan guci?"


Susi dan Intan saling menatap, mereka bingung harus menjawab apa pada tuan Cakra. Sedangkan Keyla masih berlutut seperti tadi.


"Hey nak, bangun. Tidak usah takut. Tuan muda tidak akan memecatmu hanya karena memecahkan guci." Ujar Cakra bicara pada Keyla.


"Apa kalian memarahinya karena memecahkan guci?" Tanya Cakra pada Susi dan Intan.


Mereka tidak berani menjawab apapun, karena takut salah bicara. Melihat ekspresi Susi dan Intan secara diam diam, membuat Keyla merasa ingin melakukan sesuatu untuk membantu kedua wanita itu.


"Maafkan saya tuan. Saya tidak sengaja memecahkan guci itu." Ucap Keyla yang tiba tiba berdiri dan menundukkan kepala pada Cakra.


Aksi Keyla kali ini membuat Susi dan Intan merasa sedikit lega. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi jika Keyla tidak berpura pura mengakui dirinya pembantu baru seperti yang dipercayai tuan Cakra.


"Sudahlah, tidak usah takut. Tapi, sebagai gantinya…" Cakra melihat penampilan Keyla dari ujung kaki hingga kepala.


"Sepertinya gadis ini bisa menjadi pengawal Wulan. dan sepertinya gadis ini seumuran dengan Wulan. Pasti Wulan akan senang jika pengawalnya sewaktu waktu bisa menjadi teman bicara juga untuknya." Pikir Cakra.


"Apa dia akan memintaku mengganti guci itu dengan nyawaku! Atau mungkin tubuhku?" Seru Keyla dalam hati, ia merasa takut.


"Kamu mau menjadi pengawal tuan putri?" Lanjut Cakra, tawaran Cakra sungguh membuat Susi dan Intan mati kutu.


"Pengawal tuan putri?" Ulang Keyla yang memberanikan diri menegakkan kepalanya untuk melihat wajah lawan bicaranya.


"Iya. Dari pada menjadi pembantu tuan muda, lebih baik kamu menjadi pengawal tuan putri. Saya akan memberikan gaji dua kali lipat dari yang diberikan oleh tuan muda. Bagaimana?"


Keyla tidak mengerti, sebenarnya situasi apa yang sedang dihadapinya saat ini. "Apa yang akan terjadi padaku. Sungguh sangat melelahkan. Hari ini benar benar mengejutkanku." Teriaknya dalam hati.


Ia masih shock karena tiba tiba terbangun di kamar asing. Ia masih belum mengerti, mengapa tuan muda itu membawanya kerumah megah ini dan merawatnya bagaikan seorang putri. Lalu, sekarang tiba tiba seseorang yang juga di panggil tuan, malah memintanya untuk menjadi pengawal tuan putri.


"Kalian sepertinya seumuran. Wulan pasti senang jika pengawalnya seumuran dengannya." Ujar Cakra.


"Wu…la… Wulan?" Ulangnya Ragu.

__ADS_1


"Tuan putri Wulan, putri saya." Jawab Cakra yang akhirnya membuat Keyla tampak bingung.


__ADS_2