Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 48 Pengawal tuan putri


__ADS_3

Bara menghabiskan waktunya berjam jam berbaring dikamar bundanya. Ia menatap foto wanita yang sangat ia rindukan itu tanpa henti. Hingga dering hp mengejutkannya. Rupanya panggilan masuk dari papanya.


"Iya, Pa." jawabnya.


"Pembantu baru? Apa maksud Papa?" Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh papanya. Tapi tiba tiba, ia bangkit dari tempat tidur dan melangkah dengan langkah terburu buru.


"Bara, ada apa nak?" Tanya Beni yang mengejar langkah putranya.


"Aku suka masakan ayah hari ini. Lain kali aku akan makan siang disini lagi." Ucap Bara, lalu ia melangkah menuju mobilnya.


"Apakah kamu sudah mau pulang?" Teriak Ben. Ia mengejar Bara sambil membawa kantong plastik berisi lauk pauk yang tadi ia masak.


"Iya ayah. Aku harus segera pulang."


"Bawalah ini. Kamu bisa menyimpannya di kulkas. Saat mau memakannya mintalah pembantumu untuk memanaskan terlebih dahulu." Ujarnya menjelaskan.


"Terimakasih, ayah."


Ia mengambil kantong plastik berisi lauk pauk dari tangan ayahnya. Lalu ia pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Pasti terjadi masalah lagi. Bocah itu, sejak menjadi putra tuan kaya raya, dia selalu sibuk." Ocehan seorang ayah yang masih merindukan kebersamaan bersama putra semata wayangnya itu.

__ADS_1


Bara memacu mobilnya dijalanan dengan kecepatan penuh. Ia ingin segera tiba di rumah setelah mendengar apa yang dikatakan Papanya saat bicara melalui telepon beberapa saat yang lalu.


"Mbak Susi!" Bara menelpon ke telepon rumah yang langsung diangkat oleh Susi.


"Dimana tamu saya? Saya ingin bicara padanya." Pinta Bara.


Beberapa detik kemudian, Bara mendengar Susi bicara pada seseorang yang ia yakini adalah Keyla.


"Halo, tuan muda?" Terdengar suara Keyla diseberang sana.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Bara datar.


"Bukan itu yang saya maksud." Bara memotong jawaban Keyla.


"Kenapa kamu menerima tawaran untuk menjadi pengawal tuan putri?"


"Karena saya butuh banyak uang."


"Apa? Kamu butuh uang? Aku bisa memberi kamu uang berapapun yang kamu butuhkan."


"Kenapa tuan muda bisa dengan mudah memberikan uang pada saya? Apa jangan jangan tuan muda berencana membeli tubuh saya!" Bisik Keyla melalui ganggang telepon yang dipegangnya.

__ADS_1


Bara menarik napas dalam dalam. Ia tidak menyangka, Keyla memikirkan hal yang sangat bertolak belakang dengan yang ia rencanakan.


"Tuan muda, terimakasih sudah menyelamatkan nyawa saya. Tuan muda sungguh pria yang baik karena mau menyelamatkan gadis asing seperti saya secara percuma."


"Sungguh kamu benar benar tidak memberi saya waktu untuk menjelaskan."


"Tuan muda, sepertinya saya akan segera berangkat menuju rumah tuan putri. Saya akan membayar kebaikan tuan muda saat saya sudah mendapatkan gaji sebagai pengawal tuan putri." Keyla mengakhiri pembicaraan itu tampa persetujuan Bara.


Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Bara, Keyla bergegas menuju ke depan rumah, dimana Cakra sudah menunggu untuk membawanya ke rumah mewah tempat tuan putri Wulan berada.


"Nona, tuan muda akan memarahi saya!" Bisik Susi pada Keyla saat Keyla hendak melangkah keluar dari rumah itu.


"Tenang saja, mbak Susi. Tuan muda tidak akan memarahi mbak Susi dan mbak Intan. Saya sudah menjelaskan pada tuan muda tentang apa yang sebenarnya terjadi." Jawab Keyla mencoba menghibur Susi dan Intan yang merasa khawatir.


"Terimakasih karena telah merawat saya dengan baik. Semoga ada waktu untuk bertemu kembali." Keyla melambaikan tangan pada Susi dan Intan. Lalu ia melangkah menuju mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh pak Wawan sopir pribadi tuan Cakra.


"Tuan, bolehkan saya mengambil beberapa pakaian dan juga handphone saya yang masih berada di rumah." Ucap Keyla tanpa ragu.


"Tentu boleh. Sebutkan saja alamat rumah nak, Keyla. Pak Wawan akan mengantar kesana."


"Jadi merepotkan." Ucap Keyla mulai merasa tidak enak hati dengan kebaikan tuan Cakra.

__ADS_1


__ADS_2